
. Tio terdiam tak menanggapi doa Arisa yang menurutnya sangat diluar dugaan.
"Doa untuk dirimu sendiri?" Tanya Tio kemudian.
"Semoga..... emmmm sebaiknya kakak saja yang berdoa..."
"Aih... apa bedanya?"
"Yaa berbeda saja."
"Ya sudah. Kakak doakan semoga adik kesayangan kakak ini panjang umur, sehat selalu, tidak sakit-sakit lagi, selalu bahagia, dan....."
"Dan?"
"Semoga hatimu terbuka." Tio tersenyum sambil sedikit mengacak rambut Arisa. Arisa hanya tersenyum lalu tertawa kecil melihat wajah serius Tio.
"Kenapa tertawa?" Tio menyernyit dan sedikit bergeser menjauh dari Arisa.
"Tidak... hanya saja aku merasa kakak sangat lucu."
"Ohhhh kau baru tahu kakak lucu?"
"Dihhhh... aduuh..." Arisa meringis dengan menekap perut atasnya.
"Kenapa?" Tanya Tio panik lalu meletakkan kue dimeja rias Arisa, dan secepatnya meraih Arisa dengan wajah khawatir.
"Asam lambungku tiba-tiba naik." Ucap Arisa dengan masih meringis.
"Aish... kau makan apa? Kenapa sampai membuat asam lambungmu naik?" Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan Tio.
"Aku tidak makan apa-apa yang memicu lambung kak."
"Lalu?"
"Mendengar kakak memuji sendiri lucu." Seketika Tio menghela nafas dalam lalu menyeringai dan mencubit pipi Arisa dengan keras.
"Jadi kau menjahili kakak? Awas ya...."
"Aduuhhh sakit kak...." teriak Arisa membuat Tio melepaskan tangannya.
"Dasar kau jahil." Ucap Tio mengoleskan cream kue pada wajah Arisa. Arisa terbelalak dengan serangan Tio.
"Sudah... makan kuenya. Itu kakak yang buat." Lagi-lagi Arisa terbelalak lalu memasang wajah tak percaya dan memotong sedikit bagian ujung kue. Arisa mencicipi kue coklat itu dengan hati-hati.
"Kakak yakin ini buatan kakak?" Tanya Arisa yang kembali mengambil kue dan memakannya.
"Kenapa? Enak ya?" Ejek Tio ikut memakan bagian yang dipotong Arisa. "Wah enak." Cetus Tio kemudian.
"Katanya buatan kakak..." Arisa membalas Tio dengan mengoleskan cream kue ke pipi Tio sambil tertawa.
"Ohhh membalas kakak?" Tio bersiap membalas kelakuan Arisa. Sampai beberapa orang membuka pintu dengan sedikit keras.
"Ada apa?" Tanya Yugito dengan wajah panik. Tio menoleh kearah pintu dengan wajah berantakan dan menatap polos pada orang tuanya.
"Sedang apa kalian?" Tanya Rahma bergegas menghampiri Arisa. "Mengapa berteriak?" Tanya Rahma lagi dan meraih wajah Arisa.
"Kakak yang jahil." Jawab Arisa menunjuk Tio.
"Aih... kau yang mulai."
"Kakak yang mencubit pipiku."
"Kau yang mulai pura-pura lambungmu kambuh. Siapa yang tidak khawatir."
__ADS_1
"Sudah... kenapa malah bertengkar?" Yugito ikut menghampiri Arisa dan memeluknya lalu mengecup kening Arisa dengan hangat.
"Selamat ulang tahun nak." Dan seketika itu, bulir bening menetes dari kelopak mata Arisa yang memeluk sang ayah dengan erat.
"Putri ayah sudah dewasa ya..." ucap Yugito lagi membuat Arisa semakin keras terisak. Rahma panik lalu meraih Arisa yang terus menangis tak bisa dihentikan. Arisa merasa terharu dengan adegan ini. Setelah sekian lama, akhirnya ia mendapatkan ucapan ulang tahunnya kembali dari orang tua yang ia rindukan.
"Apa yang sakit nak?" Tanya Yugito lagi. Arisa menggeleng sambil mengusap wajahnya perlahan. Tio tersenyum tipis seakan merasakan kebahagiaan kecil yang dirasakan Arisa.
Raisa terdiam bersandar di balik tembok dan tak berniat menunjukkan dirinya.
"Apa Aris selama ini merasakan hal yang menyakitkan. Pantas saja dia selalu menyendiri dan menghindar dari keluarga. Ternyata memang sangat sakit." Gumam Raisa mengepalkan tangan dan menyentuh dadanya dengan sedikit menekan.
"Kenapa disini?" Suara Tio mengejutkan Raisa hingga dirinya sedikit menggeser dan menjauh dari Tio. Rasanya Raisa ingin tertawa melihat wajah Tio yang berantakan karena cream kue.
"Ta-tadi... Rais mendengar Aris berteriak." Jawab Raisa dengan lirih dan memalingkan pandangannya.
"Kebetulan. Ikut kakak." Ucap Tio kemudian menarik tangan Raisa menuju kamarnya. Raisa terheran dan tak bisa menebak mengapa Tio mengajaknya ke kamar Tio. Tio pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Tak lama, Tio kembali dan mengambil kotak hadiah dari lemari nya.
"Selamat ulang tahun. Kakak harap kau suka." Ucap Tio memberikan sekotak kado lalu mengacak rambut Raisa. Raisa menunduk lalu terisak kecil ketika menerima kado dari Tio dan menatapnya dalam.
"Apa kau kecewa karena kakak memberikan hadiah yang tak sesuai keinginanmu?" Tanya Tio ketika melihat sebulir embun menetes dari kelopak mata Raisa. Raisa menggeleng pelan kemudian memeluk Tio dengan erat.
"Kenapa kalian berdua suka sekali memeluk kakak?" Tanya Tio yang membalas pelukan Raisa. Namun Raisa semakin keras terisak dan tak menjawab sepatah katapun.
"Hei... kau kenapa? Ada yang sakit? Kenapa menangis seperti itu?"
"Kakak sayang Rais?" Tanya Raisa disela isakannya.
"Kau ini bicara apa? Tentu saja. Kau adikku."
"Kenapa kakak selalu menjauhiku? Aku juga ingin bersama kakak. Aku merindukan kakak." Tio terdiam sejenak mendengar apa yang Raisa katakan.
"Sudah... jangan menangis. Kakak menyayangi kalian berdua."
"Tapi kakak lebih sayang pada Aris. Kakak dan Aris selalu bercanda berdua, bermain berdua, makan berdua, bahkan kakak mati-matian menjaga Aris."
"Maaf." Lirih Raisa.
"Kakak yang minta maaf. Jika memang kau merasa kakak pilih kasih, maafkan kakak." Ucap Tio menepuk pipi Raisa pelan. "Sudah... jangan menangis terus. Nanti cantiknya hilang. Tidak lucu kan jika nona muda Pranata jadi jelek." Ejek Tio dengan tertawa kecil.
"Ihh kakak.... aku belum resmi menjadi bagian keluarga kak Fariz" rengek Raisa
"Tapi kalian pacaran kan?" Ejek Tio lagi dengan di tanggapi tawa oleh Raisa.
"Tidur sana.. besok kau harus bangun pagi."
"Memangnya mau kemana?"
"Lah bangun pagi harus selalu berpergian?"
"Yaa tidak sih... tapi..."
"Sudah... jangan tapi-tapian." Tio mendorong tubuh kecil Raisa menuju pintu yang terbuka.
"Kakak akan memantau kau dari sini." Ucap Tio bersandar di ambang pintu.
"Kakak pikir aku anak kecil." Gerutu Raisa sambil berjalan menaiki tangga.
"Ohh kau mau kakak tinggal, terus dibelakang mu ada yang mengikuti." Ejek Tio dengan nada serius membuat Raisa terkejut dan berbalik menatap kearahnya.
"Kakak." Pekik Raisa merajuk kesal.
"Ahaha becanda... sudah cepat." Tio tak henti-hentinya tertawa menjahili kedua adiknya.
__ADS_1
"Ada apa lagi?" Tanya Yugito yang bergegas keluar dari kamar Arisa. Tio menepuk dahinya seraya terus memaki dirinya sendiri.
"Sial. Pasti ayah memarahiku lagi." Lirih Tio yang berlalu memasuki kamar dengan pelan.
"Kak Ti--" Raisa menunjuk ke arah kamar Tio dan terhenti bicara karena tak mendapati Tio disana. Raisa menggembungkan pipinya kesal dan menoleh pada Yugito dengan wajah kikuk.
"Maaf ayah... Rais mengganggu ayah ya?"
"Kenapa berteriak?" Tanya Yugito menghampiri dengan khawatir.
"Tadi kakak bercanda ayah... dan Rais terkejut." Jawab Raisa ragu dan menundukkan pandangannya.
"Ishh.. dasar Tio, tadi Aris dia jahili dengan cream kue. Sekarang kau yang di jahili." Yugito menghela nafas berat.
"Sudahlah. Jangan dipikirkan. Kau tahu sendiri Tio bagaimana." Lanjut Yugito di tanggapi anggukan oleh Raisa.
"Ayah..." panggil Raisa lirih.
"Iya. Kenapa?"
"Rais boleh meminta sesuatu?"
"Katakanlah!"
"Rais ingin ayah dan Oma Galuh tak melanjutkan perjodohan Rais dan Rayyan. Rais ingin Aris yang dijodohkan dengan Rayyan." Lirih Raisa lagi dengan ragu.
"Kau yakin? Kau juga mencintai Rayyan kan?" Tanya Yugito seraya ingin meyakinkan.
"Iya tapi.... Rais tak ingin melukai hati Aris semakin dalam." Yugito termangu lalu tersenyum tipis. Yugito menepuk kepala Raisa pelan dan berjalan melewati Raisa.
"Tidurlah... besok kau harus bangun pagi."
"Ishh.. kakak dan ayah sama saja." Rajuk Raisa menggembungkan pipinya.
"Ayah mengantuk. Sebaiknya kau tidur. Jika tidak, ayah tak akan tanggung jawab jika ada yang mengganggumu."
"Ishh ayah...." rengek Raisa lagi dengan kesal kemudian berlari memasuki kamarnya dan mengunci pintu dengan rapat. Yugito tersenyum melihat sikap Raisa yang masih penakut meskipun sudah beranjak dewasa.
. Raisa menjatuhkan dirinya di sofa, lalu perlahan membuka kado pemberian Tio.
"Apa Aris juga dapat kado dari kakak?" Gumamnya menerka-nerka. Raisa termangu melihat sebuah gaun yang indah dengan warna pink sweet yang jika dipadukan dengan wajah baby facenya akan membuat dirinya menjadi semakin menawan.
"Cantik sekali.." gumamnya lagi dengan masih menatap kagum pada gaun dihadapannya.
Dikamar Arisa, Rahma menatap lekat pada kado yang masih tersimpan di meja rias Arisa. Rasa penasarannya teramat tinggi pada siapa orang yang sudah lebih dulu memberi Arisa hadiah sebelum keluarganya. Arisa keluar dari kamar mandi dan mengusap wajahnya dengan handuk kecil.
"Mama?" Tanya Arisa yang terheran mengapa ibunya masih disana.
"Mama boleh bertanya?" Arisa mengangguk mengiyakan.
"Dari siapa kado itu?" Rahma menunjuk kedua kotak dimeja rias.
"Ohh... itu dari...." Arisa menggantungkan jawabannya dengan gugup. "Apa tak masalah jika aku mengatakan itu dari bunda?" Gumam Arisa yang membuatnya menjadi melamun.
"Aris..." panggil Rahma lagi.
"Ehh maaf. I-itu dari Aray... dan bunda." Jawabnya kini semakin gugup.
"Ohhh... hemmm mama kalah cepat ya.." ucap Rahma tersenyum namun terlihat jelas diwajahnya tersirat rasa kecewa.
"Tidak ma... itu bunda bilang kebetulan saja. Takut jika hari selanjutnya Aris dan bunda tak bertemu lagi." Jawab Arisa meyakinkan.
"Baiklah.... apapun yang diberikan orang lain, jaga baik-baik." Ucap Rahma kemudian beranjak dan meninggalkan Arisa yang masih mematung di kamanrnya. Pintu tertutup dengan pelan, Arisa berjalan menuju meja rias dan mengambil kotak hadiah pemberian calon mertuanya. Diambilnya kotak pemberian Sonya terlebih dahulu, Arisa tertegun sebuah gaun berwarna biru muda yang terlihat manis. Dengan hiasan bunga-bunga di bagian pinggang dan samping turun menuju ujung gaun. Sangat indah. Lalu, Arisa beralih membuka kado dari Danu.
__ADS_1
"Wahhh phoenix." Ucapnya pelan seraya menggantungkan kalung perak dengan liontin phoenix yang memeluk berlian berbentuk hati.
-bersambung