TAK SAMA

TAK SAMA
144


__ADS_3

. "Put ada pertemuan dengan Rega jam 1 siang ini." Ucap Zain tepat ketika Arisa hendak membuka pintu ruangannya.


"Kak Zain! Aku belum masuk ruangan. Dan masih ada jam istirahat. Tenang saja aku tak akan kabur."


"Oh benarkah? Lalu, dari mana kau tadi? Harusnya kau ada saat presentasi di ruang Reza."


"Heheh maaf. Aku ada urusan mendesak."


"Semendesak apa sampai kau meninggalkan pekerjaanmu?" Zain beranjak dan menatap Arisa dengan tajam.


"Hehe wajahmu menakutkan kak. Ini menyangkut hidup dan mati."


"Kau bertemu dengan Rega?"


"Ehhh tidak. Aku hanya bertemu kak Tio saja." Jawaban tersebut tidak Zain tanggapi. Ia hanya terdiam kemudian duduk kembali di kursinya. Melihat Zain yang diam, Arisa memilih untuk memasuki ruangannya. Meski bagaimana pun, ia merasa ada yang berbeda dengan Zain.


"Dari mana saja kau?" Suara berat itu sontak membuat Arisa terhenyak tepat ketika menghadap pada meja kerjanya.


"Kak Reza." Pekiknya.


"Kenapa? Terkejut?" Arisa di buat heran dengan sikap kedua orang yang tak seperti biasanya.


"Kakak marah? Karena aku pergi tiba-tiba?"


"Pikir saja sendiri." Delik Reza kemudian beranjak dan segera melewati Arisa yang masih berdiri di dekat pintu.


"Kak Tio memintaku pulang dan melepas jabatanku sebagai presdir disini." Reza terdiam, tangannya tak jadi menarik pintu agar terbuka. Ia masih saling membelakangi dengan Arisa yang sama-sama enggan saling berhadapan.


"Lalu?" Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Reza.


"Melihat reaksi kakak yang begini, mungkin aku harus merubah pikiranku. Ternyata kakak sudah tak membutuhkanku? Aku kira masih. Jadinya aku menolak ajakan kak Tio." Arisa terkekeh sembari melangkah menuju jendela dan membukanya.


"Tapi, sebelum aku pulang, aku mau menghabiskan waktu dulu dengan kakak dan bunda. Apa kakak mau--" celotehannya terhenti ketika tiba-tiba sebuah tangan memeluk kepalanya dari samping dengan sedikit gemetar.


"Kak Reza.!" Panggilnya dengan suara yang lirih. Namun, Reza tak menyahuti. Ia hanya terisak pelan sembari mempererat pelukannya.


"Apa Tio mengancammu? Atau memang keputusanmu?" Tanya Reza setelah melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Entah. Tapi, jika kakak terus mendiamkanku, maka aku anggap sebagai keputusanku. Karena, sejujurnya aku tak mau pergi dari sini. Aku masih ingin bersama kakak sampai nanti kakak ataupun aku menikah. Aku mau, sebelum aku menikah, aku masih bersama bunda. Karena jelas, aku pergi untuk mengikuti suamiku. Bukan untuk meninggalkan kalian begitu saja."


"Kau sudah dewasa ternyata. Sejak kapan kau memikirkan menikah?" Reza tersenyum tipis dan menyentil dahi Arisa dengan gemas.


"25 tahu bagi perempuan itu sudah tua. Dan harusnya kakak yang hampir kepala 3 ini sudah punya calon menantu untuk bunda."


"Mengurus diri sendiri saja aku sudah pusing. Apalagi mengurus anak orang."


"Tapi mengurus bunda dan aku saja bisa."


"Itu berbeda. Kau itu adikku." Kali ini, Reza mendorong pelan kepala Arisa dengan memasang ekspresi gemas.


"Lalu, bedanya dengan pacarmu?" Semakin kesini, wajah Arisa semakin polos menatap wajah Reza.


"Memangnya aku punya pacar?"


"Kau bertanya padaku? Hemmmm bukankah ibu kak Rega itu janda?" Reza terbelalak lalu bersiap memarahi Arisa yang langsung berlari menyadari reaksi Reza.


"Kau pikir aku tidak laku pada yang muda? Kalau aku mau aku bisa memacari 5 gadis seumuranmu sekaligus. Sini kau hah." Namun Arisa memilih untuk terus berlari sambil tertawa karena puas menjahili Reza. Tawanya tak berhenti meskipun ia sudah berada diluar ruangan.


"Hayo... mau kemana kau?" Sontak Arisa langsung berlindung ke belakang Zain yang tengah sibuk dengan komputernya. Ia mulai merasa kesal dan menghela nafas dalam sesaat.


"Wajahmu menakutkan kak. Seperti kak Seno." Ucap Arisa dengan polos. Mendengar hal tersebut, kini berganti Reza yang tertawa terbahak-bahak.


"Aku setuju denganmu Put. Dia dan Seno memang sama."


"Sama-sama garang." Keduanya tak henti-henti bercanda dan tertawa di area meja kerja Zain. Zain hanya tersenyum tipis menanggapi dan tak ingin merusak suasana hati keduanya.


"Put. Mau makan siang diluar?" Tanya Reza setelah menghentikan tawanya.


"Yu... kakak yang traktir." Jawabnya beranjak menghampiri dan kemudian melangkah beriringan dengan Reza.


"Mau makan apa?"


"Emmmm sepertinya ayam geprek enak."


"Kepalamu yang di geprek sini." Geram Reza. "Makan pedas terus." Lanjutnya mendelik kesal.

__ADS_1


"Loh... kan ada levelnya kak. Kalau tak mau pedas, paling level yang rendah."


"Iya tapi tetap saja lambungmu akan rusak lagi. Ingat Put! Bunda susah payah menyembuhkanmu. Lalu sekarang kau dengan mudah mau merusaknya lagi?"


"Ya sudah mau hot wings saja."


"Sama saja Putri...."


Zain masih menatap keduanya yang perlahan menjauh dari padangan matanya. Rasanya seperti melihat Reza dengan mendiang Nadhira saat ini. Wajahnya bersemu merona ketika melihat senyum Arisa yang menurutnya sangat manis.


. "Hei Rama. Ini kali pertama aku berkunjung ke makammu. Aku harap kau sudah tenang dan tak membuat adikku masih berharap padamu." Ucap Raisa sembari mengusap batu nisan bertuliskan nama mantan kekasih adiknya. Kemudian ia beranjak lalu menoleh pada Fariz yang berada sedikit di belakangnya. Fariz tersenyum dan langsung merangkul Raisa mengiringi langkahnya.


"Aku mau Aris datang." Ucapnya dengan suara yang lirih.


"Dia pasti datang. Tak mungkin kakak kembarnya menikah dia tak datang."


"Tapi, kakak sendiri tahu, kita sempat bertengkar sebelum Aris ke Bandung." Mendengar kalimat ini, Fariz hanya tersenyum ringan.


"Kau tenang saja. Kita bujuk dia sama-sama." Kali ini, Raisa yang tersenyum ringan mendapat jawaban dari Fariz.


"Sekarang kita kemana?" Tanya Fariz selanjutnya setelah keduanya sama-sama diam.


"Ke butik kak Diana."


"Oke tuan Putri." Candaan Faris berhasil membuat Raisa tertawa kecil dan keduanya langsung bergegas menuju butik Diana.


---


. "Jika saja Putri tak hadir dalam hidup bunda saat itu, bunda tak tahu bagaimana hidup bunda sekarang. Selama ini setelah kepergian Nadhira, bunda merasa kesepian. Meskipun Reza selalu menguatkan bunda, tapi bunda tahu Reza sangat terpukul, bahkan lebih dari bunda. Dia sangat menyayangi Nadhira."


"Harusnya bunda juga tahu perasaanku saat mengingat Reza yang kehilangan Nadhira."


"Tio...."


"Aku yang merawatnya saat mama sibuk merawat Raisa. Aku yang menemaninya saat dia kesepian. Bahkan aku yang membawakan raport sekolahnya disaat ayah sibuk dengan pekerjaannya. Bunda pikir aku tak pernah kesepian?"


"Tio. Bukan maksud bunda ingin memisahkanmu dengannya. Tapi kau sendiri tahu Putri yang mau tinggal disini."

__ADS_1


"Kalau begitu aku juga akan pindah kesini." Sarah terhenyak, ia tak bisa membayangkan kemarahan Rahma jika benar Tio akan tinggal bersamanya.


-bersambung.


__ADS_2