TAK SAMA

TAK SAMA
104


__ADS_3

. Raisa tak henti mengetuk pintu kamar Arisa dengan terus memanggil namanya.


"Aris... ayo keluar. Buka pintunya! Jangan salah faham pada mama. Mama tak bermaksud." Teriak Raisa semakin keras mengetuk pintu kamar.


"Apanya yang tak bermaksud? Tidak hanya mama, ayah juga selalu menyiksa ku kan? Aku ingat. Saat aku ingin bunuh diri, ayah menamparku dengan keras. Dan jika padamu, ayah tak pernah kasar." Jawab Arisa dari dalam dengan tak kalah berteriak. "Kau juga membenciku kan? Karena Rayyan lebih mencintaiku dari pada dirimu. Sekarang kau ambil saja dia. Aku tidak peduli. Kalian memang serasi, biarkan saja aku menyusul Rama."


"Aris... jangan bicara seperti itu. Aris kumohon buka pintunya. Mama sangat menyayangimu Aris. Rayyan juga. Aku mohon!" Teriak Raisa semakin keras memukul pintu kamar Arisa.


Didalam, Arisa beranjak dan mencari-cari benda apa yang bisa melukai dirinya, namun Arisa sendiri tak mendapati apapun. Kemudian ia menatap selimut lalu menoleh ke arah pintu balkon yang di atasnya mungkin bisa ia gunakan untuk menggantungkan tali. Sebisa mungkin ia merobek selimut dan membuatnya menjadi sebuah tali. Terdengar seseorang mendobrak pintu dengan keras dan Arisa berpikir mungkin itu Yugito yang di panggil Raisa agar membantu membuka pintu. Namun Arisa masih melanjutkan aksi nekatnya dan segera meraih kursi yang berada di meja rias miliknya untuk memasangkan selimut yang ia buat berantakan itu. Dan, belum selesai ia memasangkannya dengan sempurna, pintu berhasil di dobrak membuatnya terlonjak dan jatuh dari kursi. Yugito terkejut dan semakin panik melihat keadaan kamar Arisa yang begitu berantakan.


Melihat Yugito yang menghampirinya dengan tatapan tajam, Arisa berteriak dengan menghimpit ke tembok meraih kepalanya untuk di sembunyikan.


"Jangan ayah. Jangan menamparku." Teriaknya semakin ketakutan saat Yugito menyentuh kepalanya.


"Komohon ayah." Teriaknya lagi gemetar tak bisa tertahankan karena yang ia pikir, Yugito akan melakukan hal yang sama ketika ia berniat melompat dari balkon saat itu.


Tanpa diduga, ditengah ketakutan Arisa, Yugito dengan lembut memeluk Arisa yang tak henti menangis.


"Apa yang mau kau lakukan hah? Kau mau membuat ayah tersiksa lagi karena merindukanmu." Lirihnya membuat Arisa lebih tenang dan membalas pelukannya dengan erat.


"Kau kenapa? Kenapa suka sekali berbuat nekat?"


"Ayah jangan menyakitiku."


"Iya tidak nak. Ayah tak akan menyakitimu. Sudah ya.. jangan menangis."


"Antarkan aku pada bunda ayah.... disini aku tertekan. Aku seperti bukan anggota keluarga kalian."


"Jangan bicara seperti itu nak... ayah disini. Sudah sudah.... ayah mengerti perasaanmu."


"Kalau ayah mengerti perasaanku, kenapa ayah juga selalu menyiksaku?"


"Ayah minta maaf. Ayah tak akan menyakitimu lagi. Mana yang sakit?" Tanya Yugito melepaskan pelukannya dan beralih meraih wajah Arisa.


"Pipimu merah."


"Mama yang menamparku."


"Sini ayah obati. Rais! Panggil bi Ina ya." Raisa menurut dan bergegas memanggil bi Ina ke dapur. Sementara Yugito membantu Arisa untuk tenang dan duduk di sofa. Tak lama, bi Ina datang dengan Raisa sambil membawa handuk kecil dan wadah berisi air hangat.


"Yaampun non... kenapa kamarnya dibuat berantakan?" Tanya bi Ina yang duduk di samping Arisa.


"Bi...." rengeknya kembali menangis lalu memeluk bi Ina dengan manja.


"Bi... tolong ya. Saya berangkat ke kantor dulu. Ayo Rais." Ucap Yugito beranjak dan di ikuti Raisa dari belakang. Sebelum benar-benar berlalu, Raisa menoleh sesaat dan melihat Arisa dengan sisi yang berbeda. Jika dengan bi Ina, Arisa terlihat seperti kembali ke masa kecilnya.


"Ayah... aku ingin menemui mama dulu." Ucap Raisa masih mengikuti langkah Yugito menuruni tangga.


"Yasudah. Jangan lama. Hari ini Fabio akan datang ke kantor. Dan kau sendiri tahu apa yang tidak dia sukai."

__ADS_1


"Iya ayah. Tak akan terlambat. Hanya sebentar. Aku mau pamit untuk berangkat saja." Jawabnya kemudian mendahului dan setengah berlari menuju kamar ibunya.


"Jangan berlari. Nanti jatuh." Tegur Yugito menatap sendu kepergian Raisa.


"Iya ayah." Jawabnya lagi menoleh pada Yugito. " Aku sudah besar. Mana mungkin aku jatuh." Dan 'bam' ia menabrak pintu dengan keras.


"Nah kan. Itulah akibatnya untuk anak yang suka menjawab."


"Aduhhhh" Raisa meringis dengan meraih wajahnya dan mengetuk pintu kamar dengan hati-hati. Terlihat Rahma membuka pintu perlahan dan tak menampakkan dirinya. Yugito hanya melihat tangan Rahma saja yang di raih dan dicium oleh Raisa. Yugito menyernyit saat melihat Raisa yang seperti berbicara, namun ia tak mendengar apa yang di bicarakan oleh putri dan istrinya.


"Ayo ayah." Ucapnya menghampiri dengan antusias.


Sepanjang jalan, Yugito terheran melihat sikap Raisa yang mendadak berbeda. Ia terlihat lebih berseri dan ceria pagi ini.


"Kau senang mau bertemu dengan Fabio?" Sindir Yugito melirik sinis pada Raisa.


"Ehhhh tidak lah ayah. Gila saja jika aku senang bertemu dengan suami orang." Jawab Raisa bergidik mengelak pertanyaan konyol ayahnya.


"Lalu?"


"Ayah apa sih? ini rahasia. Hanya aku yang tahu."


"Benarkah? Ya sudah." Yugito mengangguk pelan dan seolah mengejek Raisa.


"Kau dan Fariz bagaimana?" Tanyanya tiba-tiba membuat Raisa tersedak saat minum.


"Bagaimana apanya?"


"Ishh ayah nanti dulu. Aris saja belum baikan dengan Rayyan."


"Ohhh jadi jika Aris sudah baikan dengan Rayyan, kau akan menikah?"


"Ohhh jadi ayah juga sudah menginginkan namaku berpisah dari kartu keluarga? Oke. Kalau begitu, ayah jangan bersedih saat hari pernikahanku."


"Jika ayah menangis, itu bukan tangisan sedih. Itu tandanya ayah bahagia."


"Mana mungkin ada ayah yang bahagia memberikan anaknya pada orang lain." Cetusnya memalingkan wajah ke arah lain.


"Ishh kau ini. Ayah bukan memberikan, tapi mempercayakanmu pada laki-laki yang menyayangimu melebihi ayah."


"Lalu, saat itu ayah mau memberikanku pada Fabio, maksudnya apa?"


"Kau masih mengungkit masalah itu?"


"Tentu saja. Ayah takut aib ayah di masa lalu kembali tersebar di media. Sampai ayah mengorbankan Aris agar menjadi alat untuk Fabio tutup mulut tentang hal itu."


"Rais cukup."


"Tapi siapa sangka, ibu tiri yang ayah berikan pada Aris begitu menyayanginya sekarang melebihi mama."

__ADS_1


"Ku bilang cukup." Teriak Yugito membungkam Raisa seketika.


Hingga tiba di gedung Artaris, Raisa masih diam dan enggan kembali berbicara. Hanya keperluan tertentu membuatnya membuka suara pada Yugito. Dan saat pertemuannya dengan Fabio pun, terlihat jelas bahwa Raisa tengah menahan diri untuk tidak meluapkan kekesalannya didepan Fabio.


"Melihat sikap putrimu, sepertinya dia tidak menginginkan perjanjian kontrak ini pak Yugito." Ucap Fabio melirik sinis pada Raisa yang mendadak gugup atas sindiran Fabio.


"Ahh bukan begitu. Dia sedang ada sesuatu yang mungkin mengganggu pikirannya." Jawab Yugito mencoba menenangkan Fabio yang mungkin ikut kesal karena sikap Raisa.


"Maaf. Aku tak seharusnya menunjukan sikapku yang tidak menyenangkan karena masalah pribadiku. Maaf karena aku kurang profesional dalam bekerja, dan sekali lagi aku minta maaf." Ucap Raisa dengan menunduk.


"Sebaiknya kau pertimbangkan lagi jika mau bekerja sama dengan orang sepertiku." Fabio meletakkan map dan beranjak dari duduknya. Beberapa kali Yugito mencoba membujuk Fabio agar tidak tersinggung, namun Fabio lebih keras kepala dan terus berlalu keluar ruang pertemuan. Saat menunggu lift, ia menatap dalam pada bayangannya yang terpantul jelas memperlihatkan wajah tampan dan penuh aura menakutkan itu. Saat lift terbuka, ia terbelalak mendapati gadis yang ia rindukan saat ini ada di depannya. Gadis itu menunduk membenahkan tasnya yang terlihat terlepas, dan dengan tak memperhatikan jalan, Arisa terus berjalan dan 'bugh'


"Aduhhh... maaf." Ucapnya meringis dan masih mengusap dahinya. Ia tak kalah terkejut saat melihat wajah Fabio yang menatapnya dengan hangat.


"Kakak." Pekiknya masih mengusap wajahnya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Fabio yang hendak meraih wajah Arisa namun urung saat mengingat wajah Sherina. Ia seketika tersadar bahwa dirinya sudah beristri dan memiliki putri dari wanita lain sekarang.


"Maaf." Ucap Fabio mendadak gugup.


"Kakak tak apa? Aku menabrak kakak dengan keras" ucap Arisa berniat meraih dada Fabio, namun Fabio segera meraih tangan Arisa.


"Aku tak apa." Ucapnya perlahan melepaskan genggamannya. Kemudian Fabio berbisik pada asistennya untuk melakukan sesuatu. Dan asistennya itu mengangguk tanda mengerti.


"Sedang apa disini? Katanya kau bekerja dengan Rayyan?" Tanya Fabio kemudian.


"Oh.. aku mau mengantarkan ponsel ayah yang tertinggal." Jawabnya menunjukkan ponsel milik Yugito. Fabio tersenyum dan hanya mengangguk pelan menanggapi jawaban Arisa. Ia masih tak percaya bahwa gadis didepannya kini tak menjadi miliknya. Padahal dulu hanya tinggal selangkah lagi menuju kebahagiaannya.


"Kakak sendiri sedang apa?" Tanya Arisa selanjutnya.


"Tadi ada meeting dengan ayahmu. Tapi sudah selesai."


"Ohh begitu ya." Kini giliran Arisa yang mengangguk pelan.


"Ya sudah. Aku pergi ya.." lagi, Arisa mengangguk menanggapi. Saat Fabio hendak melangkah, ia kembali mematung mendengar penuturan Arisa yang diluar dugaan.


"Apa tak akan ada lagi salam perpisahan darimu? Empat tahun lalu, sebelum aku kecelakaan, kau menemuiku dan mengungkapkan semuanya kan? Dan saat itu aku tak tahu kau sedang mencari jawaban atas dua pilihan terberatmu. Antara melanjutkan menjadikanku istri, atau kau yang menerima wanita lain. Maaf ya kak. Aku tak tahu cintamu begitu tulus untukku saat itu. Dan aku sudah membuatmu menangis karena kematianku saat malam lamaranmu." Fabio menoleh perlahan dan matanya sudah berembun, lalu embun itu terjatuh saat ia menatap wajah Arisa yang sudah berderai air mata.


"Kau ingat?" Arisa mengangguk pelan atas pertanyaan Fabio.


"Hanya itu yang aku ingat tentangmu."


"Apa aku boleh memelukmu?" Kali ini, Arisa menggeleng sambil mengusap air matanya.


"Jangan. Nanti istrimu akan marah padaku. Dan anakmu mungkin akan membenciku." Jawabnya tertawa getir.


"Kau memang gadis bodoh. Pantas saja adikku selalu merindukanmu." Ucapnya menepuk pipi Arisa sehingga Arisa meringis pelan.


"Jangan menyetuhnya. Ini masih sakit." Ucap Arisa mengelus lembut pipi chuby nya.

__ADS_1


"Sakit? Katakan siapa yang berani menyakitimu?" Tegas Fabio kembali memancarkan aura mencekamnya.


-bersambung.


__ADS_2