TAK SAMA

TAK SAMA
128


__ADS_3

. Rayyan menarik tangan Arisa ke kamar yang disiapkan untuknya. Bayang-bayang empat tahun yang lalu, yang mana saat Arisa nyaris dibuat hancur oleh Rayyan, bayangan itu semakin pekat memenuhi pikiran Arisa. Segera ia berhenti dan menarik paksa tangannya.


"Apa kau masih mencintaiku?" Tanya Rayyan tanpa membalikkan badannya. Ia masih membelakangi Arisa yang terdiam tak menjawab.


"Kau diam. Dan aku anggap kau masih mencintaiku." Ucap Rayyan kemudian. Arisa langsung terbelalak mengapa Rayyan malah membahas tentang perasaannya.


"Tidak. Aku tidak lagi mencintaimu." Ucap Arisa dengan datar dan santai.


"Lantas, kenapa kau kembali datang ke kehidupanku?"


"Aku tidak datang ke kehidupanmu."


"Lalu sekarang apa artinya?" Rayyan bertanya dengan berbalik dan langsung menatap tajam mata Arisa. Arisa mundur beberapa langkah menghindari kemungkinan jika kejadian itu terulang. Apa lagi sekarang dirinya tepat berada di ujung tempat tidur.


"Kau punya rumah, dan kau punya keluarga, tapi kenapa kau malah ke hotelku?" Tanya Rayyan terus mendesak Arisa.


"Kau tak mengerti Rayyan." Bantah Arisa mulai menunjukkan keputus asaannya.


"Bagaimana aku mengerti, sementara kau sendiri yang menghindariku. Aku sudah mencoba mengerti dengan apa yang kau alami. Bahkan aku sudah bersabar saat kau dengan begitu mudahnya menyebut nama Rama di depanku. Harus mengerti bagaimana lagi?" Dan lagi, Arisa hanya terdiam kali ini dengan memalingkan wajahnya.


"Tatap aku Risa." Segera Rayyan meraih bahu Arisa dan membuatnya menghadap menatap matanya sesaat dan kembali memalingkan pandangannya.


"Ku bilang tatap aku!" Tegasnya lagi sambil memaksa wajah Arisa kembali menoleh ke arahnya.


"Apa? Lepaskan aku. Aku sudah punya kekasih. Dia lebih baik darimu." Dan, perlahan Rayyan melonggarkan genggamannya hingga kemudian terlepas begitu saja.


"Semudah itu? Apa selama ini, atau selama aku ada di sampingmu dulu, kehadiranku memang tak ada artinya?" Lagi, Arisa memilih untuk diam. Tidak begitu, tapi benar adanya. Kedekatannya dengan Rayyan dulu hanyalah sebuah pelarian agar ia bisa melupakan Rama dan penyakitnya untuk sesaat sebelum ia mati. Begitu pikiran yang terlintas di benak Arisa dulu. Tapi, ia juga ikut terjebak dalam perasaannya sendiri. Namun sekarang, semua kacau. Ia tak tahu harus mengakuinya atau tidak bahwa dirinya masih mencintai pria di depannya ini.


"Jadi, kau sudah punya kekasih?" Tanya Rayyan menganggukkan kepalanya pelan sambil memalingkan wajahnya yang semakin memerah.


"Dan kau? Kenapa bersikeras mencintaiku? Padahal kau sudah berpacaran dengan Clara." Kini, giliran Arisa yang mengintrogasi Rayyan.


"Aku tidak berpacaran dengannya. Kau saja tahu bagaimana Clara." 'Deg' Arisa tersentak dan ia masih heran mengapa bisa Rayyan menjawab demikian padahal ia begitu santai dengan berita yang beredar. Bahkan dipeluk Clara pun, Rayyan tak menolak. Begitulah pikiran Arisa tentang Rayyan ketika melihatnya di beberapa acara Tv yang tak sengaja menyorot Rayyan dan ada gadis cantik yang tak pernah menyerah menggoda Rayyan sedari dulu.


"Aku tak pernah berpaling darimu. Meskipun aku dekat dengan wanita lain, yang ku pikirkan hanyalah wajahmu."


"Sudah Aray. Ku mohon jangan di teruskan." Pinta Arisa sedikit kesal.


"Kenapa Risa? Kau juga begitu kan?" Arisa tak langsung menjawab, ia menghela nafas sesaat kemudian menghembuskannya perlahan.


"Iya. Memang aku begitu. Kenapa? Kau mau mengejekku?" Tanyanya dengan suara lantang.


"Lalu kenapa kau menerima orang lain?" Bukannya menjawab, Rayyan malah membalas Arisa dengan pertanyaan.


"Aku... aku hanya ingin melupakanmu." Jawab Arisa mendadak gugup.

__ADS_1


"Apa?" Rayyan menyernyit mendapati jawaban diluar dugaan. "Ishhh Risa. Kenapa menggunakan orang baru untuk melupakan orang lama?" Lanjutnya.


"Aku tidak begitu." Jawab Arisa mengelak.


"Kenapa kau terus mengelak? Kau pikir tidak sakit saat menjadi sebuah pelarian? Sudah! Hanya padaku saja, orang lain jangan sampai merasakan hal serupa. Jika kau memilihnya, cintai dia. Jika kau tak bisa mencintainya, lepaskan. Jangan menggenggam sesuatu yang tak bisa kau genggam."


"Tahu apa kau tentangku? Sudahlah Rayyan. Kau sudah berpacaran dengan Clara. Jangan bicara seolah kau sedang patah hati karena aku. Aku tahu kau bahagia saja berpisah denganku kan?" Kini suara Arisa kian meninggi.


"Kau berpikir begitu?" Kembali, Rayyan menyernyit mendapati penuturan Arisa.


"Lalu? Harus berpikir bagaimana?"


"Lupakan." Rayyan mendesah kasar lalu ia berjalan melewati Arisa begitu saja.


"Aku akan mengadakan pesta kecil untuk merayakan hari jadi perusahaan Pratama. Dan aku secara resmi mengundangmu sebagai Presdir. Jadi, ku harap kau datang. Ajak kekasihmu. Aku ingin bertemu dengannya." Ucap Rayyan ketika langkahnya terhenti tak jauh dari Arisa yang tak sedikitpun bergerak dari tempatnya.


"Dan aku harap kau juga segera ingat bagaimana aku mencintaimu dulu." Lanjut Rayyan sedikit pelan.


"Jika memang kau begitu mencintaiku, mengapa kau tak memperjuangkanku seperti dulu?" Tanya Arisa tak kalah pelan.


"Dulu kau hanya bersamaku. Sekarang kau sudah dengan orang lain. Aku hanya akan berjuang, bukan merebut." Jawab Rayyan penuh penegasan dan kemudian ia keluar dari kamar Arisa.


"Tidurlah dengan tenang. Aku tak akan mengganggumu. Jika perlu kau jangan keluar sebelum pagi apapun yang terjadi." Selanjutnya, Rayyan berkata sebelum ia benar-benar menutup pintu dengan rapat.


. Paginya, Arisa bergegas keluar kamar untuk menunggu Reza agar mereka segera pergi dari sana. Namun, ketika Arisa membuka pintu kamar, ia terkejut karena mendapati beberapa orang berdiri tegap di depannya.


"Selamat pagi nona." Ucap mereka serempak sambil menunduk hormat. Arisa hanya mengangguk dan membalas sapaan mereka.


"Tuan sudah menunggu." Arisa hanya mengangguk mengerti. Ia berpikir tuan yang di maksud adalah Reza. Jadi, Arisa dengan santai mengikuti para bodyguard menuju lantai bawah.


Ia tak menyadari lantai mana yang di tekan oleh salah satu dari mereka.


Hingga ketika keluar lift, Arisa seperti orang bodoh. Ia menoleh kesana-kemari layaknya orang kebingungan. Mengapa resto? Semalam Reza tidak bilang akan ke resto. Saat ia hendak menghubungi Reza, niatnya urung saat sebuah tangan merangkul pundaknya. Ia terkejut dan mencoba menarik diri, namun Rayyan terlalu cepat, ia tak membiarkan Arisa menjauh sedikitpun darinya.


"Ra-Rayyan." Pekik Arisa tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Mau kemana sayang?" Tanya Rayyan begitu hangat. Sangat berbeda dengan semalam. Arisa yang masih di selimuti rasa panik hanya bisa mengikuti langkah Rayyan. Mereka duduk di meja yang sudah tersedia beberapa makanan. Arisa menyipit saat melihat senyum Rayyan yang mengembang. Ia merasa seperti saat masih kuliah dulu. Perlakuan manis Rayyan dan perhatian kecilnya. Akankah ia bisa mendapatkannya kembali? Setelah ia menjauhi Rayyan dengan terang-terangan.


"Jangan dulu pergi. Sarapan dulu." Ucapnya membuyarkan lamunan Arisa.


"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Arisa dengan nada dingin. Sejenak Rayyan terdiam, ia menghentikan aktifitas tangannya yang tengah mengambil makanan, dan kemudian tersenyum pada Arisa.


"Kau ini bicara apa? Rencana apa? Pacar mana yang tak khawatir jika si cantik ini pergi dalam keadaan belum makan. Jika asam lambungnya kambuh lagi bagaimana?"


"Aku sudah sembuh. Dan aku bukan pacarmu." Lagi, Arisa berkata dengan begitu dingin, dan terdengar begitu menekan. Ia seakan menegaskan bahwa Rayyan tak harus berpura-pura lagi.

__ADS_1


"Terserah apa yang kau bicarakan. Yang penting sekarang kau sarapan dulu. Setelah itu silahkan jika kau mau pergi." Dan kali ini, Arisa menurut. Ia perlahan melahap makanan di depannya. Ketika baru beberapa suap, ia merasa ada yang aneh dalam makanannya. Dan tak lama, ia meraih tenggorokannya dan segera meraih gelas dan meneguknya sampai habis. Arisa terbatuk keras, dan nafasnya mendadak sesak. Rayyan beranjak dan langsung meraih Arisa dengan panik.


"Risa... kau kenapa?" Arisa menggeleng kasar sambil terus terbatuk dan tak melepaskan tangannya dari leher. Semakin lama, ia tak bisa menahan tangisnya karena rasa sakit yang mulai membuatnya tersiksa.


Rayyan semakin panik, tanpa berpikir panjang, ia langsung menggendong Arisa. Ditengah kepanikannya, ia malah bertemu dengan Reza.


"Putri." Panggil Reza langsung berlari menuju Rayyan. "Kau apakan Putri?"


"Sebaiknya kita cepat-cepat ke rumah sakit." Ucap Rayyan tanpa menjawab pertanyaan Reza. Meskipun kesal, Reza tak ada pilihan lain selain mengikuti Rayyan menuju rumah sakit.


Ketika sampai, Rayyan semakin gelisah melihat Tio yang sedang berjalan memasuki pintu utama. Ia menebak-nebak bagaimana nasibnya jika Tio tahu Arisa begini karena ulahnya. Segera ia menidurkan Arisa dan beberapa petugas membawanya ke ruang pemeriksaan.


"Dimana si dokter sialan itu. Kenapa saat di butuhkan dia tidak muncul." Ucapnya dengan kesal.


"Apa yang kau lakukan pada Putri hah." Dengan tak bisa menahan kesabarannya lagi, Reza mencengkram kerah kemeja Rayyan dengan sirat amarah di wajahnya.


"Aku tidak melakukan apa-apa." Jawab Rayyan masih merasa panik.


"Lalu? Kenapa Putri bisa sampai begitu?"


"Aku lupa Risa alergi telur." Mendengar jawaban itu, Reza menyernyit sambil melepaskan genggamannya perlahan.


"Ah sial... tenggorokannya pasti bengkak lagi." Ujar Reza yang mengingat kembali kondisi Arisa saat ia dengan santainya menyajikan olahan telur untuk Arisa. Efek Arisa yang amnesia, ia tak tahu makanan apa yang di larang untuknya.


Ditengah kegelisahan keduanya, suara yang begitu mereka kenal dan sedang mereka hindari, kini menyapa dan membuat keduanya merinding.


"Sedang apa kalian?" Tanya Tio dengan lirikan khasnya.


"A-aku...." Rayyan terbata, untuk menjawab saja ia tak sanggup. Ia tak bisa membayangkan kemarahan Tio jika tahu adik kesayangannya sedang menjalani pemeriksaan di dalam ruangan yang sedang mereka tunggu.


"Ini bukan salahku Tio." Ucap Reza yang santai menjerumuskan Rayyan.


"Aku bilang aku lupa." Elak Rayyan mencoba membela dirinya.


"Lalu, jika lupa, ini menjadi salah Putri?"


"Bukan begitu maksudku." Lagi, Rayyan mengelak.


"Jadi bagaimana maksudmu? Sudah tahu Putri alergi telur, kau malah menyajikannya." Mendengar pengakuan Reza, Tio terbelalak dan ia tak kuasa menahan amarahnya yang mendadak memuncak.


"Kak... dengarkan dulu penjelasanku." ~Rayyan.


"Penjelasan apa? Apa kau begitu marah pada adikku sampai kau membalas dendam dengan cara ini.?"


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2