
. "Ayah menunggu. Kau jangan coba-coba kabur. Nanti jahitanmu akan lama sembuh." Ucap Tio kembali melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang. Arisa semakin penasaran siapa Reza yang dibicarakan oleh Tio dan Seno.
Tio menutup pintu ruang kerja Yugito dengan rapat-rapat, kemudian Tio duduk berhadapan dengan sang ayah. Yugito memberikan sebuah map yang berisi berkas penting. Tio membuka map itu dan bisa ditebak oleh Yugito, Tio akan terkejut bahkan marah kepadanya.
"Maaf Tio. Ayah tak memberitahumu sebelumnya dan mengambil keputusan sendiri." Ucap Yugito menunduk tak berani memperlihatkan wajahnya. Tio menghela nafas panjang dan beberapa kali memalingkan wajahnya kemudian kembali menatap pada berkas ditangannya.
"Aku tak akan menyalahkan ayah atas keputusan ayah. Tapi aku hanya ingin tahu atas dasar apa ayah memberikan perusahaan yang ayah bilang nanti akan di urus oleh Raisa kepada Reza?"
"Kau sendiri pasti tahu alasannya Tio."
"Ah... iya benar. Karena Nadhira kan? Sudah sepantasnya dia memberikan hidupnya sebagai balasan ibunya yang sudah merebut ayah dari mama." Ucap Tio dengan nada kesal. Seketika Yugito naik pitam lalu beranjak dari duduknya.
"Jaga bicaramu Tio."
"Benarkan ayah? Salahnya dimana ucapanku? Nadhira adalah hasil dari perselingkuhan ayah dengan perempuan bernama Sarah itu kan?" Dan 'plak plak' tamparan bolak-balik mendarat dipipi Tio. Tio hanya terdiam merasakan panasn di kedua pipinya. Bisa dipastikan sekarang pipinya merah.
"Pantas saja Reza ada di sini." Decih Tio yang melemparkan berkas itu lalu beranjak keluar dari ruang kerja. Tak disangka, Tio mendapati Arisa sedang duduk di ujung tangga yang berdekatan dengan kamarnya.
Arisa menyernyit melihat pipi Tio yang merah di kedua sisinya.
"Kakak dan ayah bertengkar?" Tanya Arisa menghentikan langkah Tio. Semula Tio berniat melewati Arisa, namun mendengar suara sang adik, niatnya urung. Kemudian Tio menghampiri Arisa lalu memeluknya dengan tangis yang pecah.
"Kakak.... apa pukulan ayah sangat sakit sampai kakak menangis seperti ini?" Mendengar pertanyaan Arisa, Tio malah semakin erat memeluknya. Bukan tamparannya yang menyakitkan tapi kenyataannya yang memilukan. Arisa yang tak tahu bahwa dirinya memiliki seorang saudara satu ayah. Yang tak lain adalah pendonor hati untuk Arisa sendiri.
Melihat kakaknya yang seperti itu, Arisa mengurungkan niatnya untuk pergi menemui Rayyan.
. Esok hari, Arisa setengah berlari menuruni tangga. Karena terlalu tergesa-gesa, Arisa hampir menabrak Tio yang baru keluar dari kamarnya.
"Aris... kenapa berlari? Nanti jatuh bagaimana?"
"Maaf kak.. Aris buru-buru."
"Iya kemana? Ini masih pagi. Baru jam 6 lewat 17 menit." Tio melirik jam yang sudah terpasang ditangannya.
"Aris mau ke rumah sakit kak. Sebentar saja. Aris ingin melihat Raisa sebelum ke kampus." Bujuk Arisa dengan wajah memohon.
"Kakak antar." Ucap Tio menghela nafas berat.
"Tapi kakak sedang sibuk."
"Tidak. Kakak lebih khawatir padamu."
"Baiklah..." Arisa dengan terpaksa mengikuti apa yang Tio katakan. Sepertinya Tio masih sedang tak baik-baik saja. Takut-takut jika ucapan nya tidak dituruti, Tio akan marah.
Tak seperti biasanya, kini Tio yang lebih banyak diam saat didalam mobil. Dari deru nafasnya yang terdengar, bisa dipastikan kini Tio sedang menahan diri untuk tidak meluapkan amarahnya.
"Kakak akan langsung ke kantor?" Tanya Arisa memecah keheningan.
"Tidak. Hari ini kakak tak akan ke kantor." Jawab Tio yang acuh.
"Terus?" Arisa terheran, Tio akan kemana jika tak ke kantor? Setelannya sudah rapi dan seakan bersiap untuk bekerja.
"Ada urusan."
"Ya sudah. Kakak uruskan urusan kakak, aku akan meminta Aray untuk menjemput ke rumah sakit jika kakak sibuk." Namun sampai tiba di rumah sakit, Tio tak bicara lagi sepatah katapun. Bahkan Tio memilih berdiam menunggu Arisa di mobil daripada ikut menemui Raisa.
"Ada apa dengan kakak? Apa yang membuat kakak dan ayah bertengkar sampai seperti ini." Gumam Arisa terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
'Bugh' Arisa terkejut bertabrakan dengan seseorang membuat keduanya jatuh.
"Maaf..." lirih Arisa.
__ADS_1
"Tak apa..." jawab Sarah yang berusaha berdiri.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Sarah lagi dengan membantu Arisa. Betapa terkejutnya saat Arisa melemparkan senyum untuk meyakinkannya.
Bulir bening kembali mengalir dipipi Sarah ketika melihat Arisa. Sekilas hampir mirip dengan Nadhira. Wajar saja. Mereka adalah saudara yang berbeda ibu.
"Bunda... ayo. Jadwal penerbangannya sud--" Reza terhenti bicara ketika mendapati Arisa didepannya. Apalagi melihat Sarah yang menangis didepan Arisa.
Arisa menunduk ketika menyadari bahwa itu adalah pria yang kemarin ditabrak olehnya.
"Bunda... ayo." Ucap Reza lagi seakan mengabaikan keberadaan Arisa. Sarah mengangguk kemudian ikut berbalik mengikuti Reza.
"Anu..." ucap Arisa setengah berteriak menghentikan langkah ibu dan anak itu.
"Maafkan saya atas kejadian kemarin." Lanjut Arisa ketika Reza memalingkan sedikit wajahnya. Reza kembali berlalu tanpa menanggapi ucapan Arisa. Arisa menghela nafas berat ketika keduanya berlalu begitu saja.
. "Aris." Teriak Raisa saat Arisa membuka pintu. Mama menoleh sejenak lalu melanjutkan acara menyuapi Raisa.
Arisa terdiam sejenak, berpikir bahwa benar perlakuan ibunya memang berbeda. Saat Arisa dirawat, Arisa pikir Rahma benar-benar memperlakukannya dengan manja, namun itu bukan apa-apa jika dibandingkan ini. Rahma yang tak pulang, dan lebih memilih menunggu Raisa, bahkan mengabaikan seorang anak yang tengah menjalani proses pemulihan untuk pasca operasinya. Arisa tersenyum kemudian berbalik dan berlalu.
"Mau kemana? Hanya sebentar?" Tanya Rahma menghentikan langkah Arisa.
"Aku ada janji dengan Aray ma." Jawab Arisa cukup membuat Raisa sesak nafas. Jika Arisa tak bisa mendapatkan perhatian Rahma, setidaknya Arisa akan egois untuk memiliki Rayyan. Arisa menutup pintu sedikit keras tanpa berbicara apapun lagi. Rahma sedikit memperkuat genggamannya pada sendok, menyadari kekesalan Arisa melihatnya begitu memanjakan Raisa saat sakit.
"Kau sudah terang-terangan menyatakannya Aris. Sudah tak ada harapan untukku mencintai Rayyan." Gumam Raisa yang menahan sesak didadanya.
"Sudah kembali lagi?" Tanya Tio heran. Arisa tak kalah heran mendapati sebungkus rokok berada di mobil Tio. Setahunya, Tio sudah berhenti merokok semenjak bertengkar hebat dengan ayah saat Tio masih kuliah.
"Kakak merokok?" Tanya Arisa meskipun sudah mendapati jawabannya.
"Kamu mau langsung ke kampus?" Tanya Tio mengabaikan pertanyaan Arisa.
"Sudahlah. Aku pergi sendiri." Lanjut Arisa turun dari mobil Tio kemudian berlari ke tepi jalan raya.
Terlihat Arisa memasuki sebuah taksi dan berlalu semakin jauh. Tio menatap datar kepergian Arisa dan tak ada niat sedikitpun untuk mencegahnya pergi. Tio menunduk dan menumpu kepalanya pada stir, terisak keras dan kemudian menutup sebagian wajahnya.
Arisa berhenti di sebuah taman dan duduk termenung di salah satu bangku. Terdengar ponselnya berbunyi dan terpampang nama Rayyan disana.
"Hallo Aray."
"Kamu dimana?"
"Aku ditaman."
"Taman?"
"Taman jingga. Bisakah kau menjemputku disini?" Tanya Arisa terdengar ragu.
"Baiklah aku kesana sekarang."
Arisa menghela nafas berat ketika panggilan terputus. Tiba-tiba seseorang mengejutkan Arisa karena duduk disampingnya.
"Kakak?" Arisa menyernyit mendapati Reza disampingnya. Reza termangu mendengar kata itu.
"Kau Arisa kan?" Tanya Reza yang memalingkan pandangannya dari Arisa.
"I-iya."
"Tolong jaga hati adikku." Ucapnya kemudian kembali beranjak dan berlalu begitu saja menyisakan rasa penasaran pada Arisa.
"Maaf." Teriak Arisa kembali menghentikan langkah Reza.
__ADS_1
"Nama kakak siapa?" Tanya Arisa kemudian.
"Ali Fahreza." Jawabnya membuat Arisa tersenyum lega.
"Sampai bertemu lagi kak Ali." Ucap Arisa pelan ketika menatap kepergian Reza.
. Tak lama menunggu, Rayyan berhenti didepan Arisa.
"Sedang apa sendirian? Tadi aku ke rumahmu. Tapi bibi bilang kau dan kak Tio. Dan kenapa kau selalu mengingkari janjimu?" Arisa menunduk mendapati pertanyaan Rayyan.
"Maaf Aray. Aku tak bermaksud mengingkari janjiku lagi. Tapi kemarin kakak tak mengizinkanku keluar rumah karena khawatir padaku. Dan Raisa sedang dirawat karena sakit." Terdengar deru nafas Rayyan yang kesal. Rayyan duduk disamping Arisa lalu memeluknya dari samping.
"Syukurlah kau baik-baik saja." Arisa terdiam tak menanggapi.
"Aray, jika seandainya aku tak berada dalam daftar calon pendampingmu, apa kau akan meninggalkanku?" Rayyan melepaskan pelukan dan menatap lekat wajah Arisa.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Aku tahu Aray. Tak ada namaku dalam daftar pilihanmu."
"Risa... berapa kali aku bilang. Hanya kau saja."
"Tapi...."
"Suttt sudah. Jangan bicara lagi. Sebaiknya kita ke kampus." Arisa mengangguk dan mengikuti Rayyan yang terus menggenggam tangannya.
. Sampai dikampus, Rayyan enggan melepaskan tangan Arisa. Kembali Rayaan berdecih kesal karena juniornya menatap kagum pada Arisa. Beberapa kali Rayyan menatap sinis pada mereka. Benar-benar pasangan yang sedang naik daun.
"Kelas kita masih lama Aray." Ucap Arisa masih mengikuti langkah Rayyan.
"Kita jalan-jalan saja dulu." Jawab Rayyan.
Keduanya berkeliling menyusuri koridor-koridor kampus sambil sesekali bercanda.
"Arisa." Panggil salah satu senior yang sedang melakukan persiapan untuk seminar.
"Ya?" Arisa menyernyit mengapa dia tahu namanya.
"Kebetulan. Kita sedang mencari model untuk brosur promosi kampus. Berhubung kau sedang menjadi idola, jadi bisakah--"
"Tidak." Cetus Rayyan menyela sebelum Fahri menyelesaikan penjelasannya.
"Aku belum selesai bicara tuan muda Pratama." Ucapnya kesal.
"Tapi intinya kau mau Risa jadi modelmu kan?" Tanya Rayyan meninggikan suaranya.
"Iya tapi aku tak bertanya padamu."
"Tapi aku pacarnya. Aku berhak ikut campur dalam hal ini."
"Sudah... kenapa kalian bertengkar."
"Awas jika kau menyetujuinya." Bisik Rayyan ke telinga Arisa membuatnya tersenyum kaku.
"Bagaimana Arisa?"
"Baiklah. Aku mau." Rayyan terbelalak menatap tajam Arisa yang tersenyum kearahnya.
"Tapi dengan Aray. Itupun jika boleh. Jika tidak, yasudah aku juga tidak" Lanjut Arisa membuat Rayyan tersenyum penuh kemenangan.
-bersambung
__ADS_1