TAK SAMA

TAK SAMA
207


__ADS_3

. Waktu bergulir, acara pun semakin meriah ketika teman-teman kuliah mereka datang dan meramaikan acara. Benar, dulu Arisa dan Rayyan memang satu kelas, jadi tak heran jika teman sekelasnya serempak untuk datang bersamaan. Namun, pandangan Arisa tertuju pada seseorang yang sudah berada di dekat altar. Terlihat pula tamu itu mendekat pada kedua mempelai dengan senyum yang sudah tersimpul.


"Hai Put. Selamat ya!" Ucapnya menjabat tangan kedua mempelai lalu menepuk dahi Arisa dengan gemas.


"Kenapa kak Rega terlambat? Padahal tadi kakak ikut berpartisipasi di acara pelemparan bunga." Mendengar ucapan Arisa ini, Rega tersenyum dan terkekeh pelan menyembunyikan wajah sendunya melihat Arisa menikah dengan Rayyan. Tak bisa di pungkiri, semenjak Arisa membuat perjanjian dengannya untuk menjadi pasangan Arisa didepan pria yang sekarang menjadi suaminya, Rega memendam perasaan suka terhadap Arisa, bahkan ia sempat berniat ingin melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Namun, kenyataannya sangatlah menyesakkan, disaat ia sudah berharap pada Arisa, ternyata Arisa menerima kembali masa lalunya dan sekarang sudah resmi menjadi suami istri.


"Oh iya, tadi Reza dapat bunga darimu ya?" Arisa mengangguk antusias menanggapi pertanyaan Rega yang menoleh sesaat pada Reza yang masih memasang wajah kesal karena terus di ejek oleh Tio.


"Aku berharap, kalian berdua cepat-cepat menemukan pasangan dan menikah. Maaf ya, selama di Bandung, aku selalu merepotkan kakak dan mama. Oh iya, dimana mama Mega?" Arisa baru tersadar akan ketidak hadiran Mega di sana, ia menoleh kesana kemari mencari keberadaan sosok yang mengajarkannya menjadi pimpinan yang bijak dan tegas meskipun hanya seorang perempuan.


"Mama tidak ikut Put. Dia baru pulih, seminggu yang lalu darah mama naik lagi, jadi harus istirahat."


"Emm begitu ya. Sampaikan salamku pada mama ya!" Rega mengangguk lalu ia berlalu dari hadapan Arisa setelah meminta beberapa poto bersama dengan pengantin. Setelah Rega, Arisa di kejutkan oleh kedatangan Zain dan seorang gadis. Rayyan yang sudah tahu dulu Zain sempat dekat dengan istrinya, ia dan Zain terlibat perang mata karena saling melempar tatapan tajam mengintimidasi.


"Selamat!" Tegas Zain menjabat tangan Rayyan dengan tatapan yang masih tajam.


"Terma kasih!" Balas Rayyan tak kalah mengintimidasi Zain, sehingga ucapan selamat dan terima kasih dari keduanya tidak terdengar tulus, melainkan seperti seseorang yang sedang marah dan saling melempar masalah.


"Mereka benar-benar tidak bisa akur." Batin Arisa tersenyum konyol melihat sikap kedua pria yang menurutnya sama-sama gila ini.


"Hai Put. Cieee jadi pengantin." Zain beralih memberi sapaan pada Arisa yang masih memasang wajah konyol menatapnya.

__ADS_1


"Oh, kenalkan ini tunanganku, bulan depan kami menikah." Ujar Zain yang menyadari arti tatapan Arisa ketika beralih pada gadis di sampingnya.


"Lilian." "Arisa Putri." Keduanya berucap bersamaan ketika tangan mereka saling bertautan. Arisa dengan lekat menatap Lilian dan Zain secara bergantian dengan berbeda arti dari tatapannya. Zain yang mengerti pun hanya tersenyum lalu menggeleng pelan seakan menjawab pertanyaan Arisa lewat sorot matanya.


"Begitu ya?" Lirih Arisa yang merasa ikut menyayangkan perpisahan Zain dan Vera yang sudah terjalin lama.


"Kalian selalu bertengkar kalau bertemu. Tapi, sudah aku beritahu dia. Dan katanya Eva juga akan datang dengan dia." Sontak Arisa menjadi berbinar mendengar penuturan Zain.


"Ingat! Jangan menjambaknya lagi oke!" Zain ikut menepuk dahi Arisa seperti yang di lakukan Rega tadi.


"Jangan mengungkit masa lalu kak. Aku tidak sejahat itu." Kali ini giliran Zain yang terkekeh menanggapi ungkapan Arisa.


"Ehem... kau bawa tunangan, tapi kau malah asyik mengobrol dengan istriku." Sindir Rayyan menyela obrolan Arisa dan Rayyan yang terdengar begitu menyenangkan.


"Tapi pikirkan perasaan tunanganmu juga Zain." Geram Rayyan meremas tangannya sendiri di depan wajah Zain.


"Hahaha apa yang kau pikirkan? Lilian tak akan cemburu, dia tahu siapa Putri. Dan juga dia tahu masa laluku dengan Putri. Kita hanya sebatas presdir dan asisten saja. Mantan pacarku itu Nadhira, bukan Putri." Jelas Zain seraya merangkul pundak Lilian yang menyembunyikan kecemburuannya di balik senyum simpul yang terlihat manis.


Dari jauh, Eva terheran mengapa Vera terdiam setelah mencatat namanya di buku tamu undangan. Ketika Eva menyusuri arah tatapan Vera, ia mengerti mengapa Vera terdiam tiba-tiba.


"Tunggu dia pergi dulu bu." Ucap Vera terdengar sendu.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi sebaiknya kita menemui pak Reza dulu." Eva mengajak Vera untuk menyapa Reza yang ada di meja paling depan dan terlihat Reza begitu murung menatap presdir perusahaan Artaris yang mengejek Reza habis-habisan.


"Mau sampai kapan kau mengejekku Tio? Bunda.... tegur dia. Aku sudah sakit kepala karena ejekannya." Reza mengadu dengan manja kepada ibunya yang tengah mengobrol dengan Diana di meja yang sama dengan Reza.


"Kau sudah tua Reza, harusnya tak boleh mengadu pada bunda." Lagi-lagi Tio mengejek Reza dengan tertawa puas. Benar-benar diluar dugaan, Tio yang selalu tegas dan arogan di lingkungan pekerjaan, disini ia terlihat begitu konyol dan absurd. Meski begitu, beberapa kamera mengarah pada wajah langka Tio yang baru kali ini di perlihatkan di depan publik. Ini mungkin akan menjadi trending pertama di berita dan para wanita mungkin akan lebih tertarik pada senyum Tio yang benar-benar langka.


"Pak Reza." Panggil Eva dari belakang. Sontak Reza menoleh dan dengan sekejap ia merubah ekspresinya menjadi datar, begitupun Tio yang melakukan hal yang sama dengan Reza. Wajahnya mendadak dingin ketika melihat Eva menghampiri Reza.


"Oh kalian?" Ucap Reza terdengar tegas.


"Nyonya, bagaimana kabar anda?" Sarah tersenyum menanggapi pertanyaan Eva yang beralih mencium tangannya dan di ikuti oleh Vera.


"Baik nak. Kau yang pernah menjadi atasan Putri dulu kan?" Kali ini, Vera yang mengangguk menanggapi pertanyaan Sarah.


Reza melirik pada Vera yang menunduk sendu menyimak obrolan Sarah dan Eva. Tanpa di duga, Reza menepuk bahu Vera sehingga Vera mendongak dan perlahan berkaca-kaca.


"Aku mengerti. Dunia bisnis memang menyakitkan bagi orang seperti kita."


"Apa berbisnis harus selalu ada perjodohan?" Lirih Vera bertanya dengan penuh harap mendapat jawaban yang mungkin bisa menguatkannya meskipun hanya sesaat.


"Tidak semua, tergantung. Namun hampir semua mengalami." Jawab Reza malah membuat Vera semakin murung. Menyadari Zain menghampiri mereka, secepatnya Reza memberitahu Vera, dan dengan cepat pula, Vera mengajak Eva untuk segera menemui Arisa. Zain menatap sendu pada manik teduh gadis yang sudah menemaninya selama 4 tahun lamanya itu.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2