TAK SAMA

TAK SAMA
110


__ADS_3

. "Rais... kau kenapa?" Tanya Arisa yang mendadak khawatir, namun Raisa terlihat menghindari Arisa.


"Kenapa Aris? Kenapa kau selalu merebut kebahagiaanku? Bukan hanya kau saja, teman dekatmu juga sama-sama menghancurkan perasaanku. Kau yang merebut kasih sayang kak Tio, lalu cinta Rayyan, dan sekarang temanmu merebut kak Fariz dariku. Apa ini rencanamu? Salah apa aku padamu Aris?" Arisa mematung dan tak tahu maksud dari Raisa. Ia masih terheran dan penasaran apa sebenarnya yang terjadi.


"Rais..."


"Kenapa aku tak mati saja. Dengan begitu aku tak akan bersaing dengan wanita manapun termasuk dirimu. Aku mengorbankan perasaanku pada Rayyan agar kau bahagia. Aku membatalkan pernikahanku dengan Rayyan padahal aku sangat menginginkannya, pun itu karena dirimu. Tapi, kau dan teman dekatmu menghancurkan semua usaha dan pengorbananku. Jika kau dendam padaku jangan begini. Bunuh saja aku!"


"Apa yang kau bicarakan Rais. Aku benar-benar tak mengerti. Mengapa kau menyalahkanku? Atau itu memang isi hatimu? Kau tak mau bersaing denganku? Memang siapa yang mau bersaing denganmu hah? Kita ini saudara. Jika Aray mencintaiku itu bukan salahku. Aku mencintai Rama, dan kau tahu itu sejak dulu. Jika kau mau bersanding dengan Aray, salahmu sendiri yang tak melanjutkan pernikahanmu dengannya. Dengan aku pergi dari rumah, sudah jelas aku memberikan kesempatan pada kalian untuk bersatu. Dan saat aku hilang, kau mencariku. Dan sekarang saat aku sudah kembali, kau menyalahkanku? Memang siapa yang mau kembali ke sini hah? Bukan kau saja, tapi aku lebih tertekan hidup di dalam keluarga yang tak pernah menyayangiku." Balas Arisa dengan suara lebih tinggi dari Raisa. Ia tak kalah emosi mendengar penuturan dari Raisa yang jelas begitu menginginkan kepergiannya.


"Maaf Rais. Dulu aku memang merelakan Aray untukmu. Tapi sekarang, aku akan egois. Aku tak akan melepaskan Aray sampai kapanpun. Karena aku mencintainya." Tuturnya kemudian. Lalu Arisa berbalik dan memutuskan untuk kembali ke kantor Pratama.


Saat kembali, Arisa langsung melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk karena hari kemarin tak masuk. Selesai membuat laporan, ia bergegas ke ruangan Rayyan dengan membawa beberapa berkas di tangannya.


"Tanda tangan sekarang, aku menunggumu." Ucap Arisa dengan nada ketus sambil meletakkan berkasnya di meja Rayyan. Rayyan yang merasa heran karena perubahan sikap Arisa pun menyipitkan matanya.


"Kau sedang marah?" Namun Arisa enggan menjawab pertanyaan Rayyan dan memilih diam dengan berdiri di samping kursi tamu.


"Risa... kemarilah." Arisa melirik sesaat dan tak menanggapi perintah Rayyan.


"Aku atasanmu disini, jika kau tak mendengarku maka..." Rayyan tak melanjutkan ucapannya karena Arisa tiba-tiba menghampirinya dengan wajah yang mendadak panik. Ia tak tahu bahwa Arisa mendadak terpikirkan pada saham ayahnya kini ada ditangannya. Jika ia di pecat, ayahnya akan bangkrut. Namun Arisa sendiri tak tahu bahwa itu hanya alasan dari akal-akalan Tio agar Arisa dan Rayyan kembali dekat.


Ketika Arisa sudah berdiri di samping Rayyan, dengan cepat Rayyan menarik tangan Arisa hingga tanpa sengaja Arisa mengecup dahi Rayyan. Rayyan yang merasa senang pun membalas kecupan Arisa di dahinya.


"Jika ada masalah, ceritakan padaku. Aku bukan orang asing di hidupmu. Aku ini calon suamimu. Kalau kau diam dan menutupi masalahmu seperti ini, aku merasa kau tak membutuhkanku dan aku ragu akan perasaanmu." Dan mendengar hal itu, Arisa mendadak menangis tersedu-sedu. Terasa semua bebannya meluap seketika. Apa lagi saat Rayyan dengan erat memeluknya dan mengelus kepalanya untuk menenangkan. Ia tak bicara apapun dan seakan membiarkan Arisa menangis di dekapannya.


"Kenapa aku hidup Aray..." lirih Arisa membuat Rayyan terbelalak dan terkejut mengapa Arisa berbicara demikian?


"Jika saja aku mati, mungkin Rais akan bahagia hidup denganmu." Lanjutnya semakin membuat Rayyan terheran.


"Risa... jangan bicara begitu. Aku disini. Sudah sudah."


Rayyan yang tak ingin menambah kesedihan Arisa, ia memilih untuk membiarkannya tenang di pelukannya. Rasanya memang menenangkan hingga tangis Arisa mereda dengan perlahan.


***


. Saat Arisa hendak bersiap untuk pulang, tiba-tiba Daffa memberitahunya tentang kondisi Wina saat ini. Di ketahui sakit Wina yang semakin parah, Dimas memutuskan untuk merawat Wina di kliniknya. Dengan panik Arisa mengajak Rayyan untuk menemui Wina dan meminta Daffa untuk ikut dengannya juga.

__ADS_1


Sampai di klinik, Arisa segera meraih Wina yang tertidur dengan infusan menancap di tangan kirinya.


"Wina...." panggil Arisa pelan. Wina perlahan membuka matanya dan melirik ke arah Arisa yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran.


"Aris... dari mana kau tahu aku disini?" Tanya Wina tak kalah pelan. Arisa semakin cemas mendengar suara Wina yang begitu lemah.


"Dim.. Wina kenapa Dim?" Tanya Arisa beralih menoleh pada Dimas di belakangnya.


"Wina..." Dimas ragu menjawab pertanyaan Arisa hingga ia menggantungkan jawabannya membuat Arisa semakin khawatir.


"Dim..." rengek Arisa yang semakin kesal.


"Darahnya menurun drastis, dan demamnya yang tinggi membuat Wina harus menjalani perawatan yang intensif."


"Wina... sudah kubilang jangan begadang. Jaga pola makanmu. Jika sudah begini, bukan orang lain yang merasakan sakitnya." ~Arisa.


"Iya maaf Aris..." ~Wina.


"Sudah... Wina sedang sakit. Kau malah memarahinya." Ucap Rayyan membuat Arisa menoleh ke arahnya.


"Aku kesal. Dia selalu menasehatiku untuk menjaga kesehatan, tapi dia sendiri tak memperhatikan kesehatannya." ~Arisa.


"Ohh Win... kau mau sesuatu? Biar aku belikan." Ucap Daffa membuyarkan lamunan Dimas. Dimas yang terkejut mendengarnya sontak menoleh kasar pada Daffa.


"Pasien tak di izinkan memakan makanan luar untuk beberapa waktu kedepan. Karena akan berpengaruh pada kesehatannya. Jadi kau harus mengerti dan tidak bersikap gegabah." ~Dimas.


"Apa salahnya? Sama-sama makanan kan?" ~Daffa.


"Aku dokternya. Dan kau siapa?" ~Dimas.


"Aku...... aku...." lidahnya mendadak kelu. Ia tak tahu harus menjawab apa, ia sendiri pun tak tahu apa yang ada di hatinya. Perasaan cinta atau sekedar perasaan nyaman karena berteman sudah lama.


"Daf... kau kenapa? Wajahmu mendadak pucat?" Tanya Arisa yang hendak meraih wajah Daffa namun dengan cepat di tahan oleh Rayyan.


"Ehhh tangannya mau kemana sayang? Ada aku didepanmu...." Ucap Rayyan dengan nada sindiran yang di lengkapi dengan rasa kesal yang menyesakkan nafasnya karena cemburu.


"Sepertinya Daffa sakit Aray." Jawab Arisa polos seakan tak peka pada kekesalan Rayyan.

__ADS_1


"Tidak Aris... aku tak apa." Mendengar jawaban Daffa, Arisa seketika menoleh pada Rayyan yang mungkin sudah memahami perubahan sikap Daffa.


. Malamnya, Raisa yang fokus menyelesaikan pekerjaannya di kamar, terus merasa risih karena ponselnya yang tak henti berdering. Yang membuatnya risih bukan nada deringnya, melainkan orang yang memanggilnya.


"Hallo." Ucapnya pelan.


"Raisa... aku mau bicara." Ucap Fariz dari seberang, dan Raisa hanya mendelik menahan sesak karena terbayang kejadian tadi siang.


"Apa yang mau di bicarakan? Tentang kontrak kerjasama kita?" ~Raisa.


"Aku akan menjemputmu sekarang." Tuturnya tanpa menjawab pertanyaan Raisa. Raisa semakin kalap saat Fariz memutus sambungan teleponnya dengan tiba-tiba. Namun tanpa sadar, ia segera mencari pakaian yang mungkin cukup sopan untuk brrtemu dengan Fariz.


"Apa dia gila. Kenapa malah mau menjemputku. Sudah tahu aku marah padanya." Ucapnya menggerutu sendiri.


Dan tak sampai 10 menit, terdengar bi Ina mengetuk pintu kamar Raisa dan memberitahukan bahwa Fariz sudah menunggu di ruang tamu. Segera Raisa keluar kamar, dan ia terheran saat menoleh ke arah kamar Arisa yang sunyi sepi seakan tak ada penghuni.


"Aris belum pulang bi?" Tanya Raisa yang berjalan menuruni tangga dengan bi Ina di belakangnya.


"Belum non." Jawab bi Ina sopan.


"Begitu ya?" Seketika tatapan Raisa menjadi sendu mengingat wajah Arisa saat ia menyalahkan Arisa dengan tiba-tiba.


Tatapan itu menjadi dingin saat ia melihat wajah tanpa dosa dari Fariz. Fariz segera meminta izin pada Rahma yang baru saja menyusul Raisa. Dan saat mereka akan memasuki mobil, terlihat ada sebuah mobil yang memasuki pekarangan rumah dan berhenti tepat di samping mobil Fariz. Rayyan keluar lalu segera membukakan pintu untuk Arisa. Terlihat mata Arisa sedikit sembab, dan bisa di pastikan Arisa menangis dalam waktu yang lama. Sejenak Arisa melirik pada Raisa, dan Raisa terhenyak saat mendapati lirikan tajam dari Arisa.


"Aku tak tahu apa yang kau pikirkan Rais. Bisa-bisanya kau meninggalkan Wina yang jelas sedang bekerja denganmu. Jika bukan karena Dimas yang bertemu dengan Wina di mall, aku tak tahu lagi bagaimana kondisi Wina yang kau tinggalkan tanpa pemberitahuan. Atau kau cemburu karena kak Fariz yang membantu Wina agar tak pingsan?" Raisa semakin menyernyit lalu menunduk meskipun ia tak mengerti sepenuhnya tentang apa yang dikatakan Arisa.


"Risa sudah..." Rayyan kembali mencoba menenangkan Arisa yang semakin tak bisa mengendalikan dirinya.


"Aris..." panggil Rahma dari teras, dan segera ia menarik Rayyan menuju rumah meninggalkan teka-teki di kepala Raisa dan Fariz. Dan Fariz yang ingin segera meluruskan masalahnya, dengan cepat bergegas pergi membawa Raisa ke suatu tempat. Dan Raisa sendiri tak peduli ia akan dibawa kemana. Pikirannya kacau, dan hatinya berantakan. Semua tampak kosong namun begitu kusut. Hingga sampai di sebuah taman dan Fariz mengajak Raisa untuk berbicara disana.


"Raisa... untuk hubungan kita kedepannya, mau bagaimana?" Tanya Fariz yang langsung ke inti masalah.


"Bagaimana apanya? Sudah jelas kakak punya yang lain." Balas Raisa sedikit meninggikan suaranya tanpa menjawab pertanyaan.


"Wanita lain? Mengapa kau berpikir begitu?" ~Fariz.


"Haha laki-laki memang buaya. Sudah jelas aku melihatnya. Kakak selingkuh dengan Wina kan?"

__ADS_1


"Apa yang kau bicarakan? Menganggapmu kekasih saja sudah membuatku sakit hati. Kau tak pernah menganggapku kekasih. Kau hanya menganggapku teman."


-bersambung


__ADS_2