
. "Hmmmmmmm...." ingin Aris berteriak, namun ia tak cukup kuat melepaskan tangan orang ini yang membekap mulutnya. Air matanya sudah berderai melihat Raisa yang ambruk di depan matanya dan orang yang sudah menikam Raisa hanya tersenyum puas. Wajahnya jelas terlihat dan sangat ceroboh karena tak memakai topeng ataupun masker.
'Bugh.' Seseorang memukul bagian belakang kepala orang yang menikam Raisa.
"Kak Rega." Batin Arisa menatap Rega penuh harap. Terlihat Raisa masih bergerak dan berusaha bangkit berharap rasa sakitnya akan kalah dengan keberaniannya.
"A.. ris..." semakin Raisa berusaha melangkah, Arisa malah semakin jauh dan dengan paksa di masukkan ke dalam mobil jeep. Rega berlari setelah melumpuhkan salah satunya. Arisa membuka jendela dan berteriak memanggil Rega.
"Kak Rega... tolong...." teriaknya meronta-ronta ingin keluar dari mobil lewat jendela namun ia ditahan oleh penculiknya dan membuatnya kembali ke dalam.
"Putri..." panggil Rega semakin dekat pada tangan Arisa. Namun sayang, laju mobil semakin cepat, tangan keduanya yang menjulur hampir menyentuh satu sama lain sehingga akhirnya Arisa semakin jauh dari padangannya. Rega menghempaskan kepalan tangannya dan meratapi penyesalannya karena tidak menyadari ada bahaya yang mengintai Arisa. Ia pikir, Arisa akan baik-baik saja karena tengah bersama keluarganya, dan itulah kenapa ia memutuskan untuk menyendiri di taman yang tak jauh dari lokasi. Namun ia mendengar teriakan Arisa menyebut nama Juju. Dengan bergegas, Rega menghampiri sumber suara dan ia begitu terkejut melihat Arisa di tikam seseorang. Dengan amarah yang memuncak, Rega memukul kepalanya dan menghajarnya habis-habisan. Namun, ternyata gadis itu bukanlah Arisa. Melainkan saudara kembarnya. Kini, Arisa yang ia kagumi di bawa pergi entah kemana. Ingin rasanya segera menyusul dan mencari keberadaan Arisa, namun melihat kondisi Juna dan Raisa, ia harus mencari bantuan.
"Rais!" Pekik Tio segera meraih Raisa yang masih tersadar dan menahan rasa sakitnya.
"Aris kak." Lirihnya tak henti-henti menangis memikirkan Arisa.
"Aris dimana Rais?"
"Mereka membawanya tuan." Rega menjawab sebelum Raisa. Ia terlihat begitu tenang saat Tio tiba-tiba menatapnya penuh amarah.
"Siapa? Siapa yang berani membawa adikku?" Teriak Tio yang tak bisa menahan dirinya jika mendengar Arisa dalam bahaya.
__ADS_1
"Saya tak tahu. Karena saat saya ingin mengejar mereka, sangat tak mungkin jika harus meninggalkan adik tuan yang tengah kesakitan disini." Tio menggeram dan tangannya mengepal. Apa lagi saat melihat Juna yang sudah tak sadar.
Rega beranjak setelah ia menatap ponselnya lama. Ia bergegas mengambil motornya yang terparkir tak jauh dari sana. Seno yang menyusul Tio tak kalah terkejut dan panik melihat kondisi Raisa dan Juna.
"Tio. Cepat bawa ke rumah sakit." Titah Seno yang tak di tanggapi oleh Tio.
"Kau saja yang bawa. Aku ingin mencari Aris." Jawab Tio dengan mental yang melemah. Ia tak bisa membayangkan jika saat ia menemukan Arisa, kondisinya tak akan sama dengan yang ia harapkan. Rega berhenti tepat di depan Seno dan menunjukan arah kemana Arisa pergi.
"Kau melacaknya?" Tanya Seno sang mulai bersemangat menyusul Arisa.
"Tidak. Ini penanda lokasi saat tadi aku bertanya tentang posisinya. Untung saja masih berfungsi. Dan sepertinya ponsel Putri masih menyala."
"Tio. Cepat bawa Rais ke rumah sakit. Sebelum banyak orang tahu. Karena keluargamu sudah menuju ke sini." Tio menoleh ke belakang dan benar saja, Yugito dan Rahma tengah berjalan ke arahnya.
"Rais?" Rahma begitu syok melihat kondisi Raisa yang sudah lemah di pangkuan Tio.
"Tio. Apa yang terjadi? Aris?"
"Aris di culik. Dan Seno sedang mengejar mereka." Rahma semakin syok mendengar berita tersebut.
"Mama tenang dulu. Setelah membawa Rais dan Juju ke rumah sakit, aku akan segera mencari Aris. Dan aku pastikan dia baik-baik saja." Tutur Tio berharap ibunya tidak terlalu khawatir, meskipun itu mustahil. Putrinya yang satu sedang lemah dan darah sudah merubah warna dress Raisa dari berwarna denim kini menjadi merah pekat. Dan yang satunya entah kemana.
__ADS_1
. Karena pemberontakannya, Arisa di ikat dan mulutnya di tutupi lakban agar tak bisa berteriak seperti tadi. Ia sudah lelah memberontak sampai beberapa kali tubuhnya terbentur hingga terlihat memar di bagian-bagian tertentu.
"Kau anak baik sayang. Diam disana dan jangan berharap akan ada yang menolongmu. Karena mungkin setelah masuk ke hutan ini, tak akan ada yang bisa menemukanmu, lalu kau mati sendirian."
"Ah dia benar. Mungkin mustahil ada yang menyelamatkanku. Di sana Rais sedang membutuhkan pertolongan. Dan aku, mungkin sudah waktunya aku menyusul Citra dan meminta maaf di alam sana." Batinnya sudah mulai pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya. Kini, bayang-bayang kematian mulai memenuhi pikirannya, ia menebak-nebak dengan cara tragis apa mereka membunuhnya.
Sampai di sebuah bangunan di tengah hutan yang anehnya sangat terurus. Meskipun remang, dan hanya bercahayakan lampu dengan watt rendah, namun bisa di pastikan bangunan ini masih di gunakan. Arisa hanya menurut saja kemanapun mereka membawanya, hingga ia di ikat di sebuah kursi sampai tangannya terasa perih. Terdengar suara langkah kaki mendekat setelah mereka berhasil mengikatnya. Arisa terbelalak mendapati siapa yang berada di hadapannya sekarang.
"Jadi ini ulahnya?" Batin Arisa yang semakin tajam menatap sosok tersebut.
"Apa tatapanmu selalu begitu pada orang tua?" Tanyanya dengan menghampiri dan meraih wajah Arisa. "Inilah akibatnya jika kau menggertak putriku." Sontak Arisa langsung menoleh pada Clara yang berada di ambang pintu dengan ekspresi angkuhnya. Haidar membuka lakban dan 'Plak' tamparan keras membuat Arisa berpaling seketika. Bahkan tamparan ini lebih keras dari ayahnya. Terlihat darah mulai mengalir dari sudut bibir Arisa.
"Hem? Apa aku terlalu keras?"
"Apa begini sikap anda terhadap masalah anak anda? Anda rela menjadi bajingan untuk membalaskan dendamnya yang anda sendiri tak tahu alasan teman saya menyiramnya di depan umum." Ujar Arisa dengan begitu tenang. Namun Clara kelewat emosi, ia berjalan cepat ke arah Arisa dan menamparnya bertubi-tubi. Lalu, Clara dengan keras menjatuhkan Arisa beserta kursinya hingga ia meringkuk di lantai. Masih berlanjut, Clara menendang perut Arisa sampai Arisa sendiri menahan nafasnya dengan paksa. Ia sudah tak bisa berpikir apa-apa lagi, selain kematian di tempat ini.
"Sudah ku bilang Rama. Harusnya kau jemput aku kala itu. Agar aku tak merasakan sakit sekarang." Batin Arisa yang perlahan memejamkan matanya saat Haidar dan Clara berlalu.
"Ayah.... kak Tio... tolong...." Arisa terus membatin sendiri kesakitan.
-bersambung.
__ADS_1