
. "Bang... jangan-jangan mbak Aris bangkit dari kubur untuk membalaskan dendamnya." Cetus Gilang dengan polos.
"Lang... jangan bercanda Lang. Ini di makam." Bisik Dimas masih memperhatikan nyata tidaknya gadis yang empat tahun terakhir menghilang dari pandangannya.
"I-itu mbak Raisa kan?" Tanya Gilang lagi menepuk keras bahu Dimas saat melihat kedatangan Raisa yang menyusul Arisa.
"Dim... kau disini?" Tanya Raisa yang membantu Dimas untuk beranjak. "Kenapa kau terduduk di tanah?" Lanjutnya kembali bertanya dengan heran pada Dimas yang masih sedikit ketakutan.
"Kau ingat padanya?" Tanya Raisa merangkul pundak Arisa yang menggeleng menjawab pertanyaan Raisa.
"Rais... kau bisa menyentuhnya?" Pekik Dimas dengan wajah polos.
"Kau pikir adikku apa sialan?."
"Bu-bukankah?" Tanya Dimas selanjutnya dengan ragu menoleh ke makan di sampingnya.
"Sudah jelas. Itu bukan adikku. Dia teman Aris, dan.... keluargaku akan bertanggung jawab atas kejadian ini." Jawab Raisa membuat Dimas menghela nafas lega sesaat.
"Tadi kau bertanya apakah Aris mengingatku?" Raisa mengangguk menanggapi pertanyaan Dimas.
"Hahaha kau bercanda Rais. Tidak mungkin hanya dalam waktu empat tahun, Aris melupakanku."
"Ya sudah jika kau tak percaya." Raisa mendelik sambil meraih tangan Arisa dan menyuruhnya untuk mengingat nama Rama yang tertulis di batu nisan.
"Ali Ramadhan? Hemmm namanya seperti kak Reza. Kak Reza juga nama lengkapnya Ali Fahreza Ramadhan."
"Aris... coba ingat lagi. Nama itu selalu kau sebut-sebut sebagai cinta matimu, bahkan didepan Rayyan pun kau tak ragu menyebutnya sebagai kekasih yang paling kau cintai seumur hidup." Ucap Raisa meraih bahu Arisa dengan keras dan sedikit meninggikan suaranya. Arisa hanya menatap sendu wajah Raisa yang jelas terlihat marah.
"Maaf Raisa... aku tidak ingat."
"Aris... kau bercanda kan? Kau melupakan adikku?" Dimas ikut meraih tubuh Arisa dengan ragu dan kemudian memberanikan diri menatap Arisa dengan lekat.
"Siapa kau?" Bagaikan sebuah pisau yang mengiris hati Dimas seketika, Dimas mematung semakin terkejut dengan yang baru saja ia dengar.
"Ma-maksudmu apa Aris? Kau tak mengenalku? Hei jangan bercanda. Kita sudah bersama sejak Rama meninggal. Setelah empat tahun kau menghilang dan menyisakan sebuah misteri tentang kematianmu, dan sekarang kau muncul di depanku dengan kau tak mengingatku. Lelucon apa itu Aris?" Dimas meraih kedua lengan Arisa dengan sedikit mencengkramnya dan begitu dalam menatap kedua mata Arisa.
"apa wajahku terlihat sedang bercanda?" Tanya Arisa masih dengan memasang wajah datar. Kemudian Arisa menoleh dan menatap Gilang yang mematung tak berani bergerak setelah mendengar dan menyaksikan Arisa yang kini berbeda. Namun melihat Arisa yang semakin menyipit saat menatapnya, Gilang semakin gugup dan merasa tak nyaman.
"M-mbak kenapa natap Gilang begitu?" Tanyanya terbata dan sedikit menghindari kontak mata dengan Arisa.
__ADS_1
"Apa kau pacarku? Wajahmu sangat mirip dengan yang selalu muncul di mimpiku." Jawabnya membuat ketiga orang di depannya merasa terkejut.
"Dia Gilang Aris.... bukan pacarmu. Pacarmu Rama, kakak Gilang dan adik dari orang ini." Ucap Raisa seraya menunjuk Dimas di sampingnya. Dimas masih enggan melepaskan tangannya dari Arisa dan tatapannya semakin dalam menembus kedua manik cokelat itu.
"Apa yang terjadi padamu?" Lirihnya kini menundukkan kepala seakan sudah tak kuat menatap wajah gadis yang ia cintai dalam diam selama masa penyembuhannya dulu.
"Amnesia." Jawab Arisa dengan begitu santai.
"Ap-apa? Amnesia?" Pekik Gilang dan Dimas serentak yang ditanggapi anggukan oleh Arisa sendiri.
"Apa kau mengingat Rayyan dan Bayu?" Tanyanya kemudian.
"Ohhh kak Bayu? Aku ingat. Kau temannya?" Jawabnya berbinar dan membalikkan pertanyaan konyol yang membuat Dimas berdecih kesal lalu terkekeh sambil melepaskan tangan dari Arisa.
"Pada Bayu saja kau ingat? Padaku? Hahaha Aris.... aku yang mati-matian berusaha menyembuhkanmu, menuruti apa maumu, dan menggantikan peran Rama setelah kepergiannya, kau bisa lupa? Tapi pada Bayu yang menemanimu sebentar, kau begitu ingat? Bahkan Rayyan yang sudah jelas akan di jodohkan dengan kakakmu, kau begitu mengingatnya."
"Kenapa kau begitu marah?" Seketika, Dimas mematung mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Arisa.
"Iya Dim. Kenapa kau begitu marah?" Tanya Raisa yang ikut heran akan sikap Dimas.
"Ya... ka-karena.... ka-kau sendiri tahu kan ka-kalau Arisa dan ad-adikku itu saling mencintai. Dan ka-kau juga melihatnya bagaimana Arisa menjaga perasaannya untuk Rama meskipun dia sudah meninggal." Jawab Dimas dengan sangat terbata.
"Gilang dan Rama memang ada kemiripan. Dari segi wajah dan postur tubuh. Bukan hanya kau, aku saja sering merasa ada Rama pada Gilang." Imbuh Dimas yang ikut melempar senyum ketika melihat betapa cantiknya Arisa sekarang setelah sekian lama hilang dari pandangannya.
"Kenapa aku begitu kehilangannya Raisa? Apa dia sangat mencintaiku? Kau bilang aku sangat mencintai Rayyan, tapi kenapa aku tak merasakan perasaan yang sebesar ini padanya? Saat aku mencoba mengingat Rama, entah kenapa rasa sakit di kepalaku tidak terasa, tapi malah ada sebuah kesedihan yang begitu dalam disini." Ucapnya lagi sembari meraih dadanya yang perlahan semakin sesak.
"Jika kau sudah ingat, pasti kau akan menemukan jawabanmu sendiri." Raisa mengelus punggung saudari kembarnya dengan begitu tenang.
Setelah mendapatkan kesepakatan bersama, akhirnya nama yang tertulis di makam yang selama ini mengatas namakan Arisa, telah di ganti dengan nama Citra seutuhnya.
Di hari yang Yugito buat untuk sebuah acara syukuran karena Arisa yang kembali dalam keadaan baik-baik saja, meskipun ingatannya tidak. Arisa hanya berdiam diri di balkon dengan duduk di sofa sambil memeluk lututnya memikirkan bagaimana kabar Sarah dan Reza. Ia begitu merindukan kedua orang yang selama empat tahun ini begitu menyayanginya. Bahkan di rumah yang sekarang ia tinggali pun tak merasakan kehangatan seperti di rumah Sarah.
Setiap malam, Arisa selalu menatap langit dan beberapa ingatan pun terlintas sekejap di benaknya. Setelah lebih dari satu pekan ia berada di kota kelahirannya, dan selama itu pula, ia tak lagi bertemu dengan Rayyan. Rasanya hampa dan terasa hatinya selalu sakit saat mengingat wajah kecewa Rayyan saat itu.
Arisa bergegas meraih kunci mobil sport miliknya yang masih stay terparkir di garasi.
"Mau kemana?" Tanya Yugito saat Arisa tepat menginjakkan kaki di lantai dasar. Ia menoleh dan mendapati Yugito yang berdiri di depan ruang kerjanya. Adegan itu terasa jelas ia ulang sejak empat tahun lalu.
"A-Aris mau......" belum selesai ia menjawab, ia sendiri tersentak mengapa kalimat itu muncul di kepalanya dan mengapa rasanya begitu sesak. Arisa merasakan bahwa Yugito tengah marah padanya.
__ADS_1
"Mau ayah antar?" Tanya Yugito saat melihat Arisa yang tiba-tiba diam. Arisa menyadari bahwa adegan itu adalah ingatannya saat dulu.
"Ti-tidak ayah. A-aku hanya ingin cari angin saja. Dan sekalian mencoba mencari apa yang bisa membuatku mengingat sesuatu." Yugito mengangguk pelan setelah ia terdiam sesaat.
Rencana yang ia pikirkan untuk pergi ke rumah Rayyan seketika hilang dan ia malah berlalu menuju rumah sakit. Entah kenapa dan karena apa, ia sendiri tidak mengerti. Arisa terus mengikuti apa yang hatinya tujukan. Hingga sampai ia disebuah pintu ruangan bernamakan Dimas. Perlahan Arisa membuka pintu putih dan besar itu dan melangkah menuju meja yang sedang di belakangi oleh pemiliknya.
"Apa ada laporan sus?" Tanyanya tanpa menoleh.
"Apa ingatanku bisa kembali?" Dimas terhenyak dan seketika ia berdiri menyadari siapa di belakangnya.
"A-Aris? K-kau?" Tanyanya terbata.
"Aku mohon. Ceritakan siapa Rama, Rayyan dan dirimu. Setidaknya hanya 3 orang saja. Aku yakin kau bisa memberitahuku." Dimas terdiam sesaat dan memalingkan wajahnya, kemudian ia mengangguk dan menyunggingkan senyum manis di wajah Arisa.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Dimas meminta izin untuk pulang cepat dan menemani Arisa berkeliling kota sambil menceritakan bagaimana Arisa menjalani hari-harinya.
"Kau tahu banyak tentangku." Lirih Arisa setelah mendengarkan cerita Dimas, tapi ia heran kenapa keluarganya sangat tak tahu ia dulu hidup bagaimana. Seakan yang sekarang berstatus keluarganya pun, hanya sebuah ikatan tanpa arti saja.
"Begitulah." Jawab Dimas singkat dengan menghela nafas dalam.
"Jika saja aku katakan sekarang bahwa aku menyayangimu seperti Rama dulu, apa kau akan menerimaku seperti menerima Rama dan Rayyan?" Batinnya menatap sendu pada jalanan yang ia lalui.
Sampai di sebuah taman, Dimas mengajak Arisa berjalan santai sambil bercerita tentang Rayyan yang ia tahu saja.
"Apa aku begitu mencintainya?" Tanya Arisa polos.
"Mungkin. Jika tidak, kau tak mungkin kabur dari rumah tepat 3 hari sebelum acara pernikahan Rayyan dan Raisa." Jawab Dimas serius.
"Begitu ya?" Lirihnya menunduk lesu dan melamun terdiam di tengah jalur pejalan kaki.
"Kakak Putri?" Panggil seorang gadis dari belakang membuat Arisa menoleh dan seketika Seina mematung menatap wajah Arisa yang begitu nyata.
"Kakak putri...." teriaknya berlari dan memeluk Arisa begitu erat. Arisa mendadak panik karena ia di peluk oleh anak orang yang bahkan ia sendiri tidak tahu siapa. Namun, hati tak pernah berbohong. Instingnya bekerja lebih peka dari perasaannya. Perlahan Arisa membalas pelukan Seina dan dengan lembut membelai rambut Seina.
"Risa..." lirih Rayyan yang menyusul Seina dan mendapati pemandangan yang selama ini ia harapkan.
"Sein tak pernah bohong. Kakak putri masih hidup." Ucapnya semakin erat memeluk Arisa yang ia sendiri tak tahu bahwa wanita yang ia peluk ini sedang kebingungan mengingat siapa dirinya.
-bersambung.
__ADS_1