TAK SAMA

TAK SAMA
30


__ADS_3

. Raisa terdiam mengaduk ice cream yang dibelikan Fariz.


"Kau memikirkan Rayyan?" Tanya Fariz menebak pikiran Raisa.


"Tidak.. aku memikirkan perasaanmu."


"Aku?" Fariz menatap Raisa semakin lekat.


"Apa kau masih mencintaiku?" Tanya Raisa, namun Fariz terdiam tak menjawab. Hanya deru nafasnya yang terdengar.


"Jika iya kenapa? Delapan bulan ini aku tak sedikitpun menghilangkan perasaanku padamu." Ucap Fariz menatap pada Raisa.


"Tapi.. hubungan kita hanya sekedar kepura-puraan didepan keluargamu, itu sudah menjelaskan bahwa kau sudah melupakan perasaanmu padaku." Lanjut Fariz memalingkan wajahnya.


"Aku tidak pura-pura. Kita memang kembali berpacaran." Seketika Fariz menoleh kembali dan menatap Raisa dengan dalam. Apakah Raisa becanda?


"Apa karena Rayyan menjadi pacar adikmu?"


"Ini tak ada hubungannya dengan Rayyan. Aku memang masih mencintai kakak. Dan maaf aku tidak menjelaskan yang sebenarnya saat itu. Dan membiarkan kakak memutuskan hubungan secara sepihak." Raisa tak sedikitpun menoleh pada Fariz, dan masih mengaduk acak ice cream didepannya.


"Sudahlah. Sudah berlalu juga." Fariz menepuk punggung tangan Raisa meski tak menggenggamnya.


. "Kesehatanmu membaik. Dan sepertinya mood mu pun akhir-akhir ini membaik." Sindir Dimas yang memeriksa kondisi Arisa setelah beberapa waktu berlalu. Dan memperhatikan kedekatan Arisa dan Rayyan yang semakin direstui keluarganya.


"Dim... bisakah kau memberitahuku?"


"Apa lagi Arisa?" Delik Dimas malas karena Arisa pasti menanyakan siapa nama dari pendonor hatinya.


"Dimas..." rengek Arisa.


"Hmphhh... baiklah. Aku beri tahu."


"Mengapa susah sekali? Tinggal menyebutkan nama."


"Namanya Nadhira. Dia seumuran denganmu." Ucap Dimas setengah ketus.


"Dih... tak ikhlas." Arisa tak kalah kesal dengan sikap Dimas.


"Sudah... kau istirahat saja."


. Pintu terbuka, dan terlihat Gilang masuk sendirian.


"Eh lagi berduaan ya?" Cetusnya dengan wajah malu-malu dan hendak berbalik kembali keluar.


"Ehhhhh... mau kemana?" Teriak Arisa dan Dimas serentak lalu mereka saling pandang. Gilang menatap keduanya dengan masih memasang wajah malu.


"Gilang..." panggil Arisa.


"Iya mbak." Sahut Gilang sopan namun masih tak beranjak dari pintu.


"Sini... kamu mau jenguk mbak kan?" Arisa mengayunkan tangan. Meskipun sudah besar, namun Gilang tetaplah anak yang baru menginjak usia dewasa.


"Ibu mana?" Tanya Arisa ketika Gilang sudah duduk di sampingnya.


"Ibu di rumah mbak." Jawab Gilang.


"Kaki ibu sakit lagi ya?" Timpal Dimas yang ikut duduk setelah membereskan alat medisnya.


"Memangnya ibu kenapa?" Arisa beranjak mendadak khawatir.


"Rematik ibu kambuh lagi." Sahut Gilang menjawab terlebih dulu.


"Oh iya. Ibu buatkan ini untuk mbak. Katanya spesial untuk calon menantu." Lanjut Gilang memberikan sebuah kotak makan secara diam-diam agar tidak ketahuan yang lain.


Arisa meraih kotak makan itu lalu membukanya, Arisa tersenyum ketika mendapati apa yang ada didalamnya.


"Ibu masih saja ingat kesukaan mbak." Ucap Arisa.


"Coba rasa mbak. Ada buatan Gilang juga."

__ADS_1


"Memangnya kamu bisa buat itu?" Tanya Dimas menatap Gilang tak percaya.


"Usaha bang, kan buat mbak. Memangnya abang, ngaku cinta tapi tak ada usaha." Sindir Gilang mendelik dari Dimas.


"Siapa yang kau sindir itu?" Dimas mendorong pipi Gilang dengan pelan.


"Abang lah..."


"Lang... kenapa yang ini agak pahit? Sepertinya terlalu banyak cokelat." Ucap Arisa ketika melahap kue coklat kedua. Kue yang sejenis dengan cupcake, namun sedikit lebih kecil.


"Itu buatan Gilang mbak."


"Huu... katanya bisa... tapi gagal." Ejek Dimas merasa puas.


"Setidaknya aku ada usaha bang."


"Iya iya.. mudah dimakan tuh usaha nya." Dimas mengusap kasar wajah adik bungsunya itu. Andai Rama masih hidup, mungkin yang sekarang disamping Arisa itu adalah Rama. Garis wajah Gilang hampir mirip dengan Rama daripada dengan Dimas.


"Bang... bisa tinggalkan kita berdua tidak? Aku ingin bicara pada mbak." Ucap Gilang tiba-tiba.


"Kenapa abang harus keluar? Bicaralah.!" Dimas dengan santai tak mengindahkan permintaan adiknya.


"Bang... abang itu tak mengerti ya?" Delik Gilang dengan kesal.


"Dim..." Arisa melirik Dimas yang memang sedang membuat Gilang kesal. Dimas tertawa kemudian berlalu meninggalkan Gilang dan Arisa.


"Mau bicara apa?" Arisa meletakan makanannya dan fokus pada pembicaraan Gilang.


"Sambil makan tak apa mbak."


"Tidak. Itu tidak sopan. Jadi, kalau Gilang ingin melihat mbak makan lagi, bicara dulu."


"I-iya mbak."


"Jadi, Gilang itu suka sama teman Gilang. Lusa dia ulang tahun mbak. Jadi..."


"Sebenarnya perempuan itu sederhana, tak ada hadiah pun tak apa. Tapi, lihat dulu siapa gadis yang kau kejar. Apa dia sederhana? Atau..."


"Dia seperti mbak. Baik, dan ramah."


"Yasudah.. kamu beri dia waktu saja."


"Maksudnya mbak? Ulang tahunnya di undur?"


"Bukan ulang tahunnya yang di undur, tapi kau beri dia waktumu di hari itu. Ajak dia jalan, nonton, atau sekedar nongkrong di cafe. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat perempuan merasa senang."


"Begitu ya? Apa dulu bang Rama juga seperti itu pada mbak?" Seketika senyum Arisa menghilang mendengar pertanyaan itu. Selama ada Rayyan, Arisa tak lagi merasa rindu pada Rama. Kini terasa sangat sesak saat hati sudah mulai melupakan, namun diingatkan kembali.


"Lebih dari itu. Rama.... sangat perhatian. Rama selalu mengajak mbak berpergian. Apa lagi saat mbak ulang tahun, Rama mengajak mbak berkeliling menyusuri tiap sudut kota. Naik bus dari halte ke halte terdekat, naik kereta pun dari stasiun ke stasiun terdekat. Sesederhana itu mbak merasa bahagia Lang. Namun yang membuatnya berbeda itu, dia mengucapkan selamat ulang tahun pada mbak di akhir waktu. Mungkin kebanyakan orang akan mengucapkan di awal waktu. Tapi ini lain.." jelas Arisa dengan kembali melemparkan senyuman.


. Pintu terbuka dan seketika wajah Gilang menjadi kecut melihat Rayyan yang masuk dengan buket bunga mawar putih berukuran kecil. Gilang menebak bahwa benar, kini Arisa sudah melupakan Rama dan tak memberi kesempatan Dimas untuk lebih dekat dengannya.


"Gilang pulang dulu mbak." Ucap Gilang beranjak dengan terburu-buru.


"Hanya sebentar? Katanya mau curhat." Ejek Arisa yang tak di tanggapi oleh Gilang. Terlihat jelas perasaan tak nyaman dengan keberadaan Rayyan.


Gilang berlalu dengan langkah cepat dan menutup pintu sedikit kasar.


"Kenapa dia?" Tanya Rayyan menoleh pada pintu, lalu pada Arisa.


"Sepertinya buru-buru." Jawab Arisa melanjutkan memakan kue ditangannya.


"Apa itu?" Tanya Rayyan dengan wajah penasaran.


"Kue."


"Dari?"


"Dari Gilang."

__ADS_1


"Ohh..." Rayyan mengangguk pelan seraya duduk diranjang dengan Arisa.


"Bagaimana kuliah?" Tanya Arisa yang menyadari kekusutan wajah Rayyan.


"Sepi." Jawabnya singkat.


"Kenapa?"


"Karena kau tak ada." Arisa berhenti mengunyah, dan menatap polos pada Rayyan.


"Kedipkan matamu." Rayyan mengusap wajah Arisa.


. Lagi-lagi pintu terbuka dan Arisa terkejut karena baru sekarang dia ditemui oleh Marcel.


"Kau sedang pacaran?" Tanya Marcel masih berada di ambang pintu.


"Kakak... kakak baru sampai?" Tanya Arisa dengan polos. Rayyan tak kalah polos melirik Arisa dan masih diam di tempatnya. Memang tamu tak tahu diri, yang ikut duduk di ranjang pasien.


"Kakak disini sejak kau pingsan." Marcel mendorong dahi Arisa dengan gemas.


"Benarkah? Tapi, kenapa setelah aku sadar kakak tak menemuiku." Rengek Arisa.


"Kau tahu tidak? Aku begitu bersyukur mendengar ada orang baik yang rela mendonorkan hatinya untukmu, sepanjang operasi, aku tak henti melantunkan doa agar aku tak membuat kesalahan. Ketakutanku lagi-lagi menghantuiku saat kondisimu kembali drop setelah operasi, aku menangis disampingmu. Aku seorang dokter, bahkan aku bekerja di Amerika. Tapi aku tak bisa menyelamatkanmu. Dan sampai akhirnya, kondisimu stabil...." Marcel terhenti seolah sengaja menggantungkan ceritanya.


"Lalu?" Arisa semakin penasaran.


"Kau selamat dan aku menangis bahagia di rumahmu. Aku tak ada keberanian untuk menemuimu. Dan sekarang, karena kau sudah sembuh, jadi kakak akan kembali ke Amerika."


"Sekarang?" Marcel mengangguk tak bisa menahan air matanya. Melihat gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sudah berhasil melewati masa sulit antara hidup dan matinya.


"Sampaikan salamku pada Michelle." Ucap Arisa menunduk lesu.


"Dia juga merindukanmu." Jawaban itu cukup membuat Arisa tersenyum sumringah. Michelle adalah adik Marcel. Usianya lebih muda 1 tahun dari Arisa. Selama Arisa berobat ke Amerika, Michelle selalu menyempatkan waktu menemui Arisa.


Marcel berpamitan dan berlalu kembali meninggalkan Arisa dan Rayyan yang tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya.


. Setelah melalui perawatan yang intensif, Arisa kini diperbolehkan untuk pulang. Dirinya sudah hampir satu bulan berada di rumah sakit. Mimpi-mimpi tentang Rama selalu melintas di wajahnya.


"Kenapa?" Tanya Raisa.


"Aku ingin ke makam Rama dulu." Jawab Arisa menatap harap pada semua anggota keluarganya.


"Baiklah.. tapi jangan lama." Ucap Tio.


. Sampai diarea makam, seketika niat Arisa urung untuk turun dari mobil.


"Kita pulang saja." Ucap Arisa dengan merasa bersalah.


"Kenapa tidak jadi?" Tanya ayah meraih pundak Arisa dengan khawatir.


"Tak apa ayah... hanya merasa sedikit lelah saja." Arisa menyandarkan tubuhnya.


Meskipun terlibat perbincangan disepanjang jalan, namun pikiran Arisa terus mengingat pada salah satu mimpi nya.


. Raisa duduk berhadapan dengan Arisa di kamarnya.


"Ceritakan Aris. Kau sedang memikirkan sesuatu kan?" Tanya Raisa yang merasa berbeda dengan gelagat Arisa.


"Rais... aku bermimpi tentang Rama."


"Haih.. Aris... bukankah itu sering terjadi karena kau merindukannya."


"Tapi ini berbeda Rais. Aku menghampirinya disebuah tempat yang luas. Dan sepertinya dia sedang menungguku. Kita berpelukan, saling melepas rindu satu sama lain. Aku menangis dan sempat aku mengatakan bahwa aku akan ikut dengannya, tapi dia melepaskan genggamanku, dan dia berkata bahwa aku belum saatnya untuk pulang bersamanya. Lalu, dia pergi meninggalkanku sendirian yang menangis dan dia menghilang begitu saja. Dan saat itu, aku terbangun." Jelas Arisa dengan antusias namun air mata sudah membasahi pipinya.


Raisa menutup mulut dengan tangan mendengar cerita Arisa.


"Itu bukanlah mimpi. Tapi memang Arisa bertemu dengan Rama di alam lain. Bahkan sampai bertemu Rama. Apa jadinya jika Arisa benar-benar pergi." Gumam Raisa ikut menangis.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2