
. Suasana berubah haru setelah beberapa saat tegang ketika Rayyan mengucapkan janji sucinya pada ayah mertua. Secara tak langsung ia harus menanggungjawabi semua hal perihal Arisa, dan setelah ini, Rayyan harus benar-benar menjaga Arisa sepenuh hatinya. Arisa mencium tangan Rayyan dengan tersenyum begitu manis menyisakan rasa haru pada hati Rayyan.
"Hai istri." Candanya menahan agar ia tak terlarut dalam suasana yang mungkin bisa saja mengundang air mata.
"Hai juga suami." Balas Arisa pun bercanda meski terlihat di matanya sudah berkaca-kaca. Setelah keduanya resmi menjadi suami istri, mereka melakukan pertukaran cincin pernikahan sebagai tanda bahwa mereka sudah terikat dalam ikatan pernikahan. Di balik rasa bahagia Arisa dan Rayyan, ada beberapa hati yang sesak melihat mereka tersenyum dengan penuh kebahagiaannya. Tak lain, Bayu yang sudah menikah beberapa waktu yang lalu, kemudian Dimas yang belum sepenuhnya menerima kenyataan bahwa Arisa akan menjadi milik orang lain. Lalu, Fabio yang tak tersenyum sedikitpun dari pertama ia datang ke acara ini. Dan ada Michelle yang sama-sama murung setelah melihat pria yang ia cintai menikah dengan gadis yang tak sedikitpun Rayyan lupakan. Di sisi lain, ada Clara yang terdiam menatap sendu pada Rayyan yang bahkan tak bisa ia gapai sedikitpun. Gilang tersenyum simpul menatap wajah Arisa yang berseri bahagia, namun tak bisa di pungkiri ia sangat terluka jika mengingat mendiang kakaknya.
"Kak Rama. Mbak Aris cantik kan?" Batinnya berharap Rama bisa mendengar dan memahami pikirannya.
"Mbakmu cantik sekali Gilang." Ucap ibunya membuyarkan lamunan Gilang dan Dimas yang sama-sama menatap Arisa dengan sendu.
Dan di tempat lain, saking bahagianya, tanpa sadar Daffa dan Wina saling merangkul seakan melupakan orang tua Daffa yang datang ke acara tersebut.
Setelah melakukan sesi pertukaran cincin, beberapa pose Rayyan dan Arisa bergaya di depan kamera sebagai bukti kenang-kenangan. Dan selepas itu, keduanya beralih ke kursi pelaminan untuk memberi ucapan terima kasih pada semua tamu yang hadir di acara intinya. Kemudian satu persatu keluarga memberi selamat pada kedua mempelai. Dan saat giliran Fabio, Arisa sempat beradu tatapan kemudian ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan Fabio yang seakan mengatakan 'selamat kau telah berhasil menghancurkan perasaanku.' Arisa yang menyadari arti tatapan itu pun hendak meminta maaf, namun Fabio bicara sebelum Arisa mengucap satu kata pun.
__ADS_1
"Selamat. Semoga bahagia. Aku yakin, Rayyan orang satu-satunya yang membuatmu bahagia. Dan aku senang, kau tidak kabur sebelum hari pernikahan." Setelah mengatakan itu, Fabio serta istri dan anaknya berlalu dari hadapan Arisa. Mendengar penuturan Fabio tersebut, Arisa mendadak sendu karena mengingat apa yang terjadi 4 tahun yang lalu.
"Aris." Panggil seseorang akhirnya bisa membuatnya tersadar dan bisa tersenyum namun ia masih memikirkan ucapan Fabio tersebut. Apa ia sejahat itu, sampai orang seperti Fabio pun merasa kecewa padanya.
"Apa Fabio berharap? Tidak heran jika iya pun dia berharap, aku mengingat bagaimana dia bersikap padaku." Batin Arisa kembali melamun sehingga Bayu menepuk dahinya pelan untuk menyadarkan Arisa.
"Pengantin tak boleh melamun. Apa yang kau pikirkan gadis bodoh?"
"Tidak kak." Jawabnya hanya demikian.
"Kalian sudah ada rencana?" Tanya Arisa ketika Wina memeluknya dengan ikut berbahagia.
"Yaa kapan ya?"
__ADS_1
"Kan aku ajak tadi saja sekalian dengan Aray dan Aris. Biar nanti kita honeymoonnya sama-sama. Iya kan Aray?" Timpal Daffa kemudian merangkul Rayyan dengan memainkan kedua alisnya menggoda Rayyan yang mendelik menanggapi Daffa.
"Tidak mau. Aku mau berduaan saja dengan Risa. Iya kan sayang?" Rayyan melepas paksa rangkulan Daffa lalu ia merangkul Arisa dengan tersenyum seraya menggodanya.
"Apa yang kalian bicarakan?" Arisa melirik sinis kedua sahabat yang tengah membicarakan hal yang membuatnya berpikiran negatif. Setelah puas bercanda, Daffa dan Wina bergegas turun dari altar karena masih banyak yang ingin memberi selamat pada kedua mempelai.
"Akhirnya mereka menikah juga. Aku sempat khawatir karena saat Aris di nyatakan meninggal, dia bersikeras menolak fakta. Aku pikir dia hanya berhalusinasi atau terpuruk karena kehilangan wanita yang sangat ia cintai. Tapi ternyata, mereka memang bersama pada akhirnya. Mau sejauh apapun atau selama apapun mereka berpisah, jika sudah di takdirkan, maka jalan akan terbuka untuk mereka." Ucap Daffa menatap kagum pada temannya yang sudah menjadi pengantin.
"Aku juga tak menyangka Aris akan melupakan Rama, padahal dulu dia sangat menginginkan dirinya cepat-cepat menyusul Rama ke alam lain. Aku sangat berterima kasih pada Rayyan, dia sudah mengubah Aris sepenuhnya. Dulu dia jarang bicara, tapi sekarang sebaliknya, bahkan aku saja merasa sakit telinga karena dia terus berbicara hal yang random. Tapi, itu juga membuatnya menjadi dirinya di masa lalu. Aku yakin, kali ini Aris menemukan orang yang tepat di waktu yang tepat juga." Tutur Wina ikut terkagum melihat Arisa yang kini di penuhi dengan perasaan bahagia.
Setelah tamu terakhir memberi selamat, kini saatnya melakukan sesi foto keluarga. Di awali dari keluarga Putra, lalu di lanjutkan dengan keluarga Pratama. Seno yang masih berjaga pun pura-pura tidak melihat dan tidak mendengar apa yang MC ucapkan. Yang tak lain, memanggil namanya berkali-kali, namun ia tak sedikitpun menoleh ke belakang. Hingga, sebuah tangan menepuk pundaknya dengan kasar membuatnya merinding dan melirik perlahan. Benar saja, ia mendapati tatapan tajam dari Tio, dan tanpa bicara Tio membawanya menuju altar dengan paksaan dari cengkraman tangannya. Dan Seno pun terlihat protes dari deru nafasnya dan dari langkah yang terlihat malas mengikuti Tio. Ketika ia menatap satu persatu anggota keluarganya, ia terkejut dan sedikit mundur dari tempatnya, pasalnya ia di berikan tatapan sinis dan menekan dari setiap pasang mata di depannya. Apa lagi Arisa, ia terlihat lebih kesal dari yang lain. Jelas tatapan matanya seolah berkata 'awas kau. Akan ku bunuh jika tak mau di foto.' Seno tertawa kikuk dengan menggaruk kepalanya lalu memasuki barisan untuk berpose. Setelahnya, Seno menghela nafas berat seraya berlalu dari altar menuju tempat asalnya. Ia berdiri tegap memantau setiap sudut taman memastikan tak ada yang mencurigakan. Namun matanya menyipit melihat gerak-gerik Fabio setelah istri dan anaknya masuk ke dalam mobil. Terlihat Fabio berlari pelan ke arahnya dengan merogoh saku jas membuat Seno waspada.
"Seno. Maaf sampaikan salamku pada om Yugito, aku buru-buru." Seno mendadak menatap konyol pada Fabio yang sudah berlalu dari hadapannya.
__ADS_1
"Aku kira apa?"
-bersambung