TAK SAMA

TAK SAMA
107


__ADS_3

. Dengan pelan Tio mengetuk pintu kamar Raisa, dan tak perlu menunggu lama, Raisa membuka pintu dengan wajah yang begitu sendu.


"Rais.. kakak mau.."


"Rais sedang sibuk." ucapnya menyela.


"Kakak minta maaf. Kakak tak bermaksud membuatmu berpikir bahwa kakak pilih kasih atau apa. Tapi..."


"Rais yang minta maaf. Rais tak bermaksud berbicara begitu. Rais tahu kakak lebih menyayangi Aris karena mama yang terlalu fokus pada Rais kan? Dan kakak melakukan hal menyenangkan dengan Aris itu karena kakak tak mau Aris merasa kesepian dan tertekan." Ucapnya lagi.


"Mau jalan-jalan?" Tanya Tio hendak mencairkan suasana. Raisa mengangguk pelan dan tanpa harus bersiap, ia mengikuti langkah Tio dari belakang. Melihat Tio yang memakai baju kasual, ia seketika merindukan Tio yang dulu. Yang selalu bekerja lembur dirumah dan bertemu dengannya setiap hari.


"Yah... ma... Tio bawa Rais keluar ya." Ucapnya setengah berteriak saat melewati lorong menuju ruang makan.


Sepanjang jalan, Raisa hanya bersandar lesu pada kaca mobil di sampingnya.


"Aris kemana?" Tanya Tio.


"Keluar." Jawab Raisa masih enggan merubah posisinya.


"Keluar?" Tanya Tio lagi kali ini dengan menyernyit heran.


"Iya. Tadi Daffa menjemputnya." Jawabnya lagi memejamkan mata.


"Ohhh begitu. Fariz tak mengajakmu keluar?" Dan seketika, Raisa membuka mata namun tak menoleh sedikitpun pada Tio.


"Hmmmphh dia tak ada kabar seharian ini." ~Raisa.


"Kalian bertengkar?" ~Tio.


"Tidak." ~Raisa.


"Lalu?" ~Tio.


"Aku tak tahu." ~Raisa.


. Di waktu yang sama, Rayyan masih menenangkan Arisa yang menangis di dekapannya.


"Risa sudah... aku minta maaf. Jangan menangis terus."


"Kau gila."


"Ehh kenapa aku yang gila?"


"Kalau aku di ambil orang bagaimana?"


"Ya jangan. Makanya aku minta maaf."


"Jangan begitu lagi Aray."


"Iya Risa iya. Maaf."


"Berapa kali kau mau meminta maaf?"


Rayyan terkekeh mendengar rengekan manja dari kekasihnya, ia sudah lama tak bercanda ria dengan Arisa dan sekarang terasa kerinduannya benar-benar terobati.


"Risa..."


"Hmmm?"


"Aku mencintaimu." Bukannya menjawab, Arisa malah terdiam tak menanggapi ucapan Rayyan.


"Kau tak mencintaiku?" Tanya Rayyan yang mendadak kesal karena Arisa tak menanggapinya sedikit pun.


"Aku tahu Aray. Kau beberapa kali mengatakannya. Dan aku tak perlu menjawabnya kan? Jika aku tak mencintaimu, mana mungkin aku kabur saat kau dan Raisa akan menikah."


"Kau ingat?" Tanya Rayyan mendadak berbinar dengan mata yang membulat seakan tak percaya.


"Emm tidak. Tapi Kak Diana yang menceritakannya." Jawabnya polos.


"Ohhh" Rayyan memalingkan wajahnya ke arah lain dan membuat Arisa menyadari kekecewaan Rayyan saat ini.

__ADS_1


"Kenapa? Kau kecewa ya?" Tanya Arisa menunduk merasa bersalah.


"Emm sedikit." Jawab Rayyan kembali menoleh ke arah Arisa.


"Maaf...."


"Tapi sudah tidak. Karena kau sudah memaafkanku, jadi aku tak akan meninggalkanmu lagi." Rayyan kini meraih kedua pipi Arisa dengan gemas.


"Jika aku menikah dengan pria lain bagaimana?"


"Siapa? Bayu? Atau Dimas? Atau juga Daffa? Memangnya kau mau?" Ejeknya yang enggan melepaskan tangan dari pipi Arisa.


"Ohhh kau mau melihatku menerima salah satu dari mereka?"


"Ehhh kau mau meninggalkanku?"


"Bukannya sudah?"


"Jangan lakukan lagi."


"Jika aku meninggalkanmu lagi, apa yang akan kau lakukan?"


"Emmm mungkin bunuh diri. Karena hanya ke luar negeri untuk melupakanmu saja nyatanya aku tak bisa."


"Apa selama aku di kabarkan meninggal, kau berpaling dariku atau ada yang mendekatimu."


"Ada."


"Lalu?"


"Aku menolaknya."


"Kenapa?"


"Karena aku masih terikat denganmu."


"Sedikitpun kau tak berpaling?"


"Kau benar-benar mencintaiku sedalam itu?"


"Lebih dari yang kau kira."


"Benarkah? Lalu, permintaan apa yang pernah kau lakukan demi membuktikan perasaanmu padaku?"


"Pertunanganku dengan Raisa."


"Jadi benar, aku sendiri yang menginginkannya."


"Kenapa kau malah membahas ini? Sekarang sebaiknya kita makan. Aku dan Daffa spesial mempersiapkannya untukmu."


"Terima kasih tuan Pratama."


"Sama-sama Nyonya muda Pratama."


"Hemm belum resmi."


"Ohhh jadi kau mau secepatnya menjadi nyonya di rumahku?"


"Emmm mau tidak ya?"


"Aissshhh Aku merindukanmu sayang." Dengan erat Rayyan beralih memeluk Arisa dan beberapa kali mengecup dahi dan pipinya.


. Ditaman, Tio membawa dua cup mocca hangat ke tempat dimana Raisa duduk. Ia terlihat melamun dan bahkan seperti tak menyadari kedatangan Tio.


"Rais..." panggilnya pelan namun cukup membuat Raisa menoleh.


"Melamun lagi?" Lanjutnya duduk di samping Raisa.


"Kak... aku mau bertemu dengan tante Sarah boleh?" Tio menyesap minumannya dengan santai seakan tak mendengarkan pertanyaan Raisa.


"Kakak..." panggil Raisa dengan meninggikan suara.

__ADS_1


"Apa?" Delik Tio mendadak kesal.


"Ishhh aku mau bertemu.."


"Jika kau bertemu dengan tante Sarah, maka kau sudah melukai hati mama." Tegas Tio membungkam Raisa seketika.


Ditengah kekesalannya pada Tio, Raisa tiba-tiba terfokus pada sosok yang tak asing baginya. Segera Raisa beranjak dan dengan cepat menghampiri Fariz yang tengah melamun duduk sendirian. Dan tanpa sepatah kata, Raisa duduk di samping Fariz membuat Fariz menoleh ke arahnya.


"Kakak disini, tapi tidak memberitahuku." Ucap Raisa sedikit menunjukkan sikap manjanya. Namun tak seperti biasanya, kini Fariz langsung beranjak dan tak memberi satu pun kata pada Raisa. Raisa yang tak tahu masalahnya merasa heran dan penasaran akan sikap Fariz yang tiba-tiba berubah.


"Kak... ada apa?" Tanyanya berlari mengejar Fariz.


"Tak ada." Jawab Fariz singkat.


"Bohong. Jika tak ada apa-apa, kakak tak mungkin bersikap begini padaku." Kini Raisa hendak meraih lengan Fariz namun dengan cepat Fariz menjauhkan tubuhnya dari Raisa. Dan sikap ini membuat Raisa semakin yakin bahwa Fariz benar-benar menjauhinya.


"Kakak kenapa sih? Kakak marah? Karena apa? Atau jangan-jangan kakak punya wanita lain? Makanya kakak bersikap begini? Iya kan?" Seketika itu, Fariz menyernyit mendengar tuduhan Raisa tentang dirinya yang punya wanita lain. Apa maksudnya? Jelas-jelas Raisa sendiri yang tak menganggap ada dirinya selama ini. Begitu pikir Fariz.


"Jawab kak." Ucap Raisa kini semakin berkaca-kaca. Ia sudah siap dengan jawaban Fariz yang mungkin saja memang memiliki kekasih baru.


"Jawab apa? Kau mau aku menjawab apa?" Dan genangan embun itu mengalir deras di pipi mulus Raisa. Fariz semakin dibuat heran mengapa Raisa menangis hanya karena dirinya yang tak menjawab pertanyaan darinya.


"Oke... kakak juga mau meninggalkanku? Ya sudah. Pergi saja. Biarkan aku sendiri saja."


"Mengapa kau menangis?" Tanya Fariz dengan begitu datar. Raisa semakin terasa sesak karena baru pertama kali Fariz bersikap dingin padanya.


"Pikir saja sendiri."


"Sudahlah Raisa. Jangan memberiku harapan jika kau sendiri tak pernah menganggapku ada."


"Apa maksudnya? Tak menganggap ada bagaimana?"


"Hmph jangan pura-pura tidak tahu Raisa. Selama ini kau hanya menganggapku teman saja kan? Padahal kau sendiri tahu sebesar apa perasaanku. Dan selama ini juga kau bersikap layaknya kekasihku. Nyatanya? Hahah jangan karena aku tulus jadi kau seenaknya padaku." Ungkap Fariz dengan seringai sinis dan terlihat frustasi. Raisa semakin merasa heran saat ada bulir bening yang mengalir di wajah Fariz. Ia segera menyeka air matanya yang mengalir tanpa izin.


"Bisa-bisanya aku menangis hanya karena gadis sepertimu." Lanjutnya masih tertawa sinis. Dan 'plak'


"Aku tak menyangka kakak bisa bicara seperti itu. Aku tak tahu masalah kakak apa. Tapi jangan bicara seolah aku yang bersalah disini. Dengan kakak berkata demikian, sudah menjelaskan selama ini kakak hanya pura-pura saja. Jika kakak punya wanita lain, katakan saja. Mungkin dengan begitu aku tak berharap kakak datang untuk melamarku dan aku tak akan berharap lebih pada kakak." Ucapnya panjang lebar kemudian berlalu dengan menangis yang tersedu-sedu.


Fariz meraih pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan Raisa, dan ia sedikit merasa heran mengapa jadi Raisa yang marah padanya.


Melihat Raisa yang kembali dengan kondisi menangis, Tio beranjak dan meraih Raisa dengan panik.


"Kau kenapa?"


"Aku mau pulang kak." Rengeknya mengabaikan pertanyaan Tio.


"Iya tapi kenapa? Apa Fariz melukaimu?" Raisa menggeleng kasar dan masih menangis didepan Tio.


"Katakan saja jika dia melukaimu."


"Tidak kak. Hatiku saja yang sakit. Selama ini aku terlalu berharap lebih padanya."


"Ishh kenapa tak di selesaikan masalahnya? Kakak yakin kalian hanya salah faham."


"Pokoknya aku mau pulang." Rengek Raisa lagi semakin kesal karena Tio yang masih diam.


"Iya iya sekarang pulang." Ucap Tio kemudian mengikuti langkah Raisa dari belakang. Terlihat Raisa begitu cepat berjalan seakan ia sedang di kejar hantu.


Tio menoleh sesaat pada Fariz yang masih diam di tempatnya dan seakan enggan beranjak.


"Ada apa dengan mereka? Baru kali ini aku melihat Raisa menangis karena bertengkar dengan Fariz." Gumam Tio menghela nafas berat.


Sementara Fariz masih duduk melamun dengan tangan yang terus mengelus pelan pipinya. Ia sejenak berpikir mengapa Raisa begitu marah. Dan apa maksud Raisa dari ucapannya? Pikiran Fariz semakin berkecamuk dan ia sendiri merasa bersalah dan seakan rasa kecewanya perlahan memudar karena melihat tangisan Raisa yang begitu menyesakkan. Seketika ia kembali mengingat ucapan Raisa siang tadi yang mengatakan bahwa dirinya hanya sekedar teman.


Kemudian Fariz beranjak dari duduknya dan perlahan berjalan meninggalkan taman. Ia tak tahu kemana arah laju mobilnya sampai ia sendiri tersadar bahwa ia tengah mengikuti mobil Tio sampai rumah Raisa.


Saat Raisa hendak beranjak dari mobil, Tio menarik tangannya membuat Raisa kembali duduk namun dengan memalingkan wajahnya.


"Temui dulu. Sepertinya dia ingin bicara padamu." Ucap Tio dengan santai. Raisa hanya melirik sedikit ke arah gerbang yang menampilkan mobil Fariz. Ia mendelik kemudian segera beranjak dan berlari memasuki rumah. Melihat itu, Fariz hanya menghela nafas dalam dan ia segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga putra. Tio yang merasa sudah tak ada lagi urusan disana pun bergegas pulang ke rumahnya.


. Di restoran, pasangan kekasih yang masih melepas rindu diantara keduanya itu kini mengakhiri acaranya. Sebelum pergi, Rayyan meraih tangan Arisa dan berkata "menikahlah denganku."

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2