TAK SAMA

TAK SAMA
99


__ADS_3

. Rayyan dan Arisa mematung seketika dan keduanya tak ada yang berbicara dalam waktu yang lama. Terlihat juga sikap Rayyan yang mendadak gugup dan segera mematikan layar ponselnya agar tak ketahuan oleh Arisa bahwa dirinya sedang merindukan Arisa saat ini. Siapa sangka, gadis yang ia rindukan kini ada di hadapannya dengan stelan kerja dan ID Card yang ia pasang di saku kemejanya.


"Sedang apa kau disini?" Tanya Rayyan memalingkan wajahnya sok cool dan seakan tidak ingin melihat wajah Arisa. Padahal dalam hatinya Rayyan begitu bahagia ada Arisa disini, dan ingin sekali ia memeluk pujaan hati yang sekarang sudah tak tahu lagi statusnya. Pacar, atau mantan calon adik ipar? Atau mungkin calon istri. Namun Rayyan tak ingin berharap lebih pada Arisa sekarang, mengingat kondisinya yang amnesia, Rayyan semakin tak yakin bahwa Arisa akan kembali padanya.


"Aku bekerja disini." Jawabnya menunduk dan masih berdiri di ambang pintu.


"Oh..." balas Rayyan singkat. Melihat Rayyan yang sepertinya sudah tak peduli padanya, Arisa segera mengatakan pesan dari Danu agar Rayyan menemui Danu di ruang meeting. Rayyan mengangguk tanda mengerti dengan langsung memutar kursi dan kembali membelakangi Arisa.


"Emm Aray...."


"Jika sudah tak ada lagi yang penting, sebaiknya kau kembali bekerja. Dan aku disini atasanmu bukan temanmu." 'Deg' jantung keduanya berdetak keras saat kata teman terlontar begitu saja. Arisa yang merasa sakit hati karena Rayyan sudah menganggapnya sebagai teman, dan Rayyan yang menyesal karena kata itu terlontar di luar kendalinya. Egonya yang tinggi tak bisa ia kalahkan dengan perasaan cintanya pada Arisa.


"Baiklah. Maaf mengganggu." Ucap Arisa kemudian menutup pintu dengan pelan. Rayyan memutar kembali kursinya dan perlahan ia tersenyum tipis lalu terkekeh sendiri. Rayyan beranjak dan melompat kegirangan saat mengingat Arisa yang seperti ingin berbicara dan berusaha kembali dekat dengannya.


"Yessss! Akhirnya..... aku pastikan kau tak akan hilang lagi dari pandanganku lagi." Ucap Rayyan dengan riang sambil menatap wajah Arisa di layar ponselnya.


"Eh tunggu. Tadi Daffa bilang dia mengajari anak baru, apa mungkin anak barunya itu Risa? Ah sial. Awas saja jika benar itu Risa. Dia juga bilang anak baru itu pacarnya." Rayyan mengoceh sendiri sambil mondar-mandir tak karuan di ruangannya. Ia tak henti-hentinya memaki Daffa dan tangannya mengepal lalu menghempaskannya kasar.


"Ku bunuh kau Daffa." Teriaknya kemudian.


"Siapa yang mau kau bunuh?" Tanya Daffa yang merasa heran dengan sikap Rayyan yang mengejutkannya saat ia membuka pintu. Rayyan melirik sinis ke arahnya dan terlihat tatapannya seakan ingin memakan Daffa saat itu juga. Daffa bergidik ngeri dan bersembunyi di balik pintu yang masih ia genggam.


"Kau kenapa? Kenapa matamu seperti mau keluar?" Pekik Daffa semakin menutupkan pintunya untuk menyembunyikan wajahnya dari lirikan sinis dan tajam Rayyan.


"Kau bilang tadi apa?" Geram Rayyan meninggikan suaranya dan semakin tajam menatap Daffa.


"Ehh apa?"


"Kau bilang tadi kau punya pacar? Apa yang kau maksud itu Risa?"


"Ahaha benar sekali." Jawabnya tertawa terbahak-bahak.


"Wahhh kau berani ya... dia itu pacarku sialan." Teriak Rayyan mengejar Daffa yang berlari menyadari kemarahan Rayyan. Daffa memilih berlalu ke atap gedung dan ia duduk santai di bawah teriknya matahari. Rayyan yang masih mengikutinya pun ikut terduduk dan menatap sekeliling. Keduanya saling pandang sesaat lalu tertawa bersamaan.


"Aku mencintainya Daf. Kau jangan menghalangiku lagi." Ucap Rayyan kini memasang wajah serius.


"Apa-apaan wajahmu itu?" Daffa mengusap wajah Rayyan dengan gemas dan ia masih tertawa kecil.


"Aku tahu tanpa kau katakan juga. Tapi jangan pikir aku akan menyerah. Aku juga mencintainya sejak lama. Bahkan aku rela mengakhiri statusku sebagai playboy demi mendapatkannya. Tapi, apa daya. Dia lebih mencintaimu." Lanjutnya menghela nafas dalam lalu melempar senyuman pada Rayyan yang tertegun dengan kejujuran Daffa padanya yang tak berubah dari dulu.


"Oh iya. Besok kau ada jadwal wawancara dan beberapa acara lain. Kau sudah menyetujuinya dari minggu lalu, awas saja jika kau coba-coba untuk kabur." Ucap Daffa kemudian dengan ekspresi mendadak tegas.


"Ya baiklah." Jawab Rayyan malas lalu beranjak dan berlalu meninggalkan Daffa sendiri.


. "Aris... setelah proposalnya siap, kau antarkan ke ruang meeting." Titah Danu saat ia menutup pintu ruangannya.

__ADS_1


"Sebentar lagi selesai. Hanya tinggal menambahkan logo perusahaan saja." Jawab Arisa dengan tergesa menyelesaikan tugasnya.


"Jangan terburu-buru nak. Santai saja."


"Tapi...."


"Tak apa... lagi pula waktunya belum tepat untuk memulai meeting. Masih ada 10 menit lagi." Ucap Danu menyela dengan melirik jam di tangannya. Kemudian ia berlalu dengan hati yang gundah karena calon menantu kesayangannya kini sudah benar-benar tak mengenalinya sedikitpun.


Hingga setelah selesai, Arisa segera bergegas menyusul Danu ke ruang meeting. Ia mengetuk pelan pintu dan sedikit membukanya. Terlihat kursi kebesaran dari seorang presdir masih kosong dan bisa di pastikan sang presdir belum sampai di ruangan itu.


"Kemarilah." Titah Danu pada Arisa yang memperlihatkan kepalanya saja dari balik pintu. Arisa menurut dan menghampiri Danu dengan memberikan berkas yang ia bawa. Saat hendak kembali berbalik, Danu memanggil Arisa hingga ia kembali menghadap kearahnya.


"Duduklah." Titahnya lagi.


"Eh?" Arisa menyernyit dengan memiringkan kepalanya seakan bertanya 'kenapa?'


"Sudah duduk saja." Ucap Danu lagi menjawab pertanyaan Arisa yang tak terucapkan itu. Arisa dengan ragu duduk di sebrang Danu tepat berdekatan dengan kursi presdir. Tak lama, terlihat Rayyan datang memasuki ruangan dengan wajah angkuhnya. Arisa seketika memalingkan wajahnya dan menunduk dan tak berani menatap langsung pada Rayyan. Jantungnya semakin tak terkendali saat Rayyan duduk tepat di sebelahnya. Rayyan sesaat melirik pada Arisa yang begitu enggan menoleh padanya, dan ia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan berat.


"Tuan baik-baik saja?" Tanya salah seorang yang duduk di samping Danu.


"Ohh tidak pak. Saya baik-baik saja. Hanya jantung saya yang tidak bisa di kendalikan." Jawabnya begitu santai. Danu menahan tawa saat mendengar jawaban jujur dari putranya yang sudah tua itu.


"Jika sudah kumpul, kita mulai saja meetingnya." Ucap Danu membuat semua yang ada di sana menjadi serius.


"Maaf tuan jika saya lancang. Ini proyek besar, apa tuan yakin memberikan tanggung jawabnya pada sekertaris anda? Bagaimana jika--"


"Arisa adalah sekeetarisku, dan dia putri bungsu dari Yugito Syahputra, adik dari Tio Riyandi Putra dan Raisa Daviana Putri. Kau kenal mereka?" Tanya Danu ditanggapi anggukan oleh bawahannya. "Dia juga sudah menjadi sekertaris presdir selama setahun lebih di perusahaan Artaris cabang yang sekarang sudah berkembang pesat. Bahkan perusahaan besar seperti perusahaan ini pun mustahil bisa mencapai keberhasilan secepat itu. Apa kau masih meragukan kemampuannya?" Lagi, Danu bertanya dan masih di tanggapi anggukan oleh bawahannya yang di ketahui menjabat sebagai manager di salah satu divisi perusahaannya.


"Ma-maafkan saya tuan." Ucapnya terbata dan sedikit menunduk.


"Arisa... jangan terkejut. Mulai besok, kau akan bertukar posisi dengan sekertaris Rayyan."


"Ma-maksud anda?" Tanya Arisa menyernyit tak mengerti dengan maksud Danu.


"Kau aku pindah tugaskan menjadi sekertaris presdir. Kau mengerti?" Arisa mengangguk pelan seraya menundukkan pandangan menanggapi Danu. Sementara itu, Rayyan tersenyum penuh kemenangan kemudian melirik Danu yang membalas senyumannya.


. Setelah jam kerja selesai, Daffa menghampiri Arisa yang tengah membereskan mejanya sebelum pulang.


"Aris... mau aku antar pulang?" Tanya Daffa dengan nada merayu manja dan bersandar di meja dengan santai.


"Tapi ayahku sudah menjemput." Jawabnya tak kalah santai.


"Aku akan bertemu dengan Wina di taman kota. Jika kau mau bergabung, beri tahu aku secepatnya." Arisa menghentikan aktivitasnya mendengar penuturan Daffa yang membuatnya merasa tertarik.


"Daf.... apa hatimu sakit saat aku tak mengenalimu?" Tanya Arisa dengan lirih dan mencengkram tali tas yang sudah ia gantungkan di bahunya.

__ADS_1


"Menurutmu?" Tanya Daffa tanpa menjawab dan melemparkan senyum getir seakan ingin berkata bahwa dirinya benar-benar terluka.


"Maafkan aku." Lirih Arisa lagi semakin menunduk.


"Tak apa Aris... jangan memaksakan. Aku tak ingin melihatmu kembali kesakitan." Balas Daffa meraih bahu Arisa dengan perlahan.


"Apa Rayyan membenciku Daf?"


"Entahlah. Aku tidak tahu Aris."


"Kenapa saat dia memalingkan wajahnya dariku, hatiku sangat sakit Daf?"


"Karena kau mencintainya Aris."


"Apa cintaku pada Rayyan lebih besar dari Rama?"


"Aris... sudah. Jangan terlalu dipikirkan."


"Tapi Daf..."


"Aris... tidak di kenali olehmu memang menyakitkan, tapi kita semua bahagia saat tahu kau baik-baik saja."


"Bisakah kau ceritakan tentangku?" Semula Daffa hanya terdiam, kemudian ia kembali tersenyum menanggapi permintaan Arisa.


"Aku ingin kau ingat semua tentang dirimu. Minimal itu saja. Jika kau bertanya padaku bagaimana dirimu, aku hanya akan menjawab bahwa kau lebih dari sempurna. Sampai aku sendiri saja tak bisa menggapaimu." Jawabnya mengejutkan Arisa yang semula terdiam kini mendongak menatap pada Daffa.


"Kau menyukaiku?" Tanya Arisa tanpa ragu.


"Bukan sekedar menyukai. Aku mencintaimu, dan aku tak cukup berani untuk merebutmu dari temanku. Dan jika terjadi pun, aku tak yakin kau mencintaiku dengan sepenuh hati."


"Mengapa kau berpikir begitu?"


"Karena kau dan Rayyan saling mencintai. Dan takdir pun memihak padamu Aris. Jadi, aku mohon ingatlah pada semuanya."


"Jika aku mengingat semuanya, apa hatiku akan baik-baik saja?" Daffa hanya bisa membisu, ia tak tahu harus menjawab apa, karena kenyataannya semua kenangan Arisa memang menyakitkan hatinya.


"Apa kau lapar?" Tanya Daffa mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Emm sedikit." Jawab Arisa yang ikut terbawa santai dan tak memikirkan ingatannya.


Keduanya berjalan dan berbincang di setiap langkah mereka, namun saat keluar lift, tiba-tiba Daffa menghimpit Arisa ke lorong lain saat seorang wanita berjalan melewati mereka.


"Oma Galuh." Gumam Daffa pelan.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2