TAK SAMA

TAK SAMA
142


__ADS_3

. Beberapa hari kemudian, Rayyan yang sudah pulih pun harus kembali pulang ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan. Sementara itu, Arisa yang sama-sama sibuk, hari ini tak bisa mengantar Rayyan meski sampai bandara sekalipun.


Arisa menerawang jauh ke langit, kali ini ia berdoa untuk keselamatan Rayyan, bukan lagi berdoa untuk ketenangan Rama.


"Hati-hati" isi pesan yang Arisa kirim untuk Rayyan.


"Bodoh." Ucap Rayyan Tersenyum seraya membalasnya. "Iya sayang."


Kali ini, Arisa yang tersenyum membaca pesan dari Rayyan.


"Ehemmmm. Kerja! Jangan senyum-senyum terus." Ucap Reza tiba-tiba dari belakangnya.


"Iya iya." Jawab Arisa mendadak ketus.


"Ehhhh jutek. Inget tanggung jawab. Bukan malah pacaran terus."


"Iya iya ih bawel."


"Ohhh mau aku bilang pada bunda hah?"


"Ihhh kakak kenapa suka sekali mengadu? Aku hanya membalas pesan saja. Lagi pula, pekerjaanku sudah selesai."


"Oh? Benarkah?"


"Iya. Kalau tak percaya, cek s aja sendiri."


"Awas ya kalau harus di edit ulang."


"Tak akan!" Arisa memberikan laptopnya pad Reza dan langsung di koreksi oleh Reza sendiri. Dan dengan santai, Arisa beralih duduk di sofa.


"Put... apa kau akan kembali ke Jakarta?" Tanya Reza yang memilih duduk di kursi Arisa.


"Kenapa kakak bertanya begitu?" Arisa melempar pertanyaan balik tanpa ingin menjawab pertanyaan Reza.

__ADS_1


"Karena.... ya banyak alasan yang mungkin membuatmu memilih kembali ke Jakarta."


"Kalau aku tak mau?"


"Yaaa.... tak apa. Aku hanya bertanya saja."


"Kalau aku ke Jakarta, terus yang merawat bunda siapa? Kakak? Kakak saja akan sibuk jika aku pergi. Sudahlah. Jangan membahas hal yang tak seharusnya di bahas" Reza terdiam dengan pandangan yang datar menatap layar laptop. Ia selalu membayangkan bagaimana harinya tanpa Arisa. Nyatanya saat ia tengah marah dan seakan membenci Arisa, tapi hati kecilnya merasa rindu dan tak mau jika Arisa sampai terluka. Dan ia pun tak bisa membayangkan jika yang ia tabrak adalah Arisa.


"Maaf." Lirih Reza nyaris tak terdengar oleh Arisa.


"Hem? Kakak berkata sesuatu?" Tanya Arisa beranjak lalu menghampiri Reza.


"Cih... kenapa berkas ini sempurna?" Ucap Reza mengalihkan pandangannya lalu beranjak dan meninggalkan Arisa yang masih mematung karena terheran dengan sikap Reza yang terasa aneh hari ini.


. Tio berjalan menyusuri jalan menuju ruangan Arisa. Ia berpapasan dengan Reza dan keduanya sama-sama memalingkan wajah dengan kesal.


Mendengar pintu terbuka, Arisa masih enggan berbalik ke belakang dan memilih menatap keluar jendela.


"Aku yang harusnya minta maaf kak. Karena aku, kakak dan bunda kehilangan Nadhira. Sebenarnya bukan aku tak mau pulang, tapi aku ingin membalas budiku pada Nadhira. Selain karena bunda sangat baik, aku juga sangat menyayangi bunda melebihi aku menyayangi mama. Aku harap kak Reza mengerti. Bagaimana pun, kita ini saudara tiri bukan? Jujur aku sangat bahagia mendapatkan ibu dan kakak tiri sebaik kalian. Bahkan aku tak pernah berpikir akan mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari wanita yang di anggap jahat oleh mamaku. Aku pernah berpikir, tak heran ayah tertarik pada bunda. Selain cantik, bunda juga sangat baik, penyayang, perhatian, dan sangat peduli pada orang sekitarnya. Dan yang lebih penting, bunda tak pilih kasih. Kasih sayang bunda tak berbeda pada anak-anaknya. Bahkan bunda lebih memperhatikanku daripada kakak kan? Maaf ya bukan maksud--kak Tio! Ke-kenapa kakak disini?" Pekik Arisa setelah ia berbalik dan begitu terkejut mendapati Tio di belakangnya dengan air mata perlahan mengalir di pipi Tio.


"Apa kakak membenciku setelah mendengar semua ucapanku?"


"Tidak Aris... justru kakak.... maafkan kakak Aris. Karena kakak sibuk, kakak tak bisa memberikan apa yang kau butuhkan. Jika tahu kau akan begini, mungkin kakak tak akan kuliah dan bekerja di kantor ayah. Kakak akan menemanimu saja di rumah. Kakak memang bodoh. Sudah tahu kau kesepian, tapi kakak masih saja pergi dari rumah karena tuntutan ayah. Maafkan kakak Aris..."


"Tidak kak... kakak tidak salah. Sudah seharusnya kakak sebagai anak berbakti pada ayah. Dan aku tak pernah menyalahkan kakak atas apa yang aku alami. Tapi aku juga tak menginginkan ini."


"Apa kau begitu menyayangi tante Sarah?" Dengan ragu, perlahan Arisa mengangguk dan langsung memeluk Tio dengan erat.


"Kakak jangan marah. Aris hanya ingin merasakan apa yang Rais rasakan. Aris hanya butuh perhatian sosok ibu. Yang menyambut kedatangan Aris setelah lelah Aris bekerja, yang bertanya bagaimana keadaan Aris hari ini, dan selalu ada pertanyaan mau makan apa hari ini. Di sini Aris mendapatkan semuanya." Ucapnya sembari menatap harap pada Tio.


"Bisakah kita pulang ke rumah tante Sarah?" Arisa terbelalak dan pikirannya terasa gelap mendengar ajakan Tio.


"Kak... Aris mohon jangan marah pada bunda. Bunda tak salah. Aris yang seharusnya kakak marahi."

__ADS_1


"Sut... diam. Dan temani kakak saja." Seketika Arisa membungkam dan menurut untuk ikut dengan Tio.


"Hanya satu jam." Ucap Arisa namun tidak mendapatkan jawaban atau tanggapan apapun dari Tio.


Zain yang hendak menegur Tio pun mengurungkan niatnya saat melihat raut wajah Tio yang lebih menakutkan dari Reza.


Arisa terus diam melihat Tio yang tak mengucapkan sepatah katapun.


Sampai di rumah Sarah, keduanya keluar dengan ekspresi yang berbeda. Tio yang masih berekspresi dingin, sedangkan Arisa yang lebih menunjukkan ketakutan. Juna memberi hormat pada Tio saat Tio lewat tepat di depannya.


"Kak..."


"Diam Aris. Kakak peringatkan, apapun yang terjadi nanti, jangan bicara dan jangan ikut campur." Mendengar kalimat itu, Arisa semakin panik dibuatnya. Namun, ia tak bisa berkata-kata apa lagi. Ia hanya bisa melihat Tio menemui Sarah dan siap menyaksikan apapun yang akan terjadi.


Tio terus berjalan sampai di ruang keluarga, dimana tempat Sarah tengah duduk dan terlihat sedang memperbaiki dress Arisa.


"Putri. Ini bunda perbaiki. Maaf jika tak memberitahumu dulu. Tapi-"


"Tante... kenapa tante sangat peduli pada Aris?" Tio menyela dengan suara yang sangat menekan.


"Eh? Ka-karena Putri...."


"Aris. Namanya Arisa. Putri hanya sebuah nama keluarga. Bukan nama aslinya." Tio masih berkata dengan tegas. Ingin rasanya Arisa menegur Tio, namun peringatannya tadi membuatnya membungkam tak bisa berkata apapun.


"Oh... ma-maaf. Tapi, Putri... em maksudnya Arisa sendiri yang mau di panggil Putri. Dan tante hanya menuruti kemauan Arisa saja."


"Cih... tante sangat membenciku ternyata."


"Tidak Tio. Tante tidak membencimu."


"Buktinya, panggilan bunda hanya tante berikan pada Aris."


"Eh? Apa maksudnya?" Sarah terbelalak dan semakin heran, terlebih lagi, Tio tiba-tiba berlutut di hadapan Sarah.

__ADS_1


"Maaf. Bunda."


-bersambung.


__ADS_2