
. Diperjalanan, Tio membersihkan darah di wajah dan tangan Arisa.
"Mang. Bisa lebih cepat?" Tanya Tio penuh kekhawatiran.
"Tidak den. Ini sudah cepat, mamang takut jika menambah lebih cepat. Keselamatan aden dan non Aris sangat penting" Jawab mang ujang lembut.
"Baiklah." Tio menghela nafas panjang. "Adik bodoh. Seenaknya sendiri. Apa yang kau pikirkan. Tidak mau makan, susah di atur."
Tio terus menggerutu kesal.
. Sampai di rumahsakit, terlihat Dimas berlari membawa beberapa perawat dan petugas untuk membawa Arisa.
Bagaimana Dimas tau Arisa yg menjadi pasien?, tentu saja Tio yang memberitahukannya.
Dibawanya Arisa ke ruang UGD.
Pintu ditutup cepat sebelum Tio menerobos masuk. Dimas memberi isyarat pada Tio "diam disana".
"Sial." Umpat Tio dengan kesal.
. Tio tidak berhenti mondar-mandir dengan panik. Tak lama, Raisa dan mama menyusul Tio. Raisa berdiri tepat didepan pintu UGD. Menerawang jauh menatap Dimas yang sibuk memeriksa Arisa. Air matanya tak henti berderai. "Aku mohon jangan terjadi apa-apa padanya Tuhan." Dalam hatinya terus berdoa, Tio menatap Raisa yang sesenggukan sesekali mengusap pipi dan matanya.
Diraihnya Raisa yang tak berhenti menangis. Tio memeluk hangat Raisa lalu mengusap rambutnya seraya menenangkan.
"Sudahlah. Dia akan baik-baik saja."
Dimas keluar lalu menutup kembali pintu ruangan.
"Dimas. Apa adikku baik-baik saja?" Tio menatap Dimas penuh harap.
"Katakan Dimas, Arisa tidak apa-apa bukan?" Ucap Raisa menghampiri Dimas dengan panik.
"Ak-aku susah menjelaskannya." Ucap Dimas terlihat kebingungan.
"Apa maksudmu?" Tio menatap dalam Dimas. "Apa kau mau rumahsakit ini aku tutup?" Lanjut Tio mengancam.
"Hei. Apa-apaan kau? Kau memang punya kekuasaan, tapi kau juga jangan gila seperti ini." Umpat Dimas kesal.
"Lalu? Kenapa kau tidak mengatakan bahwa adikku baik-baik saja.?" Tanya Tio dengan emosi.
"Sudah kak. Ingat ini di rumahsakit." Raisa menahan Tio yang semakin mendekat pada dimas.
"Baiklah akan aku jelaskan di ruanganku." Dimas berjalan menuju ruangannya.
. Dimas sejenak terdiam menganalisa hasil pemeriksaan yang di bawa oleh seorang perawat.
"Ku pikir Arisa sudah membaik, tapi melihat analisis ini, membuktikan bahwa sepertinya Arisa memang keras kepala." Jelas Dimas menatap berkas ditangannya sesekali melirik Tio.
"Apa maksudmu?" Tanya Tio datar.
"Penyebab Arisa pingsan, karena tidak ada asupan makanan. Dan asam lambungnya yang kambuh membuatnya menjadi lemas. Jika terus dibiarkan, akan berbahaya. Karena bisa jadi asam lambungnya akan mencapai jantung. Efek lainnya mungkin Arisa akan mengalami sedikit masalah pada penglihatannya." Jelas Dimas lagi.
"Lalu? Kenapa dia mimisan?" Tanya mama menatap lekat Dimas.
"Bukankah sudah biasa Arisa selalu mimisan jika demam? Suhu tubuhnya 39,6. Itu juga menjadi pemicu kenapa Arisa pingsan."
"Dan kenapa ada memar di kepalanya? Setahuku dia tidak terbentur." Raisa terlihat keheranan.
"Jika soal itu, lebih baik kau tanyakan saja pada kakakmu ini." Ucap Dimas menunjuk Tio dengan sudut matanya.
"Maksudmu?" Raisa lebih heran.
"Aku tidak tahu apa-apa Dimas." Delik Tio.
"Apa mama sudah bisa melihatnya?" Tanya mama berdiri dari duduknya
"Silahkan. Kebetulan aku sudah menyuruh petugas untuk memindahkan Arisa ke ruang inap." Dimas mempersilahkan dengan ramah.
__ADS_1
"Jika ada apa-apa, panggil saja aku." Lanjut Dimas.
. Tio, Mama, dan Raisa meninggalkan ruangan Dimas dan menuju ruang inap.
Saat sampai, terlihat Arisa belum sadarkan diri. Mama duduk di samping ranjang, dan mengelus kepala Arisa lembut. "Tio, kau sudah beritahu ayah?" Tanya mama.
"Belum ma. Mungkin ayah akan tahu dari bi Ina." Ucapnya duduk di sofa.
"Biar aku yang menelpon ayah." Raisa mengeluarkan ponselnya. "Aku permisi keluar sebentar." Lanjutnya kemudian keluar ruangan.
. "Dasar adik bodoh. Kau sangat susah di atur, dan sekarang sakit, kau tak bisa apa-apa." Ucap Tio bersandar di sofa dan memejamkan matanya.
"Diam kau brengsek. Jika kau tidak mau repot karenaku, pergi saja kau." Ucap Arisa bergumam tapi masih terdengar jelas.
Mama terus mengusap ujung matanya. Arisa membuka mata dan menole pada mama yang duduk disamping rajang dengan terus terisak.
"Aku belum mati ma... jadi jangan menangis terus."
. Diluar, Raisa memberitahu ayah di telpon. Setelah panggilan terputus, Raisa mendapati 2 orang pria tampan. Yang satu seumuran dengan kakaknya, dan yang satu seumuran dengannya.
"Rayyan?" Raisa menatap Rayyan. Rayyan hanya melirik sedikit lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Aku yang tepat di depanmu, tidak kau sapa." Ucap Seno berdelik.
"Ahhhh kak Seno maafkan aku." Raisa tersenyum kaku.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Seno melirik ke kanan dan ke kiri.
"Arisa di rawat, jadi tidak ada alasan untuk aku tidak disini." Jelas Raisa.
"Apa?" Seno sedikit berteriak. Rayyan yang mendengarnya langsung menatap Raisa tidak percaya.
"Dimana dia?" Tanya Rayyan.
"Di-dia di sana." Raisa menunjuk kamar di belakangnya. Rayyan bergegas masuk tanpa izin. Tio yang melihat itu berdiri dan mengantisipasi.
"Sial ternyata memang dia." Cetus Rayyan menatap mata Arisa yang sayu menatapnya.
"Mereka terlihat sama, tapi tetap saja mereka orang yang berbeda" gumam Rayyan.
"Rayyan. Kau tidak sopan." Seno yang menyusul dari belakang.
"Pantas saja anak ini tidak sopan, ternyata kau yang membawanya." Tio kembali duduk.
"Maafkan aku! Tapi sejujurnya kau bisa lebih buruk dari Rayyan." Ucap Seno duduk di samping Tio
"Dia kenal adikku?" Tanya Tio menatap Rayyan.
"Dia sekelas dengan Arisa." Jawab Seno.
"Apa? Sekelas?" Raisa tiba-tiba.
"Iya. Dia seperti ini pun juga karena salahnya." Ucap Seno datar.
"Jadi, apa kau sudah puas membalaskan dendammu padaku yang sudah menabrakmu tempo hari dengan melempar bola ke arahku?" Tanya Arisa yang memejamkan matanya. "Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi ku harap ini pertama dan terakhir aku berurusan denganmu." Lanjut Arisa.
"Sepertinya kau salah faham nona Fandhiya" Rayyan tersenyum.
"Arisa jaga bicaramu. Kau tahu siapa Rayyan?" Ucap Raisa sedikit khawatir.
"Sepertinya kau sangat peduli padanya Rayyan?" Sindir Tio.
"A-a-akuu" Raisa gugup dan mengusap lekuk pundaknya.
"Aku tidak peduli." Ucap Arisa membuka matanya. Terasa pusing, berat, dan seakan berputar-putar. Sangat terlihat dari matanya yang menyipit.
"Aku ingin tidur, bisakah kalian meninggalkanku sendiri?" Arisa kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
Tidak ada yang menjawab, namun satu persatu keluar dari ruangan. Tapi Rayyan masih tetap berdiri di tempatnya. Raisa menoleh sebentar kebelakang sebelum benar-benar keluar dari ruangan.
"Tutup pintunya." Ucap Rayyan tanpa bergeming sedikitpun dan terus menatap Arisa. Raisa menutup pintunya.
Arisa heran sedikit kesal. Dia bangun dan duduk bersandar.
"Apa kau tidak dengar? Aku ingin sendiri." Arisa menatap Rayyan, mata coklat yang sayu namun dingin. Dan tatapan mereka bertemu. Rayyan menatap tajam Arisa.
"Maaf nona. Sepertinya ini bukan terakhir kalinya kita berurusan, tapi ini baru permulaan" Ucapnya datar lalu berbalik pergi dari ruangan. Meskipun tak ingin pusing, namun Arisa berusaha mencerna maksud dari ucapan Rayyan.
. Diluar, Raisa terus menatap kedalam ruangan dari balik kaca.
"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Mengapa dadaku terasa sesak." Gumamnya dalam hati.
'Ceklak' Rayyan keluar dari ruangan. "Kak Seno. Aku duluan." Rayyan melirik sekilas pada Raisa, pipi Raisa sedikit memerah.
"Baiklah. Nanti aku menyusul." Jawab Seno.
Rayyan memberi senyuman pada mama tanda pamit pergi dan berlalu meninggalkan tempat itu.
. Rayyan memasuki salah satu kamar pasien. Dibukanya pintu putih itu, terlihat didalam seorang gadis kecil berbaring di ranjangnya dengan infus di tangan kirinya. Disamping ranjang duduk seorang wanita paruh baya yang sedang mengelus lembut tangan anak itu.
. "Kau sendiri?" Tanya sang bunda.
"Tidak. Aku dengan Seno." Jawab Rayyan mengelus rambut Seina.
"Lalu dimana dia?" Bunda melirik pintu.
"Sedang mengobrol dengan temannya." Rayyan masih mengelus rambut Seina. Entah apa yang dipikirkannya. Kini wajah Arisa terus muncul di otaknya.
. Esok hari nya, Arisa merasa sesak terus berada di dalam kamar pasien, meskipun kamar VIP. "Aku benci jika sudah seperti ini." Arisa melangkah keluar. Melihat mama sedang duduk di kursi panjang.
"Ma...!" Ucap Arisa lirih.
"Aris?" Mama terkejut dan menghampiri Arisa.
"Aris sesak ma. Aris ingin udara segar." Jawab Arisa memelas.
"Kau belum pulih Arisa." Arisa menoleh kearah sumber suara, dan mendapati dokter tampan dihadapannya.
"Aku sudah baikan Dimas." Jawab Arisa meyakinkan. Dimas menghela nafas panjang.
"Kau benar-benar keras kepala Arisa." Dimas menyuruh salah satu petugas untuk membawakan kursi roda.
"Aku bisa jalan sendiri." Ucap Arisa sedikit kesal.
"Iya tapi kau masih lemah." Dimas menegaskan. "Itupun jika kau ingin jalan-jalan. Jika tidak, kau bisa kembali ke kamarmu." Dimas tersenyum sangat lebar. Arisa hanya mendelik mengekspresikan kekesalannya.
Dengan terpaksa Arisa duduk dan Dimas memberikan jas hitamnya pada Arisa. "Pakai ini agar kau tidak kedinginan." Arisa hanya terdiam.
"Mama istirahatlah. Biar aku yang menjaga Arisa. Dimas tahu mama sangat kelelahan kan?" Ucap Dimas pada mama. "Akan sangat disayangkan jika mama ikut sakit karena mengkhawatirkan Arisa." Lanjut Dimas.
Mama akhirnya mengangguk menanggapi ucapan Dimas.
"Baiklah... mama tunggu disini. Dan tolong jaga Arisa." Dimas mengangguk lalu mendorong Arisa yang duduk memegang infusan.
Saat ini Dimas tidak mengenakan snelli, hanya mengenakan kemeja, sangat terlihat mereka layaknya pasangan, bukan seperti dokter dan pasiennya. Sangat serasi.
"Kemana kau mau pergi? Mau berkeliling menyusuri koridor rumah sakit? Atau masuk ke satu persatu ruangannya? Atau kau mau masuk kekamar jenazah?" Dimas sedikit membisik ke telinga Arisa. 'Plak' tamparan mengenai pelipis Dimas. Walaupun Arisa membelakanginya.
"Awww" Dimas mengusap kasar pelipisnya "kau kasar sekali. Aku heran mengapa Rama bisa bertahan." Dimas merintih kesakitan.
"Karena Rama itu istimewa" jawab Arisa.
. Dari kejauhan, Rayyan menatap pemandangan yang entah mengapa menyesakkan dadanya. Sungguh romantis. Pasien cantik, berkeliling ditemani dokter tampan.
"Membuatku muak." Rayyan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
-bersambung