TAK SAMA

TAK SAMA
148


__ADS_3

. Arisa begitu dalam menatap namanya yang tertulis rapi di surat undangan. Bayu sengaja meletakkannya di meja sambil memalingkan wajahnya, karena ia tak kuasa jika harus menatap Arisa yang selama ini ia idamkan untuk menjadi istrinya. Arisa beralih menatap nama Bayu lengkap dengan nama orang tuanya, dan nama gadis asing yang ia sendiri tak tahu siapa dan bagaimana orangnya. Terasa suasana tiba-tiba hening walaupun di dalam cafe ini sudah banyak pengunjung. Meski mencoba di sembunyikan, namun kerutan di dahi Arisa jelas sangat terlihat.


"Aku harap kau datang." Ucap Bayu memudarkan lamunan Arisa.


"Oh.... akan aku usahakan." Balasnya tersenyum begitu mengembang meskipun hanya terpaksa.


"Aris. Apa selama hidupmu, tak pernah ada namaku di hatimu? Atau setidaknya saat kita akan menikah dulu? Meskipun akhirnya aku yang menyerah karena Fabio." Mendengar kalimat ini, Arisa memudarkan senyumnya seketika dan ia menunduk tak kalah sendu.


"Maafkan aku kak. Selain Rama, hanya Rayyan yang sangat aku cintai. Ironis memang, aku mencintai Rayyan yang akan menikah dengan Rais, sedangkan orang yang di jodohkan denganku, tak pernah sedikitpun aku balas perasaannya."


"Aris... sejujurnya, aku masih mencintaimu. Meskipun sudah berlalu selama bertahun-tahun, dan meskipun kau tak mengingatku karena amnesia, perasaanku semakin mendalam ketika aku melihat wajahmu." Arisa mengangkat wajahnya sehingga keduanya saling berpandangan.


"Jangan begitu kak. Kakak sudah menemukan orang yang lebih baik dariku. Jadi, aku harap kakak bisa mencintainya sedalam kakak mencintaiku. Anggaplah aku hanya bayangan yang hanya terlihat saat ada seberkas cahaya yang berada di dekatku. Dan anggaplah Rayyan itu cahayanya."


"Aku juga berharap begitu Aris. Tapi nyatanya, kau lebih dari bayangan walaupun tanpa cahaya." Dan kali ini, Arisa sudah tak bisa menjawab apapun. Untuk berdebat saja, rasanya ia akan lebih di pojokkan. Bayu yang di butakan akan cinta padanya, sangat sulit bagi Arisa sendiri untuk menasehati Bayu.


. "Putri kemana lagi?" Geram Reza yang tak menemukan keberadaan Arisa. Hingga ketika ia mengumumkan ke seluruh ruangan, Rina yang tahu kemana Arisa pergi, langsung bergegas memberitahu Reza. Dengan kekesalan yang hampir meluap, Reza berlalu menuju tempat dimana Arisa berada. Sampai di cafe yang di katakan Rina, Reza segera mencari keberadaan Arisa dengan Bayu. Tatapannya membulat saat mendapati Arisa yang berlari menuju toilet dengan menutupi hidung dan mulutnya. Ia melihat darah dari sela tangannya yang dipaksa untuk ditutupi. Reza menyusul Arisa menuju toilet dan kebetulan wastafelnya bisa digunakan oleh pria dan wanita sehingga Reza bisa bertemu dengan Arisa.


"Kau mimisan lagi?" Tanya Reza dengan panik dan ikut membersihkan darah di wajah Arisa.


"Aku tak apa-apa kak. Mungkin karena panas dalam."


"Siapa yang mengizinkanmu keluar hah? Kenapa tidak bilang padaku?"


"Kakak sedang meeting. Lagi pula, kak Bayu itu temanku."


"Sudahlah. Jangan banyak bicara. Bersihkan dulu darah di wajahmu." Setelah darah dari hidungnya sudah tak lagi menetes, Arisa segera membersihkan bercak darah di sekitar hidung dan mulutnya. Ia kemudian tersenyum konyol pada Reza yang jelas tengah khawatir kepadanya.


"Wajah kakak jelek." Ejek Arisa mengeringkan tangannya yang basah karena air.

__ADS_1


"Kau selalu membuatku khawatir." Reza menyentil dahi Arisa dengan gemas membuat Arisa meringis karena linu.


"Aduh.... maaf." Rengek Arisa sambil menutupi dahinya dan memasang wajah yang menahan sakit.


"Ayo pulang. Kau harus istirahat." Ajak Reza dengan merangkul pundak Arisa berlalu dari toilet. Bayu yang sedari tadi berada di balik tembok, melirik ke arah Reza yang begitu akrab dengan gadis pujaannya.


"Maaf. Pertemuannya sudah selesai. Dia harus istirahat." Ucap Reza dengan penuh penegasan. Wajahnya yang semula hangat, kini menjadi terasa dingin saat lirikannya bertemu dengan Bayu. Bayu yang tahu Reza siapa, ia hanya bisa membiarkan Arisa pergi begitu saja.


. "Kak Aray. Katanya mau pesta?" Teriak Seina yang berlari dari kamarnya menuju kamar Rayyan.


"Jangan lari-lari. Nanti sesak lagi. Kau baru keluar dari rumah sakit." Tegur Rayyan langsung meraih Seina dan membiarkannya duduk di pangkuannya.


"Apa kakak putri akan datang?" Tanyanya kini dengan berbinar.


"Pasti dat-- ah sial. Kakak belum memberitahunya." Kini giliran Rayyan yang berteriak dan beranjak hingga Seina hampir terjatuh.


"Ihhhh kakak ini benar-benar bodoh. Kenapa belum di beri tahu kakak putrinya." Rengek Seina yang langsung memukul Rayyan berkali-kali dengan sangat kesal.


"Awas ya kalau bohong."


"Ini kau lihat sendiri. Atau kau yang telpon."


"Serius? Mana sini. Biar Sein saja yang telpon."


"Huuuu dasar kamu ya." Rayyan mengacak-acak rambut Seina hingga berantakan, namun Seina hanya tertawa dan tak peduli rambutnya berantakan, ia begitu kegirangan saat menekan panggilan video pada calon kakak iparnya.


"Aray?" Arisa menyernyit saat melihat nama Rayyan tertera di panggilan masuk pada ponselnya. Dengan santai, ia menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.


"Kakak putri..." panggil Seina dengan setengah berteriak.

__ADS_1


"Hei Sein.... kau sudah sembuh?" Tanya Arisa tak kalah kegirangan. Seina mengangguk dan tak sedikitpun memudarkan senyumnya yang sumringah.


"Kakak sehat kan? Sein rindu kakak."


"Kakak juga rindu Sein sayang." Kini tatapan Arisa menjadi sedikit sendu menatap wajah ceria Seina yang begitu menggemaskan.


"Panggilan sayang untuk kakaknya mana?" Sindir Rayyan yang hanya memperlihatkan sebagian wajahnya.


"Sein itu siapa? Hantu ya?" Arisa mengabaikan sindiran Rayyan dan seakan tak menghiraukannya.


"Ha-hantu?" Gumam Rayyan pelan sambil memasang wajah yang suram.


"Iya kak... disini ada hantu. Tapi hantunya tampan." Jawab Seina seraya menoleh pada Rayyan yang tiba-tiba bersikap angkuh.


"Sein kenapa? Sepertinya sangat senang? Ada apa?"


"Hehe Sein bahagia karena kakak putri akan menjadi kakak Sein. Dan lusa kakak akan datang kan?" Arisa menyernyit, ia mencoba mengingat ada momen apa di hari itu?


"Memangnya lusa ada apa Sein?"


"Isshhh kak Aray payah. Benar-benar tidak memberitahu kakak putri. Lusa itu ada acara di rumah Sein kak. Kata ayah untuk merayakan hari jadi perusahaan dan sebagai acara peresmian kak Aray jadi presdir."


"Memangnya lusa acaranya?" Tanya Arisa yang terlihat terkejut. Lusa itu juga ada acara di rumah Rega.


"Kakak putri akan datang kan?" Tanya Seina mulai mendadak ragu.


"Emm... kakak usahakan ya."


"Datang ya kak. Sein ingin bertemu kakak. Dan Sein juga ingin melihat kakak dan kak Aray sama-sama lagi." Bujuk Seina dengan penuh harap. Arisa menoleh sesaat pada Reza yang mengetahui bahwa lusa ada acara dengan Rega.

__ADS_1


"Turuti apa yang menurutmu terbaik." Ucap Reza semakin membuat Arisa bimbang.


-bersambung.


__ADS_2