TAK SAMA

TAK SAMA
193


__ADS_3

. Sudah satu minggu terakhir, Tio semakin merasa bersalah saat Arisa tak lagi masuk kerja. Dan sebagai gantinya, Raisa kembali menjadi sekertaris Tio. Di kamar pun, Arisa selalu mengunci pintu saat tahu Tio mampir ke rumah sebelum atau sepulang bekerja. Lain halnya dengan kedatangan Rayyan yang di sambut hangat oleh Arisa. Perlahan Tio memutar kursinya menghadap jendela. Ia menatap langit lalu beralih menatap telapak tangan yang sudah melayang ke pipi Arisa.


"Kalau di ingat lagi, wajar saja Aris marah. Selama ini aku yang selalu melindungi dan menjadi sandaran untuknya. Tapi, aku sendiri yang menyakitinya. Tapi kalau dia tidak berkata yang aneh-aneh, aku juga tak akan menamparnya." Ucap Tio bergumam sendiri.


"Oh jadi kakak yang membuat Arisa jadi pendiam lagi? Pantas saja dia sangat murung, ternyata yang menamparnya bukan orang lain." Tegur Raisa yang sudah berada di belakang Tio dan mendengar gumaman Tio dari awal.


"Kelepasan Rais. Aku refleks."


"Tapi tidak pakai tenaga juga kan?"


"Sekarang Aris dimana?"


"Di butik kak Diana. Karena Oma Galuh sudah sembuh, dia mengajak Aris untuk fitting baju pengantin." Jawab Raisa sedikit mengedikan bahunya lalu berjalan ke jendela dan ia pun ikut menatap keluar.


"Bukannya sudah siap? Gaun yang itu kan?" Tanya Tio kembali mengingat sebuah gaun yang sengaja Diana simpan di ruangan rahasianya.


"Sepertinya begitu. Kalau Aris tidak suka, paling di buat ulang. Dan yang itu akan di jual." Raisa beralih menghadap pada Tio.


"Tanggal pernikahannya?"


"2 bulan lagi. Dan Aris ingin di carikan rumah untuk dia tinggal setelah menikah."


"Bagaimana denganmu? Sudah dapat rumah? Atau mau tinggal menemani mama dan ayah?"


"Dari sebelum menikah pun aku dan kak Fariz sudah mendapatkan rumah. Tapi, aku ingin bersama Aris sebelum dia menikah. Dan kak Fariz tidak keberatan."

__ADS_1


"Oh... ya sudah." Tio mengangguk pelan tanda mengerti


"Mengenai keberadaan bunda Sarah, mereka masih tinggal di rumah yang itu kan?" Pertanyaan ini berhasil membuat Tio terkejut. Bagaimana Raisa tahu? Begitu pikir Tio. Melihat ekspresi Tio, Raisa terkekeh kecil lalu mengusap wajah kakaknya itu.


"Aku juga seorang intel. Kau lupa?" Ujarnya dengan nada ejekan. Tio kembali terdiam lalu menatap langit tanpa ingin menanggapi obrolannya lebih jauh.


. Di butik Diana, Arisa ternganga saat di perlihatkan gaun mewah itu padanya, ia begitu terkagum karena rancangan Diana kali ini sangat berbeda dengan saat Lusi akan menikah dengan Seno. Sudah berlalu 4 tahun, tapi gaun ini masih sangat terlihat tidak seperti di rancang 4 tahun yang lalu.


"Aris. Ini gaun untuk Raisa dulu, tapi dia bilang karena dia tak jadi menikah dengan Rayyan, dia tak ingin memakainya." Tutur Diana menjelaskan agar Arisa tahu kebenarannya.


"I-ini rancangan kakak 4 tahun yang lalu?" Tanya Arisa seakan tak percaya. Ia berpikir mengapa bisa dalam waktu yang lama itu, gaun di hadapannya ini masih terlihat seperti gaun keluaran terbaru.


"Bagaimana Risa? Apa kau menyukai ini, atau tidak?" Tanya Oma ikut menimpali.


"Kakak Putri. Coba gaunnya. Sein ingin lihat kakak Putri pakai gaun ini." Pinta Seina dengan memberi tatapan penuh harap pada Arisa.


"Tak heran Aray sangat mencintaimu." Ucap Oma dan Sonya bersamaan sehingga keduanya saling pandang lalu tertawa kecil karena dirasa hal ini sangat lucu. Jarang mereka bisa tertawa sebahagia ini selama mereka menjadi menantu dan mertua meskipun Sonya adalah menantu pilihan Oma.


"Tapi sedikit longgar kak." Ucap Arisa seraya menunjukkan bagian-bagian yang dirasa tak pas di tubuhnya.


"Aih? Bukankah kau dan Rais sama?" Tanya Diana yang terlupa kalau Arisa sangat tak menyukai ucapannya ini.


"Aku dan Rais berbeda kak." Kali ini protes Arisa terdengar sedikit kesal. "Aku ingin sedikit merubahnya. Aku tak mau jika nanti Aray akan melihatku sebagai Rais jika gaun ini masih dengan model yang sama." Lanjutnya malah membuat Diana tersenyum lalu tertawa kecil.


"Kau cemburu? Haih Aris. Justru saat Rayyan dan Raisa fitting, aku mendengar Rayyan memanggilmu. Bahkan sampai Raisa merajuk dan sempat protes padaku. Yang Rayyan lihat itu hanya kau Aris. Dan sepertinya orang lain pun akan dia anggap sebagai dirimu." Jelas Diana. Arisa memalingkan wajahnya, ia bahkan merasa bingung sendiri, apakah Diana ini memujinya atau mengejeknya.

__ADS_1


"Ya sudah. Bagaimana pun design nya, Oma serahkan padamu. Tapi hanya satu yang Oma mau, dan oma harap kau tak keberatan." Tutur Oma membuat mereka penasaran.


"Sein tahu Oma. Oma akan meminta kakak Putri untuk memakai hiasan Phoenix kan?" Timpal Seina yang merasa percaya diri karena ia sudah mengetahui keinginan neneknya ini.


"Ehh dari mana kau tahu?" Oma terlihat begitu terkejut mendengar ucapan Seina.


"Hihi setiap pengantin di keluarga Pratama, selalu ada simbol Phoenix. Dari hiasan, gambar di pajangan, dan aku melihat Phoenix di hiasan rambut kak Lusi. Nah... sekarang, kakak Putri akan memakai Phoenix dimana?" Seina beralih menatap Arisa yang tiba-tiba merasa kebingungan. Ia tak tahu harus memakai Phoenix dimana.


"Bukankah kalung ini sudah menjadi simbol?" Tanya Arisa mengeluarkan kalung tersebut dari balik gaunnya.


"Ohhh aku tahu." Ucap Diana menyela Oma yang akan berbicara. "Bagaimana kalau aku buatkan veil yang panjang dengan pola gambar phoenix. Design nya akan aku atur nanti." Usul Diana berharap akan di setujui oleh mereka, terutama Arisa.


"Aku terserah kakak saja. Tapi ini harus di kecilkan dulu kak." Pinta Arisa sedikit merengek.


"Haha iya iya. Kau tenang saja. Oh iya. Apa Rayyan tidak ikut?" Tanya Diana yang baru menyadari dengan ketidak hadiran Rayyan.


"Yaa dia sibuk. Banyak pekerjaan." Jawab Oma.


"Dan dia pasti sedang menandatangani berkas sambil mengoceh kemana-mana." Timpal Arisa yang membayangkan ekspresi kesal Rayyan.


"Hasyiiii..." Rayyan lalu menggosok hidungnya yang tiba-tiba merasa gatal. "Argghhhhh sialan. Kenapa aku bersin? Daf aku mau pulang." Teriak Rayyan yang kesal sendiri.


"Oh maaf tuan. Anda tidak boleh keluar ruangan sebelum pekerjaan anda selesai. Ini perintah langsung dari tuan Danu. Hahahaha" 'bugh' Daffa berhenti tertawa seketika saat buku tebal mendarat tepat di wajahnya.


"Kalau kau tertawa lagi, yang melayang di wajahmu bukan hanya buku itu Daf."

__ADS_1


"Lemparkan saja Aris padaku." Geram Daffa menyeringai dan berhasil menghentikan aktifitas Rayyan.


-bersambung


__ADS_2