TAK SAMA

TAK SAMA
24


__ADS_3

. "Kalian sudah saling mengenal?" Tanya ayah yang menyaksikan adegan itu.


"Ma-maaf om... sa-saya lancang. Tapi.. saya kegirangan melihat Arisa baik-baik saja." Jawab Bayu dengan sikap gugupnya.


"Bagaimana kau tahu dia Arisa?" Tanya ayah lagi seolah ingin mengetes pandangan orang asing pada kedua putrinya.


Bayu tersenyum santai.


"Saya sudah mengenal Arisa sejak kuliah, meskipun Arisa junior saya, tapi saya bisa mengenali dia adalah Arisa." Jawab Bayu dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi.


"Bagaimana jika dia yang duluan kau lihat? Apa kau akan mengenalinya?" Ayah menunjuk dengan matanya pada Raisa yang sedang berjalan menuruni tangga. Lagi-lagi Bayu tersenyum setelah menoleh pada Raisa sesaat dan berbalik menatap ayah.


"Mereka berbeda om." Arisa tersentak mendengar sepatah kata sederhana itu.


"Sepertinya putramu menyukai putriku, Arya." Ucap ayah tertawa dan menepuk punggung rekan kerjanya itu.


Arisa hanya menunduk tak menyangkal kenyataan bahwa Bayu menyukainya. Memang benar, Bayu sempat menyatakan cintanya pada Arisa ketika Arisa di ospek olehnya. Namun cintanya tak terbalas karena saat itu Arisa memiliki kekasih, yang tak lain adalah Rama. Dan saat Bayu mendengar bahwa pacar Arisa meninggal, dirinya kembali mendekati Arisa. Namun bukan untuk mengambil hatinya, tapi untuk menguatkan hati Arisa yang sedang hancur.


Bayu seolah sudah melupakan perasaannya meskipun hatinya ikut tersayat melihat Arisa yang bersedih untuk orang lain.


Ketika kedua keluarga saling berbincang di ruang tamu, Arisa dan Bayu memilih berbincang di taman depan rumah.


"Kau tak berubah Arisa.. masih dingin seperti biasanya." Ucap Bayu dengan niat mengejek meskipun pikirnya Arisa tak akan tertawa. Namun diluar dugaan, Arisa tersenyum menanggapi candaan Bayu yang membuat Bayu merasa tertegun karena baru pertama kalinya Arisa tersenyum begitu manis dihadapannya.


"Arisa." Panggil Bayu ragu.


"Ya?"


"Jika kita di jodohkan, apa kau akan menyetujuinya?" Tanya Bayu memalingkan pandangannya dari Arisa. Arisa kembali menarik senyumnya dan sama-sama memalingkan wajahnya menghindari kontak dengan Bayu.


"Apa kakak akan bahagia jika denganku?" Tanya Arisa yang enggan menolehkan wajahnya.


"Aku akan sangat bahagia Arisa." Jawab Bayu menatap Arisa penuh harap.


"Tapi aku takut akan meninggalkan kakak..." rengek Arisa menoleh dan memperlihatkan wajahnya yang sudah berderai air mata.


"Mengapa kau menangis? Jika kau yang meninggalkan kakak, harusnya kakak yang menangis. Bukan kau." Bayu meraih kedua bahu Arisa.


"Katakan. Apa kau mempunyai kekasih?"


"Aku..."


"Ah.. maaf... aku tidak bermaksud mengingatkanmu padanya."


"Kak Bayu berpikir pada Rama?"


"Aris..." panggil Raisa.


Arisa dan Bayu beranjak dari duduknya seolah langsung mengerti dengan panggilan Raisa.


. Di ruang makan, semua sudah berada di posisinya, seperti biasa, Ayah seolah seorang raja yang duduk dengan kursi yang paling terpisah. Arisa dan Bayu duduk berhadapan. Kedua kepala keluarga itu saling lirik lalu saling melempar senyuman.


"Sudah disepakati, melihat kedekatan kalian, kami sudah memutuskan untuk menjodohkan nak Bayu dan putri kami, Arisa." Arisa menoleh kasar pada sang ayah yang menurutnya begitu saja mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan darinya.

__ADS_1


"Tapi ayah... bagaimana dengan..." Tio tak melanjutkan ucapannya dan menoleh pada Raisa.


"Raisa sudah kami jodohkan dengan Rayyan." Semua terdiam. Meski bagaimana pun keadaannya, meski tak ada perasaan yang melebihi batas, tetap saja Arisa merasa hancur saat ini.


Raisa menggeleng menatap Arisa yang menunduk. Entah dirinya harus senang atau sedih. Memang Rayyan adalah orang yang ia cintai sejak dulu, tapi jika harus merampas dari adiknya, ia rasa itu terlalu keterlaluan. Apa lagi mengingat Arisa sedang sekarat.


"Ayah... aku..."


"Kenapa? Bukankah sudah jelas kau dan Rayyan saling menyukai? Dan buktinya dia menemui ayah untuk menjemputmu." Ayah menyela Raisa yang membisu dengan mata berkaca-kaca.


Yang tidak di sadari semua orang, Arisa menjatuhkan bulir bening dari kelopak matanya, namun tak terlihat karena dirinya menunduk menghindari wajah-wajah yang dianggapnya sudah kesekian kalinya memisahkan Arisa dengan kebahagiaannya.


Tio menatap nanar pada Arisa yang memalingkan wajahnya. Tio tahu bahwa kini Arisa tengah menangis karena kesalahfahaman orang tuanya.


. Setelah makan malam, Arisa kembali lebih dulu tanpa menghabiskan makanannya. Hal itu membuat keluarganya merasa khawatir. Apa lagi saat Arisa memberi alasan bahwa dirinya tengah kurang sehat.


Bayu mengajak Tio untuk berbincang empat mata saja. Tentu Tio mengajak Bayu ke kamarnya agar tak ada yang mendengar percakapan mereka.


"Apa Arisa memiliki kekasih?" Tanya Bayu tanpa basa basi.


"Menurutmu?" Jawab Tio sinis.


"Tio... aku serius."


"Kau pikir aku becanda? Aku tahu kau menyukai Arisa. Tapi kali ini saja, biarkan Arisa memilih kebahagiaannya sendiri." Tio memohon pada Bayu yang merasa heran dengan sikap Tio saat ini. Mengapa sampai memohon seperti ini?


"Yang aku tahu pacar Arisa sudah--"


"Ray-Rayyan?" Bayu menyernyit seakan tak percaya bahwa Rayyan yang dimaksud Tio itu adalah orang yang sama dengan yang disebut oleh Yugito.


"Tapi mengapa Arisa tak menolak dijodohkan denganku Tio?"


"Karena Raisa menyukai Rayyan, dan Arisa tahu itu."


"Maaf Tio.. tapi aku tak berniat melepaskan Arisa. Aku sudah melepaskannya satu kali, tapi kali ini--"


"Kau egois Bay."


"Apa? Egois? Menurutmu egoisnya dimana? Aku mencintainya sejak lama, namun aku merelakannya karena dia memiliki kekasih, dan saat kekasihnya meninggal, aku dengan sabar menemaninya dan menyembuhkan luka hatinya. Dan sekarang, tuhan menjawab doaku untuk dipersatukan dengannya. Dan ini jalannya, aku menerimanya meskipun dengan dijodohkan. Kau sudah menemukan dimana letak keegoisanku?" Bayu tak kalah emosi.


---


. "Aris... jangan diambil hati ucapan ayah. Aku yakin ada yang salah disini." Ucap Raisa yang mengikuti sampai ke kamar Arisa. Arisa yang semula terbaring, kini beranjak dan melemparkan senyuman pada Raisa. Arisa menggenggam tangan Raisa, dan mengusap pipi Raisa yang berderai air mata.


"Mengapa kau menjadi cengeng? Dan apa maksudmu? Aku dan kak Bayu saling mencintai. Mengapa kau berpikir aku menyukai Aray?"


"Aris... jangan berpura-pura... aku tahu.. aku tahu kau mencintai Rayyan dan Rayyan pun sama." Arisa tetap menggeleng menyangkal fakta yang di ucap saudari kembarnya. Mungkin dengan cara ini dirinya bisa mati dengan tenang.


"Tapi Aris...." Raisa tak kuasa menahan dirinya untuk tidak menangis. Raisa terisak dengan menggenggam tangan Arisa didahinya.


"Jika dibilang, memang aku peduli pada Aray, jika aku terus bersamanya, aku takut aku akan benar-benar mencintainya. Dan saat itu pula, aku menyakiti hatimu. Aku tak ingin mati dengan membawa penyesalan, dan diiringi kesedihan." Ucap Arisa dengan begitu tenang.


"Tapi Rayyan mencintaimu."

__ADS_1


"Dan itulah yang aku takutkan. Jika aku semakin dekat dengan Aray, Aray mungkin akan semakin dalam mencintaiku, dan aku tak bisa membayangkan betapa sedihnya dia saat aku mati nanti."


"Berhenti mengoceh tentang mati. Aku tak akan membiarkanmu mati. Dulu kau selalu menyuruhku kuat untuk melawan penyakitku. Bahkan kau yang bilang, cari siapa saja orang yang ingin kau temani selamanya agar kau punya alasan untuk hidup. Kau tahu? Kau lah alasanku bertahan hidup dan melawan penyakitku. Jadi mengapa sekarang kau tak melakukan apa yang kau katakan dulu padaku?" Teriak Raisa dengan tangis yang tak kunjung berhenti.


"Berhenti menangis. Aku mohon..." ucap Arisa menatap sayu Raisa yang terus terisak.


. Keesokan harinya, Rayyan menghampiri Arisa yang duduk di taman kampus. Bisa ditebak, Arisa tengah menunggu Wina.


Tak seperti biasanya, Arisa beranjak seolah terburu-buru saat Rayyan duduk disampingnya. Rayyan memaklumi dan hanya tertawa kecil. Namun hari berganti dan hampir 1 minggu di pertemuan kuliahnya, Rayyan mulai menyadari bahwa Arisa tidak sibuk, dia memang sengaja menghindar dari Rayyan. Tapi berbeda dengan Daffa. Arisa masih ramah dan bahkan selalu berbincang dengan Daffa. Kali ini, Rayyan menahan Arisa yang hendak berlalu dari pandangannya.


"Kenapa kau terus menghindariku? Aku tahu kau tak sibuk." Tanya Rayyan. Wajahnya kini benar-benar serius.


"Maaf Rayyan..."


"Kau bahkan tak memanggilku Aray. Ada apa denganmu?" Arisa menatap tajam mata Rayyan. Tatapan itu membuatnya seolah berhenti bernafas. Rasanya sesak. Rayyan pasti membencinya. Rayyan terkejut ketika menyaksikan perubahan sikap Arisa yang tepat didepan matanya. Arisa mendadak menjadi dingin, dan tatapannya tak kalah tajam darinya. Rayyan terdiam dan membiarkan Arisa lewat dan dirinya tak ada hati untuk menoleh ke belakang. Arisa terhenti tepat di belakang Rayyan.


Rayyan menoleh ketika sebuah tangan menarik ujung jaketnya. Dilihatnya wajah pemilik tangan mungil itu, Rayyan langsung terbelalak mendapati wajah Arisa yang sudah berderai air mata. Rayyan meraih wajah Arisa dengan khawatir.


"Kau mencintaiku?" Tanya Arisa lirih dan hampir tak terdengar oleh Rayyan.


"Kau baru menanyakannya sekarang?"


"Jawab saja Rayyan." Arisa terlihat sedikit kesal. Jujur saja, Rayyan merasa sesak ketika Arisa memanggilnya dengan nama itu.


"Iya... aku mencintaimu." Tegas Rayyan yang berharap tak mendapati jawaban yang tak diinginkan.


"Aku juga mencintaimu." Arisa masih dengan nada lirih.


"Lalu mengapa selama ini kau menghindariku?"


"Aku ingin kau menghapus perasaanmu. Aku tak ingin terlalu dekat denganmu."


"Apa maksudmu?"


"Mulai saat ini. Jangan pernah bersamaku lagi. Maaf!" Arisa buru-buru beranjak dan kembali berlalu meninggalkan Rayyan yang mematung.


Daffa terus memperhatikan Arisa dengan lekat.


"Ada apa dengan mereka? Mereka bertengkar? Tapi karena apa?" Pertanyaan demi pertanyaan kini bermunculan dibenak Daffa. Karena seingatnya, Arisa dan Rayyan tak terlibat masalah.


Daffa mengejar Arisa tanpa diketahui Rayyan. Daffa menghampiri Arisa yang tengah duduk di bangkunya.


"Arisa..." lirih Daffa membuat Arisa mendongak.


"Kau bertengkar dengan Rayyan?" Tanya Daffa membuat Arisa menahan tangisnya.


"Ehh ja-jangan menangis.. ak-aku hanya bertanya saja."


"Aku yang mendiamkannya Daf..." jawab Arisa dengan rasa sesal. Mendengar itu, Daffa mencoba menenangkan Arisa dengan mengusap lembut rambut Arisa dan sedikit mendekapnya.


Dan adegan itu terlihat oleh Rayyan di ambang pintu.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2