TAK SAMA

TAK SAMA
40


__ADS_3

. Arisa kembali ke mobil diantarkan oleh Rayyan.


"Dadah kakak putri..." teriak Seina melambaikan tangan. Arisa membalas melambaikan tangan pada Seina yang terlihat senang. Bunda ikut tersenyum pada Arisa yang dengan sopan berpamitan dari jauh.


Hingga mobil Arisa sudah berlalu, Rayyan masih berdiri ditempatnya.


"Aray.." panggil bunda. Rayyan berlari menghampiri bunda dan Seina dengan wajah yang berseri.


Dijalan, bunda terlihat lebih pendiam dari biasanya. Rayan menyadari ada yang sedang dipikirkan bunda saat ini.


"Bun.. apa yang sedang bunda pikirkan?" Tanya Rayyan dengan sedikit ragu.


"Aray.. apa Arisa mewarnai rambutnya?" Rayyan menyernyit mendapati pertanyaan Bunda yang terdengar tak terlalu penting baginya.


"Mungkin. Tapi memang berbeda dengan Raisa." Rayyan menebak-nebak dan seakan mengingat perbedaan Arisa dan Raisa.


"Memang kenapa bunda? Kakak putri tetap cantik dengan rambut seperti itu. Seina suka." Ucap Seina polos menimpali obrolan ibu dan kakaknya. Rayyan tersenyum menanggapi ucapan Seina.


"Anak pinter..." ucap Rayyan dengan wajah senang yang tak bisa ia sembunyikan.


"Tapi nenekmu tak akan setuju jika melihat Arisa berdandan seperti itu." Seketika raut wajah Rayyan menjadi dingin.


"Apa masalahnya dengan nenek?" Bunda hanya menghela nafas dan tak menjawab pertanyaan Rayyan.


. Arisa turun dari mobil kemudian memanggil mang Ujang dan beberapa pelayan rumah lainnya.


"Ya ampun Aris... kamu beli bunga lagi? Bukankah diatas sudah banyak?" Omel mama ketika melihat bunga-bunga yang dibeli Arisa dan Tio.


"Mati ma... bunga Aris semua mati. Hampir dua bulan tidak ada yang mengurus. Masih untung Aris tidak depresi." Ucap Tio sambil mengangkut beberapa pot bunga.


"Kamu itu selalu saja membelanya." Ucap mama.


"Jika bukan aku, lalu siapa ma? Mama? Ayah? Sudahlah ma... Tio tahu kalian sibuk karena Raisa." Tio berjalan melewati mama yang terdiam mematung mendengar ucapan Tio. Mama ikut berlalu kedalam lalu memasuki ruang kerja Yugito.


Raisa keluar lalu ikut meraih pot aster yang tersimpan di bagasi.


"Sejak kapan kau suka aster?" Tanya Raisa terheran.


"Tuuhhh kak Tio." Arisa menunjuk Tio dengan sorot matanya lalu berjalan menyusul Tio.


"Wahhh manis sekali kak Tio. Hadiah ulang tahun ya kak?" Tanya Raisa dengan nada ejekan. Tio terdiam dan hanya menganggukkan kepala pelan seraya mengingat kembali hari ulang tahun adik-adiknya yang tinggal menghitung hari.


"Padahal masih satu minggu lagi, kau sudah dapat kado dari kakak." Gumam Raisa yang terus berjalan mengikuti Arisa dari belakang.


Sampai di balkon, Raisa ternganga tak percaya dengan yang dilihatnya. Balkonnya kosong, tak ada satupun tanaman disana. Pantas saja Arisa membeli begitu banyak bunga hari ini.


Hingga sore menjelang, Arisa tertegun melihat Raisa dan Tio yang ikut membereskan balkon.


"Sudah Rais. Sebaiknya kau kembali ke kamar. Jangan terlalu kelelahan, nanti mama menyalahkan Aris jika kau sakit lagi." Ucap Tio tanpa menoleh kearah Raisa dan masih fokus menata pot bunga.


"Aku sudah sembuh kak." Ucap Raisa meyakinkan.


"Ke kamar... sebelum mama dan ayah kesini." Tegas Tio menghentikan aktifitasnya.


"Tapi..."


"Rais..." Tio menoleh kearah Raisa dengan tatapan dingin namun menusuk.


"Baiklah." Raisa menunduk kemudian berlalu meninggalkan kamar Arisa.


Yugito merasa penasaran karena Arisa, Tio dan beberapa pelayan sibuk mondar mandir naik turun menuju kamar Arisa dengan membawa berbagai macam bunga. Bahkan mang Ujang pun ikut sibuk membantu.


"Mang?" Panggil Yugito dari depan ruang kerja. Mang Ujang bergegas menghampiri Yugito yang terlihat merasa heran.


"Iya Tuan?" Mang Ujang menunduk sopan ketika sudah berada didepan Yugito.


"Bunga dari mana mang?" Tanya Yugito lagi.


"Non Aris dan mas Tio yang membelinya Tuan." Jawab mang Ujang.


"Ohh ya sudah." Ucap Yugito kemudian berlalu ke kamar Arisa dan diikuti mang Ujang dari belakang.


"Aris." Panggil Yugito pelan.


"Iya ayah." Arisa menoleh pada Yugito yang berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


"Tanaman yang kemarin mana?" Tanya Yugito menoleh kesana-kemari.


"Mati ayah.... dua bulan tidak di urus mana bisa bertahan hidup." Jawab Tio mendahului dengan masih sibuk menata beberapa pot di atas tembok balkon. Yugito menatap sayu pada Arisa yang kembali menjadi datar dan dingin seolah tak memiliki emosi sama sekali.


"Maafkan ayah Aris.." lirih Yugito.


"Tak apa ayah. Terimakasih." Ucap Arisa yang berjalan mendekati Yugito.


"Untuk apa?" Yugito menyernyit menatap sorot mata Arisa yang datar namun terlihat ada sebuah perasaan yang sulit di jelaskan.


"Ayah sudah mengkhawatirkan Aris." Ucap Arisa lagi.


"Tentu saja. Kau putri ayah. Ayah takut kehilanganmu." Yugito mengelus rambut Arisa. Tio melirik datar pada Yugito dan berdecih kesal.


"Ayah bicara seolah ayah hanya memiliki keluarga ini saja. Aku muak mendengarnya." Gumam Tio lalu melanjutkan kembali aktifitasnya.


. Malam hari, Arisa duduk di sofa dengan ditemani teh hangat dan kue coklat pemberian Rayyan. Tiba-tiba Yugito duduk di samping Arisa membuat Arisa terkejut.


"Mengapa diluar? Ini dingin."


"A-ayah?" Pekik Arisa.


"Kau terkejut?" Arisa mengangguk menanggapi pertanyaan Yugito.


"Kau melamun?" Kini Arisa menggeleng menanggapi.


"Hemmm pantas saja kau suka berdiam diri disini, ternyata nyaman." Ucap Yugito menyandarkan tubuhnya.


"Bisakah kau membuatkan ayah kopi?" Arisa mengangguk lalu pergi meninggalkan Yugito. Yugito menatap nanar kepergian Arisa dari hadapannya.


"Siapa yang mengajarkanmu menjadi sedingin ini?" Lirih Yugito menatap bintang-bintang yang bertabur dengan awan tipis yang ikut menghiasi langit malam.


"Bahkan kau lebih suka menyendiri." lanjut Yugito memejamkan matanya.


. Beberapa saat kemudian, Arisa kembali dengan secangkir kopi ditangannya.


"Terima kasih." Ucap Yugito dan ditanggapi anggukan oleh Arisa.


"Maaf ayah merepotkanmu." Lagi-lagi Arisa hanya mengangguk, kemudian menggeleng pelan.


"Tidak ayah. Sudah baikan." Jawab Arisa yang duduk dibawah lalu bersandar pada sofa.


"Kenapa dibawah? Kau sungkan dengan ayah?" Yugito semakin dibuat heran oleh sikap Arisa.


"Tidak ayah." Jawab Arisa singkat.


"Bagaimana hubunganmu dengan Rayyan?" Tanya Yugito kemudian.


"Biasa saja ayah."


"Ohhh baiklah." Yugito mengangguk pelan kemudian menyesap kopinya kembali.


"Aris... kau sedang ap-- ehh ada ayah." Teriak Tio kemudian perlahan pelan ketika melihat sang ayah.


"Kenapa kak?" Tanya Arisa yang mendadak sikapnya terasa hangat.


"Kakak kira kau sendiri." Ucap Tio menggaruk kepalanya.


"Ayah hanya sebentar. Ingin mencoba suasana baru taman adikmu." Ucap Yugito beranjak dari duduknya, dan membawa cangkir kopi miliknya.


"Bahkan kau seakan tak membutuhkan ayah." Gumam Yugito yang berjalan pelan menjauhi tempat Arisa.


Setelah memastikan Yugito berlalu, Tio duduk di sofa dan Arisa pun beranjak beralih duduk di sofa.


"Apa yang ayah bicarakan?" Tanya Tio penasaran.


"Tak ada. Hanya menanyakan hubunganku dengan Aray." Jawab Arisa menyesap teh miliknya yang sudah sedikit dingin karena didiamkan.


"Benarkah? Hanya itu?" Tanya Tio lagi. Dan Arisa hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Tio.


"Ehh... ini kue dari Rayyan kan?"


"Iya. Kakak mau?"


"Ya mau lah..." Tio mengambil sepotong kue dari piring kemudian melahapnya.

__ADS_1


"Kak. Kapan menikah?" Tanya Arisa membuat Tio tersedak. Arisa memberikan teh miliknya agar Tio bisa minum dan meredakan batuknya.


"Setelah kau bahagia." Jawab Tio kemudian.


"Kakak bilang, setelah aku sembuh. Tapi sekarang beda lagi menjawabnya." Ucap Arisa terdengar merajuk.


"Aris... jika kakak menikah dalam waktu dekat ini, siapa yang akan menjagamu? Kakak belum siap jika harus meninggalkanmu sendiri."


"Aku ada Rais kak."


"Tidak. Itu tak menjamin kebahagiaanmu. Jika kau lebih sering bersama Rais, maka kau juga akan lebih sering tertekan karena mama lebih memperhatikan Rais."


"Aku ada Aray kak."


"Dia belum sepenuhnya menjadi milikmu."


"Aku ada kak Diana kan?"


"Tidak. Diana akan sibuk dengan butiknya."


"Ishhhh yasudah. Aku saja yang menikah lebih dulu dari pada kakak." Cetus Arisa dengan kesal.


"Ohhh mau melangkahi dua orang sekaligus yaa..." ejek Tio memasang tangan ingin menggelitik Arisa.


"Aaaa ampun kak. Iya iya tidak. Aku dan Aray belum lulus." Teriak Arisa membuat Tio tertawa terbahak-bahak.


"Tuh.... jadi benar kau dan Rayyan sudah berencana menikah?"


"Ihhh kakak.... jangan mengejekku."


"Kakak tidak mengejekmu."


"Terus?"


"Tidak...." Tio menahan tawanya melihat wajah kesal Arisa.


Mang Ujang tersenyum menatap balkon kamar Arisa. Mendengar canda tawa yang sekian lama tak terdengar.


Pagi hari, Arisa setengah berlari menuruni anak tangga. Dan lagi-lagi hampir menabrak Tio yang baru keluar dari kamarnya.


"Aris... hati-hati." Tegur Tio menggeleng heran.


"Hehe maaf. Aku buru-buru." Arisa kembali berlari, namun tak lama kembali lagi.


"Kemana lagi?" Tanya Tio.


"Kunci." Jawab Arisa dengan panik.


"Ehhh... sudah sudah... biar kakak yang ambil." Tio menahan Arisa agar diam diujung tangga.


"Aku buru-buru kak." Delik Arisa yang ingin mendahului Tio namun kembali di tahan oleh Tio.


"Diam disini. Lukamu bisa sakit lagi nanti." Tegas Tio yang menatap tajam pada Arisa. Namun tak sedikitpun membuat Arisa takut ataupun merasa terintimidasi. Yang ada Arisa terus mendelik kesal menunggu Tio.


"Kak cepat..." teriak Arisa yang kesal melihat langkah Tio yang pelan.


"Ishh.... aku bisa terlambat kak." Lanjut Arisa yang kembali berteriak.


"Iya iya sebentar." Tio tak kalah berteriak.


Dan saat turun, Tio memilih berseluncur dari pada berjalan. Arisa tertawa melihat kekonyolan kakaknya yang memasang wajah konyol.


"Silahkan tuan putri. Sudah hamba ambilkan kunci mobil kesayangan tuan putri. Hati-hati dijalan, jangan ngebut, jangan bermain ponsel, jangan berpacaran dengan Rayyan, dan jangan melamunkan Bayu." Arisa tertawa sambil berlalu dari hadapan Tio.


"Terimakasih kakak ku tercinta." Teriak Arisa kemudian kembali berlari. Namun tiba-tiba 'prang' Arisa terkejut melihat pecahan gelas berserakan dilantai.


"Ma-mama..." pekik Arisa kemudian meraih mamanya.


"A-Aris tak sengaja ma... Aris minta maaf." Ucap Arisa kemudian ikut meraih pecahan-pecahan gelas dilantai. Karena tak hati-hati, jari Arisa tergores.


"Aris..." teriak Tio berlari menghampiri.


"Disengaja atau tidak, sama saja." Ucap mama serasa lebih menyakitkan dari goresan kaca ditangannya.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2