TAK SAMA

TAK SAMA
160


__ADS_3

. Arisa dan Dimas bergegas menuju tempat dimana Rega berada. Menurut petunjuk perawat, Arisa terus menyusuri setiap sudut RS.


"Dim... apa om Haidar?" Dimas tak kalah terkejut dengan dugaan Arisa. "Apa dia melakukan sesuatu pada kak Rega?" Lanjutnya bertanya lagi. Dimas hanya mengikuti kemana langkah Arisa mencari Rega. Sampai di sebuah lorong yang berdekatan dengan lobby, Arisa terhenti dan tangannya mengepal melihat Rega yang tengah di dorong oleh asistennya. Rega semula termangu, kemudian ia tersenyum pada Arisa yang masih diam di tempatnya. Ketika Rega semakin dekat, Arisa mulai kembali melangkah dan ia tak bisa menahan kekhawatirannya. Arisa meraih wajah Rega dan memastikan tak ada luka apapun lagi selain luka kemarin.


"Kamu kenapa Put?"


"Kak Rega baik-baik saja kan? Om Haidar tidak melakukan apapun pada kakak kan?"


"Haidar? Orang yang menculikmu demi anaknya itu?" Arisa mengangguk antusias, responnya sangat berbeda dengan tadi, ketika ia membahas Haidar bersama Dimas.


"Aku tidak bertemu dengannya."


"Eh? Benarkah? Lalu, apa yang dia lakukan disini?" Rega mengedikan bahunya sembari menggeleng pelan tanda ia tak tahu.


"Emm kak. Apa kak Seno menghajar om Haidar?"


"Kenapa kau bertanya?"


"Karena tadi aku melihatnya babak belur juga."


"Hemmm aku tidak begitu ingat. Coba tanyakan langsung pada kakakmu."


"Kak Tio?" Arisa memiringkan kepalanya menebak secara spontan.


"Bukan bukan. Kak Seno." Seketika, Arisa mendelik menanggapi jawaban Rega.


"Kak Seno itu bukan kakakku." Kini giliran Rega yang terheran mendapati jawaban Arisa.


"Tapi... dia sangat khawatir padamu. Aku kira dia kakakmu juga." Arisa tersenyum tipis, lalu ia membenahkan rambutnya agar terselip diantara telinganya.


"Dia memang berlagak seperti kakakku. Menyebalkan, jelek, pemarah, jahat, dan sangat merepotkan." Ucapnya dengan terlintas semua kenangannya dengan Seno.


"Ehem... siapa yang kau sebut merepotkan itu hah?" Tiba-tiba Arisa merinding ngeri mendengar suara menyeramkan di belakangnya. Ia perlahan melirik pada Dimas, namun jelas bukan suara Dimas. Ia memutar tubuhnya dan nyalinya menciut seketika saat mendapati keberadaan Seno di sana.


"Eh kakak." Cetusnya terkekeh sembari menepuk lengan Seno dengan sikap manja. Tatapan Seno sangat tajam, namun tidak membuat Arisa berhenti mengejeknya dengan tawa.


"Sedang apa kak?" Tanya Arisa selanjutnya. Seno masih enggan membuka mulut, matanya semakin menyipit menatap Arisa yang masih cengengesan.


"Kakak tumben ganteng." Godanya lagi, namun Seno lebih menyipitkan matanya dengan urat di pelipisnya yang menegang.


"Tumben? Maksudmu aku ganteng hanya hari ini saja?" Geram Seno memasang tinju dan mengangkatnya sampai di depan wajah Arisa yang menutup matanya.

__ADS_1


"Ehh tak baik loh kak menyakiti perempuan. Apa lagi orang sebaik kakak."


"Heummm baik? Ganteng? Begitu ya? Mengapa pendapatmu jadi berbalik 360 derajat adikku yang manis? Hemmm"


"Iiihhhh kakak menakutkan." Arisa terus bergidik ngeri, apa lagi saat Seno mendekatkan wajahnya menilik memar yang ada di wajah Arisa.


"Masih terlihat."


"Eh? Apa?" Arisa terheran, ia tak mengerti maksud ucapan Seno.


"Kakak tak ada kelas mengajar?" Tanya Arisa setelah menyadari ini termasuk jam kerja.


"Hari ini cuti."


"Kenapa?"


"Kan aku ke sini. Kontrol."


"Kaka sakit apa?"


"Sakit hati. Sudah jelas sakit semua badanku." Seno mendelik kesal, kemudian ia menutup mulut Arisa yang hendak kembali berbicara.


"Hmmm hmm hmmm hhhhhhmmmmmmmmmmmm."


"Kau bicara apa Aris?"


"Orang gila." Batin Arisa mendelik kesal.


"Hmm hm hm. Hmmhmm hmhm hm hmhmhm." Arisa masih mengoceh tak jelas berharap Seno melepaskannya.


"Kau ini bicara apa Aris?"


"Kau gila sialan." Batin Arisa menatap tajam pada Seno.


"Kau memakiku?" Arisa mengangguk dengan angkuh, dan benar saja Seno melepaskan bekapan tangannya dari Arisa.


"Bicaralah dengan bahasa yang baik dan benar." Ucap Seno. Namun, Arisa malah tertuju pada Rega dan Dimas yang sedari tadi menahan tawanya.


"Tadi aku bertemu om Haidar." Lirih Arisa berubah ekspresi.


"Hah?" Tak seperti biasanya, kini reaksi Seno sedikit berbeda. Harusnya dia khawatir pada Arisa dengan keberadaan Haidar.

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan Haidar?"


"Apa kakak yang membuatnya babak belur?" Terlihat kini reaksi Seno lebih terkejut. Kapan ia membuat Haidar babak belur? Saat di tempat penculikan pun, ia tak sedikitpun menyentuhnya.


"Apa maksudmu Aris? Tak ada yang membuatnya babak belur." Mendengar jawaban Seno, Arisa terlihat sedikit lega.


"Hemmm tapi aku dengar dari informanku, beberapa hari yang lalu, Fabio sempat menemui Haidar. Apa mungkin Fabio yang melakukannya?" Mendengar hal itu, Arisa mencoba mengingat kembali saat Fabio ke rumahnya.


"Mungkin. Karena kak Fabio sempat ke rumahku juga. Aku tak tahu dia ada urusan apa, tapi dia marah-marah saat melihat kondisiku. Dan setelah menanyakan pelaku yang menculikku, kak Fabio langsung pergi dengan marah."


"Nah. Benar kan? Aku yakin Fabio yang membuat Haidar begitu."


"Bagaimana jika dugaan kita salah kak?"


"Eheummmm apa kalian akan mengobrol di tengah jalan?" Tegur Dimas pada kedua orang yang tengah sibuk dengan argumen mereka.


"Kalau mau pergi, ya pergi saja." Cetus Seno yang menegaskan untuk tidak mengganggu mereka. Secara diam-diam, Dimas mengajak asisten Rega untuk membawa Rega kembali ke kamarnya. Namun, Arisa dan Seno malah pergi tanpa menoleh kembali pada Rega. Rega hanya memaklumi mungkin Arisa memang sesibuk itu.


"Hei..." Rega sedikit mendongak menanggapi panggilan Dimas di depannya.


"Kenapa dok?"


"Apa hubunganmu dengan Aris?" Tanya Dimas yang tak bisa menahan rasa penasarannya.


"nyaris menjadi pacar." Jawab Rega dengan santai. Dimas terhenti seketika dan ia langsung berbalik menatap tajam pada Rega. Dimas tak bisa menyembunyikan keterkejutannya setelah mendengar jawaban Rega.


"Apa-apaan jawabannya itu? Nyaris? Berarti mereka sangat dekat?" Batin Dimas.


"Bahkan Arisa sempat mengenalkanku pada ayahnya sebagai pacar. Dan kakaknya menganggap hubungan kita akan serius sampai menikah." Lanjut Rega membuat Dimas semakin tertekan.


"Me-menikah? Sedekat itu? Tidak... pasti ada yang salah. Tidak mungkin Aris mau menikah dengan lelaki sepertinya." Batin Dimas lagi, sekarang ia menggelengkan kepalanya kasar seakan tengah menepis pemikirannya yang sedang berperang.


"Yaa apalah dayaku yang hanya seorang direktur, tak sebanding dengan Rayyan Pratama yang jelas seorang presdir." Kali ini, Dimas tersenyum menanggapi ucapan Rega.


"Aris tidak seperti yang kau pikirkan. Jika Aris dan Rayyan menikah pun, bukan hal yang aneh. Karena setelah kematian adikku, Aris sangat tertutup pada setiap lelaki yang ia temui. Kecuali keluarganya, Seno dan aku saja. Selebihnya mungkin hanya angin lalu. Termasuk Bayu, temanku yang menjadi sainganku untuk mendapatkan Aris. Dia satu-satunya pria beruntung yang sempat di jodohkan dengan Aris. Tapi, karena Aris dan Rayyan sudah terang-terangan bahwa mereka berpacaran, beberapa ujian mulai menghadang mereka. Kanker hati yang menyerang Aris, lalu fakta Rayyan yang ternyata di jodohkan dengan Raisa, saudara kembarnya. Kemudian Aris menjalani operasi, dan bersih dari kanker, Aris masih tak bisa menerima kenyataan bahwa Rayyan akan menikah dengan kakaknya sendiri. Hingga insiden itu terjadi. Kita semua yang mengira Aris meninggal, hanya Rayyan yang diam-diam masih mencari bukti kematian jasad yang terbakar di dalam mobil Arisa."


"Lalu, Fabio itu siapa?"


"Dia.... orang yang nyaris menjadi suami Arisa." Rega termangu, pantas saja Fabio begitu marah, ternyata memang masa lalu Arisa.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2