
. "Baiklah. Dengan sikapmu yang seperti itu, sudah cukup menunjukan kau membenciku." Ucap Rayyan membuat Arisa terhenti tepat disampingnya.
Entah mengapa kata-kata Rayyan ini seakan menusuk hatinya.
"Maaf Aray. Aku tidak bermaksud. Aku hanya...." Arisa terdiam seperti sengaja menggantungkan ucapannya.
"Hanya apa Risa?"
"Tidak. Lupakan." Ucap Arisa melanjutkan langkahnya berlalu meninggalkan Rayyan yang terdiam.
"Ada apa denganku? Siapa dia? Mengapa membuatku sangat peduli padanya?" Ucap Rayyan pelan memijit dahinya.
. "Jadi? Sejak kapan kalian berpacaran?" Tanya Sofia dengan wajah antusias. Namun Raisa mendadak gugup, bagaimana menjawab pertanyaan itu. Jika menjawab yang sebenarnya, mereka tak akan percaya. Dan jika menjawab sesuai yang mereka lihat, ini akan menimbulkan masalah antara dirinya, dan Rayyan sendiri.
"Kalian salah faham. Rayyan tidak--"
"Ayolah Raisa. Sudah ku katakan bukan? Sedingin apapun Rayyan pada wanita, dia tidak mungkin mengabaikanmu."
"Kau tak tahu.. Rayyan itu..."
"Kau selalu seperti ini. Saat kau berpacaran dengan kak Fariz dulu, sikapmu sama seperti sekarang. Jadi aku sudah tahu kau sedang mengelak agar aku tak banyak bicara kan?" Raisa menghela nafas kasar mendengar Sofia.
. Ketika Rayyan memasuki kelas, wajahnya kesal ketika melihat Daffa yang duduk di mejanya.
"Siapa kau? Mengapa kau disini?" Tanya Rayyan ketika berdiri di samping Daffa.
"Hai... aku Daffa. Anak baru." Jawabnya mengulurkan tangan sembari tertawa mengejek.
"Tidak lucu Daf. Enyah dari mejaku sekarang." Tegas Rayyan.
"Ini mejamu? Ahh... mengapa kau dekat dengan Arisa?"
"Ini memang mejaku bodoh." Decih Rayyan
"Hei sobat. Jangan marah. Aku hanya becanda." Ucap Daffa tertawa.
"Maaf Arisa.. aku tidak bisa bersamamu. Ada singa yang menghalangi kita." Ucap Daffa berbisik dipunggung Arisa dan kemudian berlalu ke meja yang sudah tersedia untuknya dibelakang.
Arisa menoleh pada Daffa yang mengedipkan matanya membuat Arisa tersenyum. Rayyan melirik sinis pada Arisa. Rayyan terdengar berdecih ketika memalingkan wajahnya dan duduk di meja kesayangannya.
Rasanya ingin menyapa namun ego yang lebih menguasai dirinya.
Teringat ucapan Seno tempo hari.
"Jangan menunggu kehilangan baru menyadari, tapi sadarilah sebelum kehilangan. Kita memang punya ego masing-masing. Bahkan kadang kita selalu kalah oleh ego itu sendiri. Seakan kita selalu mengalah pada keadaan. Tapi sebenarnya, jika kita bisa mengalahkan ego, kehilangan tidak akan datang pada dirimu. Kau tahu rasanya kehilangan? Itu menyakitkan. Apalagi dia pergi ke alam yang lain. Itu lebih menyakitkan. Jadi, sebisa mungkin jangan sampai kalah dengan egomu. Karena yang hendak kau hindari itu, kita tak tahu apakah besok dirinya masih ada atau tidak. Jangan membuat penyesalan sendiri."
. Saat Rayyan hendak meraih pundak Arisa, Seno lebih dulu menepuk pundak Arisa membuat Rayyan menarik kembali tangannya. Arisa menoleh pada Seno dengan alis yang berkerut.
"Kau sakit?" Tanya Seno yang ditanggapi dengan gelengan kepala Arisa.
"Jika kau sakit, jangan memaksakan."
"Aku baik-baik saja kak."
"Jika dilihat lebih jelas, wajah Arisa sangat pucat. Apa dia sakit?" Gumam Daffa menatap Arisa dari mejanya.
"Apa Rayyan juga menyukai Arisa?" Daffa terus bergumam dengan menumpu kepala dengan tangannya, sesekali terdengar deru nafas kasar seolah sedang kesal.
"Kau kenapa Daffa?" Tanya Seno yang kini sudah berbalik menatap kearahnya. Semua pandangan tertuju padanya, Daffa terdiam melirik satu persatu wajah teman sekelasnya.
"Tidak." Jawab Daffa menutupi kenyataan bahwa dirinya sangat mengkhawatirkan Arisa. Kemudian Rayyan melirik kembali pada Arisa yang terus menoleh pada jendela. Sebagai anak pindahan, Daffa terlihat santai dan seakan sudah kuliah sejak lama disana.
Sepoi-sepoi angin berhembus menyibakkan rambutnya. Seakan sudah terbiasa, Seno tak lagi menegur Arisa yang mengabaikannya. Namun sebenarnya Arisa mendengarkan dan memperhatikan setiap apa yang dijelaskan oleh dosen.
. Saat pulang, Daffa menghampiri Arisa yang masih terdiam di tempat duduknya.
"Kau pulang dengan siapa? Mau aku antar?" Tawar Daffa seakan mengabaikan keberadaan Rayyan.
"Aku pulang dengan--"
"Denganku." Dengan tiba-tiba Rayyan menyela sebelum Arisa menyelesaikan bicaranya
__ADS_1
"Benarkah?" Daffa menatap Rayyan tak percaya.
"Kau tak percaya?" Tanya Rayyan berbalik tampak menantang.
"Tentu saja aku tak percaya. Seorang Rayyan mengantarkan seorang gadis. Apa itu tidak akan menarik perhatian publik tuan muda Pratama?" Entah kenapa ucapan Daffa saat ini terdengar menjengkelkan bagi Rayyan.
Wina melihat Arisa yang jelas tak nyaman dengan situasi ini lalu menghampirinya.
"Ayo pulang." Bisik Wina menarik tangan Arisa yang terasa lemas. Arisa hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah Wina. Daffa dan Rayyan hanya menatap Arisa yang berlalu meninggalkan mereka.
Daffa kemudian tertawa melihat raut wajah Rayyan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Sejak kapan kau punya emosi? Bukankah kau tak tahu cara marah, kesal, tertawa, bahkan tersenyum pun kau tak pernah selain pada Sein. Wajahmu datar tanpa ekspresi. Tapi sepertinya kau ada perubahan setelah bertemu dengan Arisa." Ejek Daffa meski terasa ada yang menyesakkan dihatinya.
"Sejak kapan kau menjadi banyak bicara hah? Apa sejak aku tinggalkan?" Rayyan melirik tajam pada Daffa.
"Hei kawan? Kau tambah menakutkan." Tak henti-hentinya Daffa mengejek Rayyan.
"Mengapa kau mengikutiku?"
"Siapa yang mengikutimu? Aku hanya waspada. Takut-takut jika kau mendekati Arisa."
"Kau siapa Risa?"
"Aku bukan siapa-siapa yang berharap menjadi orang yang istimewa dihidupnya." Daffa dengan gaya berkhayalnya menatap rambut Arisa dari jauh.
"Mimpi." Ucap Rayyan mengusap kasar wajah Daffa kemudian berjalan lebih cepat.
"Mimpi yang indah." Daffa terkekeh mengikuti Rayyan yang tetap berjalan cepat.
Saat Arisa tepat didepannya, terlihat dari jauh seseorang yang sangat tak ingin Rayyan lihat. Bersandar di mobil, sesekali melirik jam ditangannya.
Dimas menoleh dan tersenyum ketika Arisa menghampirinya. Rayyan dan Daffa mematung ketika Arisa memasuki mobil Dimas.
"Siapa dia?" Tanya Daffa tanpa memalingkan pandangannya dari Arisa.
"Dokter." Jawab Rayyan singkat.
"Hah?" Teriak Daffa menoleh pada Rayyan.
"Aku akan mengejarmu sampai ujung dunia Arisa." Cetus Daffa dengan percaya diri.
"Dapatkan hati kakaknya dulu sebelum kau mengejarnya ke ujung dunia." Timpal seorang mahasiswa lain yang kebetulan lewat dan mendengar celotehan Daffa.
"Kenapa dengan kakaknya?"
"Kau tak dengar rumornya?"
"Iya aku dengar. Bukankah kakaknya itu direktur tampan yang dingin dan tidak berperasaan? Dan juga sebentar lagi akan diangkat menjadi presdir di perusahaan Artaris." Ucap Daffa dengan ekspresi yang sedang berfikir.
"Bukan hanya itu. Dia lebih kejam pada seseorang yang berani mengganggu adiknya."
"Benarkah? Pantas saja." Ucap Daffa sedikit bergumam.
"Yasudah aku duluan." Mahasiswa itu menepuk pundak Daffa seraya tersenyum kemudian berlalu meninggalkan Daffa.
Ketika Daffa hendak melangkah, ia melihat mobil Rayyan yang melaju sedikit cepat membuat sebagian mahasiswa yang lewat ketakutan karena hampir terserempet.
"Apa dia sudah gila? Hemph sepertinya iya. Dan mengapa harus Arisa yang membuatnya gila?" Decih Daffa dengan kesal.
Rayyan terus mengikuti kemana perginya mobil Dimas. Rasa penasarannya semakin kuat ketika Dimas memasuki wilayah rumah sakit. Ini kebetulan atau apa?
Dimas dan Arisa memasuki sebuah ruang pemeriksaan.
"Apa yang mereka lakukan?" Rayyan dengan hati-hati berdiri dibalik pintu.
"Mengapa aku secemas ini?" Ucapnya tersenyum sinis.
Namun karena tidak tahan terus menerka-nerka, Rayyan membuka pintu sedikit kasar. Arisa terkejut kemudian menoleh pada Rayyan.
Rayyan menyernyitkan dahinya saat Dimas tiba-tiba berhenti berbicara dan membalikkan sebuah rekam medisnya ketika dirinya masuk. Seperti tidak ingin Rayyan mengetahuinya.
__ADS_1
"Aray?" Lirih Arisa.
"Risa? Kau baik-baik saja?" Tanya Rayyan menghampiri dan meraih Arisa. Arisa hanya mengangguk.
Dimas menatap tajam pada Rayyan seolah bertanya mengapa kau ada disini?.
"Aray. Mengapa kau disini?" Tanya Arisa.
"Hanya kebetulan."
"Kau mau ke kamar Sein?" Rayyan mengangguk.
"Lalu? Apa kau salah kamar?"
"Tidak. Aku sengaja ingin menemanimu. Takut jika dokter ini macam-macam padamu." Ucap Rayyan mendelik pada Dimas.
"Harusnya aku yang lebih mewaspadaimu." Tegas Dimas.
"Benarkah?"
"Sudah. Aray... kau ke kamar Sein duluan. Aku akan menyusul." Dimas menyernyit mendengar ucapan Arisa.
"Aku akan menemanimu dulu. Baru kita ke kamar Sein."
"Aray..."
"Risa!" Tatapan Rayyan tetap tertuju pada Dimas yang membalas tatapannya.
"Apa kau tidak dengar? Arisa bilang--"
"Lalu kenapa? Kau yang merasa risih disini. Risa tak masalah dengan keberadaanku."
"Baiklah. Dimas, terimakasih." Ucap Arisa beranjak dari duduknya.
"Setidaknya beritahu kakakmu." Arisa tersenyum menanggapi kekhawatiran Dimas.
"Kak Tio sudah tahu." Dimas terbelalak, kemudian tersenyum lega.
"Baguslah." Lirih Dimas.
Arisa berlalu meninggalkan ruangan dengan Rayyan disampingnya.
"Apa yang ku lakukan? Harusnya aku tak melakukan ini. Ah sial. Otakku benar-benar kacau." Gumam Rayyan.
"Kau kesal?" Tanya Arisa memecah keheningan.
"Tidak. Aku hanya khawatir saja padamu."
"Ohh..."
"Ya" "apa? Reaksinya hanya seperti itu? Dia benar-benar menyebalkan." Gumam Rayyan melirik Arisa yang fokus ke depan. Rayyan baru kali ini menemukan gadis yang benar-benar dingin dan tidak seperti wanita pada umumnya. Maksudnya tidak langsung senang saat ada laki-laki yang mengkhawatirkan ataupun peduli padanya.
Arisa justru cenderung biasa saja dan seolah tak peduli ada yang baik padanya. Seperti sudah terbiasa saja jika tidak ada yang mempedulikannya.
"Jika ada yang menyukaimu, bagaimana?" Tanya Rayyan tiba-tiba.
"Apanya?"
"Dirimu."
"Apa?"
"Bagaimana perasaanmu jika ada yang diam-diam menyukaimu?"
"Yaa... bagaimana? Biasa saja. Karena hanya menyukaiku saja kan?" Rayyan menyernyit seolah bertanya apa maksudnya?
"Dokter itu menyukaimu kan?" Tanya Rayyan dengan memalingkan wajahnya. Namun Arisa tak menjawab. Lalu suasana kembali hening.
"Dia kakaknya Rama. Dia baik padaku karena aku pernah menjadi pacar mendiang adiknya. Jadi aku tak berpikir kebaikannya adalah perasaan cinta atau suka." Ucap Arisa membuat Rayyan terdiam seribu bahasa.
"Dan juga, meski ada yang menyukaiku, aku tak akan keberatan. Asal jangan mencintaiku." Lanjut Arisa membuat Rayyan semakin tak mengerti dengan yang dikatakan Arisa.
__ADS_1
"Dan hatiku tidak bisa mencintai seseorang lagi terlalu lama."
. Bersambung