TAK SAMA

TAK SAMA
145


__ADS_3

. Selama Tio berbincang dengan Sarah, terlihat Juna menghampiri dan memberitahu bahwa diluar ada seseorang yang bertamu pada Sarah. Melihat raut wajah Juna, Tio merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Entah kenapa ia merasa penasaran siapa tamu yang dimaksud. Keduanya bergegas menuju teras diikuti oleh Juna dari belakang.


"Maaf." Ucap Sarah singkat ketika mendapati sosok pria dengan stelan jas membelakanginya. Matanya membulat ketika pria itu berbalik dan menampakkan wajahnya pada Sarah.


"M-Mas. Se-sedang apa kau disini?" Tanyanya dengan gugup. Ia tak menyangka pria itu adalah Yugito, karena kini tubuh Yugito terlihat lebih kurus dari sebelumnya.


"Sarah... bagaimana kabarmu?" Tanya Yugito melangkah semakin dekat pada Sarah. Sontak Sarah pun sedikit menghindari Yugito karena tak ingin Tio salah faham lagi.


"Kenapa? Kau membenciku?"


"Mas.. maaf. Tapi sebaiknya kita jaga jarak agar anak-anak tak salah faham."


"Salah faham kenapa? Aku ayahnya Aris. Dia tinggal bersamamu disini."


"Iya tapi.... Tio akan berpikir yang tidak-tidak."


"Tio? Kenapa Tio?" Yugito mendadak terheran karena nama putra sulungnya di ucapkan oleh Sarah.


"Aku disini ayah." Ucap Tio menimpali dan muncul tepat dari belakang Sarah.


"Tio? Kenapa kau ada disini?"


"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa ayah ada disini?" Suara Tio berubah tegas menatap ayahnya yang gugup atas pertanyaannya.


"Ayah... hanya ingin memastikan keadaan Aris." Jawab Yugito dengan sedikit mengelak.


"Kenapa tidak tanya Juna saja?"


"Dan kau? Kenapa ada disini?" Balas Yugito tak kalah penasaran dengan keberadaan Tio.


"Haruskah ayah tahu?"


"Kau bermain serong dengan ibu tirimu?" Tio terbelalak mendapati tuduhan ayahnya yang tak masuk akal.


"Ayah pikir aku gila? Lagi pula, bunda bukanlah istri ayah lagi. Jangan karena Aris tinggal dengan bunda, ayah bisa seenaknya menemui bunda dan tak mempedulikan mama lagi."


"Jaga bicaramu Tio."


"Hentikan! Apa kalian kesini hanya untuk bertengkar? Jika iya, sebaiknya kalian pergi. Dan aku tak ada niat untuk menerima tamu berisik seperti kalian. Aku tegaskan! Aku tak akan memberikan Arisa pada kalian lagi. Arisa memang putri bungsu keluarga putra. Tapi, jika untuk membuatnya menderita, aku tak akan biarkan kalian membawanya." 'Bam' Sarah menutup pintu dengan keras menyisakan ayah dan anak yang mematung di depan pintu. Tio melirik pada Juna yang selalu sigap dalam posisinya.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mengawal Aris?" Tanya Tio menatap tajam pada Juna.


"Nona sendiri yang meminta saya untuk menjaga nyonya Sarah. Dan nona bersikeras tak ingin di kawal." Jawab Juna tak merubah posisinya sedikitpun.


"Tapi jangan sampai kau mengabaikan Aris. Kalau sampai Aris terluka, kau yang akan aku habisi Ju." Ancam Tio kemudian berlalu dengan mobilnya. Begitupun Yugito yang mengikuti Tio kemanapun perginya.


. "Selama aku bertemu kak Rega, gantikan aku dulu untuk rapat di ruang meeting 3. Kak Reza ada pertemuan mendadak dengan klien dari Jakarta." Ucap Arisa sembari terus berjalan menuju ruang pertemuannya dengan Rega.


"Baiklah nona Putri." Zain mengangguk dan membiarkan Arisa menghilang dari balik pintu yang ia bukakan untuknya. Alisnya berkerut dan matanya menyipit menerawang jauh kedalam. Ia khawatir jika ada apa-apa pada Arisa karena hanya ada mereka berdua didalam sana. Asisten Rega tak di izinkan masuk oleh tuannya, begitupun Zain sendiri yang di suruh menggantikan Arisa untuk rapat.


"Hanya berdua?" Tanya Arisa merasa heran dengan menoleh kesana-kemari yang tak mendapati siapapun.


"Memangnya harus dengan siapa?" Rega balik bertanya dengan masih duduk manis di kursinya.


"Asistenmu?"


"Dia tak ada urusan jika di biarkan masuk juga." Arisa hanya mengangguk mengerti sembari duduk di kursinya.


"Jadi? Apa yang ingin kakak bicarakan? Bukankah kontrak kerjasamanya sudah kita tandatangan bersama?"


"Tak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu saja." Jawab Rega mendadak sendu menatap Arisa. Arisa termangu ketika mendapati tatapan Rega yang terasa penuh arti.


"Laki-laki mana yang tak merindukan wanitanya? Kalau tidak membuat pertemuan resmi, aku sangat kesulitan menemuimu." Arisa terhenyak dan langsung menoleh pada Rega.


"Jadi kak Rega menganggap serius perjanjiannya? Aku saja tak menganggapnya pacar." Batin Arisa mendadak gelisah.


"Putri." Lagi, Arisa terhenyak saat Rega tiba-tiba sudah berada di dekatnya.


"Apa kedekatan kita hanya sekedar kepalsuan saja?" Lanjutnya menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Arisa.


"Eh? Emm? A-apa yang kakak bicarakan?" Tanya Arisa dengan terkekeh gugup dan berusaha terus memalingkan pandangannya.


"Apa hatimu sudah dimiliki oleh Rayyan Pratama?"


"Eh?" Arisa beralih menatap lekat wajah Rega yang begitu serius.


"Aku menyukaimu Putri." Arisa semakin terkejut, tubuhnya mematung dan lidahnya mendadak kelu. Ia ingin langsung menolak Rega, namun hatinya merasa ragu.


"Kenapa aku ragu? Aku hanya tinggal memberitahunya bahwa aku sudah bersama dengan Rayyan." Batin Arisa semakin gelisah.

__ADS_1


"Sial. Sejak pertemuan kita ditaman, aku tak bisa menghilangkan wajahmu dari pikiranku." Ucap Rega mengusap wajahnya frustasi. Arisa hanya terus diam, ia sendiri tak tahu harus berkata apa.


"Aris." Panggil seseorang ketika membuka pintu.


"A-ayah." Pekiknya terkejut lalu beranjak dari duduknya. Rega tak kalah terkejut dan ikut beranjak.


"Ayah? Apa dia Yugito Syahputra?" Batin Rega menatap lekat pada Yugito.


"Kenapa ayah disini? Dengan siapa? Apa dengan mama? Atau dengan Rais?"


"Kenapa kau panik? Ayah kesini dengan Tio."


"Lalu kak Tio dimana? Dan kenapa ayah langsung masuk? Apa kak Zain tidak melarang ayah? Aku sedang--".


"Sedang apa? Meeting? Aih Aris.... ini yang ayah khawatirkan jika kau jauh dari jangkauan ayah. Dan kau! Apa kau pacar Aris?" Yugito beralih menatap Rega yang langsung menunduk ketika bola mata Yugito mengarah ke arahnya.


"Ayah... di-dia..."


"Iya om.. emm tuan..." jawab Rega seperti terlihat menyesal.


"Oh... dan kalian menggunakan alasan meeting untuk pacaran?"


"Ayah ini bicara apa? Aku dan kak Rega tidak--"


"Kami tidak melakukan apapun. Kami memang membahas tentang kerjasama kami."


"Lalu? Kenapa kau begitu dekat dengan putriku?"


"I-itu karena putri anda sangat gugup. Ja-jadi saya hanya..."


"Ayah... Aris tak melakukan apa-apa. Sungguh. Kita hanya membicarakan...." ucapan Arisa terhenti setelah ia menyela ucapan Rega. Rasanya menjadi ragu untuk menjelaskan pada Yugito.


"Percuma aku menjelaskan, ayah juga tak akan percaya." Lirih Arisa dengan memalingkan pandangannya menjadi sangat sendu.


"Ayah percaya. Dan kali ini, siapapun pilihanmu, ayah tak akan melarang. Jika kalian sudah saling menyayangi, setelah Rais menikah maka kalian juga boleh menikah dalam waktu dekat."


"Apa ayah? Rais menikah? Kapan?" Tanyanya begitu terkejut.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2