
. "Put. Tentang permintaanmu, maaf katanya Wina tak bisa kesini. Dia banyak pekerjaan." Ucap Zain seraya mengambil berkas yang baru saja Arisa berikan padanya.
"Kalau begitu. Tolong atur jadwalku untuk pergi ke Jakarta."
"Tapi..."
"Jika tidak, maka aku akan berhenti kerja disini."
"Put... aku sedang tidak ingin bercanda." Suara Zain masih terdengar tegas, dan wajah Arisa masih sangat serius. Zain terkekeh menanggapi hal yang ia anggap konyol, namun melihat ekspresi Arisa, tawanya berhenti dan ia beralih menatap Arisa dengan tajam.
"Kau serius?" Tanya Zain selanjutnya.
"Apa wajahku terlihat bercanda?" Zain terdiam sejenak menghela nafas perlahan. Mengapa sesak? Bahkan ia seakan sulit untuk kembali menghembuskannya.
"Kenapa?" Suara Zain berubah lirih dengan perasaan yang tak menentu.
"Mungkin karena Raisa yang akan menikah dan mungkin berhenti bekerja di perusahaan ayah, jadi kakak menyuruhku pulang." Jawabnya memalingkan wajah dengan sedikit tak yakin.
"Begitu ya? Lalu, bagaimana denganku?" Lagi-lagi Zain bertanya dengan suara yang lirih, bahkan hampir tak terdengar oleh Arisa.
"Apa? Kakak berkata sesuatu?" Tanya Arisa yang tak mendengar jelas apa yang di ucapkan Zain.
"Tidak. Lupakan. Bukan apa-apa." Jawab Zain mengelak dan ia mendadak gugup.
Arisa memilih untuk berlalu dari tempat kerjanya, ia merasa ingin menghirup udara segar. Karena sepanjang harinya, ia hanya menghirup aroma tinta dan aroma parfum Zain yang baginya sangat merepotkan. Setiap mencium parfum Zain, di pikiran Arisa pasti adanya pekerjaan yang datang.
"Mau kemana?" Teriak Zain yang baru menyadari langkah Arisa semakin jauh dari mejanya.
"Main. Jalan-jalan." Jawabnya tak kalah berteriak. Kemudian Arisa kembali berlalu dengan mengabaikan setiap panggilan Zain.
Arisa menyusuri setiap koridor dengan memasuki ruangan satu persatu.
"Bagaimana dengan saham dari--" Reza terhenti saat ia melihat kepala Arisa yang menjulur ke dalam ruangan. Sontak semua anggota yang sedang rapat menoleh bersamaan pada Arisa lalu memberi salam kehormatan mereka.
"Lanjutkan saja. Aku sedang jalan-jalan." Ucap Arisa tersenyum lalu kembali menutup pintu.
"Kenapa dengan anak itu? Tak biasanya dia mau jalan-jalan." Batin Reza mencoba menebak apa yang sedang Arisa lakukan.
__ADS_1
Kemudian, Arisa memasuki kantin, ia berjalan melewatinya lalu memasuki lift yang berada di seberang sisi lainnya.
"Eh itu bu Putri kan?" Desus seseorang yang tengah melakukan makan siang. Tak heran di jam ini banyak yang sudah makan siang, karena jadwal istirahat mereka yang berbeda.
"Iya. Adiknya pak Reza."
"Pak direktur itu sebenarnya tidak punya adik. Adiknya meninggal karena gegar otak akibat kecelakaan. Dan entah sejak kapan bu presdir diangkat sebagai adiknya."
"Kalau tak salah bu presdir itu kan pernah bekerja disini sebelum dia menjadi amnesia. Dan sebenarnya bu Putri bukan orang biasa. Dia anak orang kaya."
"Benarkah? Dan akhir-akhir ini banyak dari perusahaan lain yang berkunjung ke sini."
"Kau benar. Kemarin juga ada direktur PT Mega. Sepertinya rahasia. Tapi aku rasa ada hubungan yang lain antara bu presdir dan pak Rega."
"Huss jangan menyebar gosip yang tidak-tidak. Nanti kau bisa kena sanksi."
"Maksudku bukan begitu. Tapi hanya tebakan saja."
"Sudah... sebaiknya kau tutup mulut walaupun kau tahu sesuatu."
. Di loby lantai dasar, Arisa duduk di kursi resepsionis dengan santai seperti dirinyalah karyawannya.
"Kalau masih protes, aku bisa saja menurunkan surat pemecatan hari ini." Ancam Arisa dengan begitu santai.
"Eh?"
"Diam dan bekerja seperti biasanya. Tak akan ada yang memecat siapapun tanpa seizinku."
"Ba-baik bu." Arisa menghela nafas panjang melihat kegugupan karyawan yang dahulunya menjadi teman curhatnya jika ia diminta menjemput tamu.
"Anggap aku sebagai Putri saja. Jangan sebagai presdir."
"Tapi...." ketika Arisa hendak menasehatinya kembali, suara berat seseorang yang familiar berhasil membuatnya diam.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"
"Bisakah saya bertemu dengan Putri Fandhiya?" Arisa yang berada dibawah meja seketika terbelalak mengapa Bayu ingin bertemu dengannya.
__ADS_1
"Bu presdir... emm anu tuan..." ucapnya terbata sembari melirik ke arah Arisa yang santai duduk manis seolah tanpa ingin tahu siapa yang datang.
"Kenapa mbak? Jika sedang sibuk, saya ingin membuat janji setidaknya hanya 5 menit saja." Mendengar desakkan Bayu, Arisa menyernyit dan mulai penasaran dengan apa yang ingin Bayu bicarakan setelah mereka bertemu.
"Seberapa penting sampai tuan begitu mendesak karyawan saya?" Tanya Arisa yang beranjak dan memperlihatkan dirinya di hadapan Bayu.
"Aris?" Pekiknya menatap Arisa dengan heran.
"Ada apa kak? Sepertinya penting?" Ulang Arisa kembali bertanya.
"Eh... emmm itu... apa kau sibuk?"
"Yahhh... kebetulan sedang bosan. Jadi kakak bisa berbicara lebih dari 5 menit." Jawab Arisa dengan menghela nafas berat lalu tersenyum konyol kepada Bayu.
"Bisa kita bicara di luar?"
"Kenapa tidak disini saja? Soalnya ini masih jam kerja dan istirahatku masih lama. Takut jika ada pekerjaan mendadak atau jadwal meeting siang ini dipercepat."
"Aris!" Dengan tiba-tiba Bayu meraih bahu Arisa membuat Rina terkejut dan ingin menegur Bayu akan sikapnya yang tak sopan pada presdirnya. Namun, melihat ekspresi Arisa yang biasa saja, niatnya urung dan ia tak ingin ikut campur dengan urusan orang lain.
"Kau presdir. Dan harusnya kau tak perlu bekerja terlalu keras." Lanjut Bayu menajamkan tatapannya.
"Katakan apa yang ingin kakak katakan. Jangan bertele-tele. Pekerjaanku itu urusanku." Tegas Arisa tak kalah tajam menatap Bayu.
"Aku merasa sedang bicara pada orang lain Aris. Rasanya kau bukan orang yang sama. Aku tak tahu kenapa kau menjadi berbeda. Tapi..."
"Jika tak ada yang penting, biar aku tegaskan kembali. Aku tak suka orang yang bertele-tele." Ujarnya masih dengan suara yang tegas, namun kini Arisa langsung berbalik dan hendak berlalu meninggalkan Bayu.
"Beginikah sikapmu jika ada tamu?" Langkah Arisa kembali terhenti mendengar pertanyaan sekaligus teguran untuknya.
"Lalu, apa begini juga sikapmu jika bertamu? Tuan rumah sudah bertanya inti dari tujuanmu datang kemari, tapi kau seakan menarik ulur waktu, sampai tuan rumah merasa bahwa kedatanganmu tidaklah penting." Balas Arisa berbalik dan kini saling berhadapan dengan Bayu.
"Justru karena ini penting, jadi aku mengajakmu untuk bicara berdua."
"Baiklah. Dimana?"
"Di tempat favoritmu di kota ini." Arisa menyernyit. Mengapa tempat favorit? Ia tak tahu dimana, karena baginya tempat disini tak ada yang lebih spesial di bandingkan dengan taman kota di Jakarta yang sangat ia sukai dengan sejuta kenangannya dengan Rama.
__ADS_1
"Tak ada!" Tegasnya memalingkan wajah menyimpan kegundahannya.
-bersambung.