TAK SAMA

TAK SAMA
143


__ADS_3

. Arisa menatap begitu dalam pada Tio yang benar-benar membuatnya terkejut.


"Bolehkah aku memanggilmu bunda?" Dengan tersenyum haru, Sarah mengangguk sembari menyeka air matanya.


"Lalu, apa bunda memaafkanku? Dan apa bunda juga mau menganggapku sebagai anak tiri bunda? Apa bunda juga mau memperhatikanku? Terdengar konyol memang. Tapi, aku yang sudah tua ini ingin merasakan diperhatikan juga. Bukan hanya Aris, tapi aku juga merindukan kasih sayang seorang ibu. Dan bukan juga untuk menjelekkan mama di depan bunda. Tapi, aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya kasih sayang seorang ibu dengan diperhatikan secara langsung. Bukan bersikap seolah tidak sayang."


"Tanpa kamu minta, kamu sudah menjadi anak bunda sedari dulu Tio. Hanya saja, bunda takut kamu membenci bunda. Karena bunda tahu, saat itu kau sudah mengerti tentang apa masalah yang menimpa keluargamu."


"Awalnya aku memang membenci semua tentang keluarga ini, tapi setelah melihat Aris yang hidup dengan lebih baik disini, rasanya aku sudah salah menilai bunda. Jadi aku mohon. Maafkan aku." Tio meraih tangan Sarah, lalu menciumnya dengan penuh rasa sesal.


"Sudah Tio... bunda yang bersalah."


"Tio juga bersalah karena sempat menyalahkan bunda."


"Tak apa. Memang salah bunda. Sudah Tio. Bangunlah. Harga dirimu terlalu berharga untuk meminta maaf pada wanita seperti bunda."


"Aku akan bangun jika bunda sudah benar-benar memaafkanku."


"Bunda sudah memaafkanmu Tio. Lagi pula, bunda yang bersalah. Bunda minta maaf nak. Karena bunda, keluargamu hampir hancur. Dan juga, sebenarnya saat itu bunda tidak tahu tentang ayahmu yang sudah berkeluarga. Banyak hal yang menjadi alasan kedekatan bunda dan ayahmu. Salah satunya, mungkin karena Yugito sedang jauh dari keluarga, lalu ayah Reza meninggal, dan setelah itu kehadiran ayahmu yang seakan menjadi obat kesedihan bunda dan Reza. Salah bunda juga yang tak mempertanyakan status ayahmu saat itu."


"Ayah memang lelaki brengsek. Dia tidak berpikir bagaimana jika anak perempuannya merasakan hal yang sama dengan bunda."


"Kau juga sama berengseknya kak." Ucap Arisa menimpali.


"Tio bangun. Bunda bukan orang yang harus kau tinggikan seperti ini."

__ADS_1


"Apa setelah ini, bunda tak akan menyimpan dendam pada keluargaku?"


"Tak akan Tio. Jika saja bunda memang menyimpan dendam, mungkin saat Aris kecelakaan itu bunda dan Reza tak akan merawatnya. Mungkin bunda akan membuangnya atau menjadikan Arisa sebagai jaminan untuk bunda membalas dendam." Tio terdiam, kata-kata Sarah mulai terpikir oleh pikirannya yang mulai tenang. Hal itu membuat Arisa menjadi sedikit lega karena Tio tidak menyimpan dendam yang semakin dalam pada Sarah.


"Bunda... aku ingin meminta satu hal. Dan kuharap bunda tak akan menolak." Ucap Tio tatapannya kembali menjadi datar namun menunjukan perasaan harapnya pada Sarah.


"Apa itu?" Tanya Sarah yang penasaran pada permintaan Tio.


"Ijinkan Tio membawa Aris pulang bunda." Jawabnya membulatkan mata Arisa yang terkejut karena pertanyaan Tio. Bahkan Arisa tak pernah berpikir Tio akan memintanya pulang.


"Maaf kak. Tapi--"


"Perusahaan membutuhkanmu sekarang." Tio segera menyela.


"Aris...."


"Jika ini perintah ayah, aku menolak. Ayah saja tak pernah memperhatikanku."


"Ini perintahku. Kau harus mengelola kantor yang aku siapkan untukmu, bukan Artaris." Seketika, Arisa kembali terbelalak dengan penuturan Tio yang terasa diluar dugaan.


"Dasar kakak bodoh. Kau menyiapkan untukku tapi tidak untuk Rais." Arisa dengan kesal memukuli lengan Tio yang tak bereaksi sama sekali.


"Tio.... maaf tapi untuk permintaanmu yang ini bunda tak bisa penuhi. Jika memilih, lebih baik bunda di anggap pelacur oleh keluargamu dari pada harus berpisah dengan Putri. Putri sangat berarti di hidup bunda. Putri seakan menjadi pengganti kebahagiaan bunda yang hilang."


"Bunda. Jangan menjadikan hati Nadhira sebagai alasan untuk mengurung Aris disini." Protes Tio.

__ADS_1


"Aku tidak merasa terkurung. Justru aku lebih bebas disini. Di rumah, aku seperti di tempat orang asing. Tak ada yang memperhatikanku. Dan juga, ternyata aku salah menilai kakak. Aku kira kakak benar-benar tulus meminta maaf pada bunda."


"Bukan begitu Aris. Kakak hanya..."


"Hanya apa? Hanya egois? Kak... bukankah kakak sendiri tahu kalau hidupku itu bagaimana di rumah? Aku masih bisa memaafkan kesibukan kakak dan ayah. Tapi, aku tak bisa jika harus kuat setiap hari di abaikan. Bahkan penyakitku saja tak ada yang tahu. Padahal, jika Raisa demam sedikit saja, mama selalu siap merawat Rais sampai pulih. Sedangkan aku? Mimisan setiap hari, keluar masuk rumah sakit hampir setiap minggu, tapi mana? Mama hanya melihatku saja tanpa ingin sekedar menyentuhku. Dan juga, perhatiannya hanya sebatas saat aku sekarat saja." Tio terdiam mendengar kembali isi hati Arisa yang masih memendam perasaan kecewanya pada Rahma. Meski begitu, ia tak berani mengelak fakta bahwa Rahma memang abai pada Arisa. Tak heran jika Arisa begitu menginginkan tinggal dengan Sarah dari pada Rahma.


"Baiklah kakak mengerti. Tapi, jangan lupa untuk pulang. Jangan ingat prilaku buruk mama. Tapi ingatlah pada bi Ina. Bukankah kau sangat dekat dengan bi Ina?" Kali ini giliran Arisa yang terdiam karena pertanyaan Tio. Memang ia pun sangat merindukan bi Ina. Meskipun baru beberapa hari berpisah, namun rasanya sudah sangat lama.


"Aku masih banyak pekerjaan dan harus segera kembali ke kantor. Maaf kak aku sangat sibuk." Ucap Arisa mengalihkan arah pembicaraan.


"Kau duluan. Aku masih ada urusan dengan bunda."


"Kakak pikir aku akan pergi begitu saja? Kak. Aku tak akan memaafkan kakak jika kakak menyakiti bunda." Tegas Arisa semakin tajam menatap Tio.


"Tidak Aris. Kakak ingin bicara empat mata dengan bunda. Percayalah! Kakak tak akan menyakiti bunda. Hanya bicara saja. Serius." Ucap Tio meyakinkan.


"Awas ya! Bunda. Kalau kak Tio bertindak yang tidak baik, langsung beritahu Putri." Arisa beralih menatap pada Sarah setelah mendelik dari Tio. Tatapannya mendadak hangat dan sangat berbeda dibanding pada Tio. Arisa bergegas kembali ke kantor karena jadwalnya yang padat. Sebenarnya ia ragu meninggalkan Sarah dan Tio, namun harus bagaimana lagi, ia hanya bisa mempercayakan siatuasinya pada Juna.


"Permintaan maafku tulus. Dan permintaan yang kedua juga aku tak main-main." Ucap Tio setelah Arisa benar-benar hilang dari pandangannya.


"Bunda ikut keputusan Putri saja. Tapi, bunda hanya tak bisa membayangkan bagaimana nantinya bunda menjalani hari-hari tanpa Putri?"


"Lantas, apa kabar denganku yang menjaga Aris dari kecil sampai dia menghilang 4 tahun yang lalu?" Ya, Tio benar. Sarah tak bisa lagi menjawab. Bagaimana pun, Tio lebih berhak atas kehidupan Arisa.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2