
. "Maaf ya... aku tidak datang di acara ulang tahun adikmu." Tutur Diana dengan sendu.
"Tak apa. Aris memaklumi kesibukanmu." Jawab Tio yang melemparkan senyum untuk meyakinkan Diana. Karena Diana yang tak kunjung kembali, Ani menyusul keluar dan mendapati Diana yang tengah bersimpuh dengan menggenggam erat tangan Tio yang duduk dikursi. Betapa besar ikatan keduanya sampai Diana seakan sangat bersalah sudah membahas tentang Seno di hadapan Tio.
"Tio... ayo pulang." Ajak Ani mengejutkan keduanya.
"Kenapa pulang?" Tanya Tio memasang wajah polos dan membuat Ani merasa gemas.
"Ishh kamu ini. Memangnya mau menginap?"
"Hehe ya boleh kalau mama mau." Jawab Tio yang ditanggapi dengan jeweran keras ditelinganya.
"Adududuh sakit ma..." rengek Tio merintih kesakitan sambil memegangi tangan Ani.
"Kamu itu ada-ada saja. Nikah dulu, baru kalian boleh serumah." Tegas Ani mendelik kesal. "Tio... diluar sana mereka menganggapmu sebagai orang yang dingin, jahat, arogan, dan tegas. Didepan mama, kau seperti anak kecil. Apa-apaan?" Lagi, Ani mendelik dan menghela nafas berat.
"Mama sudah tahu aku dari kecil." Jawabnya lagi dengan datar. Benar, Tio memperlihatkan sifat aslinya hanya pada orang terdekat saja. Diana seketika berfikir, jika saja ia tak bersama Tio selama ini, apa Diana akan tahu sifat asli Tio atau tidak. Dan Arisa juga. Keluarga mereka seakan sebuah keluarga misterius yang tak bisa di ketahui aslinya oleh sembarang orang.
"Ya sudah.. aku pulang dulu. Sampaikan salamku pada ayah jika dia pulang nanti." Diana mengangguk setelah Tio memberikan kecupan perpisahannya.
"Hati-hati.." ucapnya menatap kepergian Tio dan Ani yang kini sudah memasuki mobil, dan perlahan Tio melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Diana. Ia melirik jam ditangannya, dan menghela nafas berat karena sang ayah belum juga datang.
"Ishhh ayah kenapa lama? Jika ada sesuatu biasanya selalu menghubungiku terlebih dahulu." Ucapnya pelan sambil melangkah menuju gerbang dan berniat menutupnya karena sudah larut. Belum selesai Diana mengunci, terdengar suara mobil yang semakin dekat, dan akhirnya berhenti didepan rumahnya. Terdengar suara klakson mengejutkan Diana yang bergegas membuka kembali pintu gerbang yang semula ia tutup rapat.
Damar memasuki halaman rumahnya dan berhenti tepat didepan teras. Ia keluar dan terdiam menunggu Diana yang sedang mengunci pintu gerbang. Lalu Diana setengah berlari menghampiri Damar yang masih berdiri ditempatnya.
"Ayah dari mana?" Tanya Diana yang ikut berjalan beriringan memasuki rumah.
"Ayah ada pertemuan dengan pak Arman."
"Arman? Kalau tak salah, itu adalah ayahnya Fabio kan?"
"Ku mengenal tuan Fabio?"
"Yaaa tahu saja dari internet dan gosip-gosip di media sosial."
"Iya.. dia masih muda tapi sudah bisa membawa perusahaan ayahnya sampai sepesat itu. Bisa dikatakan dia menjadi saingan Tio saat ini."
"Aku dengar juga, katanya Fabio secara terang-terangan akan melamar Raisa saat dia kembali. Memangnya, dia akan pergi kemana?" Diana memasang wajah penasaran dan seakan ragu untuk mempertanyakan pertanyaan yang ada di kepalanya.
"Dia akan menjalani bisnis diluar negeri. Ayah juga tidak tahu tepatnya. Dan kata pak Arman, Fabio mungkin akan kembali tahun depan." Jawab Damar yang kurang yakin atas jawabannya.
"Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Damar sesaat setelah keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Ya begitulah... melelahkan." Jawabnya tertawa kecil dengan manja.
. Kembali pada rutinitasnya, Arisa setengah berlari menuruni tangga. Ia memeluk beberapa buku dan tas selempang yang tak pernah ia ganti akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Hati-hati non... jangan lari. Nanti dadanya sakit lagi." Tegur mang Ujang yang sedang membersihkan mobil Yugito.
"Iya mang..." jawab Arisa melemparkan senyum manisnya sambil memasuki mobil lamanya.
"Non tidak pakai mobil baru?" Tanya mang Ujang dengan berani.
"Tidak mang... Aris lebih suka mobil ini." Jawabnya ketika melewati mang Ujang dengan laju mobil yang pelan.
"Ya sudah... hati-hati di jalannya non" Arisa mengangguk dengan riang menanggapi mang Ujang.
Terasa memang akhir-akhir ini hari-harinya menjadi lebih berwarna. Dari mulai perhatian ayah dan ibunya yang mulai mengarah padanya, sampai Oma yang perlahan mulai merestui hubungannya. Meskipun pada akhirnya Arisa harus menjauhi Rayyan, tapi hal ini cukup membuatnya senang dan bersemangat untuk menjalani hidup.
Sampai di kampus, terlihat Daffa sedang berjalan menuju koridor depan. Arisa segera menyusul Daffa dengan langkah cepat.
"Daf-Fa..." panggilnya tersenggal. Daffa menoleh dengan ragu kearah sumber suara.
"Aris..." lirihnya menyernyit menatap Arisa yang kini berada didepannya.
"Kedipkan matamu tuan." Ejek Arisa melempar senyumnya yang manis membuat pipi Daffa memerah karena tersipu dan tertegun melihat ciptaan tuhan yang sempurna dihadapan matanya.
"Maaf anda siapa?" tanya Daffa yang berlagak seolah ia tak mengenal Arisa. Sontak Arisa memukul lengan Daffa dengan keras.
"Ishh jangan bercanda." Rengeknya sedikit menggembungkan pipinya.
"Aisshhh Aris... jangan bersikap menggemaskan didepanku."
"Jika aku jatuh cinta padamu terlalu dalam bagaimana?" Mendengar itu, Arisa hanya tertawa kecil dan lagi-lagi membuat Daffa tersipu.
Rayyan yang menyaksikan itu dari jauh merasa geram dan hatinya terasa terbakar. Apa lagi melihat Fahri yang menghampiri Arisa dan mengobrol dengan begitu akrab.
Terlihat Fahri yang memperlihatkan isi kameranya pada Arisa membuat Rayyan semakin gerah. Rayyan berjalan cepat menghampiri ketiga mahasiswa yang sedang berbincang itu.
"Kau mau kan? Ayolah.. hanya kau satu-satunya harapan kampus ini." Bujuk Fahri dengan nada memelas dan memohon pada Arisa.
"Tidak." Tegas Rayyan mengejutkan mereka.
"Aray?..." pekik Arisa memperlihatkan keterkejutannya.
"Jangan termakan omongan dia. Laki-laki itu tak ada yang bisa dipercaya." Cetus Rayyan yang merangkul pundak Arisa dan membawanya menuju kelas. Fahri dan Daffa saling lirik dan mencoba mencerna ucapan Rayyan.
"Dia juga laki-laki kan?" Tanya keduanya yang saling melemparkan pandangan heran.
"Kau juga laki-laki kan? Berarti aku tak boleh mempercayaimu." Ucap Arisa dengan polos dan masih mengikuti langkah Rayyan.
"Kecuali aku." Cetusnya lagi tak menoleh pada Arisa.
"Ishhh Aray... itu curang namanya. Kau egois. Kau merasa dirimu paling benar." Ucap Arisa yang menggerutu di belakang Rayyan dan masih mengikuti langkahnya meskipun tak nyaman dengan tatapan mahasiswa lain.
__ADS_1
"Kau menyukai Arisa kan?" Tanya Fahri yang menatap Daffa yang sedari tadi tidak memalingkan wajahnya.
"Bukan hanya menyukai. Aku ingin dia sepenuhnya menjadi milikku." Jawab Daffa menghela nafas berat sesaat. Seketika ia terlihat tersadar dari sebuah lamunannya dan menoleh kasar pada Fahri dengan tatapan konyol.
"Kenapa aku curhat padamu?" Tanya Daffa setengah berteriak dan menggeser sedikit menjauh dari Fahri yang kini tertawa.
"Selamat berjuang nak. Kau punya harapan untuk memilikinya." Fahri menepuk pundak Daffa dan perlahan tawanya mereda dan senyum getir terlihat diwajah cerianya. "Tidak sepertiku. Hanya bisa mengagumi saja." Lanjutnya membuat Daffa terdiam.
"Tapi Aris itu gadis baik yang tidak memandang apapun dari pasangannya." Mendengar itu, Fahri kembali tersenyum dan sedikit terkekeh.
"Jika Arisa iya, tapi apa keluarganya begitu?" Tanya Fahri yang menepuk kembali bahu Daffa dan berlalu melewatinya begitu saja.
"Keluarganya sama. Tak ada yang menganggap rendah orang lain. Asalkan Aris bahagia, mereka pasti menyetujuinya." Lirih Daffa yang berbicara pada diri sendiri. "Cihhh tapi tidak pada Aray. Akan ku pastikan mereka tidak berpisah. Aray aku berjanji akan membantumu mendapatkan Aris seutuhnya." Lirih Daffa lagi dengan berdecih dan mengepalkan tangannya kuat.
. Hari berganti, perasaan Rayyan semakin dalam mencintai Arisa, bukan memudar. Setiap ingin menjauhinya, Rayyan merasakan sesak yang teramat didadanya. Bahkan ia tak suka jika melihat Arisa dekat dengan pria lain. Termasuk Daffa. Dan entah kenapa, semakin hari, Rayyan pun merasakan bahwa Arisa sedikit menjaga jarak dengannya.
Sampai hari pernikahan Seno tiba, semua tamu istimewa pasti di undang oleh Oma. Termasuk keluarga Clara, ia gadis yang Oma sebut sebagai calon menantu keluarga pratama jika tidak dengan Raisa.
Terlihat Rayyan berada ditempatnya menunggu Arisa yang belum datang. Clara yang mengetahui kebenarannya, tersenyum simpul melihat Rayyan yang sendirian. Ia berinisiatif menghampiri Rayyan dengan percaya diri dan berjalan dengan anggun memancarkan seorang putri bangsawan.
"Kak Rayyan. Sendirian?" Tanyanya dengan ramah dan tak memudarkan senyumannya yang ia pasang dengan manis. Rayyan melirik sesaat lalu kembali mencari sang kekasih yang belum menampakkan dirinya.
"Oh iya... Oma Galuh akan menjodohkan kita. Apa kak Rayyan set--"
"Tidak." Ucapnya cepat menyela agar Clara tak melanjutkan omong kosongnya.
"Kakak tidak setuju? Kenapa?" Kini Clara memasang wajah sedihnya menatap harap pada Rayyan yang ia pikir akan luluh ketika melihat kesedihannya. Rayyan hanya melirik sinis dan terang-terangan menunjukkan kebenciannya.
"Kak... aku menyukai kakak. Aku setuju jika di jodohkan dengan kakak." Rengeknya meraih tangan Rayyan dan menggenggamnya dengan manja. Rayyan benar-benar tak menyukai gadis cantik yang masih berusia 18 tahun itu. Ia mendengar rumor bahwa Clara akan kuliah di kampusnya dan mungkin ia bertanggung jawab untuk menjadi panitia ospek bagi Clara.
Tiba-tiba sebuah tangan mungil memisahkan tangan mereka dengan paksa membuat Clara menyipitkan matanya menatap Seina.
"Kak Aray itu punya kakak putri." Teriak Seina membuat Clara terbelalak. Rayyan tersenyum puas saat Clara menatapnya dengan rasa heran.
"Kau dengar? Aku sudah punya kekasih. Jadi, jangan pernah berharap lebih tentang omong kosong soal perjodohan itu. Kau paham?" Tegas Rayyan yang seketika meremukkan hati Clara yang memang berharap padanya.
"Apa putri dari Yugito?" Tanya Clara dengan nada lirih menahan amarahnya yang mungkin bisa meluap kapan saja.
"Kau sudah tahu ternyata." Ucap Rayyan tertawa menyeringai puas didepan wajah Clara.
"Kakak putri.." Seina setengah berteriak menoleh pada Rayyan kemudian menunjuk kearah Raisa yang keluar dari mobil mewah ayahnya.
"Raisa... baiklah. Akan kubuktikan bahwa aku lebih baik dari dia." Ucap Clara kemudian berlalu setelah mengucapkan kalimat itu. Rayyan tersenyum menanggapi celotehan Clara lalu ia menatap nanar pada Raisa.
"Mengapa Raisa?" Batinnya dengan perasaan sendu.
-bersambung
__ADS_1