TAK SAMA

TAK SAMA
208


__ADS_3

. Vera berlalu tanpa ingin mempedulikan Zain yang ia rasa tengah menatapnya meskipun ia sendiri tak menanggapi lebih jauh. Sempat Vera melirik sesaat memastikan bahwa dugaannya salah, namun ternyata Zain masih menatapnya dengan penuh arti. Arisa yang menyadari perasaan Vera pun segera memeluk erat dan membiarkan Vera menangis di dalam pelukannya.


"Putri...."


"Sutt jangan bicara dulu. Aku sudah tahu mengapa kau menangis. Terkadang, kita memang harus mengikhlaskan orang yang kita cintai untuk pergi dari hidup kita. Bukan hanya karena sebuah kesalahan, atau semacamnya, hanya saja waktu kebersamaannya sudah habis. Kau masih beruntung karena dia masih bisa kau lihat, meski akhirnya dengan yang lain, tapi setidaknya kau bisa memastikan keadaannya baik-baik saja atau tidak. Sedangkan aku, untuk merindukannya saja sekarang sudah tidak bisa. Selain aku sudah bersuami, orang yang aku sayangi itu sudah pergi ke dunia lain." Bukannya tenang, Vera malah semakin merasa terpuruk sehingga tangisnya semakin menjadi. Meski demikian, Rayyan mengerti jika perasaan perempuan memang rapuh ketika di hadapkan dengan perpisahan. Apa lagi dengan terpaksa. Ia sendiri merasakan sakitnya berpisah dengan orang terkasih karena alasan di jodohkan. Dan ia pun mengerti posisi Zain yang mungkin tak ingin menolak permintaan orang tuanya untuk menerima gadis lain sebagai pasangannya.


Vera mulai tenang setelah Eva ikut menenangkannya dan terlepas dari pelukan Arisa. Arisa yang dulunya selalu bertengkar dengan Vera pun hari ini keduanya terlihat akur dan saling menyemangati. Terlebih Arisa yang sudah berpengalaman berada di posisi Vera saat ini. Ia tahu rasanya bagaimana di tinggalkan kekasih yang harus menikahi gadis lain karena alasan di jodohkan. Meskipun akhirnya Rayyan menikah juga dengannya, namun hal itu tak akan mudah di lupakan oleh Arisa sendiri.


"Kau cantik sekali Putri." Puji Vera yang sudah terlihat lebih baik.


"Terima kasih. Kalian jauh-jauh datang untukku. Terima kasih bu Eva."


"Tak apa nona Putri, saya merasa terhormat bisa anda undang dan melihat langsung anda menjadi seorang putri sungguhan."


"Jangan formal begitu bu. Panggil Putri saja. Dan anda terlalu berlebihan memuji saya."


"Sangat tidak sopan jika saya memanggil anda demikian. Saya tak cukup berani memanggil nama anda secara langsung tanpa sebutan hormat."


"Tak apa bu. Saya tidak setinggi itu. Anggap saya sebagai teman lama saja, maka semuanya akan terasa normal." Mendengar perdebatan Eva dan Arisa, Vera menunduk merasa tersindir oleh ucapan Eva, ia benar-benar tak memiliki kesopanan karena memanggil Arisa dengan namanya saja.

__ADS_1


"Aku lebih suka di panggil namaku saja." Ujar Arisa dengan meyakinkan sehingga Vera tersenyum haru akan kerendahan hati Arisa.


"Kalau begitu, panggil saya Eva saja."


"Tidak tidak. Itu tidak sopan."


"Tak apa. Kita hanya berbeda beberapa tahun saja."


"Kalau begitu, kakak saja. Kak Eva."


"Baiklah. Putri, selamat atas pernikahanmu."


"Terima kasih kak."


"Vera. Maafkan aku." Lirih Zain dengan penuh sesal.


"Tak apa, aku sudah terbiasa, kau selalu mengabaikanku, jadi sekarang aku tak merasa di khianati olehmu. Aku hanya merasa sedang di bohongi saja. Kau bilang status keluarga tak akan membuat seseorang berhenti berjuang mempertahankan cintanya, tapi nyatanya, kau mengingkari ucapanmu sendiri. Status keluarga kita berbeda jauh, jadi aku sudah menduga jika suatu saat hal seperti ini akan terjadi. Lagi pula, pelajaran selama 4 tahun itu semuanya berharga bagiku, tapi aku harus segera menguburnya dalam-dalam dan mencoba berdamai dengan diriku sendiri." Mendengar penuturan Vera, Zain terdiam membisu tak bisa menanggapi apapun lagi. Ia terlanjur membuat hati Vera hancur berkeping-keping setelah pengakuannya yang meminta putus.


"Putri benar, meskipun hatiku sudah hancur, tapi aku masih bisa melihatmu dari kejauhan, wajahmu, senyummu, dan semua hal yang mungkin aku rindukan masih nyata. Tapi bagiku, lebih baik melihat pacar meninggal dari pada menyaksikannya menikah dengan orang lain. Ah sial. Aku menangis lagi." Vera meraih kedua matanya dan mencoba menghentikan tangis yang mungkin tidak ia inginkan sekarang. Zain mencoba untuk meraih kepala Vera dan ia ingin sekali mendekapnya dengan hangat, namun ingat pada Lilian, niatnya urung begitu saja.

__ADS_1


"Jangan pernah memberitahuku tentang pernikahanmu, atau mengirim surat undangan untukku, karena aku tak akan pernah datang dan memperlihatkan wajah menyedihkan ku di hadapanmu nanti. Aku tak ingin merusak momen bahagiamu dengan istrimu nanti." Tutur Vera kemudian berlalu dari hadapan Zain yang masih mematung di tempatnya. Ia tak berniat menyusul Vera ataupun menghampiri Lilian saat ini. Di tengah keterpurukannya, sebuah tangan merangkul pundaknya dan memberinya semangat.


"Kau tak mengerti Za." Lirihnya membuat Reza tersenyum tipis.


"Iya kau benar. Aku tak akan mengerti. Tapi sebaiknya kau temui tunanganmu, aku bisa melihatnya saat ini dia pasti bersedih. Ini hari bahagia, jangan kau rusak dengan drama cinta segitiga mu yang menyedihkan ini Zain."


"Maaf Za." Lirih Zain kemudian beralih ke tempat Lilian dan menjelaskan agar tunangannya tidak salah faham. Dan karena Lilian menerima Zain sepenuhnya, ia tak marah sama sekali dan menerima alasan Zain bersikap demikian.


. Sampai di penghujung acara siang, MC sudah mempersilahkan pengantin untuk meninggalkan altar agar beristirahat dan mempersiapkan diri untuk acara malam nanti. Rayyan dan Arisa sama-sama terduduk lemas di sofa kamar pengantin. Keduanya saling pandang dan tertawa bersama, mereka masih tak percaya bahwa keduanya sudah berstatus suami istri sekarang.


"Hai... apa kau istriku?"


"Hai juga! Apa kau suamiku?" Keduanya kembali tertawa dengan lepas, kebahagiaan mereka benar-benar tak bisa lagi di sembunyikan. Sehingga tiba-tiba Rayyan memeluk Arisa dengan erat dan menangis haru seraya mengelus rambut Arisa dengan lembut.


"Terima kasih sudah bertahan selama ini."


"Terima kasih juga Aray. Kau sudah berjuang selama ini."


"Jangan meninggalkanku lagi"

__ADS_1


"Tak akan. Istrimu yang belum sempurna ini akan selalu menemanimu selamanya"


-bersambung


__ADS_2