
. Bi Ina memandangi Arisa yang kini tertidur lelap setelah tangisan yang melelahkannya.
Suhu tubuhnya kembali meninggi, dan bi Ina hanya memberi sebuah kompresan handuk kecil dengan air hangat.
Mama menghampiri dan menyuruh bibi kembali ke pekerjaannya. Mama mengusap punggung tangan Arisa dengan lembut.
Arisa menggenggam tangan mama namun enggan membuka matanya.
"Bibi jangan tinggalkan aku. Tetaplah disini." Ucap Arisa pelan namun masih terdengar oleh mama.
"Biarkan mama dan ayah saja yang tidak peduli padaku. Tapi bibi jangan." Lanjut Arisa membuat mama menjadi lemas, hatinya terasa tersayat.
"Kau membenci mama?" Tanya mama pelan.
"Hmmmm?" Arisa kembali terlelap tanpa menjawab pertanyaan.
Mama beranjak dan melepas genggaman Arisa. Berlalu menuju dimana bi Ina berada.
"Ibu memanggil saya?" Bi Ina menghampiri dengan sopan.
"Bi... apa Arisa membenciku? Apa bibi mempengaruhi Arisa untuk membenciku?" Mama ambruk dan terduduk di sofa dengan memijit dahinya.
"Apa maksud ibu? Nona Arisa sangat menyayangi ibu." Ucap Bi Ina dengan sopan.
"Sudahlah. Sekarang bibi pilih! Berhenti bekerja atau menjauhi Arisa, dan jangan menyentuhnya sedikitpun." Bibi tersentak atas pilihan yang diajukan majikannya itu. Pilihan itu terlalu berat untuknya. Bagaimanapun, Arisa sangat ia sayangi layaknya anak kandungnya sendiri.
"Saya masih ingin bekerja bu." Jawab bi Ina dengan berat hati.
Mama berjalan memasuki kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Diwaktu yang sama, namun ditempat yang berbeda, kedua wanita itu menangis tanpa suara. Yang satu, merasa gagal menjadi seorang ibu untuk anaknya. Dan yang satu terpaksa menjauhi gadis kesepian yang ia sayangi. Namun meski begitu, bibi senang masih bisa melihat Arisa secara langsung walau tak bisa memberikan perhatian seperti sebelumnya. Dan tak habis pikir jika seandainya bibi memilih Arisa daripada pekerjaan, bibi hanya akan menyesal karena ujungnya bibi tidak akan mendapatkan keduanya.
. Tio tiba-tiba menepuk bahu, dan mengejutkan bi Ina yang sedang terisak.
"Bibi menangis?" Tanya Tio heran melihat bi Ina yang mengusap pipi, dan secara paksa menahan airmatanya dan tersenyum pada Tio.
"Tidak mas... bibi permisi melanjutkan pekerjaan." Bibi berlalu meninggalkan Tio.
Karena merasa ada yang tak biasa, Tio bergegas berlari dan masuk kekamar Arisa.
Terlihat kini Arisa sedang terduduk memeluk lututnya yang dibalut selimut. Dan terdengar suara isakan kecil seakan ditahan dan tidak ingin orang lain tahu.
"Kau menangis?" Tanya Tio duduk dan mengusap rambut Arisa dengan lembut. Arisa mendongak memperlihatkan matanya yang merah dan sembab.
"Berapa lama anak ini menangis?" Pikir Tio menatap dalam wajah adik bungsunya.
"Sudahh... ada kakak disini." Tio memeluk Arisa yang semakin keras terisak ketika berada dipelukannya.
"Biasanya jika kau bersedih, kau selalu tenang duduk dibalkon. Kenapa kali ini kau tidak melakukannya?" Namun Tangisan Arisa kembali menjadi ketika mendapati pertanyaan Tio.
"Arisa... kau baik-baik saja kan? Jangan membuat kakak semakin panik. Apa yang sakit? Bicaralah.!" Ucap Tio yang terlihat begitu panik. Namun Arisa enggan berbicara.
Arisa mulai terdiam ketika menyadari bahwa ada darah yang lagi-lagi keluar dari hidungnya. Pandangannya menjadi kabur, dan ditambah perutnya yang sakit.
"Aris... kau berat. Ariss...." Tio mencoba melihat wajah Arisa dipelukannya. Namun yang terlihat hanya matanya saja yang menutup.
__ADS_1
"Arisa... kau sudah baikan? Apa kau tidur?" Pertanyaan yang Tio lontarkan menjadi pengganti pertanyaan yang ada dipikirannya. Takut jika benar Arisa tak sadarkan diri.
"Ayolah... jangan main-main dengan kakak. Apa kau sangat merindukan kakak? Sampai kau tak mau melepaskan pelukanmu dari kakak?" Tio meraih bahu Arisa dan hendak menidurkannya kembali. Alangkah terkejutnya ketika melihat darah yang keluar dari hidung Arisa. Tio menggoyangkan tubuh Arisa dengan khawatir.
Ketakutannya mulai menyelimuti, hal ini pernah terjadi pada Raisa dulu. Dan ketakutan jika Arisa pun memiliki penyakit yang sama dengan Raisa. Rasanya Tio akan lebih hancur jika benar itu kenyataannya.
Tanpa sadar air matanya mulai mengalir dipipinya.
"Arisa... kau gadis kuat. Kau adik kakak yang tangguh. Kau sudah berjanji akan menemani kakak kan?" Dengan panik Tio mencari kain atau tissue untuk membersihkan darah diwajah Arisa.
Entah kenapa, amarahnya dan emosi kini tak bisa terkendali. Rasa benci terhadap ayah dan mama kini kembali muncul dipikiran Tio.
Dengan sibuk, Tio masih membersihkan wajah Arisa dengan hati-hati.
Setelah selesai, Tio berjalan cepat keluar dari kamar Arisa dan menuruni tangga. Meraih telpon rumah dan berbicara penuh amarah.
"Segera kerumahku atau aku tutup klinikmu itu." Bentak Tio kemudian meletakan kembali telpon rumah ditangannya.
"Ada apa Tio? Mengapa tiba-tiba kau marah seperti itu?" Tanya ayah yang keluar dari ruang kerjanya.
"Ada apa?" Tio menatap kesal pada ayah.
"Tatapan apa itu Tio." Ayah tak kalah menatap tajam pada Tio.
"Ah.... hahah.. oh maaf ayah aku lupa. Harusnya aku tak berharap ayah dan mama tahu jika Arisa sedang dalam kondisi yang seharusnya ada ayah dan mama disampingnya, seperti yang kalian lakukan dulu pada Raisa. Dan aku yakin, ayah tidak tahu jika Arisa sedang tak sadarkan diri. Dan bodohnya, aku malah memberitahu ayah barusan. Hahah... aku bodoh ayah." Kesal Tio kembali berlari menaiki tangga.
Raisa yang mendengar Tio langsung berlari memasuki kamar Arisa.
Langkahnya terhenti saat melihat Arisa yang masih terlelap.
Tio melewati Raisa yang terdiam mematung, dan hanya menatap kosong pada Arisa.
"Jika tidak ada kepentingan, sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Aku muak melihatmu berpura-pura simpati pada Arisa." Ucap Tio duduk ditepi ranjang membelakangi Arisa. "Harusnya aku hanya memiliki adik satu diantara kalian. Mungkin hal ini tidak mungkin ada. Dan mungkin hanya aku saja yang merasakan hampanya memiliki orang tua tapi tidak dengan kasih sayangnya. Mestinya kau tahu, karena dirimu Arisa sampai seperti ini."
"Cukup Tio. Apa yang kau bicarakan." Ucap ayah dengan nada tinggi menghentikan ucapan Tio.
"Ahhhh ayah.... apa aku salah?" Tio menoleh dan menatap pada Raisa yang sedikit menunduk.
"Ohh... aku lupa lagi ayah." Tio menepuk pelan dahinya. "Mana mungkin ayah menyalahkan anak kesayangan ayah ini." Seringai muncul disudut bibir Tio.
"Nafasku sesak. Mengapa pintu ini ditutup?" Tio beranjak dan mencoba membuka pintu kaca yang menuju balkon itu. "Dikunci? Tidak biasanya?" Tio menoleh pada Arisa. "Hemm kupikir ini bukan Arisa yang melakukannya." Ucap Tio seraya menoleh pada ayah.
"Iya. Ayah yang melakukannya." Ucap Ayah dingin menatap Tio.
"Padahal ayah tahu Arisa sangat suka jika berada disana?" Tio menunjuk balkon tanpa memalingkan pandangannya.
"Kau tidak tahu apa yang terjadi Tio. Jadi berhenti menyalahkan ayah."
"Jadi? Aku harus menyalahkan siapa? Arisa?"
"Iya.. itu salah Arisa sendiri yang mencoba untuk melompat dari balkon. Dan jika ayah tidak datang, entah sekarang bagaimana jadinya." Ucap ayah dengan nada semakin rendah. Tio terdiam beberapa saat.
"Tidak heran ayah." Ucap Tio menoleh menatap balkon. "Tidak heran jika Arisa mencoba bunuh diri seperti itu. Bahkan jika aku tidak memikirkan Arisa yang selalu sendirian, aku juga sudah melakukannya ayah..." lanjut Tio yang membiarkan air matanya kembali terjatuh dipipinya.
__ADS_1
"Ayah tahu? Bukan kali ini saja Arisa mencoba menjatuhkan dirinya, tapi berkali-kali." Ayah dan Raisa tersentak mendengar apa yang Tio katakan. "Entah apa yang membuatnya mengurungkan niatnya, namun Arisa selalu menangis sendirian jika tak berhasil dengan niatnya. Dan hanya bi Ina yang tahu dan selalu menasehati Arisa saat Arisa mulai kehilangan arah. Anak mana yang kuat jika diposisi seperti ini. Apa ayah pernah berperan semestinya pada Arisa?." Namun ayah hanya terdiam.
--
. Beberapa lama menunggu, akhirnya Dimas sampai dan langsung menuju kamar Arisa.
"Kemana saja kau?" Umpat Tio kesal seraya bersandar disamping Arisa dan mengusap lembut kepalanya.
"Kau pikir jarak dari tempatku sampai sini itu dekat?" Balas Dimas tak kalah kesal.
"Kenapa lagi dia? Bukankah tadi tidak apa-apa?" Tanya Dimas duduk ditepi ranjang Arisa.
"Aku tak tahu. Dia menangis, lalu seperti ini." Jawab Tio memejamkan matanya.
"Menangis?" Dimas menyernyitkan dahinya.
"Yaaa sepertinya sangat tertekan. Tapi aku tak tahu masalahnya." Tio kembali membuka matanya.
"Dia tidak pernah cerita?" Tanya Dimas memastikan.
"Tidak. Kenapa?"
"Kau serius?" Dimas menatap Tio. "Sampai kapan dia menyembunyikan penyakitnya? Bahkan dari Tio juga." Gumam Dimas memalingkan pandangannya.
. Dimas memeriksa Arisa sambil mencari penyakit lain untuk dijadikan alasan. Dan nafasnya lega setelah mendapati lambung Arisa yang kambuh.
"Seperti biasa. Asam lambungnya naik." Ucap Dimas.
"Benarkah? Hanya itu?" Dimas mengangguk menanggapi pertanyaan Tio.
"Lalu mengapa Dia bisa mimisan.?" Tanya Tio lagi. Dimas terbelalak tak berkutik.
"Sial..." gumamnya.
"Ya.... efek demam dan benturan itu mengakibatkan Arisa mimisan." Jelas Dimas kikuk.
Tio beranjak dan menghampiri Dimas, lalu menarik kerah bajunya.
"Jelaskan yang sebenarnya kepadaku." Geram Tio. Matanya memerah menahan amarah.
"Sial... aku sudah berjanji pada Arisa untuk tidak memberitahu keluarganya tentang ini. Rasanya aku ingin menjelaskan semuanya pada Tio. Bahwa Arisa sedang tidak baik-baik saja, dia hanya berpura-pura kuat." Gumam Dimas enggan membuka mulutnya.
"Jadi benar? Ada yang kau sembunyikan tentang kesehatan adikku?" Teriak Tio.
"Jangan berteriak. Aku pusing" gumam Arisa yang merubah posisi tidurnya. Tio melepas cengkramannya lalu kembali meraih adiknya.
"Kau sudah bangun? Ada yang sakit?" Arisa hanya menggeleng dan menatap kepintu balkon yang tepat dibelakang Tio.
"Maafkan ayah untuk masalah itu. Mengertilah ayah sangat menyayangimu. Dia melakukan itu karena takut kehilanganmu." Jelas Tio namun tak membuat Arisa merubah ekspresi wajahnya. Tatapannya semakin dingin ditambah wajahnya yang pucat.
Arisa melirik Dimas yang menatap iba padanya.
"Berhenti menatapku seperti itu"
__ADS_1
-bersambung.