
. Selepas Arisa kembali, ia tak sekalipun mau keluar dari kamar. Pandangannya kembali kosong dan sayu.
"Bagaimana membujuknya? 3 hari lagi Rais menikah. Tak mungkin bridesmaid memasang wajah murung begitu." Keluh Diana yang tengah mengintip dari pintu kamar Arisa.
"Aku juga tak tahu. Rayyan yang kita anggap sebagai senjata andalan saja bisa gagal." Tio ikut mengeluh di belakang Diana dan sama-sama mengintip.
"Kak Tio? Apa ada yang ingin kau katakan padaku?" Tanya Arisa berhasil membuat suami istri itu terkejut kenapa Arisa bisa menyadari keberadaan mereka. Tio masih terdiam dengan sikap yang tenang. Ia sadar dengan yang di maksud Arisa, yang tak lain Arisa ingin dirinya memberitahu tentang Sarah.
"Aris... kata ayah. Besok kau ke kantor ya... sepertinya Wina kewalahan jika tak ada Rais." Ucap Tio mengelak dan beranjak dari tempatnya. Terdengar Arisa pun beranjak dari duduknya dan langkahnya begitu keras ia hentakkan. "Krakk" Tio tertarik kembali ke belakang dan dengan refleks meraih lehernya yang tercekik oleh baju yang robek karena Arisa tarik dengan tiba-tiba.
"Aris!!" Pekik Diana tak kalah terkejut melihat keganasan Arisa hari ini.
"Apa yang kau lakukan bodoh? Kau mau membunuhku?" Tio ikut berteriak dengan memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Arisa. Nafas keduanya sama-sama memburu menahan amarah.
"Kau yang mau membunuhku kan?" Arisa tak kalah keras berteriak dan tangannya begitu gatal ingin menghajar kakaknya. Alhasil, Arisa meraih baju Tio lagi dan sekuat tenaga menghempaskan Tio ke penghalang balkon membuat Diana menjerit melihat Tio hampir terjatuh karena tangannya terpeleset.
"Aris! Aris! Aris!" Pekik orang-orang yang ada di bawah. Bahkan Yugito pun langsung beranjak dari sofa karena ia pun terkejut dengan apa yang di lakukan Arisa.
"Aris! Apa yang kau lakukan? Itu bahaya?" Teriak Yugito dengan begitu panik, ia takut jika hal buruk tak terduga terjadi. Arisa semakin tajam menatap Tio, dan dorongannya pun semakin kuat dengan air mata berderai deras namun tak merubah raut wajahnya yang datar tak berperasaan.
"Aris!" Pekik Tio lagi.
"Diam kau. Bukan itu yang ingin aku dengar. Aku tahu, kau sendiri mengerti apa yang aku maksud kan?" Geram Arisa masih mempertahankan posisinya meskipun Diana terus memohon agar ia melepaskan Tio. Tio yang merasa bersalah pun membiarkan Arisa menahannya seakan ia tak punya kekuatan untuk menyelamatkan diri. Jelas tenaganya lebih besar dari pada adiknya, namun ia tak cukup kuat jika harus membalas membentak Arisa di saat kesalahan tengah mengarah kepadanya. Baru kali ini Tio dan Arisa sampai bertengkar, bahkan hampir membuat Tio kehilangan nyawanya akibat serangan Arisa yang tiba-tiba.
"Kau diam. Berarti kau memang tahu sesuatu." Ucap Arisa masih berlanjut memojokkan Tio.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan?" Tio mencoba untuk terlihat tak mengerti dengan maksud Arisa.
"Jangan pura-pura bodoh Tio. Selama seminggu setelah insiden penculikan itu, bukankah kau ada di Bandung? Kau tahu bunda pergi kemana kan? Bahkan kau tahu alasan kenapa dia pergi juga kan?"
"Apa yang kau maksud itu? Aku di Bandung karena ada proyek. Masalah mereka pergi itu aku tak tahu."
__ADS_1
"Bohong! Kalau memang kau tak tahu, kenapa kau selalu diam jika aku bertanya tentang bunda? Kau selalu mengalihkan topik pembicaraan seakan kau sedang menyembunyikan sesuatu."
"Aris! Tenangkan dirimu nak." Yugito mencoba melerai perselisihan kedua anaknya. Meskipun Arisa berhasil di jauhkan dari Tio, namun amarahnya masih jelas terlihat.
"Kamu ini kenapa Aris? Bagaimana jika Tio jatuh ke bawah? Kau juga yang menyesal nantinya." Agar Arisa lebih tenang, Yugito meraih dan mendekapnya. Tak bisa di pungkiri, ia juga tahu bagaimana perasaan Arisa yang di tinggal pergi oleh Sarah dengan tiba-tiba.
"Ayah.... bunda ayah.... bunda kemana? Kenapa bunda tega meninggalkan Aris? Apa bunda membenci Aris?" Rengeknya mulai menangis tersedu-sedu di pelukan Yugito.
"Tidak nak. Ayah yakin bundamu pergi bukan karena alasan itu."
"Tapi kenapa dia tidak pamit?"
"Mungkin ada hal yang membuatnya tak bicara padamu."
"Ayah tahu bunda kemana kan? Jujur ayah!"
"Sayangnya ayah tak tahu. Sarah ataupun Reza, sama sekali tak memberitahu ayah. Tak ada yang tahu. Sudah ya.... nanti kalau bawahan ayah sudah menemukan keberadaan mereka, ayah akan langsung memberitahumu." Mendengar hal ini, Arisa terhenti dari tangisnya, ia melepaskan pelukan dan langsung menatap Yugito penuh harap.
"Asal kau harus tenang. Jangan menangis! Kalau kau begitu terus, apalagi sampai membahayakan Tio seperti tadi."
"Aku kesal."
"Tapi jangan kehilangan kendali. Bagaimana jika kakakmu jatuh?"
"Maaf ayah."
"Minta maafnya pada Tio. Bukan pada ayah."
"Tidak mau."
"Aih... kalau tidak mau, ya sudah ayah tak akan mencari Sarah."
__ADS_1
"Ihhhh.... iya iya. Aris minta maaf." Ucapnya masih memalingkan wajahnya dari Tio.
"Yang tulus dong!" Ejek Tio memasang wajah angkuh membuat Arisa menjadi semakin gugup.
"Maaf!" Lagi, Arisa terlanjur malu meminta maaf pada kakaknya dengan apa yang sudah ia perbuat. Apa lagi, melihat baju Tio yang sobek karena dirinya.
"Kau ini kecil, tapi tenagamu seperti kingkong."
"Mau aku jatuhkan sekarang kau?" Pekik Arisa kembali meraih Tio dengan marah karena ejekan itu.
"Ehhh Aris... sudah. Tio. Kau juga! Kenapa malah mengejek adikmu?"
"Lah... kenapa malah aku yang salah.?"
"Ayahhhhhh!!!!" Teriak Ghava dari bawah yang tengah menangis di pangkuan Rahma. Diana yang sudah merasa tenang segera turun dan membawa Ghava ke pangkuannya.
"Kenapa menangis sayang?" Diana mencoba menenangkan Ghava yang mungkin terkejut melihat ayahnya hampir jatuh dari lantai atas.
"Ayah!!!" Teriaknya lagi memekik telinga. Tio segera menghampiri putranya yang tak henti-henti menangis histeris.
. Malamnya, Arisa dan Raisa tengah berdiam di balkon milik Arisa. Keduanya menatap ke arah langit dan terlihat Arisa menarik sebuah senyum tipis.
"Apa kau merindukan Rama?" Tanya Raisa yang melihat senyuman Arisa tersebut.
"Tidak. Dan aku tak akan merindukannya lagi."
"Eh? Kenapa? Apa karena Rayyan? Yaa menurutku memang harusnya begitu. Lagi pula, sudah berlalu lama. Jadi aku rasa kau sudah melupakan Rama." Senyum Arisa semakin melebar, ia melirik ke arah Raisa yang sama-sama menatap ke atas.
"Tidak juga. Rasa ini masih tetap ada. Saat aku amnesia pun, Rama yang paling jelas aku lihat di setiap mimpi dan kilas balik semua hal yang aku lupa. Hanya dia yang muncul dengan wajah jelas. Selain kak Tio. Aku berhenti merindukannya karena aku takut rasa rinduku akan menghalangi ketenangannya di alam sana."
-bersambung
__ADS_1