TAK SAMA

TAK SAMA
162


__ADS_3

. Hari sudah gelap, Arisa masih berada di luar menatap setiap bunga anggrek yang tengah bermekaran. Beberapa kali ia menoleh pada ponsel di sampingnya, namun tak ada satupun notifikasi. Malam semakin larut, teh yang semula hangat, kini sudah menjadi dingin karena di diamkan. Kelopak mata sudah terasa berat, hingga Arisa putuskan untuk tidur. Ia menutup pintu balkon lalu berbaring di atas tempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Selamat tidur." Pesan singkat itu berhasil terkirim sebelum Arisa benar-benar terlelap.


Rayyan semakin dalam menatap layar ponselnya ketika notifikasi itu sampai padanya. Ia kembali beralih menatap ke arah balkon Arisa yang sudah 1 jam ia perhatikan dari luar. Setelah itu, Rayyan bergegas melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Yugito.


Paginya, Arisa masih tidur saat Rahma memasuki kamarnya. Tak biasanya Arisa terlambat untuk sarapan.


"Aris... sayang. Kau belum bangun?"


"Hmmm" hanya begitu respon Arisa terhadap pertanyaan ibunya.


"Apa kau sakit? Badanmu hangat." Tanya Rahma sembari meraba dahi, leher dan lengan Arisa.


"Hanya masuk angin ma." Jawabnya dengan suara yang malas.


"Kan mama sudah bilang. Jangan lama-lama di luar. Kan jadi masuk angin." Ucap Rahma berdecak kesal, sikap keras kepala Arisa memang sulit di hilangkan. Rahma beranjak lalu berteriak memanggil bi Ina.


"Bawa air hangat, handuk kecil, sama minyak kayu putih ya bi." Titah Rahma kemudian setelah bi Ina menampakkan diri. Tak lama berselang, Yugito dan Raisa datang dengan tergesa memasuki kamar Arisa.


"Aris kenapa? Sakit? Mau ke dokter?" Yugito dengan panik meraba dahi dan leher Arisa, begitu pun Raisa tang sama-sama khawatir saat mendengar ibunya menyuruh bi Ina untuk membawa barang-barang yang biasa di gunakan untuk orang sakit.


"Aris hanya masuk angin Yah.."


"Ayah buatkan teh hangat ya."


"Rais ada obat masuk angin juga Yah." Ucapnya ikut beranjak kembali ke kamarnya, dan Yugito bergegas ke dapur untuk membuat teh hangat. Arisa termangu melihat kesibukan keluarganya saat di duga ia sakit. Setelah ia beranjak dan bersandar, tangannya mengepal di bawah selimut dengan tatapan suram nan sendu menjadi satu.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa tidak dari dulu saja mereka begini?" Batinnya berdecih pelan.


"Kenapa Aris? Kau kesal?" Tanya Rahma yang terheran dengan sikap Arisa.


"Ma... besok Aris ke Bandung." Ucapnya begitu pelan.


"Apa sebaiknya kau disini? Selain karena Rais yang akan menikah 2 minggu lagi, semua orang yang ada di rumah ini mau kamu disini."


"Tapi, Aris punya tanggung jawab ma."


"Kenapa harus kau yang jadi presdir? Perusahaan itu sudah di berikan sepenuhnya pada Sarah dan anaknya. Seharusnya kamu tak perlu ikut menjadi bagian mereka. Kau mau jadi presdir? Kakakmu punya perusahaan cabang. Kau bisa menjadi presdir disana. Atau kau mau kasih sayang dari mama? Hanya tergantung padamu saja. Jika kau mau tinggal disini, mama akan berikan apa yang kau mau." Mendengar penuturan Rahma, Arisa hanya bisa menunduk. Sejujurnya, hatinya mulai ragu untuk meninggalkan rumah ini, semua benar-benar berubah. Ia mendapatkan kasih sayang dari Rahma secara langsung dan tanpa adanya ego dari masing-masing keduanya. Terlihat jelas, meskipun Rahma tahu Raisa lebih parah, namun Rahma lebih memperhatikan Arisa. Sebagai gantinya, Raisa di rawat oleh bi Ina. Namun, Raisa sendiri tak menyimpan rasa iri, ia lebih merasa senang karena dengan begini, kemungkinan Arisa akan mulai betah di rumah tanpa ingin kemana-mana lagi.


"Bu... minyak kayu putihnya habis. Saya lupa untuk beli." Ucap bi Ina yang datang dengan membawa keperluan yang di minta oleh Rahma.


"Ya sudah suruh mang Ujang untuk beli di mini market depan saja bi. Yang lavender ya." Bi Ina mengangguk dan segera kembali untuk meminta mang Ujang ke mini market.


"Rais... jangan lari-lari. Jahitanmu masih rentan." Teriak Rahma yang menggeleng melihat Raisa yang seakan tak mempedulikan lukanya. Bersamaan dengan Yugito, Raisa bergegas mendahului dan tertawa dengan lepas.


"Maaf ayah. Tapi Rais yang duluan."


"Itu bahaya Rais. Ayah sedang bawa air panas." Tegur Yugito namun tak membuat Raisa takut sedikitpun.


"Hehe... aih katanya hangat tadi."


"Iya tapi sedikit panas."


Setelah minum obat dan di baluri minyak kayu putih di punggungnya, Arisa kembali tidur meskipun ia tak mau, namun untuk menetralkan obat, ia terpaksa kembali masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


Melihat Arisa yang terlelap, Raisa sudah merasa lega. Ia berpamitan pada Rahma yang sama-sama keluar dari kamar Arisa. Tepat ketika menutup pintu, suara ponsel Arisa berdering dan membuat langkahnya terhenti.


"Ishh siapa yang menelpon?" Gerutunya sembari kembali berjalan ke arah nakas dan meraih ponsel milik Arisa. Ia menghela nafas malas saat melihat nama yang tertera di layar.


"Hallo." Sapanya sesaat setelah ia menggeser tombol hijau.


"Risa... sebelumnya aku minta maaf tapi bisakah kita tidak bertemu untuk sementara waktu. Aku ingin sendiri dulu. Dan aku banyak pekerjaan, jadi kau tak perlu menemuiku ke kantor dan tak usah mengirim pesan." Ucap Rayyan dari seberang tanpa tahu yang menjawab adalah Raisa. Raisa merasa kesal mendengar apa yang baru saja ia dengar.


"Apa maksudmu?" Tanyanya menahan amarah sembari berjalan ke arah balkon agar suaranya tak mengganggu Arisa.


"Kita break." Jawab Rayyan singkat.


"Kenapa kalian tidak putus saja hah. Rayyan! Kau sudah melamar adikku, dan kau berjanji akan bersamanya apapun yang terjadi. Dan sekarang kau ingin break tanpa alasan? Huft adikku benar-benar bodoh ternyata. Kenapa dia bisa setia pada laki-laki bajingan sepertimu." Umpat Raisa yang tak bisa mengendalikan emosinya lagi. Sontak Rayyan terkejut, ia baru menyadari bahwa yang sedang bicara ini bukanlah Arisa. Melainkan Raisa.


"Kau Raisa? Dimana Arisa?" Tanya Rayyan merubah nada suaranya menjadi panik.


"Apa untungnya aku memberitahumu. Kau saja tak peduli padanya kan?"


"Tidak Raisa. Emm maksudku, Arisa kemana? Kenapa kau yang menjawab teleponnya." Tanya Rayyan kemudian.


"Adikku sedang sakit. Dan aku harap kau tak mengganggunya. Bisa-bisa adikku semakin parah jika bertemu denganmu."


"Sa-sakit? Kenapa? Bukankah kemarin baik-baik saja? Apa karena semalam dia berada di luar dalam waktu yang lama?" Raisa kembali menyernyit mengapa Rayyan tahu penyebab Arisa demam.


"Apa pedulimu? Laki-laki yang sudah mengajak perempuannya break, itu hanya laki-laki pengecut. Kalau memang sudah tak ingin bersama, kenapa tidak sudahi saja hubungannya?"


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2