
. Selepas sarapan, Rayyan tak sedikitpun memberi celah Xavier untuk mendekati Arisa. Xavier sendiri merasa heran mengapa seluruh keluarga Putra langsung terdiam setelah Rayyan melarang Arisa makan dari piring Ghava.
"Aray... bukankah kau ada pekerjaan hari ini?" Tanya Arisa yang terheran mengapa Rayyan masih berada di rumahnya padahal hari sudah siang.
"Kau harus ikut." Pinta Rayyan.
"Ta-tapi..."
"Aku tak akan bekerja jika kau tak ikut." Sekali lagi, Rayyan mengucapkannya dengan tegas tanda tak ingin ada penolakan.
"Aray... aku--"
Rayyan beralih menghampiri Tio dan mengulang kalimatnya untuk meminta izin agar Arisa bisa bersamanya.
"Tidak Rayyan. Adikku masih kelelahan. Dia harus istirahat." Jawab Tio dengan tegas melarang Rayyan membawa Arisa.
"Tapi kak..."
"Hari ini aku berada di rumah ini Rayyan. Jadi Aris bisa aku awasi. Kau tenang saja. Bukan hanya kau yang khawatir padanya. Aku bahkan lebih khawatir." Jelas Tio berharap Rayyan mengerti dan bisa bekerja dengan tenang tanpa harus mengkhawatirkan Arisa.
"Setelah selesai bekerja, kesini saja. Dan kau pastikan sendiri adikku akan baik-baik saja dan si tikus itu tak akan menyentuh adikku sama sekali." Lanjut Tio mulai merasa geram saat mengingat wajah Xavier yang kini tengah mengobrol dengan Yugito di ruang kerja.
"Kalian sedang membicarakan siapa?" Tanya Arisa yang masuk ke dalam obrolan Rayyan dan kakaknya.
"Tidak Aris. Biasa.... manusia gila." Jawab Tio tersenyum sambil menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Kak... jujur! Ada apa?" Kini suara Arisa kian menekan, berharap di antara kedua orang di depannya mau memberitahu apa yang mereka sembunyikan darinya.
"Sini! Kakak bisikkan." Ucap Tio dan langsung membisikkan sesuatu ke telinga Arisa. Terlihat alis Arisa menyernyit lalu kembali biasa dan mengangguk seakan mengerti.
"Baiklah. Kakak tenang saja. Aku juga tidak suka padanya. Lebih baik aku jalan dengan Dimas. Iya kan Aray?" Arisa beralih menatap Rayyan dan Rayyan pun mengangguk mengiyakan. Namun, Rayyan seakan tersadar lalu merangkul leher Arisa dengan kuat.
"Kau mau macam-macam hah?" Geram Rayyan sambil mengacak rambut Arisa.
"Aduhhh Aray hentikan." Teriak Arisa meronta-ronta ingin kabur.
"Bukankah kau sendiri yang bilang, lebih baik Aris dengan Dimas dari pada dengan bedebah itu kan?" Tio ikut menimpali dengan menatap ejek pada Rayyan yang mulai panik.
"Oh? Jadi boleh aku pergi dengan Dimas?" Pertanyaan Arisa kali ini malah membuat Rayyan semakin panik.
"Ehhh tidak sayang. Awas saja kalau kau jalan dengan pria lain siapapun itu selain aku, aku tak akan mencari bundamu." Ancam Rayyan beralih memojokkan Arisa.
"Arghhh. Sudahlah. Aku mau berangkat. Jaga dirimu, jaga hati juga, terus jaga pintu kamarmu. Kalau ada setan yang mau masuk, jangan kau biarkan masuk." Ucap Rayyan lalu mengecup kening Arisa dan bergegas untuk segera ke kantor. Arisa mengantarkan Rayyan sampai teras dan pemandangan itu berhasil membuat semua orang di halaman menatap ke arah mereka. Pasalnya, di bandingkan Rais yang jelas adalah pengantin baru, justru Rayyan dan Arisa yang lebih menunjukkan keharmonisan mereka.
Setelah Rayyan berlalu, Arisa kembali masuk dan berjalan menaiki tangga. Belum sampai ke tangga teratas, terdengar Yugito memanggilnya dari bawah. Dan terlihat pula Xavier berada tepat di samping Yugito yang tengah menatapnya penuh arti. Hal itu membuat Arisa menjadi tak nyaman. Tatapan itu lebih terlihat seperti Rayyan saat menatapnya.
"Selain Rama dan Aray, aku tak suka ada orang lain yang menatapku begitu." Batin Arisa seraya menuruni tangga dan menghampiri ayahnya tersebut.
"Ada apa ayah?" Tanya Arisa mendelik malas.
"Kau sibuk?" Yugito balik bertanya saat mendapati sikap Arisa yang begitu terganggu.
__ADS_1
"Sangat sibuk ayah. Aris lelah ingin istirahat. Kalau butuh bantuan, kak Tio saja ya." Jawabnya benar-benar sangat malas.
"Emm Arisa... tapi bisakah--"
"Xavier. Kau tak dengar? Adikku kelelahan. Kalau kau butuh bantuan, aku saja." Timpal Tio yang menghampiri mereka dan seakan menegaskan bahwa jangan ada yang mengganggu Arisa.
"Ayah ini kenapa? Sudah tahu Aris kelelahan, terus sekarang malah mau menyuruhnya." Lanjut Tio dengan suara semakin kesal.
"Bukan begitu Tio. Berhubung Xavier ini masih ada beberapa hari disini, ayah pikir, Aris mau menemani Xavier untuk berkeliling disini."
"Aku tidak izinkan ayah. Selain karena Aris kelelahan, Aris juga bukanlah gadis biasa sekarang. Dia wanita yang seharusnya tidak bersama lelaki lain. Ayah lupa status Aris sekarang apa? Jika lupa, aku ingatkan lagi ayah. Aris sudah resmi menjadi tunangan Rayyan. Dengan kata lain, dia calon menantu keluarga Pratama. Dalam waktu dekat, mereka akan menikah. Apa ayah sudah ingat?"
"Tapi itu tak akan mempengaruhi statusnya Tio. Dia hanya perlu menemani saja."
"Haha pantas saja ada bunda di kehidupan ayah. Ternyata pemikiran ayah saja seperti ini. Tapi bagiku dan Aris, setia itu mahal ayah. Apapun alasannya." Tegas Tio lalu beranjak dan menarik Arisa kembali ke lantai atas.
"Ternyata kakaknya juga. Apa yang membuat Tio melarang Arisa bersamaku?" Batin Xavier yang tak memalingkan pandangannya dari Arisa dan Tio yang terus berjalan menaiki tangga.
Raisa yang menyaksikan perdebatan mereka, ia hanya menyipitkan matanya saat menatap Xavier yang kini saling berpandangan dengannya.
"Apa saudari kembarnya juga? Dari tatapannya iya. Tapi kenapa? Pada Rayyan mereka begitu baik. Tapi padaku? Padahal tadi saat sarapan, aku tak tahu Arisa alergi telur. Makanya aku protes pada Rayyan. Om Yugito juga, kenapa tidak memberitahuku apa saja yang tidak disukai Arisa. Arghhh percuma aku memikirkan ini, sudah jelas aku kalah dari Rayyan." Batin Xavier kini memalingkan pandangannya dari Raisa.
Yugito meminta maaf dan Xavier pun tidak mungkin menolak maaf dari orang yang lebih tua. Lagi pula, ia di berikan tempat untuk menginap tadi malam. Saat Tio kembali turun dari kamar Arisa, ia segera keluar dan memanggil seseorang. Dan ketika Tio kembali masuk kedalam rumah, di belakangnya ada beberapa orang dengan tubuh kekar berpakaian serba hitam menaiki tangga lalu berjaga di depan pintu kamar Arisa. Situasi itu menegaskan bahwa tak boleh ada yang mengganggu Arisa tanpa izin dari Tio langsung.
Karena penasaran, Xavier mencoba bertanya langsung pada Tio apa yang membuat Tio bersikap begitu padanya.
__ADS_1
"Xavier. Aris itu bukan wanita sembarangan. Aku menjaganya mati-matian, dan Rayyan pun begitu. Aku hanya tak suka pada orang yang memandang rendah harga diri adikku." Tegas Tio menatapnya penuh tekanan.
-bersambung