
. Arisa menoleh pada Tio yang mungkin merasa heran karenanya. Tio mendelik melihat senyum kikuk Arisa yang dilemparkan padanya.
"Maaf.." lirih Arisa pelan.
"Aku maafkan." Cetus Rayyan kemudian memutus sambungan teleponnya. Kemudian Arisa dan Tio saling lirik tak karuan.
Sampai di taman, terlihat Yugito dan Rahma sedang duduk berdua disebuah meja dengan empat kursi.
"Yah... Tio joging dulu. Ayah sarapan saja duluan." Ucap Tio kemudian berlalu setelah membawa kedua adiknya.
"Hati-hati Tio." Ucap Rahma ditanggapi senyuman oleh Tio.
Arisa dan Raisa duduk dan terdiam tak berani bertanya apa yang mereka lakukan disana.
"Kalian mau sarapan?" Tanya Yugito setelah hening beberapa saat.
"Aris mau lontong sayur, ayah." Ucap Arisa cepat membuat Raisa menoleh kearahnya.
"Baiklah..." jawab Yugito tersenyum kemudian meraih ponselnya dan memanggil seseorang.
"Mang... antarkan lontong sayur kesini ya. Beli didekat parkiran saja." Ucap Yugito pada seseorang di seberang yang bisa dipastikan bahwa itu adalah mang Ujang. "Empat porsi" lanjut Yugito.
Tak lama, mang Ujang dan seseorang menghampiri dengan membawa empat porsi pesanan Yugito. Terlihat Arisa tersenyum lebar saat meraih makanan yang ia mau pagi ini.
"Terima kasih mang Ujang." Ucap Arisa
"Sama-sama non." Jawab mang Ujang dengan sopan kemudian berlalu kembali ke tempat mobil diparkirkan.
"Keluarga yang harmonis ya mang?" Mang Ujang tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut.
"Putrinya sudah kembar, cantik, sopan pula." Lanjutnya sesekali menoleh ke arah meja Yugito.
"Non Aris dan non Rais memang sopan. Saya saja tertegun dan bersyukur mendapatkan majikan seperti mereka." Jawab mang Ujang yang ikut menoleh kearah Yugito.
Bukan hanya satu atau dua yang terpaku pada putri kembar perusahaan Artaris itu, tapi setiap orang yang berlalu lalang menatap kagum kecantikan mereka.
Tio yang memang berlari melewati jalur itu pun mendadak terhenti karena keluarganya seakan menjadi tontonan publik.
"Yah... Tio tunggu di mobil." Ucap Tio yang menghampiri Yugito lalu kembali berlalu meninggalkan keluarganya. Rasanya Tio merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Namun disamping ketidaknyamanannya, Tio merasa lega jika Arisa dikenal publik sebagai putri bungsu dari Yugito dan pewaris yang sah atas perusahaan Artaris.
Tio bersandar didepan mobil miliknya, dan dengan cepat mang Ujang menghampiri Tio dengan sopan dan sedikit tergesa.
"Ada yang bisa saya bantu den?" Tanya mang Ujang. Tio tersenyum kearah mang Ujang yang mungkin sedang merokok atau menyemil makanan di kedai kecil yang tak jauh dari parkiran.
"Tidak mang. Aku memang ingin disini saja. Mang Ujang lanjutkan saja acara santainya." Ucap Tio yang menoleh sesaat pada supir pribadi ayahnya, lalu menatap kembali pada kebersamaan keluarganya.
"Mengapa baru sekarang?" Lirih Tio menatap lekat senyum manis Arisa yang kini terpancar dan sangat menawan.
"Rama, kau melihatnya? Adikku cantik saat tersenyum bukan? Biasanya dihari ulang tahun Aris, kau seharian mengajaknya pergi. Berangkat tak membawa apa-apa, pulang pun tak membawa oleh-oleh. Tapi itu cukup membuat adikku tersenyum karena dirimu." Gumam Tio tersenyum tipis mengingat mendiang calon adik iparnya itu.
Menjelang siang, terlihat Arisa dan Raisa menarik paksa ibu dan ayahnya. Meski begitu, Rahma dan Yugito tak bisa menolak. Melihat keluarganya menghampiri, Tio segera beranjak dan dengan ragu meminta izin pada sang ayah untuk pergi dengan alasan masuk kerja.
"Padahal Aris ingin dengan kakak." Keluh Arisa memalingkan padangannya. Tio dengan lembut mengusap kepala Arisa dan tersenyum.
"Kakak ada kerjaan. Lain kali ya. Atau nanti malam kita dinner." Bujuk Tio tak merubah ekspresi Arisa sedikitpun.
__ADS_1
"Ditaman depan." Raisa menyela dengan antusias.
"Oke. Kakak akan pulang cepat." Ucap Tio lagi meyakinkan Arisa.
"Janji?" Tanya Arisa merasa ragu dan tatapan tak percayanya terus tersorot menembus mata Tio.
"Iya janji. Sekalian menyambut tamu-tamu yang datang." Tio menepuk pipi Arisa pelan dan melemparkan senyuman.
"Tamu?" Arisa menyernyit heran tak bisa mengerti siapa tamu yang dimaksud.
"Katanya teman-teman Raisa akan datang, dan tamu ayah juga mungkin akan datang. Ayah mengad--" ucapan Tio terhenti saat mendapati tatapan tajam dari Yugito yang memberinya kode untuk diam.
"Ayah apa?" Tanya Arisa dan Raisa serentak.
"Aduh ayah... meeting... Tio duluan." Ucap Tio yang sengaja melihat jam ditangannya dan secepat mungkin menghindari kontak dengan kedua adiknya.
Arisa hanya menatap datar kepergian Tio. Tamu? Siapa? Arisa mungkin hanya berpikir bahwa yang akan datang itu hanya keluarga Bayu dan mungkin keluarga Rayyan. Arisa menghela nafas malas dan sebisa mungkin menjauhkan pikiran tentang itu.
"Aris. Aku ingin minum. Tolong belikan disana." Ucap Raisa menunjuk mini market yang sedikit jauh dari tempat mereka.
"Beli saja sendiri." Delik Arisa yang kemudian menatap malas wajah Raisa.
"Ehhh kau lupa perjanjian kita?" Dan seketika itu juga Arisa menghela nafas kesal, malas dan berat bersamaan.
"Mana uangnya?" Bentak Arisa mengulurkan tangan kanannya dengan tanpa menatap wajah Raisa.
"Pakai uangmu saja." Cetus Raisa dengan tertawa kecil.
"Ishhhh dasar kau." Arisa berlalu dengan menghentakkan kakinya didepan Raisa yang tertawa penuh kemenangan.
"Kenapa menyuruh Aris? Dia kan baru sembuh." Ucap Yugito menatap nanar kepergian Arisa dan terkejut saat melihat sebuah motor yang hampir menabrak Arisa saat Arisa menyebrang. Yugito semakin lekat menatap putri bungsunya yang memberikan permohonan maaf meskipun motor itu sudah berlalu.
"Maaf ayah... Rais hanya bercanda." Ucap Raisa menunduk lesu melihat kekhawatiran ayahnya.
"Ayah tanya. Kenapa kau menyuruh Aris? Padahal kau bisa menyuruh mang Ujang jika hanya sekedar membeli minum." Ucap Yugito lagi seraya lebih menekan.
"Perjanjian apa Rais?" Tanya Rahma yang ikut merasa penasaran.
"Rais dan Aris membuat perjanjian jika hari ini Aris harus mengiyakan apa yang Rais katakan, dan sebagai gantinya Rais juga harus mengiyakan 1 permintaan Aris." Jelas Raisa.
"1 permintaan?" Tanya Yugito dan Rahma serentak.
"Yang dia katakan memang seperti itu." Jawab Raisa yang menatap datar pada Arisa yang semakin jauh.
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan? Permintaan apa yang akan kau berikan padaku. Tidak mungkin jika hanya sekedar melarangku membaca novel-novelmu kan?" Gumam Raisa semakin sendu.
Tak lama, terlihat Arisa keluar dari pintu mini market dengan sebotol minuman kesukaan Raisa. Namun seseorang menghampiri Arisa dan keduanya terlibat obrolan kecil dan sesekali Arisa tersenyum menanggapi obrolan orang itu.
"Kau tak kuliah?" Tanya Bian kemudian setelah menyapa.
"Tidak kak. Aku sedang ada urusan keluarga." Jawab Arisa melempar senyuman manisnya.
"Aduhh Arisa... jangan tersenyum seperti itu." Rengek Bian yang memegangi dadanya.
"Memang kenapa kak?" Tanya Arisa yang mendadak menjadi khawatir.
__ADS_1
"Jantungku berdebar melihat senyummu." Ejek Bian kemudian tertawa dan Arisa pun ikut tersipu karena ejekan Bian.
"Tapi sungguh. Kau benar-benar cantik saat tersenyum. Pantas saja banyak yang ingin menjadi pacarmu." Ucap Bian kemudian membuat Arisa terdiam sejenak.
"Jangan memujiku seperti itu. Aku tak ingin menjadi besar kepala nantinya." Ucap Arisa ditanggapi senyum kagum oleh Bian.
"Siapa dia? Teman Aris?" Tanya Yugito menatap lekat pada Arisa dan menoleh pada Raisa.
"Tidak tahu. Aku belum pernah bertemu dengannya." Jawab Raisa yang ikut penasaran pada sosok lelaki tampan dengan rambut sedikit pirang itu. Raisa menekan nomor Arisa lalu memanggilnya, dan terlihat Arisa menoleh lalu bergegas hendak berlari dan seketika terhenti karena terkejut ada sebuah motor yang melaju didepannya.
"Biar aku antar." Ucap Bian meraih tangan Arisa dan membantunya menyebrang lalu mengantarkannya kedepan ayahnya.
"Terima kasih kak Bian." Ucap Arisa menunduk sopan.
"Ehehe sama-sama. Bahaya juga jika perempuan jalan sendiri." Jawab Bian menggaruk kepalanya dengan kaku dan salah tingkah.
"Oh iya ayah. Kenalkan ini kak Bian. Seniorku di kampus, dan kebetulan teman kak Bayu." Ucap Arisa yang memperkenalkan Bian pada sang ayah yang sedari tadi menatap tajam pada Bian.
"Menyeramkan sekali tatapanmu om." Gumam Bian yang melempar senyum pada Yugito.
"Apa hubunganmu dengan Fabio?" Tanya Yugito dengan tatapan penuh curiga.
"Fabio putranya Arman?" Tanya Rahma menyela Bian yang sudah menghela nafas dan bersiap untuk menjawab.
"Iya. Garis wajahnya sama dengan Fabio." Jawab Yugito yang menoleh pada Rahma kemudian kembali melirik Bian yang semakin gugup.
"Om kenal dengan kakak saya?" Tanya Bian dengan wajah polos berhasil membuat Arisa ternganga.
"Wajah apa itu kak?" Gumam Arisa kemudian tertawa kecil.
"Kenapa?" Tanya Yugito beralih menatap Arisa.
"Wajah kak Bian lucu ayah." Jawab Arisa yang masih tertawa kecil.
"Ish kau." Ayah mendelik dan kembali fokus pada Bian. "Jadi kau adik Fabio?" Tanya Yugito sekali lagi dan ditanggapi anggukan oleh Bian. Sejujurnya Bian merasa heran karena mengenal Fabio, sang kakak yang kini tengah berada diluar kota itu. Bian sangat membenci Fabio yang lebih unggul segalanya dari dirinya.
"Kak Bian..." panggil Arisa untuk yang kesekian kalinya. "Kakak melamun?" Tanya Arisa lagi.
"Ma-maaf. Ya sudah om.. saya permisi." Ucap Bian dengan senyum terpaksa membuat Arisa mendadak tak nyaman dengan sikap Bian.
Setelah kepergian Bian, Arisa masih menatap nanar jalan yang dilalui oleh Bian.
"Aris... ayo." Ajak Raisa membuyarkan pikiran Arisa. Arisa memasuki mobil beserta keluarganya dan berlalu menuju mall.
"Apa dia disini?" Gumam Raisa menoleh kesana kemari.
"Kau mencari siapa Rais?" Tanya Arisa yang terheran melihat tingkah Raisa.
"Tidak.... sedang mencari baju yang bagus." Jawab Raisa sedikit gugup.
"Ini masih bagian tas Rais... baju di sebelah sana." Ucap Arisa menunjuk ke arah bagian pakaian wanita. Raisa tersenyum kikuk merasa malu pada Arisa, dan kemudian menarik tangan Arisa meninggalkan orang tuanya.
"Hai..." sapa Fariz menghentikan langkah Raisa.
"Kak Fariz? Sedang apa disini?" Tanya Arisa yang tak mengetahui bahwa Fariz adalah pemilik tempat ini.
__ADS_1
"Aku sedang..... menunggu kalian." Jawab Fariz berfikir sesaat
-bersambung.