TAK SAMA

TAK SAMA
211


__ADS_3

. Arisa dan Rayyan memutuskan untuk pindah ke rumah baru minggu depan, sebelum pindah, mereka sudah sepakat untuk menginap 3 malam di rumah orang tua mereka masing-masing. Setelah malam terakhir di kediaman Putra, Arisa dan Rayyan berpamitan pada Yugito. Raisa mengantarkan adik kembarnya sampai ke teras rumah.


"Hei Aris." Bisik Raisa terdengar begitu rahasia. "Bagaimana malam pertamanya?"


"Hehe belum." Jawab Arisa pun berbisik dengan terkekeh membuat Raisa terheran.


"Serius? Kau belum melakukannya?" Arisa menggeleng meski Raisa merasa tak percaya dengan jawabannya. "Kenapa Aris?"


"Aku belum siap Rais. Kau yang bilang sakit kan?"


"Hehe iya sih... tapi jangan terlalu memikirkan ucapanku juga. Ingat perasaan suamimu. Dia pasti kesal."


"Iya memang. Dia sempat marah karena aku terus menolak."


"Tuh kan..."


Tio menyipit menatap kedua adiknya yang tengah berbisik yang entah sedang membicarakan apa. Namun ia tak ingin mengganggu momen kebersamaan Raisa dan Arisa yang terkesan untuk yang terakhir. Setelah berpamitan, Arisa dan Rayyan bergegas meninggalkan kediaman Putra. Di dalam mobil, Rayyan terlihat mendiamkan Arisa dengan memalingkan wajahnya keluar jendela. Dengan perasaan bersalah, Arisa memeluk lengan Rayyan kemudian ia bersandar di bahu Rayyan dan memejamkan matanya.


"Maaf." Lirihnya sehingga Rayyan menoleh ke arahnya. Rayyan tak menanggapi apapun, ia hanya meraih kepala Arisa lalu mengelusnya dengan lembut. Sesekali ia mengecup dahi Arisa meski wajahnya terus berpaling menghindari Arisa.


. Sampai di kediaman Pratama, terlihat sekeluarga besar tengah menunggu mereka dan menyambutnya dengan meriah. Tak terkecuali Seina yang lebih antusias dari pada yang lain. Bahkan Seina langsung menarik tangan Arisa ke kamarnya sehingga Arisa belum sempat menyapa satu persatu anggota keluarga Pratama. Rayyan menyusul adiknya yang ternyata sudah menghias kamar agar bisa tidur bersama Arisa.


"Sein menghias kamarnya selama 3 hari ini. Sein bilang dia ingin tidur dengan istrimu." Ucap Sonya menjelaskan agar Rayyan tak memarahi Seina.


"Nasibku bagaimana bunda?" Keluh Rayyan dengan lesu.


"Bunda mengerti. Nanti saja Sein akan bunda bujuk agar dia mengerti."


. Malamnya, setelah makan malam Rayyan menatap ponselnya dan tak sedikitpun berbicara dengan Arisa setelah mereka kembali ke kamar.


"Aray..." panggil Arisa namun Rayyan tak sedikitpun menanggapi Arisa hanya tangannya saja yang mengelus kepala istrinya.


"Kau marah?"


"Tidak." Meski menjawab, namun Arisa tahu Rayyan tengah marah padanya.

__ADS_1


"Ishhh Aray..."


"Hmmmm"


"Arayyyyyyyy!!!"


"Apa?"


Karena kesal, Arisa merebut ponsel Rayyan lalu meletakkannya di nakas. Terlihat sirat kesal Rayyan saat melirik pada Arisa yang tak kalah kesal menatapnya.


"Kalau aku ajak bicara itu jangan terus lihat ke ponsel."


"Ish kau ini kenapa?" Rayyan mendelik dan berniat ingin kembali mengambil ponselnya, namun dengan cepat Arisa meraih wajah Rayyan dan mencium bibirnya. Rayyan terdiam, ia belum membalas permainan Arisa yang tiba-tiba memulai. Ia pikir mungkin karena ia yang tak bicara dari tadi, Arisa menyadari kekesalannya karena beberapa malam selalu menolak. Rayyan memaksa Arisa untuk berhenti, ia meraih bahu Arisa dan menatapnya dengan lekat.


"Kau yakin?" Namun Arisa tak menjawab, ia kembali mencium bibir Rayyan dan mendominasi permainan. Rayyan yang mulai terbuai pun mengambil alih, ia memutar posisi sehingga kini Arisa yang berada di bawahnya. Perlahan tangannya meraba leher dan dada Arisa sehingga terdengar ******* kecil dari Arisa sendiri. Tak seperti biasanya, Arisa mulai membalas permainan dengan tangan yang meraba dada bidang Rayyan. Keduanya hanyut dalam permainan cinta mereka sampai akhirnya Arisa menghela nafas dalam saat Rayyan mulai pada intinya. Seketika Arisa menutup mulutnya yang hampir berteriak. Terlihat mengalir embun dari kelopak matanya lalu kian deras. Meski demikian, Rayyan terus melanjutkan sampai permainan berakhir.


Setelahnya, Rayyan memeluk Arisa seraya membelai wajah Arisa dan menciuminya dengan lembut. Arisa masih terisak pelan di pelukan Rayyan meski permainannya sudah selesai.


"Maaf ya." Lirih Rayyan.


"Yang kedua tidak kan?"


"Tidak bagaimana? Lihat itu!" Arisa mulai kesal seraya menunjuk pada bercak merah di atas sprei.


"Iya maaf sayang. Tapi mau lagi."


"Kau gila memang." Meski Arisa protes, namun Rayyan tetap melakukannya sampai ia puas.


. Paginya, Sonya mengetuk pintu kamar putranya untuk mengajak sarapan. Ketika Rayyan keluar kamar, Sonya melirik Arisa yang masih tertidur di balut selimut sampai leher, hanya rambutnya saja yang tampak.


"Ayo sarapan. Sudah jam berapa ini? Bangunkan Risa cepat."


"Bunda. Aray dan Risa nanti saja. Aku tak tega membangunkan Risa."


"Ya sudah. Kalau begitu bunda siapkan di meja makan ya. Jangan lupa."

__ADS_1


"Iya bunda."


"Oh iya Aray. Semalam Sein ke sini, katanya kau tidak membukakan pintu." Sontak Rayyan tersentak, ia langsung menggaruk kepala belakangnya dan tersenyum kaku.


"Hehe mungkin sudah tidur." Jawabnya demikian.


"Hemmmm...."


"Sudah bunda. Bunda kan mau sarapan, Aray mau bangunkan Risa dulu."


"Baiklah." Setelah itu, Sonya bergegas untuk kembali ke ruang makan, sedangkan Rayyan kembali ke tempat tidur. Ia melihat wajah Arisa yang kelelahan dan membenahkan selimut yang menyingkap memperlihatkan dada Arisa yang sudah penuh dengan tanda yang Rayyan buat.


"Sayang... ayo bangun." Rayyan mengguncangkan tubuh Arisa dan tak lama, terlihat Arisa menggeliat kecil dan mengeluarkan tangannya dari dalam selimut. Ia mengerjapkan matanya perlahan lalu meringis saat kembali merasakan perih di bagian tubuhnya. Tanpa sadar, selimut menyingkap semakin lebar memperlihatkan anggota tubuh Arisa bagian atas. Rayyan menutup kembali bagian tersebut karena tak mungkin setelah malam yang panjang, ia akan melanjutkan di pagi hari.


"Ayo mandi." Ajak Rayyan seraya memberi kecupan di dahi dan pipi Arisa.


"Aku tak bisa bangun." Mendengar rengekan Arisa ini, Rayyan terkekeh lalu menyingkapkan selimut sehingga tubuh polos Arisa nampak sepenuhnya. Arisa terbelalak lalu menutupi bagian tubuhnya dengan tangan.


"Apa yang kau lakukan sialan?" Pekik Arisa dengan wajah yang mulai merona.


"Kenapa harus malu? Bukankah semalam sudah aku jamah semuanya?"


"Diam kau. Ishhh cepat ambil selimutnya. Aku kedinginan."


Rayyan tak menghiraukan kekesalan Arisa, ia segera meraih Arisa dan membawanya ke kamar mandi. Rayyan menurunkan Arisa di bathtub dan ia berencana untuk mandi bersama.


. Singkatnya, Arisa membenahkan bajunya dan memastikan tanda merah di sebagian dadanya sudah tertutup sempurna. Setelah keduanya bersiap, mereka bergegas ke ruang makan. Disana masih ada Sonya yang kelihatannya belum makan karena menunggu mereka.


"Bunda dengar Tio memberi kalian hadiah rumah ya?"


"Iya bunda." Jawab keduanya serempak.


"Ini. Gunakan untuk membeli keperluan rumah." Arisa menganga melihat black card di sodorkan Sonya pada mereka.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2