
. Bayu masih menunggu jawaban Yugito tentang Arisa, Bayu merasa seakan Yugito seperti berat untuk mengatakan kabar Arisa saat ini.
"Om? Kenapa?"
"Tidak nak Bayu. Arisa saat ini sedang demam." Jawab Yugito.
"Boleh saya melihatnya om?" Tanya Bayu sedikit ragu.
"Kau kesini sendiri?" Tanya Yugito mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Ayah dan mama masih di rumah. Mereka bilang nanti malam akan menyusul. Tapi maaf om, karena saya merindukan Arisa, jadi saya duluan ke sini." Bayu menunduk dan mengusap pundaknya dengan kaku.
"Ya sudah... silahkan jika ingin melihat Aris. Masih ada Tio di atas. Dan kebetulan masih menunggu Dimas datang." Ucap Yugito mempersilahkan Bayu untuk memasuki rumahnya.
"Om duluan... rasanya saya kurang sopan jika memasuki rumah orang seperti ini." Bayu ikut beranjak setelah melihat Yugito beranjak.
"Tak apa nak. Ayah izinkan. Lagi pula ayah mau ke ruang kerja." Bayu mengangguk mendapati penuturan Yugito.
Bayu berjalan menyusuri anak tangga dengan gugup. Diketuknya pintu kamar sang pujaan hati sehingga ketiga orang didalam menoleh kearahnya. Raisa termangu melihat Bayu yang kini berdiri diambang pintu.
"Nak Bayu..." sapa Rahma menghampiri Bayu dan dengan cepat Bayu menjabat tangan Rahma dengan sopan.
"Tante.. izin melihat Aris." Ucap Bayu dengan sopan.
"Silahkan nak... mama tinggal. Kau mengobrol saja dengan Tio." Rahma berlalu membiarkan Bayu bertemu dengan putrinya. Bayu melangkah semakin dekat pada Arisa yang masih terlelap.
"Tio.. Aris kenapa lagi?" Tanya Bayu yang berdiri di samping Tio.
"Kapan kau sampai? Dan ada apa kau kemari?" Tanya Tio yang tak menjawab pertanyaan Bayu.
"Aku sampai hari ini. Ada keperluan saja." Jawab Bayu menatap lekat wajah Arisa.
"Dia menangis?" Gumam Bayu menyernyit saat menyadari bahwa mata Arisa sedikit sembab.
Terlihat dahi Arisa berkerut lalu membuka matanya perlahan. Arisa meringis dan meraih kepalanya yang berputar.
"Aris.." panggil ketiganya bersamaan.
"Rama..." lirih Arisa saat menoleh pada Bayu.
"Aku Bayu Aris.." ucap Bayu duduk di tepi ranjang lalu meraih tangan Arisa. Arisa membuka matanya lebar-lebar dan berniat untuk bangkit dari tidurnya. Raisa membantu Arisa duduk bersandar dan kini berhadapan dengan Bayu.
"Apa kabar Aris?" Tanya Bayu tersenyum dengan tatapan sayu menatap Arisa.
"Aku tidak baik-baik saja kak." Jawab Arisa ikut tersenyum.
"Tio... aku ingin berbicara pada adikmu sebentar. Bolehkan?" Tanya Bayu menoleh dan menatap harap pada Tio.
"Ya sudah... asal jangan membuatnya menangis saja." Ucap Tio kemudian berlalu diikuti Raisa dibelakangnya.
"Kenapa kakak kesini? Bukankah kakak di Jogja?" Tanya Arisa merasa heran dengan kehadiran Bayu yang tiba-tiba.
"Kebetulan aku ada urusan disini. Jadi sekalian mampir saja. Dan..." Bayu menggantungkan kata-katanya.
"Dan?" Arisa menyernyit merasa penasaran.
"Aku merindukanmu Aris." Lirih Bayu membuat Arisa tersenyum.
__ADS_1
"Aku juga merindukan kakak. Aku juga ingin ikut dengan kakak ke Jogja. Dan...." kali ini Arisa yang menggantungkan kata-katanya.
"Dan?" Kali ini juga Bayu yang merasa penasaran.
"Kapan kakak melamarku?" Tanya Arisa menunduk lesu. Bayu terkejut mendapati pertanyaan konyol Arisa.
"Aris... bukankah kau dan Rayyan?"
"Aray kan di jodohkan dengan Rais. Kakak mau melihatku menjadi perebut suami orang?" Tanya Arisa dengan nada harap pada Bayu.
"Aris.. jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda kak. Aku ingin menikah dengan kakak."
"Aris... ini bukan lelucon. Pikirkan perasaanmu." Bentak Bayu meraih kedua pundak Arisa.
"Aku serius kak. Aku tak mau mencintai seseorang yang bukan untukku. Aku tak mau bersedih karena dia meninggalkanku. Aku percaya kak Bayu tak akan meninggalkanku." Ucap Arisa dengan nada pelan.
"Tapi kau mencintai Rayyan kan?"
"Tidak." Jawab Arisa cepat. Bayu menatap sayu wajah Arisa yang menunjukkan keseriusan "Aku harap hatiku juga menjawab seperti itu kak. Tapi nyatanya aku memang mencintainya."
"Lalu kenapa kau mau meninggalkannya?"
"Aku tak mau menyakiti Raisa terlalu dalam kak."
"Pikirkan perasaanmu dulu."
"Kakak mencintaiku kan?"
"Hentikan Aris..." kembali Bayu membentak Arisa hingga terdiam. Keduanya tak ada lagi yang bicara sampai Dimas datang.
"Kursi ada dua sialan. Kenapa kau menyingkirkanku?" Decih Bayu yang mendadak emosi karena Dimas.
"Jika aku duduk disana, aku sulit memeriksa Aris karena terlalu jauh." Dimas tak kalah kesal melirik pada Bayu.
Arisa tertawa kecil melihat tingkah kedua pria didepannya.
"Saat sakit pun kau masih manis sayang." Ucap Bayu menatap lembut wajah Arisa.
"Siapa yang kau panggil sayang itu sialan?" Dimas melirik tajam pada Bayu yang memangku tangan melihat Arisa yang sedang diperiksa oleh Dimas.
"Ya Aris lah... bukan kau. Aku masih normal Dim." Ucap Bayu menepuk kepala Dimas dengan keras.
"Sakit sialan."
"Oh... dokter juga bisa merasakan sakit?" Ejek Bayu terkekeh melihat Dimas yang mendelik kesal karenanya.
Bayu mendapati pesan bahwa dirinya harus segera pulang dan orang tuanya tak jadi ke rumah Arisa malam ini.
"Jangan macam-macam dengan istriku dokter sialan." Ucap Bayu sebelum pergi.
. Malam tiba, Arisa ikut turun dan menunggu di ruang keluarga saat tamu yang di ucapkan Yugito datang. Namun ia tak menyangka bahwa tamu yang di maksud itu adalah keluarga Rayyan, dan kali ini ada Oma ikut serta.
Arisa merasa penasaran dengan maksud kedatangan keluarga Rayyan datang ke rumahnya secara resmi seperti ini. Karena jika melamarnya, rasanya itu tidak mungkin.
Arisa ikut menyambut kedatangan tamu kanya dengan memakai Hoodie dari belakang ayahnya. Seketika itu, Seina berlari dengan riang ke arah Arisa, namun Arisa menjauh karena takut jika Seina tertular.
__ADS_1
"Kakak benci Sein?" Rengek Seina kemudian menangis keras. Rayyan kemudian meraih Seina dan memeluknya dengan erat untuk menenangkan.
"Maaf Aray... aku takut Sein ikut sakit karena dekat denganku." Lirih Arisa yang berlindung dibelakang Tio.
"Kau sakit?" Arisa mengangguk dengan pertanyaan Rayyan.
"Kenapa tidak bilang?" Namun Arisa kini hanya menunduk tak menanggapi.
Terlihat Oma meraih wajah Raisa dengan perasaan yang teramat senang membuat Sonya dan Danu merasa heran. Karena obrolan mereka saat di rumah itu seakan sejalan membicarakan hubungan Arisa dan Rayyan.
"Mas.." lirih Sonya menoleh pada Danu.
"Kita jauhkan pikiran tentang itu." Ucap Danu berbisik pada Sonya.
Seluruh tamu duduk kecuali Arisa yang diam di ruang keluarga. Namun obrolan mereka masih jelas terdengar oleh Arisa sendiri.
"Apa yang membuat Oma bertamu ke rumah kami?" Tanya Yugito dengan sopan dan rasa penasaran yang tinggi.
"Untuk membahas tanggal pertunangan Aray dan siapa namamu nak?" Oma menoleh pada Raisa. Raisa terkejut dan menjawab dengan terbata pertanyaan Oma.
"Maksud Oma?" Tanya Rahma yang belum mengerti dengan apa yang di bicarakan Oma.
"Bukankah kalian dulu membuat perjanjian atas perjodohan anak-anak kalian? Suratnya masih ada pada kalian bukan? Mengapa kalian seolah tidak mengerti. Padahal kalian bilang Aray dan Raisa saling mencintai. Lalu apa yang kalian tunggu?" Oma merasa heran sendiri dengan sikap kedua keluarga itu.
"Oma... Aray..."
"Aray... Oma tahu kamu masih kuliah dan belum siap untuk ini. Tapi sebelum Oma meninggalkan kalian, Oma ingin melihatmu menikah." Ucap Oma menyela sebelum Rayyan berbicara lebih jauh.
"Oma kesini ingin secara resmi melamar nak Raisa untuk cucu Oma yaitu Rayyan." Lanjut Oma tersenyum ke arah mereka secara bergantian.
"Tapi Oma..." lagi-lagi Rayyan menyela namun Oma memberi isyarat agar Rayyan tetap diam.
"Kenapa jadi seperti ini?" Gumam Raisa dengan wajah semakin memucat. Arisa bersandar pada tembok yang memisahkan antara ruang keluarga dan ruang tamu. Perlahan Arisa meluruh kebawah dan terduduk karena mendadak lututnya menjadi lemas. Arisa meraih dadanya perlahan lalu menekapnya kuat.
"Kenapa aku hidup jika harus menyaksikan apa yang tak ingin aku saksikan." Gumam Arisa yang tak bisa menahan air matanya dan kemudian beranjak dan seketika itu kepalanya seakan berputar. Arisa berjalan sempoyongan dan 'prang' semua terkejut mendengar benda yang terjatuh di ruang keluarga. Tio bergegas bangun dari duduknya lalu melihat Arisa yang berdiri tak jauh dari guci yang pecah didepannya.
Semua menatap Arisa dari ruang tamu dengan tatapan sayu. Arisa menoleh ke belakang dengan wajah yang sudah berantakan.
"Ma-maaf.. A-Aris tidak sengaja. Ma-maaf ayah... A-Aris mengganggu pembicaraan ayah dan tamu penting ayah. A-Aris..." Arisa menggantungkan ucapannya lalu meraih kepalanya yang semakin berputar.
"Permisi." Ucap Arisa kemudian berlalu menaiki tangga.
"Risa.." panggil Rayyan dan hendak mengejar Arisa namun Danu menahan langkah Rayyan.
"Kakak putri...." Teriak Seina berlari tak mempedulikan panggilan Oma dan ayah ibunya. Seina memanggil Arisa sambil menangis menaiki tangga. Seina seakan merasakan apa yang Arisa rasakan saat ini.
"Kakak putri... buka pintunya.... Sein mau kakak putri...." Teriak Seina lagi sambil mengetuk keras pintu kamar Arisa. Arisa sengaja mengunci pintu kamarnya dan menangis bersandar pada pintu. Kepalanya semakin berdenyut. Arisa meringis kesakitan sambil terus memijit pelipisnya. Arisa bangkit lalu berjalan menuju tempat tidur, namun tak sampai ke tempat tidur, Arisa terhenti mendapati kembali darah yang keluar dari hidungnya. Arisa mengusap kasar dan mencoba membersihkan darah itu namun tak kunjung berhenti.
Di luar, Tio ikut mengetuk pintu kamar Arisa dan memanggil namanya berkali-kali.
"Rais bawa kunci cadangan cepat." Teriak Tio dari atas. Raisa mengangguk lalu mencari kunci cadangan kamar Arisa di lemari ruang tengah. Raisa berlari menaiki tangga membawa apa yang Tio inginkan. Tio segera mengutak-atik pintu hingga akhirnya terbuka. Tio segera berlari dengan wajah panik saat mendapati Arisa tergeletak dengan darah dimana-mana.
"Kakak putri...." teriak Seina lagi memekik telinga.
"Kakak putri bangun...." Seina mengoyangkan tubuh Arisa sambil terus menangis dan lebih ketakutan melihat darah di wajah Arisa.
Sonya berlari menyusul saat mendengar teriakan Seina di ikuti Rayyan yang mendahului Sonya.
__ADS_1
Rayyan tak kalah terkejut mendapati Arisa yang terlelap dipangkuan Tio dengan berlumuran darah.
-bersambung.