TAK SAMA

TAK SAMA
201


__ADS_3

. Setelah berhasil menenangkan Rahma, Arisa hendak ke ruang tamu dan menemui Sarah yang kini tengah mengobrol dengan Yugito. Langkahnya terhenti saat ia melihat Tio dan Reza yang diam di balik tembok dan menguping percakapan Sarah dan ayahnya. Melihat Arisa yang tengah melangkah menghampirinya, dengan kompak Reza dan Tio mengajak Arisa untuk nongkrong di balkon kamar Arisa yang seperti sebuah cafe. Setelah ketiganya berada di balkon, Arisa duduk di sofa namun Reza dan Tio memilih untuk melihat orang-orang yang sedang memasang tenda di bawah.


"Kak Reza. Apa tidak masalah aku menikah duluan?" Tanya Arisa membuyarkan lamunan Reza yang tengah menatap kosong pada sebuah pohon yang ia lihat.


"Memangnya masalah apa Put? Kita tak ada hubungan darah. Jadi, silahkan saja! Jangan memikirkan aku." Jawab Reza berbalik dan melempar senyum pada Arisa.


"Aku ingin bertanya sekali lagi padamu kak." Lirih Arisa mencengkram bajunya sendiri.


"Apa?"


"Apa kakak benar-benar tidak menganggapku sebagai adik sedikitpun?" Namun, Reza malah tersenyum tipis membuat Arisa merasa lebih kesal.


"Tidak. Semakin aku menganggapmu adik, semakin aku merasa kau itu Nadhira. Jadi aku tak akan menganggapmu adik lagi, karena kau adalah Arisa. Bukan Nadhira." Tutur Reza beralih menatap pada langit yang terlihat cerah. "Meski satu ayah, kau dan Nadhira itu berbeda." Lanjut Reza masih enggan memalingkan pandangannya dari langit.


. "Tak ada yang melarangmu menemui Aris. Kau bebas jika ingin menemuinya. Aris juga lebih menyayangimu dari pada ibunya sendiri. Karena aku akui, aku dan Rahma terlalu fokus Raisa." Tutur Yugito setelah mendengarkan penjelasan Sarah.


"Tapi mas. Justru itu yang tidak aku inginkan. Jika Putri terus bersamaku, bagaimana dengan perasaan mbak Rahma? Sudah cukup aku membuat kesalahan hanya sekali saja mas. Aku tak ingin lagi di sebut sebagai perebut kebahagiaan orang." Mendengar ungkapan Sarah, Yugito lantas menundukkan pandangannya, ia benar-benar merasa di sindir habis-habisan oleh Sarah.


"Apa kau akan terus mengungkit itu?"


"Tentu saja mas. Jika saja dulu kau mengatakan jujur tentang dirimu, aku tak akan mungkin terjebak dalam masalah itu mas. Apa lagi aku mengandung Nadhira. Jika bukan karena Nadhira, sedari dulu aku sudah menghilang dari hidup kamu mas."


"Sudah Sarah. Maafkan aku. Biarkan itu menjadi masa lalu. Sekarang, aku ingin membalas budimu karena sudah menyayangi Aris seperti kau menyayangi Nadhira."

__ADS_1


"Aku tidak butuh balas budimu mas."


"Tidak Sarah. Nadhira sudah menyelamatkan hidup Aris."


"Lalu apa yang akan kau berikan padaku mas? Uang, rumah, mobil, atau fasilitas lain? Maaf mas. Aku sudah punya. Kebahagiaan? Itu juga sudah aku rasakan meski hanya dengan Reza."


"Lalu, bagaimana jika nanti Reza menikah?"


"Dan apa urusanmu mas?"


"Sarah? Kenapa kau jadi begini?"


"Begini bagaimana? Aku benar kan? Urusanmu dengan kebahagiaanku apa? Kita sudah tidak ada lagi urusan mas. Setelah aku mengembalikan Putri sepenuhnya, kita sudah tak ada kontak apapun lagi. Aku bukan istrimu, dan Nadhira sudah tidak ada. Tak ada alasan lain untuk kita masih berhubungan dan berkabar." Mendengar penuturan terakhir ini, Yugito kembali terdiam, sejak dulu ia memang selalu kalah jika berdebat dengan Sarah.


. Malamnya, Sarah yang berniat menginap di apartemennya, dilarang keras oleh Arisa. Bahkan Arisa meminta Sarah untuk memasak makanan kesukaannya. Meski merasa tidak enak hati pada Rahma, namun Sarah memaksakan diri karena Arisa turut membantunya memasak. Ia merasa kembali tinggal bersama Arisa sekarang ini.


"Iya mbak. Aku sudah tahu. Makanya tadi wajannya sudah aku ganti." Jawab Sarah membuat Rahma terdiam sesaat. Ia menahan dirinya untuk tidak memperlihatkan kecemburuannya karena hal ini.


"Oh iya ma.. masakan bunda enak loh... aku saja sering nambah." Puji Arisa ditanggapi senyuman oleh Rahma sendiri.


"Jangan begitu Put. Bunda tidak terlalu pandai. Kau nambah karena kau lapar." Elak Sarah yang tak ingin membuat Rahma merasa tersaingi olehnya. Sarah mengerti pujian Arisa terhadapnya, namun akan menimbulkan perang batin antara dirinya dan Rahma.


. Setelah semua makanan tersaji, Arisa memanggil Tio dan Reza yang tengah mengobrol di balkon kamarnya. Melihat Tio dan Reza akur seperti sekarang, Arisa merasa lega. Bahkan ia terlupa jika Reza pernah mengatakan hal menyakitkan padanya tempo hari. Arisa tertawa kecil saat mendengar obrolan perdebatan antara Tio dan Reza yang berebut ingin mengasuh anaknya nanti.

__ADS_1


"Kalian ini bagaimana? Aku saja belum menikah. Dan lagi pula, hamil itu lama. Tidak 1 bulan langsung melahirkan. Bisa saja kak Tio punya anak kedua, dan kak Reza punya anak sendiri." Ucap Arisa menimpali perdebatan keduanya yang berjalan di depan. Sontak Reza dan Tio berbalik membuatnya ikut terhenti.


"Kenapa?" Tanya Arisa yang keheranan.


"Kalau Rayyan kasar padamu, jangan segan untuk memberitahu ku oke!" Reza berkata dengan wajah yang sangat serius.


"Apa lagi saat malam pertama. Kau--" 'plak'. Belum selesai Tio berucap, Arisa menampar pipi Tio dengan wajah yang sudah memerah.


"Apa kau sadar Tio? Kau mengatakan tentang itu, sementara kau sendiri saja yang sudah berpengalaman." Protes Arisa kesal bukan main.


"Kenapa kau menamparku?"


"Kau gila. Pokoknya gilaaaa" geram Arisa yang berlalu meninggalkan Tio dan Reza. Tio melirik Reza dan memberi kode seakan bertanya 'kenapa dia?' Dan Reza sendiri hanya mengedikan bahunya seraya menyusul Arisa. Tio pun menyusul mereka ke ruang makan dengan menahan tawa.


"Anak kedua ya? Hemmm boleh juga." Gumamnya pelan dengan berpikir seraya tersenyum penuh arti. Diana yang sudah menunggunya pun merasa heran dengan tingkah Tio yang sedikit mencurigakan.


"Kenapa kau senyum-senyum?" Tanya Diana setelah Tio duduk di sampingnya.


"Boleh ya kita tambah anak." Seketika Diana terbatuk saat ia baru meneguk air di gelasnya. Diana menoleh kasar pada Tio dengan menatap tajam.


"Tidak Tio. Jangan dulu. Aku masih takut untuk melahirkan anak lagi. Dan juga aku masih sibuk sekarang. Jika aku ngidam sambil bekerja dengan keras, aku tak yakin akan berjalan lancar. Nanti ya. Tunggu Ghava 5 tahun." Bujuk Diana dengan sedikit berbisik karena baginya obrolan ini sangatlah rahasia.


Tio termangu melihat kedekatan Sarah dan Arisa yang mungkin tengah melepaskan kerinduan mereka. Saat ini Arisa terlihat begitu manja dari biasanya. Bahkan setiap suapan makannya selalu dari tangan Sarah.

__ADS_1


"Jelas kebahagiaannya ada pada bunda, dan aku ikut memisahkan mereka berdua karena keegoisanku yang ingin tinggal bersama Aris." Batin Tio semakin dalam menatap adik tersayang dan mantan ibu tirinya


-bersambung


__ADS_2