TAK SAMA

TAK SAMA
13


__ADS_3

. Tio memasuki rumah dengan masih menggendong Arisa.


Setiap pelayan yang melihat terkejut dengan itu.


"Sudah sampai. Ayo turun." Ucap Tio berhenti diruang tengah.


"Tidak mau. Aku mau digendong sampai kamar." Manja Arisa semakin kencang memeluk leher Tio.


"Apa? Apa kau tidak sadar? Kau berat Arisa..." rengek Tio seraya melemaskan lututnya.


"Aku tidak seberat dulu kak. Sekarang aku kehilangan berat badanku sampai 5 kg." Keluh Arisa sedikit bergumam.


"Hah? 5 kg?" Arisa mengangguk. "Sudah kakak bilang. Jangan menunda makan. Mengapa kau tak menurut? Jadinya seperti ini kan? Jangan mengira ocehan kakak itu menyebalkan. Justru kakak sangat menyayangimu Aris.... dan tak ingin ini terjadi."


"Sutttt sudah sudah... aku tahu kakak sangat menyayangiku. Dan tidak mungkin juga kan kakak menolak permintaanku ini?"


"Permintaan?" Tio menyernyit


"Antarkan aku ke kamar."


"Arisss.. kau ingin membunuh kakak? Bagaimana jika pinggang kakak patah? Atau kaki kakak yang patah? Nanti, jadi kita berdua yang terjatuh di tangga."


"Ahhh.. aku ingin sekali kak. Mungkin dengan cara itu, aku bisa bertemu dengan Rama." Ucap Arisa dengan wajah senang dan seperti sedang berkhayal.


"Ariss... berhenti berkata seperti itu."


"Ehh? Apa salahnya?" Arisa membenamkan wajahnya di pundak Tio. Namun Tio hanya tersenyum. Kapan lagi bisa menggendong Arisa seperti ini. Bahkan sekarang, sekedar dipeluk pun Arisa sudah tidak mau. Mungkin saat sedang sakit saja Arisa tak ingin lepas dari Tio.


"Kak. Aku mau turun."


"Eh? Katanya kau ingin sampai kamar?"


Arisa menggeleng kemudian melepaskan tangan dari leher Tio, dan membuat Tio menurunkannya.


"Aku kasihan pada kakak. Nanti jika pinggang kakak patah, kan tidak lucu seorang presdir yang tampan, tapi pinggangnya patah. Para gadis yang mengidolakan kakak nantinya jadi kecewa. Dan mungkin saja kak Diana menjadi sedih." Ucap Arisa dengan ekspresi berpikir keras. Tio tertawa mendengar ocehan Arisa yang menggemaskan.


"Mau sampai kapan kau akan terus menyebalkan seperti ini?" Tio mengacak rambut Arisa dengan gemas.


"Kakak...." jerit Arisa.


"Ada apa?" Tanya ayah yang menghampiri karena jeritan Arisa.


"Tidak ada." Jawab keduanya.


"Kau sudah makan?" Tanya ayah pada Arisa. Arisa mengangguk menanggapi pertanyaan ayah.


"Jika kau tak ikut makan, jangan mengganggu yang sedang makan." Deg hati Arisa terasa perih.


"Baik ayah. Maaf." Ucap Arisa berlari menaiki tangga. Terdengar suara pintu yang dibanting keras. Tio mendongak menatap nanar pada pintu yang kini tertutup.


"Dia semakin tak terkendali." Ucap ayah menghela nafas berat. Tio mengepalkan tangannya dan kemudian menunduk menahan kesal.


"Tio.."


"Maaf ayah aku tak berselera makan." Ucap Tio menyela kemudian berlalu ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.


Tak lama, Tio keluar dengan membawa selimut dan guling. Berlari menaiki tangga dan memasuki kamar Arisa.


Tio terkejut ketika membuka pintu mendapati Arisa yang menutup bagian mulutnya dengan darah yang terus menetes ke lantai. Matanya terbelalak menyaksikan apa yang selama ini tak ingin ia lihat. Selimut dan gulingnya dibiarkan jatuh ketika ia berlari.


"Darah apa itu Aris?" Tio dengan cepat meraih Arisa.


Namun Arisa hanya menggeleng dengan rasa mual yang tak tertahan. Arisa berlari ke kamar mandi dan mengunci pintunya.


Tio dengan panik mengikuti dan mondar mandir tak karuan di depan pintu kamar mandi. Tio berpikir mungkin ini saatnya Arisa harus menjelaskan sesuatu padanya.


Ketika Arisa keluar dengan wajah yang basah, Tio menatapnya dengan marah.


"Apa yang kau sembunyikan?" Arisa hanya terdiam. Tatapannya menjadi sendu, tak ada hawa dingin kali ini.


"Kakak tahu kau sedang sakit. Setidaknya kau memberitahu kakak sakit apa yang kau rasakan. Jangan memendamnya sendiri." Tio segera memeluk Arisa dengan isak tangis yang tak bisa ia tahan. Arisa ikut menangis, bahkan lebih keras.


"Aku tidak mau jika aku memberitahu penyakitku, Raisa akan merasakan apa yang aku rasakan."


"Kakak tidak mengerti. Jadi kau jelaskan dengan benar. Mengapa membawa Raisa?" Tio melepaskan pelukannya dari Arisa. Terlihat jelas wajahnya sangat pucat. Sebenarnya sakit apa yang di sembunyikan adiknya itu.

__ADS_1


"Kakak janji tidak akan memberitahu ayah dan mama?" Semula Tio menyernyit heran, namun melihat raut wajah Arisa dan untuk menyenangkan hatinya untuk sementara, Tio mengangguk menyetujui.


"Aku kanker kak." Bagai tersambar petir, Tio merasa seluruh tubuhnya lemas seketika.


"Kau becanda kan?" Tio ambruk dan terduduk lemas didepan Arisa. Air matanya semakin deras berderai.


"Stadium 3." Lirih Arisa kemudian. Kata tambahan itu cukup membuat Tio prustasi.


"Kakak gagal menjagamu Aris. Maafkan kakak yang berpikir kau anak yang kuat. Tapi nyatanya..."


"Kakak jangan bicara seperti itu. Aku bahagia mempunyai seorang kakak sepertimu. Kakak sangat menyayangiku melebihi apapun. Ini takdirku, bukan salah kakak." Arisa ikut terduduk berhadapan dengan Tio.


"Mengapa kau tak bilang? Jika saja kau bilang dari awal, mungkin sekarang kau sudah sembuh." Arisa menggeleng dengan tersenyum.


"Aku tidak berharap sembuh kak. Sakit atau sembuh itu sama saja. Ayah dan mama tidak akan menyayangiku. Aku tak mau jika mama tahu aku sakit, nanti mama akan memperhatikanku saja." Lirih Arisa.


"Pikirkan dulu dirimu."


"Kakak jangan menangis."


"Mengapa aku punya adik yang bodoh sepertimu."


"Jika aku bodoh, aku tak mungkin membawa piala olimpiade kan?"


"Jangan meninggalkan kakak." Arisa tertawa lepas membuat Tio heran.


"Kakak dikenal dingin, arogan, jahat, tapi dirumah kakak sangat cengeng." Ejek Arisa.


"Jika kakak yang sakit, apa kau akan berpesta?" Seketika tawa Arisa terhenti mendengar pertanyaan Tio.


"Kakak tak boleh sakit. Kakak harus menjaga mama dan Raisa. Jika kakak sakit, nanti aku akan sedih."


"Kau pikir yang kakak rasakan sekarang itu apa? Kau menahan rasa sakit itu sendirian."


"Kakak janji ya? Jangan beritahu siapapun ya?" Bujuk Arisa.


"Aris... ini masalah besar jika ayah tidak tahu. Mungkin jika ayah tahu, ayah akan membawamu berobat seperti Raisa dulu."


"Jangan beritahu ayah. Atau aku akan pergi dari rumah dan tak pernah pulang."


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin kakak khawatir. Dan sekarang aku malah membuat kakak menangis. Maafkan aku." Arisa memeluk kepala sang kakak dengan hangat.


"Kamu sayang kakak kan?"


"Aris sangat menyayangi kakak."


"Jadi, untuk kali ini saja, kau menurut ya?"


"Apa?"


"Kakak punya teman di Amerika, dia dokter. Kita akan kesana hari minggu ini." Arisa terkejut lalu melepaskan pelukan nya.


"Tapi..." Arisa ragu untuk menjawab iya. Tapi memang sebagian dirinya ingin sembuh entah apa alasannya. Tapi sisi yang lain, ingin dirinya cepat menyusul Rama.


"Kakak akan atur urusan kuliahmu."


Arisa hanya terdiam tidak mengiyakan dan tidak juga menolak.


Kepalanya semakin berat, pandangannya pun semakin berputar. Arisa kembali ambruk di pangkuan Tio.


"Aris. Aris?" Tio mengguncangkan tubuh Arisa yang tak kunjung bangun. Setelah mengetahui kenyataannya, Tio semakin panik takut hal tak terduga terjadi pada Arisa.


Ditengah kepanikannya, Tio masih berfikir keras untuk memberitahu ayahnya atau tidak.


Tio membaringkan Arisa di tempat tidur.


Wajahnya benar-benar pucat, Tio lagi-lagi tak bisa menahan air matanya. Pikirannya kacau. Bagaimana jika saat ini Arisa tiba-tiba meninggalkannya sendiri. Bagaimanapun Arisa lah satu-satunya adik yang dia sayangi.


"Bagaimana bisa kau merahasiakan ini dari kakak." Tio mengelus lembut rambut Arisa. Ternyata selama ini penyebab Arisa pingsan, mimisan dan panas tinggi itu bukan karena demam. Tapi memang karena penyakit serius yang kadang mustahil disembuhkan.


Sepanjang malam Tio menunggu Arisa dan tertidur di sofa. Sampai pagi menjelang, Tio masih merasa khawatir pada Arisa yang belum bangun.


"Arisa... bangun yu. Sudah siang." Ucap Tio pelan sambil menepuk pipi Arisa pelan. Dahinya berkerut seperti menahan sakit.

__ADS_1


"Jangan membuat kakak khawatir." Arisa membuka matanya ketika mendengar kalimat itu.


"Kakak ini kenapa? Aku baik-baik saja." Ucap Arisa tersenyum.


"Bagaimana kakak percaya kau baik-baik saja ketika kenyataannya kondisimu seperti ini."


"Justru jika kakak seperti itu, semua akan curiga"


Suasana hening beberapa saat.


"Kenapa bibi tidak lagi membangunkan ku?"


"Mungkin bibi sibuk."


"Kakak tidak bekerja? Jangan membuat ayah marah." Ucap Arisa beranjak dari tidurnya.


"Kau mau kemana?"


"Aku mau mandi kak. Aku mau kuliah."


"Mengapa harus kuliah?"


"Karena aku mahasiswa kak."


"Maksud kakak--"


"Aku ingin menjalani hidupku dengan semestinya kak. Jika hanya berdiam karena alasan sakit, aku akan sangat menyesal karena membuang waktuku dengan sia-sia." Kalimat itu cukup membuat Tio terdiam.


Arisa berlalu ke kamar mandi. Seperti halnya orang yang sehat-sehat saja, Arisa tak menunjukan sedikitpun rasa sakit pada dirinya.


"Siapa yang mengajarimu menjadi sekuat itu." Ucap Tio menunduk dengan perasaan bersalah.


"Tuhan.. jangan kau ambil adikku secepat itu. Aku tak akan sanggup jika kehilangannya, dan itu juga akan membuatku membenci keluargaku sendiri." Lanjut Tio mencengkram rambutnya dengan kuat.


***


. "Hallo." Ucap Arisa ketika sudah rapi dan siap untuk berangkat.


"Aku sudah didepan rumahmu." Ucap Rayyan dari sebrang telpon.


"Sedang apa?" Tanya Arisa heran.


"Menjemputmu."


"Tapi aku akan di antar oleh kakak."


"Biar aku bicara lagi pada kakakmu."


"Tapi...." belum sempat melanjutkan, panggilan sudah terputus. Tapi hal itu tak membuat Arisa kesal. Bahkan Arisa merasa khawatir bagaimana jika Raisa salah faham.


Arisa berjalan keluar dari kamar, menuruni tangga dan mendapati Tio yang sudah menunggunya.


"Sudah siap?" Arisa mengangguk.


"Tapi kakak tak bisa menemanimu sarapan pagi ini."


"Tak apa kak. Kakak ke kantor saja. Temanku sudah menunggu didepan, jadi kakak tak perlu mengantarku ke kampus."


"Teman?"


"Yang kemarin."


"Sepupu Seno?" Arisa mengangguk menanggapi.


"Hemmmm jadi sekarang adikku ini sudah punya pacar." Ejek Tio mencubit pipi Arisa.


"Ihhh kakak. Sudah ku bilang dia temanku."


"Ya ya ya... mungkin berawal dari teman, kau dan dia berpacaran."


"Itu takan terjadi kak." Ucap Arisa tersenyum.


Seketika candaan itu menjadi sebuah rasa sakit yang menyayat hati.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2