
. Acara pelemparan bunga pun akhirnya tiba, meskipun sempat bertengkar, Daffa dan Rayyan sudah berada di bagian depan untuk berebut. Wina memilih sedikit menjauh dari Sofia, ia merasa sedari tadi Sofia sangat mengawasinya. Entah karena alasan apa, namun hal ini membuat Wina tak nyaman. Terasa ada sebuah kebencian yang di lemparkan Sofia melalui tatapannya. Arisa pun yang merasakan keganjilan sikap Sofia, ikut merasa risih sehingga ia melemparkan lirikan sinis pada kedua teman kakak kembarnya itu.
"Kenapa kau melirikku seperti itu Arisa?" Tanya Sofia dengan nada ketus.
"Maaf. Meskipun kau teman Rais, tapi aku tidak menyukaimu." Jawab Arisa dengan penuh kejujuran. Ia memangku tangan dan saling beradu tatapan sinis.
Sofia tersenyum ketus sembari memalingkan wajahnya lalu kembali menatap Arisa. "Sejak aku tahu Daffa menyukaimu, aku sudah membencimu Arisa. Meskipun kau adik Raisa."
Mendengar hal itu, Arisa malah tertawa tak kalah sinis, bahkan ia seakan merendahkan Sofia dengan tatapannya. "Jadi masalahnya karena Daffa? Kasihan sekali kau. Cinta bertepuk sebelah tangan? Hemmm kalau aku lebih baik menerima kenyataan dari pada harus membenci orang yang jelas tak tahu apa-apa. Kau mengintimidasi Wina dari tadi hanya karena cemburu pada Daffa? Eh, bukankah Daffa jomblo dari kuliah dulu? Kenapa kau tak berusaha mendapatkannya saat itu? Setelah lulus kuliah, Daffa tidak punya pacar loh." Kembali Arisa tersenyum ejek lalu beralih ke tempat lain meninggalkan Sofia yang mengepalkan tangan menatap kepergian Arisa.
"Sofia. Tenangkan dirimu." Bujuk Deby yang sadar akan kekesalan Sofia saat ini.
"Aris.. apa tidak keterlaluan?" Tanya Wina yang merasa tak enak hati pada Sofia.
"Win... dia itu menyukai pacarmu. Harusnya kau marah." Protes Arisa kini menunjukkan kekesalannya.
"Untuk apa Aris?"
"Kau bertanya untuk apa? Win... Sofia itu--".
"Bukankah kau juga melakukan hal yang sama?" Sontak Arisa terdiam seketika. Ia membenarkan ucapan Wina dan amarahnya mendadak mereda.
"Aris. Meskipun banyak yang menyukai Daffa, tapi dengan kenyataan Daffa memilihku pun aku sudah bersyukur."
"Dan kau tidak termakan omongan Sofia?"
"Omongan yang mana? Yang Daffa menyukaimu? Kenapa harus termakan? Toh kau saja saling mencintai dengan Rayyan, apa yang aku khawatirkan?" Kali ini, Arisa mengembangkan senyum lalu memeluk Wina dengan erat merasa bahagia dengan Wina satu-satunya teman berhati besar yang tuhan beri untuknya.
"Aku boleh meminta sesuatu Wina?"
"Apa?"
"Bolehkan aku dan Aray yang mendapatkan buketnya?"
__ADS_1
"Eh? Tidak Aris. Aku menolak. Aku dan Daffa sudah punya rencana yang serius."
"Kau pikir aku tidak?"
"Emm kita lihat saja nanti siapa yang akan mendapatkan buket pengantin dan menikah lebih dulu."
"Oke aku terima tantanganmu."
Keduanya berdebat tanpa ingin saling melepaskan pelukan mereka. Hal itu membuat Sofia semakin geram.
Saat Raisa dan Fariz bersamaan melempar bunga, hal tak terduga terjadi. Bunga tersebut terlempar jauh dan jatuh tepat ke arah seorang pemuda yang tengah duduk di mejanya dengan menyilangkan kaki santai. Ketika tahu bunga itu mengarah padanya, dengan sigap Fabio menangkap lalu beranjak dengan alis yang dinaikan sebelah seakan bertanya apa maksudnya?
Fabio menoleh kesana kemari, ia hanya mendapati pandangan heran seluruh tamu undangan. Pasalnya, ia sudah berkeluarga dan putrinya bahkan tengah berada di pangkuan istrinya. Pandangan Fabio tertuju pada Arisa yang menatapnya tak kalah heran dari yang lain. Terlihat, Arisa seperti menyadari tatapan Fabio, sehingga Arisa beralih mendekati Rayyan dan merangkul lengan Rayyan dengan erat seakan menegaskan bahwa ia tak ingin menjadi istri kedua Fabio.
Saat Fabio sudah berada di depan Arisa, desas desus gosip mulai terdengar keras.
"Apa Fabio akan menikah lagi? Lihat dia bersama istrinya kan?"
"Apa yang Fabio lakukan? Dia akan mengajak Arisa menikah? Bagaimana nasib istri dan anaknya?"
Namun, semua kembali diam saat Fabio memberikan bunganya pada Rayyan lalu meraih tangan Arisa untuk turut serta menyentuh bunga tersebut sebagai tanda keduanya yang telah mendapatkan bunga dari pengantin.
"Aku tunggu kabar baik kalian." Ucap Fabio yang mulai berbalik untuk kembali ke mejanya. Langkahnya terhenti, ia berbalik dan menatap Arisa yang tiba-tiba mematung dan termangu.
"Aku sudah tahu kau hanya milik Rayyan, dan aku juga tak berniat menjadikanmu istri kedua. Jadi, kau tak perlu memasang wajah begitu. Dasar adik bodoh." Ucapnya sembari menepuk dahi Arisa dengan senyum tipis menghiasi wajah tampan Fabio. Arisa tertegun, sejak kapan Fabio menganggapnya sebagai adik.
Saat Fabio sudah berlalu, Arisa dan Rayyan saling pandang lalu keduanya bersamaan menatap bunga yang tengah mereka genggam. Alhasil, mereka berdua yang di panggil oleh MC untuk maju ke depan pelaminan.
"Boleh tahu namanya?"
"Kau tak tahu siapa aku?" Cetus Rayyan setelah mendapati pertanyaan dari MC. Sontak Arisa langsung menyenggol lengan Rayyan dan meminta maaf pada MC atas kelancangan Rayyan. Namun, seluruh tamu yang hadir tak bisa menahan tawanya, bisa-bisanya Rayyan sebodoh ini.
"Kak MC maaf teman saya memang sedikit gila." Ucap Daffa setengah berteriak membuat tawa semakin nyaring terdengar.
__ADS_1
"Maaf tuan. Maksud saya, untuk sekedar dokumentasi." Ucap MC langsung ke telinga Rayyan dengan mematikan mic agar tegurannya tak ada yang mendengar.
"Hahaha aku bercanda." Ucapnya tertawa kikuk untuk mencairkan suasana.
"Saya Rayyan Pratama." Sapa Rayyan pada seluruh tamu undangan dengan mic ditangannya. Kemudian ia memberikan mic tersebut pada Arisa.
"Hai. Saya Arisa Putri."
"Wah... Arisa benar-benar mirip dengan Raisa. Bagaimana perasaanya menyaksikan kakak menikah?"
"Emmm.... sebenarnya sedih, tapi, bahagia. Ya... lebih tepatnya rasa yang bercampur. Aku bahagia, tapi air mataku mengalir seperti aku sedang menangis karena bersedih."
"Pastinya ya. Oh apa kalian sepasang kekasih?" Tanya sang MC kemudian dengan nada candaan agar keduanya tak merasa canggung.
"Iya." Jawab keduanya serentak.
"Apa sudah ada rencana untuk menikah?"
"Ya!" Jawab Rayyan, dan "tidak" jawab Arisa secara serentak sehingga keduanya saling berpandangan.
"Emm maksudnya..."
"Maksudnya, rencananya belum matang. Lagi pula, kakak saya baru menikah, saya ingin ada waktu untuk mempersiapkannya." Arisa menyela kegugupan Rayyan dengan jawaban random yang bahkan tak ia pikirkan sebelumnya.
"Oh ya ya ya.. saya mengerti. Mari kita doakan agar sepasang kekasih ini segera menyusul Raisa dan Fariz. Boleh beri tepuk tangan?" Dengan meriah, tepuk tangan terdengar sangat ramai.
Arisa dan Rayyan kembali ke tempatnya dan keduanya melemparkan senyum ejek pada Daffa.
"Kita duluan ya Daf!" Ucap Rayyan penuh kemenangan.
"Tak akan ku biarkan Rayyan." Daffa tak kalah puas membalas ejekan Rayyan.
-bersambung
__ADS_1