TAK SAMA

TAK SAMA
79


__ADS_3

. Fabio menatap Zain dengan tajam, keseriusan tersirat jelas diwajah Fabio.


"Sebelumnya kami mohon maaf atas ketidakhadiran Reza. Karena ada sesuatu yang tak bisa ia tinggalkan. Jadi, kami harap tuan Fabio..."


"Apa yang lebih penting dari pertemuan ini? Sampai dia mengingkari perjanjian yang dia buat sendiri." Tegas Fabio menyela saat Zain menghela nafas.


"Re-Reza...." Zain seketika memalingkan pandangannya kearah lain seraya memaki Reza didalam hatinya. "Alasan apa yang harus aku katakan agar Fabio mengerti." Gumamnya mencari kata yang tepat untuk memberikan alasan yang logis pada Fabio yang menatapnya penuh penekanan.


"Reza sedang..."


"Ke rumah sakit tuan... beliau mendapat kabar bahwa adik tuan Reza sedang sakit parah." Seketika Zain menoleh saat sekertaris Reza menyela memberi jawaban dengan sekali tarikan nafas seolah ia benar-benar mengatakan kebenaran.


"Adik?" Fabio menyernyit semakin lekat menatap Fitri.


"I-iya tuan." Jawabnya gugup yang langsung menundukkan pandangannya.


"Bukankah adik Reza sudah meninggal?" Tanya Fabio lagi.


"A-adik dari ayah lain tuan. Nyonya Sarah pernah menikah dengan pria lain selain Tuan Ridwan." Jawab Fitri. Niat ingin membuat Fabio percaya pada ucapannya, namun Fabio malah semakin curiga bahwa benar Arisa ada disini.


"Apa kalian kenal dengan Arisa?" Tanya Fabio mendadak santai dengan tiba-tiba.


"Ahh... bukankah dia sudah meninggal? Saya melihat beritanya dimana-mana." Imbuh Zain yang ikut terlihat santai namun sebenarnya, hatinya bimbang tak karuan.


"Benarkah? Tapi, aku menemukan bukti bahwa yang meninggal itu bukanlah calon istriku" tegas Fabio sambil mengetukkan jari pada meja didepannya.


"Mak-maksud tuan?" Tanya Zain menyernyit seolah ia tak mengerti, namun sebenarnya ia tahu semuanya. Arisa sudah menceritakan siapa yang meninggal. Dan jika mereka teliti, mereka pasti mudah menemukan Arisa disini. Meskipun bersedih, Arisa mencoba untuk tegar dan menguatkan diri agar bisa bertahan hidup tanpa siapapun.


"Di rumah sakit mana adik Reza dirawat?" Tanya Fabio yang beranjak dari duduknya. Zain tersentak lalu ikut beranjak dan berpikir bahwa Fabio akan menyusul Reza, lalu mungkin bertemu dengan Arisa.


"Tu-tuan..." ~Zain


"Kenapa?" ~Fabio


"Ti-tidak tuan." Zain menunduk dan membiarkan Fabio berlalu meninggalkan ruang pertemuan.


"Jadi, dimana adik Reza di rawat?" Tanya Fabio lebih menekan.

__ADS_1


"Reza belum memberitahukannya tuan." Jawab Zain hati-hati.


"Ohh baiklah. Aku yang akan mencarinya sendiri." Ucap Fabio yang berlalu diikuti sang asisten pribadinya. Zain berdecih lalu ikut menyusul Fabio sampai loby.


. Di kediaman Tio, Seno dan Daffa mengumpulkan beberapa bukti kematian Citra.


"Aku sudah menduga kak. Diwaktu yang sama, Citra juga menghilang." Ucap Daffa menerka-nerka.


"Tapi jika Aris pergi lewat jalur udara, harusnya ada namanya di daftar penumpang. Tapi Aris dan Citra pun tak ada Daf." Timpal Seno yang terlihat lelah karena pola tidurnya yang tak beraturan setelah Arisa pergi.


"Aku merasa Aris masih hidup karena beberapa alasan. Pertama, tak ada bekas luka di dada jasad yang terbakar itu. Kedua, aku tidak menemukan berkas apapun yang tersisa di dalam mobil. Ketiga, ponsel yang aku temukan bukan punya Arisa. Aku tahu persis ponsel miliknya." Jelas Tio dengan ikut menunjukkan bukti yang ia punya.


"Tio. Bagaimana dengan suruhanmu? Dia menemukan tanda-tanda keberadaan Aris?" Tanya Seno beralih menoleh pada Tio.


"Belum. Bahkan Bayu pun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Arisa di Jogja. Fabio pun, argghh aku tidak percaya padanya. Sekarang saja dia malah menemui kliennya ke Bandung." Decih Tio mendelik kesal. Lalu, ia dan Seno bersamaan menoleh dan saling menatap penuh arti.


"Bandung." Ucap keduanya.


"Kenapa kita tidak berpikir kesana? Bisa saja Aris menemui Reza kan?" ~Seno.


"Tapi apa mungkin? Dan apa Fabio sudah menyadarinya sebelum kita?" ~Tio.


"Ahaha aku tak mengerti dengan ya g kalian bicarakan, tapi jika memang kemungkinannya Arisa ada di Bandung, nanti kita berangkat dan mencari keberadaan Arisa." Ucap Daffa menyela perdebatan Tio dan Seno.


"Oke... agar tak ada yang curiga, biar aku saja yang kesana. Nanti akan aku beritahu kabarnya." Lanjut Daffa berubah mendadak serius. Tio dan Seno menyetujui rencana Daffa, mereka pun tak mungkin meninggalkan istri mereka tanpa memberitahu alasan mereka pergi. Karena selain mereka, tak ada yang percaya bahwa Arisa masih hidup. Semua menganggap bahwa Citra adalah Arisa.


Pernah Tio dengan bodohnya menyebarkan berita kehilangan, namun ia malah dianggap gila oleh semua orang. Sampai Seno mengatakan bahwa dirinya pun tidak percaya Arisa meninggal. Karena bukti barang-barang Citra masih utuh dirumahnya, dan tak ada nama yang tertera di setiap catatan penerbangan. Karena posisi mobil Arisa berada di bandara, Tio berpikir bahwa ini hanyalah manipulasi Arisa agar mereka mengira dirinya pergi dengan pesawat, dan digantikan oleh temannya.


Beberapa minggu setelah kepergian Arisa, Yugito habis-habisan memarahi Tio karena menyebarkan pengumuman kehilangan. Sedangkan semua orang tahu bahwa Arisa meninggal dalam kecelakaan. Hal itu mengakibatkan banyak kontroversi di media sosial. Sebagian, ikut menelusuri kematian Arisa, dan sebagian orang malah menyebut Tio gila.


"Ayah tak habis pikir. Kenapa bisa kamu menyebarkan berita tak masuk akal itu? Padahal kau sendiri yang memakamkan jasad adikmu." Ucap Yugito memijit kepalanya yang berdenyut karena kurang tidur. "Ayah tahu, kau sangat kehilangan Aris. Tapi kendalikan dirimu. Jangan gila karena Aris. Kau harus bisa menerima kenyataan."


"Iya ayah. Tio memang sudah gila. Tio gila karena kehilangan Aris. Tio juga gila karena Tio tak bisa menerima kenyataan. Tapi itu semua karena Tio sudah menyayanginya melebihi apapun. Mungkin ayah merasa kehilangan sebentar saja, karena ayah tak pernah mengurus dan peduli pada Aris. Tapi Tio tidak ayah. Tio menyaksikan dia tumbuh, dia sakit, dia senang, dia sedih, dia tertawa, dan dia merelakan semua yang dia cinta untuk Raisa. Jadi, adakah satu alasan saja untuk Tio agar tidak gila karena kehilangannya?" Tuturnya dengan air mata sudah berderai membasahi wajahnya. Tio terisak keras lalu kembali memikirkan bagaimana nasib Arisa jika memang dia belum meninggal. Semua kartu yang diberikan pada Arisa, malah Arisa simpan. Semua barang berharganya ditinggalkan begitu saja. Namun satu yang tak ditemukan Tio di kamar Arisa. Tak lain kalung Phoenix.


. Reza panik saat Zain menelponnya dan mengatakan bahwa Fabio akan mencarinya dan mungkin akan menemukan Arisa juga. Meskipun Reza tahu Zain masih di kantor, namun Zain punya beberapa orang kepercayaan untuk mengintai.


Reza membuka pintu dengan masih panik, lalu ia segera membuka jasnya dan menggantinya dengan hoodie. Jika memakai pakaian formal, ia pasti mudah di curigai.

__ADS_1


"Kak ken--" Reza menutup mulut Arisa dengan cepat membuatnya terdiam sesaat.


"Diam... ada yang ingin membawamu. Jika kau menurut, pasti kau akan aman." Tegas Reza menatap tajam kedua manik Arisa.


Jantung keduanya berdetak begitu keras, mereka baru pertama kali dalam jarak sedekat ini. Perlahan Reza melepaskan tangannya dari Arisa, dan ia menoleh keluar untuk memastikan tak ada Fabio. Ketakutannya kini membuat dirinya menjadi tidak terkendali. Rasanya semakin hari, ia semakin berat untuk jauh dari Arisa.


. Suatu hari, Arisa tengah berjalan santai di sebuah taman kota setelah dirinya dinyatakan sembuh. Ia menatap satu persatu mobil yang berlalu lalang memecah jalanan sambil menunggu Zain dan temannya datang. Ia benar-benar merindukan ibu kota yang penuh kenangan baginya. Dari kebersamaannya dengan keluarga, Rama, dan bahkan Rayyan yang mungkin sekarang sudah bahagia dengan kakak kembarnya.


"Bahkan aku harus melupakanmu dengan paksa. Sudah mustahil sejak awal karena restu Oma, sekarang lebih mustahil karena kau sudah dengan Raisa." Batin Arisa menyeka embun yang terasa menggenang di kelopak matanya. Ia melepaskan kacamata yang kini menjadi benda penting untuk penyamarannya. Saat ia menoleh pada sebuah mobil, ia terbelalak mengapa Daffa bisa disana? Segera Arisa beranjak dan berlalu secepat mungkin meninggalkan area taman sebelum Daffa melihat.


Daffa menyadari pergerakan Arisa yang pergi dengan langkah terburu-buru. Tak ingin kehilangan lagi, Daffa berlari menyebrang dengan mata yang masih menatap Arisa. Hampir saja ia menjadi korban tabrak lari karena tidak hati-hati. Hingga, ia berhasil meraih tangan Arisa dengan nafas terengah.


"Ma-af... no-na...." ucapnya dengan nafas yang begitu berat.


Arisa terdiam tak menoleh sedikitpun saat Daffa begitu erat menggenggam tangannya. Daffa mendongak dan mendapati rambut pendek yang lurus sebahu dan wajah familiar namun dengan poni mendatar sejajar dengan alis, di tambah kacamata bening yang membuat Arisa sedikit berbeda.


"Ar-ri-sa... kau benar-benar Arisa. Iya kau Arisa. Kau masih hidup." ucapnya kembali dengan paksa mengucap meskipun lidahnya terasa kelu.


"Iya? Siapa?" Arisa sedikit memiringkan kepalanya dan tersenyum ramah bersikap layaknya orang asing.


"Ini aku. Daffa. Kau lupa?" Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan Daffa.


"Maaf kak... mungkin anda salah orang." Ucap Arisa meyakinkan. Ingin rasanya Arisa menangis dan memeluk Daffa saat ini karena ia begitu merindukan orang-orang terdekatnya.


"Putri." Panggil Tiara dari belakang membuat Daffa mematung dan perlahan melepaskan genggaman Arisa.


"Aishhh aku mencarimu. Ayo! nanti kak Zain menunggu." Ucapnya lagi seraya menarik tangan Arisa menjauh dari Daffa.


"Dia siapa? Kau kenal?" Tiara menoleh ke belakang sambil terus berjalan beriringan dengan Arisa.


"Tidak." Jawab Arisa dengan suara yang sedikit di ubah.


"Kau sedang panas dalam? Kenapa suaramu berbeda?" Tanya Tiara polos meraih bahu Arisa dan semakin samar terdengar oleh Daffa karena semakin jauh.


"Putri? Kenapa aku diam? Bukankah putri juga namanya? Kenapa? Kenapa tubuhku seakan tak ingin mengejarnya? Atau memang benar Arisa sudah meninggal dan kebetulan dia hanya mirip? Arggghhhh kenapa aku segila ini?" Batin Daffa menjambak rambutnya dan menghempaskan tangannya dengan kasar. Terlihat Daffa menyeka air matanya yang berderai deras dengan frustasi membuat Arisa pun ikut menangis keras di kejauhan.


"Maafkan aku Daf... maaf."

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2