
. "Rai--"
"Apa? Mau protes?" Dengan tegas, Raisa menyela dan membungkam mereka seketika.
"Pagi-pagi sudah ribut. Untung hari libur." Umpatnya berbalik dan berjalan menuju ruang makan. Rayyan dan Arisa masih terdiam meskipun pakaiannya basah sebagian.
. Setelah keduanya membersihkan diri dan mengganti pakaian, mereka bergegas menuju ruang makan karena suara dari perutnya sudah tak bisa di silent lagi. Ketika mereka baru duduk, yang lain sudah beres sarapan dan bersiap pergi dari meja makan.
"Akibat kebanyakan drama, jadi tertinggal kan." Sindir Raisa yang beranjak dan tepatnya.
"Gara-gara kau. Kalau kau tidak menyiramku, mana mungkin aku tertinggal waktu sarapan." Balas Arisa yang tak ingin kalah.
"Apa kalian mau bertengkar terus? Rais. Kalau sudah makannya, cepatlah kembali. Bukankah hari ini ada acara?" Rahma segera melerai kedua putrinya.
"Iya ma... maaf." Ucap Raisa yang langsung berjalan kembali. Namun, langkahnya terhenti saat ia mengingat sesuatu.
"Oh iya. Hari ini aku sendiri. Kak Fariz ada urusan mendadak. Apa mama bisa menemaniku?"
"Emmm bagaimana mas?" Rahma beralih meminta persetujuan terlebih dahulu pada suaminya.
"Tak apa. Temani Rais dulu. Untuk masalah itu, kita bisa kapan-kapan. Lagi pula, yang ingin kita temui hari ini, dia malah ke luar kota."
"Ya sudah kalau begitu. Sebentar mama bersiap dulu." Rahma segera beranjak lalu ia membawa beberapa piring kotor menuju wastafel yang ada di bagian belakang.
"Mama mau kemana?" Tanya Arisa di tengah suapan makannya.
"Mau temani Rais, sayang." Jawab Rahma mengelus kepala Arisa ketika ia tepat melewatinya.
__ADS_1
"Urusan pernikahan ya?" Tanyanya lagi.
"Iya. Dan kalau kamu sama Rayyan ada urusan, hati-hati ya. Jaga diri."
"Iya ma... mama hati-hati."
Setelah semuanya sudah berlalu, Arisa sarapan dengan terus menghela nafas berat. Rayyan yang duduk di sampingnya merasa penasaran dengan apa yang tengah di pikirkan Arisa saat ini.
"Kenapa Yang?" Seperti biasa, Rayyan begitu santai menghadapi mood Arisa yang tengah tak baik ini.
"Emm apa kau pernah berpikir, kalau saja saat itu aku tidak kabur, lalu kau menjadi suami Rais dan aku menjadi istri Fabio, apa kita akan makan disini berdua hari ini? Seperti ini? Dan tanpa harus menjaga perasaan orang lain." Mendapati pertanyaan tersebut, Rayyan hanya memalingkan wajahnya lalu ia tersenyum dan masih melanjutkan makannya.
"Setiap hari." Jawabnya santai. "Setiap saat pikiranku tak lepas darimu. Apa yang kau lakukan? dengan siapa? Lalu apa hubunganmu dengan mereka yang sangat dekat denganmu? Lalu, apa masih ada tempatku di hatimu? Ya.. semua yang berhubungan tentangmu selalu aku pikirkan. Tapi, aku sudah tak ingin berandai-andai lagi. Sekarang kau sudah jelas menjadi milikku, dan aku tak ingin melukai hatiku sendiri dengan menebak-nebak apa yang terjadi 'seandainya' semua hal yang sudah terlewati. Cemburuku sangat berlebihan Risa. Jadi aku tak mau kehilanganmu hanya karena aku cemburu."
"Apa karena aku terlalu sibuk dengan kak Rega sampai kau tak mau menemuiku?" Tanpa menjawab pun, Rayyan jelas berkata bahwa dirinya sangat cemburu.
"Maaf. Tapi aku begitu, hanya ingin membalas budi." Ucap Arisa selanjutnya setelah ia tak mendengar jawabannya langsung dari mulut Rayyan. Rayyan hanya diam seakan tengah menikmati makanan di hadapannya. Namun terlihat alisnya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Berhubung sekarang hari libur bagaimana kalau kita jalan-jalan. Aku dengar ada acara di kampus. Kita lihat yuk! Sekalian bernostalgia. Kata Daffa acara pentas seni atau apa ya... aku kurang mendengarkannya. Tapi karena kau ada disini, jadi--".
"Kau mengalihkan pembicaraan Aray. Aku belum selesai bicara." Kini giliran Arisa yang membalas menyela Rayyan.
"Sebelum sore, aku hari ini berangkat ke Bandung." Lirih Arisa membuat mereka terdiam beberapa saat. Terlihat keduanya tidak lagi memakan makanan yang masih tersisa di piringnya masing-masing. Suasana terasa hening dan udara terasa lebih dingin dari sebelumnya.
"Baru bersama-sama lagi, tapi kau sudah mau pergi?" Rayyan tak kalah lirih dengan memalingkan wajahnya menghindari Arisa. Seketika ia mengingat ucapannya kemarin yang ingin break untuk sementara waktu meskipun Raisa yang mengangkat teleponnya. Mata yang semula sayu, kini mendadak membulat saat kedua tangan Arisa meraih pipi Rayyan dan menghadapkan wajah Rayyan padanya.
"Tanggung jawabku di sana."
__ADS_1
"Lalu? Kurang apa disini Risa? Jika kau mau, aku punya kantor cabang dan kau bisa jadi pimpinan disana."
"Tidak Aray..."
"Kenapa? Karena di sana ada Rega? Atau ada asisten kakakmu Reza? Aku mohon Risa. Aku sudah tak mau lagi berhubungan jarak jauh. Banyak pikiran negatif yang membuatku terus mencurigaimu. Sudah cukup 4 tahun saja kita terpisah."
Kembali Arisa hanya diam dan menghela nafas dalam. Ia sejenak berpikir hal yang sama dengan Rayyan. Namun, ia pun tak bisa menepis fakta bahwa tanggung jawabnya sangat besar sekarang. Tak mungkin ia membebankan Reza lebih lama lagi.
"Hanya sebentar Aray. Sampai Rais menikah saja. Setelah itu, aku akan melepas jabatanku dan tinggal di sini lagi."
"Tapi, jangan sekarang. Aku masih merindukanmu."
"Aray kasian kak Reza kalau aku tidak segera ke sana."
"Besok. Aku akan membiarkanmu pergi. Satu hari saja. Kita habiskan waktu hari ini, setelah itu aku tak akan melarangmu. Setidaknya beri aku sebuah kenangan agar aku bisa lega menghantar kepergianmu besok."
"Emm baiklah."
. "Kenapa bunda mudah saja menyetujui kemauannya? Bunda sangat menyayangi Putri kan? Katakan padanya kalau bunda tak ingin berpisah dengan Putri. Tio! Bunda--"
"Kau. Reza! Sebenarnya yang tak ingin berpisah dengan adikku itu kau kan? Aku tahu dan aku paham. Tapi, apa selama 4 tahun tidak cukup untuk kalian dekat dengan adikku? Aku hanya memintanya kembali. Dia milik kami sepenuhnya. Jadi, tolong mengerti Za. Kami ingin bersama-sama lagi sebelum dia menikah. Karena, aku tak yakin dia akan tinggal dengan ayah dan mama setelah menikah." Tio memohon dengan amat sangat pada kedua orang di depannya. Ia tak sedikitpun mengangkat pandangannya meskipun Reza tengah berdiri dan Reza masih belum bisa menerima permintaan Tio.
"Baiklah." Jawab Sarah lagi-lagi begitu terlihat santai. Hanya Reza yang membantah dan seakan melarang Sarah untuk menyetujuinya.
"Bunda..." protes Reza lagi.
"Tapi dengan satu syarat." Ucap Sarah berikutnya. Tio yang merasa curiga hanya menyipitkan matanya seraya menbak-nebak jebakan apa yang di mainkan oleh Sarah kali ini. Ia beranjak dari duduknya lalu mengulurkan tangan pada Sarah.
__ADS_1
"Baiklah. Apapun syaratnya akan aku penuhi." Dengan begitu, Sarah membalas uluran tangan Tio dan Reza hanya bisa memendam kekesalannya pada ibunya sekarang.
-bersambung