TAK SAMA

TAK SAMA
182


__ADS_3

. Esoknya, Arisa bersiap untuk berangkat kerja setelah sarapan. Sebelum itu, Arisa meminta mang Ujang untuk mengantarkannya karena dirasa malas jika ia harus membawa mobil sendiri. Tepat saat Arisa melangkah keluar dari pintu utama, langkahnya terhenti saat mendapati Xavier tengah duduk santai di kursi teras. Terlihat Xavier tersenyum ramah pada Arisa yang jelas sangat acuh padanya.


"Arisa." Ucapnya beranjak dari duduknya lalu melangkah menghampiri Arisa. "Aku.... ingin ucapkan terima kasih." Lanjutnya membuat Arisa menyernyit tak mengerti.


"Sudahlah. Aku tidak berbuat apa-apa." Ucap Arisa memilih menanggapi demikian. Namun Xavier malah tersenyum mendengar tanggapan Arisa tersebut.


"Sampaikan salamku pada tunanganmu. Jika bisa, aku ingin sekali bertemu dengannya." Ucap Xavier selanjutnya.


"Temui saja ke perusahaannya." Balas Arisa memberi saran dan bernada acuh.


"Kalau sempat."


Arisa bergegas menjauh dari Xavier setelah ia rasa perbincangannya sudah selesai. Xavier masih mengembangkan senyumnya meskipun Arisa sudah berlalu.


"Kau menyukai adikku?" Tanya Raisa yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Xavier.


"Oh nona Raisa?" Ucapnya menunjukan keterkejutannya.


"Tuan Xavier. Atas nama Aris, aku ingin meminta maaf jika sikapnya kurang sopan padamu. Tapi, sebenarnya dia sangat baik. Hanya saja, sikapnya selalu acuh jika dia punya seseorang yang harus di jaga perasaannya. Aku harap kau mengerti." Semula wajah Xavier yang datar karena kehadiran Raisa, kini kembali tersenyum dengan manis dan penuh kelegaan.


"Tak apa. Saya tahu Arisa memanglah gadis yang baik. Dan aku tidak menyesal karena menyukainya secara sepihak. Karena tidak semua cinta bisa terbalaskan bukan?" Kini giliran Raisa yang tersenyum lega mendengar ucapan Xavier yang begitu berlapang dada menerima kenyataan Arisa yang tak pernah bisa ia gapai.


"Sejujurnya, kau datang sangat terlambat. Jika seandainya Aris tidak bersama Rayyan pun, justru sekarang dia sudah menikah dan mungkin sudah punya anak dengan Fabio. Dan seandainya pula, aku yang merebut kebahagiaannya karena menikah dengan Rayyan. Tapi, mungkin sudah jodohnya Arisa dengan Rayyan. Dengan siapapun mereka sempat berpaling, dan seberapa lama pun mereka terpisah, tapi mereka masih di pertemukan oleh semesta untuk bersama."


"Kau benar. Aku hanya menjadi pengagum saja. Mungkin Arisa benar, aku belum tentu bisa sehebat Rayyan dalam mencintainya."

__ADS_1


"Ahh... Rayyan memang istimewa bagi Arisa. Karena, dia tetap bertahan saat Aris tengah berada di titik terendahnya. Bahkan, dia sempat berniat mendonorkan hatinya untuk Aris. Bodoh. Bagaimana bisa Aris hidup jika Rayyan mati. Sama saja sia-sia." Raisa terkekeh membayangkan hal apa yang tengah ia utarakan. Sejenak Xavier terdiam membisu sembari menunduk ikut membayangkan hal terburuk yang terjadi pada Arisa.


"Maaf. Tapi aku tak yakin kau akan menerima adikku yang penuh luka itu dengan segenap hatimu. Aku hanya mempercayakan Rayyan sebagai pendampingnya. Aku, dan seluruh keluarga di rumah ini sangat mendukung Rayyan yang akan menjadi suami Aris. Banyak hal yang merubah Aris setelah kehadiran Rayyan. Dia lebih luas memandang dunianya, dan lebih terbuka pada semua temannya setelan kepergian Rama. Jika tak ada Rayyan, aku tak tahu sekarang Aris akan bagaimana. Mungkin saja dia menikah dengan Fabio, atau kak Bayu, tapi itu tak menjamin kebahagiaannya. Jadi aku harap kau mengerti." Tutur Raisa dengan nada sedikit memohon.


"Kenapa kau seperti memohon begitu? Justru aku minta maaf karena sudah lancang mengagumi adikmu tanpa tahu konsekuensi dan resikonya. Aku tak tahu jika orang yang Arisa cintai itu sehebat Rayyan." Kembali Raisa tersenyum menanggapi penuturan Xavier, ia tak langsung menjawab dan menjelaskan lebih rinci tentang adik kembarnya.


"Perjalanan mereka bukan hanya sekedar pertemuan setelah berpisah saja. Tapi, lebih banyak tantangannya dari itu." Fariz tiba-tiba menanggapi lalu merangkul pundak Raisa menyimpulkan senyum di wajah Xavier.


"Iya. Aku bisa melihatnya." Balas Xavier lalu menatap langit dengan lekat.


. "Aku kembalikan. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Jika Putri tahu perusahaan ini masih beroperasi dan di pimpin olehmu, maka usahamu menjauhinya akan sia-sia saja Reza." Rega memberikan sebuah berkas perjanjian jual beli perusahaan yang jelas itu hanyalah berkas palsu.


"Kemarin Rayyan datang menemui bunda." Ucap Reza membuat mata Rega sedikit membulat.


"kalau Rayyan sudah kemari dan kalian tidak pindah, berarti Putri juga tahu kalian hanya membohonginya." Protes Rega mulai panik sendiri, namun Reza masih terlihat santai.


"Bagaimana kalau belum? Sudah aku bilang, jangan mudah mempercayai orang-orang besar."


"Kalau begitu, harusnya aku tak mempercayaimu Rega."


"Apa maksudmu? Aku sudah membantumu bersembunyi dari Putri. Dan sekarang, kau malah menyalahkanku?"


"Aku tidak menyalahkanmu. Jika iya pun di bandingkan antara kau dan Tio, Tio lah yang lebih kuat memegang janji. Lagi pula, Rayyan benar. Perjanjian antara bunda dan Tio hanya sebatas menyembunyikan keberadaannya, dengan kata lain hanya tempat tinggal. Jika sampai bunda tidak datang ke pernikahan Putri, itu bukan karena perjanjian, tapi karena keegoisan bunda sendiri. Dalam perjanjian yang mereka buat, mereka tidak mengatakan jika terjadi pertemuan diluar, maka Putri harus tinggal dengan bunda. Meskipun aku berniat datang, tapi aku tak cukup kuat jika harus menghadapi Yugito sendiri. Dia pasti marah karena aku dan bunda sudah membuat Putri bersedih." Tutur Reza dengan terus membayangkan hal yang jelas belum terjadi.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan? Jika ingin membujuk bundamu, bujuklah dari sekarang."

__ADS_1


"Sebenarnya bunda tak perlu di bujuk. Hanya saja, ego bunda yang terlalu keras. Selepas Tio pergi pun, aku sempat membujuk bunda. Tapi, bunda tetap bersikeras ingin menyembunyikan diri dari Putri dan tak ingin berurusan lagi dengan keluarga Putra."


"Menurutku, kalian tak akan bisa keluar dari genggaman Yugito."


"Mungkin. Tapi sejujurnya aku sangat rindu pada Putri. Sejak hari itu, hidupku tak bersemangat. Meskipun bukan adik kandung, tapi dialah salah satu alasanku untuk berjuang dan bekerja keras."


"Dia itu istimewa ya? Jika tak ada dia, kita tak mungkin akan mengobrol begini sekarang." Bukannya setuju dengan pendapat Rega, Reza malah melempar lirikan tajam pada Rega seakan ia tak pernah sependapat dengan orang ini. Namun, tak bisa di pungkiri, Arisa memang mendamaikan Rega dan Reza meskipun tidak sengaja.


"Hasyi.... umm ehemmm." Arisa menutup wajahnya dan menghentikan meeting beberapa saat.


"Maaf. Tidak sengaja." Ucapnya kemudian melanjutkan penjelasannya.


Selepas meeting, terlihat Wina tengah menunggu Arisa di depan lorong.


"Kau sakit?" Tanya Wina ketika melihat wajah Arisa yang sayu.


"Tidak tahu. Tadi memang bersin tiba-tiba." Jawabnya mengedikan bahu.


"Kau terlihat malas Aris?" Wina semakin sendu memperhatikan Arisa yang begitu tak bersemangat.


"Jelas saja Wina. Pagi-pagi aku harus buat laporan, setelah selesai si Tio malah hilang, dan ayah ada meeting dengan pimpinan departemen keamanan, dan terpaksa aku yang memimpin meeting menggantikan si Tio. Huffttt awas saja nanti." Geram Arisa kesal sendiri, lalu langkahnya beralih menuju jendela dan menatap lekat pada salah satu gedung yang jauh dari pandangannya.


"Aku harap kau bisa menemukan bunda Aray" lirihnya.


Rayyan menoleh sesaat keluar jendela saat ia tengah sibuk dengan berkas-berkas di hadapannya.

__ADS_1


"Risa. Maaf! Aku tak bisa membawa bundamu kembali padamu."


-bersambung


__ADS_2