
. Seno kemudian berlalu tanpa berbicara apapun. Karena memang pada awalnya dirinya yang meninggalkan Diana, dan merelakannya dengan Tio. Selain karena Tio temannya, Seno pun merasa Diana akan bahagia dengan sahabat kecilnya itu.
Diana terduduk lesu dengan tubuh yang mendadak gemetar ketika Lusi berlalu menyusul Seno sudah keluar dari butik.
Mau bagaimana pun, jika seorang mantan kekasih akan menikah, ada sebuah luka yang tersirat kembali. Arisa meraih Diana dan memeluk seraya menenangkan.
"Aris bantu merancang boleh?" Tanya Arisa yang masih memeluk Diana.
"Tentu saja." Jawab Diana tersenyum menguatkan diri.
Tio menggenggam tangan Diana seraya melemparkan senyum. Diana semakin erat memeluk Arisa dan kemudian menyemangati diri sendiri.
"Ada yang ingi kakak perlihatkan untukmu." Ucap Diana kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang pribadinya. Diana mengajak Arisa dan Tio masuk dan keduanya menurut ikut masuk ke ruangan tersebut.
Terdapat sebuah gaun berwarna dusty pink selutut tanpa lengan. Arisa terpaku menatap gaun itu dan secara refleks menyentuh dan memutari patung dengan kagum.
"Kau suka?" Tanya Diana yang bersandar di meja kerjanya.
"Aku suka sekali kak. Andai saja ini boleh ku pakai." Jawab Arisa masih terkagum menatap gaun didepannya. Tio tertegun melihat senyum Arisa yang kembali mengembang.
"Jika kau suka, berarti customer kakak juga akan suka." Ucap Diana mengedipkan matanya sebelah pada Tio.
"Apa ini mahal?" Tanya Arisa menoleh pada Diana.
"Yaa lumayan... karena kakak mengutamakan kualitas disini. Tentu saja harga juga sedikit mengejutkan."
"Kak Tio... jika aku sudah bekerja, bolehkan aku membeli barang seperti ini? Hanya satu atau dua saja. Aku janji." Bujuk Arisa dengan memasang dua jari.
"Boleh. Sekarang juga boleh. Kau mau?"
"Ehh tidak kak. Tak apa aku tak terlalu tertarik. Lagi pula ini untuk customer kak Diana."
"Ahaha.. kau sudah mau 21 tahun tapi sikapmu seperti umur 12 tahun." Ejek Tio dengan tawa lepas.
Arisa terdiam menatap konyol pada Tio, namun kemudian Arisa melempar senyuman melihat Tio yang tertawa lepas seakan tanpa beban.
"Aku tak sabar melihat kalian menikah." Ucap Arisa menghentikan tawa Tio.
"Doakan saja secepatnya." Ucap Tio merangkul pundak Diana.
"Ish... jangan pacaran didepanku." Kesal Arisa membalikkan tubuhnya membelakangi kedua kakaknya itu.
"Jangan naif Aris. Kau juga dengan Rayyan pasti suka berpacaran." Sindir Tio.
"Ya sudah. Aku tunggu didepan saja." Arisa berlalu keluar dan menutup pintu dengan rapat.
"Berapa biaya yang kau keluarkan untuk merancang ini?" Tanya Tio menatap Diana dengan lekat.
"Rahasia...." jawab Diana dengan nada ejekan.
"Ishh aku serius... biar aku saja yang tanggung. Apa lagi ini untuk adikku."
__ADS_1
"Tio... Aris dan Rais itu adikku juga." Ucap Diana.
Dering ponsel Tio berdering, dan dengan cepat Tio menjawab panggilan dari sang ayah.
Arisa terduduk di sofa ruang tunggu dengan memainkan ponselnya. Dan tak lama menunggu, Tio keluar dan mengajak Arisa pulang.
"Ayah menyuruh kita pulang cepat." Ucap Tio melewati Arisa. Arisa secara refleks mengikuti Tio menuju mobil. Disepanjang jalan, Tio masih dibuat heran dengan ayahnya yang menyuruh untuk pulang cepat dan sekalian menjemput Raisa sekarang. Padahal, Raisa masih ada kelas di jam ini.
Arisa menjadi tak nyaman ketika mobil terparkir di parkiran kampus Yyy dan menunggu Tio untuk meminta izin pada dosen agar bisa membawa Raisa pulang.
Setelahnya, Tio kembali dengan Raisa dibelakangnya mengikuti langkah Tio.
Arisa menyibukkan diri dengan ponsel ditangannya. Seolah tak ingin bicara apapun. Raisa duduk sendiri di kursi belakang namun tak mendapati sapaan dari Arisa yang terus fokus pada ponselnya.
"Langsung pulang?" Tanya Tio setelah menyalakan mobil dan menoleh pada kedua adiknya secara bergantian.
"Terserah Kakak." Jawab Raisa menghela nafas berat.
"Aris?" Tio beralih menatap Arisa yang enggan menanggapi pertanyaan Tio.
"Aris...." panggil Tio lagi dengan nada tinggi.
"Ish apa?" Arisa tak kalah membentak menoleh pada Tio. Tio menghela nafas kasar mendengar suara Arisa yang lebih tinggi darinya.
"Kau kenapa lagi hah? Selalu saja seperti ini." Tio menatap Arisa dengan tatapan tajam dan marah. Arisa membalas tatapan Tio dengan tak kalah tajam.
"Jika ada masalah. Katakan! Jangan menunggu orang mengerti dengan diammu. Aku muak dengan itu." Ucap Tio masih dengan nada tinggi. Raisa hanya memalingkan wajahnya menyaksikan apa yang terjadi didepan matanya.
"Situasi apa ini? Mengapa kak Tio semarah itu." Gumam Raisa yang terdiam tak ingin menyikapi kemarahan adik dan kakaknya.
"Berhenti dan buka pintunya." Ucap Arisa setengah berteriak.
"Kau gila." Tio masih berteriak dan enggan menepikan mobilnya
"Berhenti." Teriak Arisa lagi.
"Tidak. Diam atau aku akan menyita kunci balkonmu. " Tegas Tio kemudian melajukan mobilnya dan tak menanggapi Arisa.
"Silahkan saja sita. Aku tak peduli. Seperti apapun kondisiku juga tak akan ada yang peduli" Arisa memalingkan wajahnya pada kaca mobil dan menatap pantulan wajahnya yang samar terlihat.
"Rama... apa kau tak ada niat untuk menjemputku? Aku merindukanmu. Aku ingin bersamamu saja." Gumam Arisa kemudian menatap layar ponselnya yang kini menampilkan foto Rama. Raisa menatap nanar pada Arisa yang jelas merekayasa perasaannya. Raisa merasa tak percaya jika Arisa kembali mengingat pada Rama. Sangat jelas kini Arisa sudah menerima kehadiran Rayyan.
"Kau naif Aris. Kau mencintai Rayyan, tapi didepanku kau seakan masih mencintai Rama." Gumam Raisa berdecih dan memijit dahinya dengan keras. Ketiganya terdiam seakan tak ada yang ingin berbicara.
Sampai di rumah, Arisa berlari mendahului kedua kakaknya. Beberapa kali, Arisa hampir menabrak pelayan yang sedang sibuk bekerja. Arisa meraih wajahnya dan menutup bagian hidung dan mulutnya.
"Non... jangan berlari, nanti jatuh." Tegur bi Ina yang tak di tanggapi oleh Arisa.
"Aris...." panggil Raisa yang berlari menyusul Arisa.
"Non Rais... jangan berlari." Tegur bi Ina memasang wajah khawatir.
__ADS_1
"Iya bi.." jawab Raisa masih berlari menaiki tangga. Raisa menyadari langkah Arisa yang sedikit sempoyongan. Namun saat ingin membuka pintu kamar Arisa, pintu terkunci dari dalam.
"Aris...." teriak Raisa mengetuk pintu dengan keras. Raisa mencoba mendengar apa yang mungkin bisa ia dengar. Namun tetap saja, tak ada yang terdengar.
"Aris.... buka pintunya...." teriak Raisa lagi.
"Ada apa Rais?" Tanya Rahma yang menyusul putrinya ke lantai atas.
"Aris ma... dia sepertinya sakit." Jawab Raisa.
"Kenapa mengkhawatirkan orang lain? Kau saja masih harus istirahat." Ucap Rahma meraih Raisa dengan cemas.
"Apa seperti ini tanggapan mama saat mendengar Arisa sakit? Sudah jelas Raisa itu sudah sembuh dan Arisa yang sakit. Tapi mama masih saja mengkhawatirkan Raisa. Apa mama tidak menyayangi Arisa? Arisa putri mama juga kan? Sudah jelas Arisa lahir setelah Raisa dan itu berarti Arisa putri kandung mama. Kenapa mama seperti membenci Arisa? Lihat wajahnya. Dia sama dengan Raisa bukan dengan Nad--"
"Tio." Teriak Yugito menghentikan Tio.
"Ayah juga sama. Kalian membuatnya hidup tapi memperlakukannya seakan dia sudah mati." 'Plak' tamparan keras Yugito cukup membungkam Tio.
"Jaga bicaramu." Yugito berteriak dengan wajah penuh amarah.
"Ayah hentikan." Raisa ikut berteriak disela kemarahan ayahnya. "Mengapa kalian jadi seperti ini? Sekarang lebih baik mencari cara bagaimana membuka pintu kamar Aris. Rais khawatir ada apa-apa pada Aris." Raisa kembali menggedor pintu kamar dengan wajah yang sudah dibanjiri air mata.
"Kenapa lagi anak ini?" Yugito menggeser tubuh Raisa agar menepi, lalu mendobrak beberapa kali. Kemudian terdengar kunci terbuka, dengan cepat Yugito mendorong pintu dan meraih kedua bahu Arisa.
"Kenapa kau selalu membuat orang khawatir? Bisa sekali saja kau tak pernah menyusahkan?" Yugito menatap tajam mata Arisa yang semakin berkaca-kaca. Tubuh Arisa gemetar dan bisa Yugito rasakan bahwa putri bungsunya tengah ketakutan. Ditambah perkataan yang baru saja Yugito lontarkan bisa jadi kembali menikam hati sang putri. Arisa beberapa kali menyernyit menahan perih di perutnya. Lambungnya yang kambuh membuatnya merasa lemas.
"Kenapa ayah?" Lirih Arisa. "Kenapa ayah membiarkanku hidup? Kenapa aku tidak menyusul Rama saja jika memang aku menyusahkan? Ayah bilang ayah menyayangiku, tapi kenyataannya ayah membenciku. Ayah hanya menyayangi Rais. Bahkan ayah membiarkan seseorang yang berarti dihidup ayah meninggal karena aku. Ayah juga ternyata tidak menyayangi Nad--"
"Aris." Panggil Tio menyela dan mengentikan ocehan Arisa. "Apa yang kau bicarakan?" Lanjut Tio meraih Arisa dan membiarkan Yugito sedikit menjauh. "Tubuhmu panas, kakak tahu kepalamu pasti sedang pusing." Tio mendekap Arisa dengan hangat. Jelas terasa hawa panas dari tubuh Arisa. Tio beberapa kali menghela nafas dalam karena hampir saja mereka menyebut nama Nadhira didepan Rahma. Arisa memeluk Tio dengan erat sambil terus sesenggukan keras.
"Aris..." lirih Raisa ikut mendekati Arisa.
"Aris.. kau berat. Kau lemas ya? Aris..." Tio terbelalak ketika menyadari bahwa Arisa kembali tak sadarkan diri. Rahma ikut meraih Arisa dengan panik. Dengan cepat Tio membawa Arisa ke tempat tidur.
"Aris... bangun. Jangan menakuti kakak..." lirih Tio tak bisa menahan kesedihannya dan rasa takut akan kehilangan Arisa. Yugito memijit kepalanya dengan keras. Bagaimana bisa dirinya kembali melontarkan kata terlarang yang bisa saja menghancurkan mental sang anak.
"Aris...." Raisa membenamkan wajahnya dibahu Arisa sambil memeluk sang adik dengan erat. Raisa juga merasakan hawa panas dari tubuh Arisa. Tio segera memanggil Dimas untuk kerumahnya.
Terdengar suara langkah kaki mendekati kamar Arisa. Semua menoleh kearah pintu yang kini berdiri seorang pelayan dan menunduk dengan sopan.
"Ada tamu tuan." Ucap pelayan pada Yugito.
"Siapa? Bukankah Danu akan datang nanti malam." Ucap Yugito yang berlalu meninggalkan kamar Arisa.
Yugito terkejut mendapati Bayu yang tengah duduk diruang tamu.
"Bayu?" Yugito menyernyit kemudian ikut duduk setelah berjabat tangan dengan Bayu.
"Apa kabar om?"
"Baik. Kau?"
__ADS_1
"Saya juga baik. Dan... Arisa..." Yugito menghela nafas dalam melirik kearah kamar Arisa.
-bersambung