
. Dengan usahanya membujuk Tio, akhirnya Arisa di ijinkan berangkat ke Bandung hari ini. Namun sebelum ia pergi, ia berniat menemui Seina di rumah sakit terlebih dahulu.
Sampai di ruangan yang di tuju, Arisa langsung menghampiri Sonya yang duduk bersama Rayyan dengan terisak keras.
"Risa..." panggil Sonya dengan masih tersedu-sedu.
"Sein kenapa bunda?" Tanya Arisa ikut panik saat melihat Seina tengah ditangani dokter.
"Kau. Ini karena kau. Kenapa adikku selalu ingin bertemu denganmu?" Bentak Rayyan menyela dengan menunjuk wajah Arisa.
"Aray... aku...."
"Apa hah? Kenapa kau selalu pergi padahal tahu adikku sangat menginginkanmu tetap disini. Kenapa kau tak mengerti Risa?" Suara Rayyan masih tinggi, dan kali ini ia meraih bahu Arisa dengan keras.
"Aray. Hentikan. Kau juga harus mengerti kalau Risa sedang sibuk." Sonya mencoba melerai.
"Dan kenapa bunda selalu membelanya? Dia jadi semakin seenaknya nanti."
"Aray... maaf jika aku membuat Seina..."
"Iya. Kau memang sudah membuat Seina sakit parah karena merindukanmu. Jika sudah tersebar berita kematianmu, harusnya kau jangan kembali."
"Aray!" Tegas Sonya beranjak dan sama terkejutnya dengan Arisa. Arisa yang tak percaya bahwa Rayyan bisa berkata demikian, langsung menepis tangan Rayyan dengan hati pilu. Namun Rayyan menahan langkah Arisa agar tak pergi.
"Mau kemana lagi? Bukankah aku sudah bilang untuk tetap disini?"
"Lepaskan aku sialan." Tegasnya sambil menjatuhkan air mata di pipinya. Perlahan Rayyan melepaskan tangan Arisa, terlihat begitu menyedihkan.
"Risa... apa kau tak mengerti ucapanku?"
"Kau membenciku kan? Kau ingin aku pergi lagi kan? Aku akan menuruti keinginanmu. Setelah ini, aku pastikan kau tak akan pernah menemuiku dan kabar tentangku lagi. Anggap saja Arisa yang kau kenal sudah mati." Setelah melontarkan kata-kata itu, Arisa langsung berlari sambil menyeka air matanya yang terus keluar.
"Bunda apa aku salah bicara?" Tanya Rayyan terlihat bimbang.
"Pikirkan saja sendiri. Jika kau mencintainya, katakan kau mencintainya. Jika kau membencinya, katakan kau membencinya. Bukan begini Aray. Hati perempuan itu rapuh. Kau ingin dia tetap disini. Tapi ucapanmu yang menyuruhnya pergi. Sekarang kejar dia dan jelaskan semuanya. Jangan naif Aray. Bunda tak pernah mengajarkanmu bersikap begitu. Tegaslah. Atau kau akan kehilangan dia lagi sepenuhnya." Rayyan terdiam mendengar nasehat Sonya. Ia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian ia bergegas menyusul Arisa yang mungkin belum jauh. Namun saat di parkiran, tepat sebelum ia memasuki mobil, ia melihat mobil Tio melaju melewatinya. Dan segera Rayyan masuk kemudian melajukan mobilnya mengikuti kemana Arisa pergi. Beberapa kali ia hendak menyalip, namun selalu ada mobil di arah yang berlawanan.
Sampai di bandara, Rayyan kembali meraih tangan Arisa. Ia begitu terkejut karena Arisa masih menangis.
"Risa maafkan aku... sungguh bukan maksudku membuatmu sakit hati. Tapi aku tak bisa mengungkapkan bahwa aku ingin kau tetap ada disini. Bersamaku, bersama Seina."
"Ucapanmu berbeda Aray. Tadi kau jelas menginginkan ketiadaanku. Dan sekarang kau menginginkan kehadiranku. Maaf aku sudah tak bisa menerima permintaanmu. Dan maaf aku tak bisa datang ke acaramu." Ujar Arisa perlahan melepaskan genggaman Rayyan, kemudian ia berlalu secepatnya menjauh dari Rayyan yang hendak menyusul namun ditahan oleh Tio.
"Kak... tolong bantu bujuk Risa."
__ADS_1
"Aku kecewa padamu Rayyan. Aku pikir kau benar-benar mencintai adikku, ternyata tidak."
"Kak... kalian salah mengira. Maksudku bukan seperti itu. Maksudku aku hanya ingin Risa tetap disini seperti dulu."
"Kau pikir aku manusia bodoh yang tak mengerti arti ucapanmu? Aris tak pernah lagi menangis, dan sekarang kau membuatnya menangis. Aku benar-benar kecewa padamu." Tio berbalik dengan wajahnya begitu dingin. Sangat berbeda dari biasanya. Melihat kakak beradik yang meninggalkannya, Rayyan menjambak rambutnya kasar. Ia seakan mendadak kehilangan arah. Adik yang sekarat, gadis yang dicintai pergi, dan pria yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri pun sudah kecewa padanya.
. Singkatnya, sudah malam Arisa sampai di bandara Bandung, ia segera menuju kediaman Sarah.
"Ju... dimana bunda?" Tanya Arisa ketika turun dari taksi di depan gerbang.
"Ada di dalam non." Jawab Juna dengan menunduk sopan. Arisa segera berlari menuju rumah. Ia mengetuk pintu sambil terengah. Dan tak lama, pintu terbuka memperlihatkan Reza dengan wajah datarnya.
"Kak... bunda--"
"Bunda tak ada. Sedang sibuk. Dia tak ingin di ganggu oleh siapapun." Jawab Reza dengan nada dingin.
"Tapi kak..."
"Bunda memberi pesan padaku agar kau tak tinggal disini lagi." Bagai petir yang menyambar, Arisa mematung mendengar penuturan Reza yang terasa di luar dugaan.
"Kak... kakak bohong kan. Bunda tak mungkin..."
"Mungkin saja. Karena kau bukan putri bunda." Lagi, rasanya jahitan di dada Arisa terasa perih tersayat. Air matanya kembali berderai setelah beberapa jam mengering.
Kemudian Arisa melanjutkan langkahnya segera pergi dan menemui Juna di pos depan.
"Nona mau kemana?" Tanya Juna terheran.
"Ju... jaga bunda ya. Aku akan menginap di apartemen mulai malam ini." Jawab Arisa dengan menahan air matanya.
"Tapi kenapa nona?"
"Bunda tak mau bertemu denganku Ju..." kini tangisnya pecah setelah mengatakan hal itu.
"Nona ada masalah dengan nyonya Sarah?" Arisa menggeleng menanggapi dan ia menoleh kembali pada pintu yang masih menampakkan Reza disana. Jelas Reza ingin memastikan kepergiannya.
"Sudah ya Ju. Aku pergi sekarang." Terlihat Juna kebingungan saat ini. Apa yang harus ia lakukan? Mengikuti kemana Arisa pergi atau tetap disana untuk menuruti kemauan Arisa. Ketika Juna menoleh ke arah pintu, Juna mendapati panggilan dari Reza, dan dengan cepat ia menghampiri Reza.
"Ju.... kau jaga Putri. Pastikan dia baik-baik saja." Ucap Reza dengan tatapan yang mendadak sendu. Juna mengiyakan saja. Ia kemudian menyusul Arisa yang sudah berlalu dengan taksi.
Tak lama setelah Juna berlalu, Sarah menghampiri Reza yang masih berada di ambang pintu.
"Siapa Za?" Tanya Sarah sembari menoleh kesana-kemari.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa bunda." Jawab Reza melempar senyum.
"Bunda kira Putri. Kemana ya dia? Kenapa belum pulang. Di apartemennya tak ada. Dan saat tadi bunda menelpon Tio, ternyata Putri sudah ke Bandung. Bunda khawatir Za." Ujar Sarah yang terduduk lesu di kursi teras. Ia menatap lekat taman kecilnya yang biasanya di jam ini, Arisa selalu menatap langit di kursi taman sendiri.
"Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari bunda kan Za?" Seketika Reza terkejut mendengar pertanyaan Sarah. Ia mendadak gugup, bagai mana menjelaskannya?
"Sudah malam bunda. Waktunya tidur. Reza yakin Putri baik-baik saja." Ucap Reza mengalihkan pembicaraan.
"Bunda tak akan marah jika kau jujur Za."
"Bunda... ini sudah malam. Angin malam tak baik untuk kesehatan bunda." Tepat setelah mengatakan kalimat itu, suara gemuruh terdengar menandakan akan turun hujan. Dan saat itu juga, Reza mendadak khawatir pada Arisa. Entah kenapa, rasanya takut jika sampai Arisa kehujanan padahal ia sendiri melihat Arisa memasuki taksi.
"mau hujan bunda... ayo masuk." Ajak Reza lagi membujuk Sarah.
"Bunda takut Putri kehujanan Za."
"Bunda! Sudahlah jangan memikirkan anak itu. Kenapa bunda selalu peduli padanya padahal dia saja dengan mudah melupakan bunda. Bagaimanapun dia bukan anak kandung bunda. Dia anak Yugito. Orang yang sudah membuat bunda menderita." Tegas Reza begitu memekik telinga.
"Kenapa nada suaramu lebih tinggi dari bunda Za?" Lirih Sarah menahan sesak di dadanya.
"Ma-maaf bunda. Tapi Reza mohon jangan lagi memikirkan Putri. Dan Reza pun akan menyuruhnya pulang ke Jakarta dan melepaskan jabatannya sebagai presdir."
"Jadi benar, ada sesuatu yang kau sembunyikan dari bunda." Sarah beranjak dan menatap mata Reza sesaat lalu akhirnya ia memasuki rumah dengan air mata yang berderai namun wajahnya masih tenang.
"Bunda menyayangi Putri bukan karena di tubuhnya ada Nadhira, tapi bunda menyayanginya karena kita saling melengkapi. Bunda yang kehilangan anak perempuan, dan Putri yang membutuhkan kasih sayang seorang ibu." Ucap Sarah terhenti sesaat dan kemudian kembali berlalu. Reza semakin merasa bersalah atas apa yang sudah ia katakan pada Arisa yang jauh dari kenyataannya.
Dan ketika ia hendak memasuki mobil, hujan turun dengan derasnya. Reza segera masuk dan menyalakan mobil melaju menuju apartemen Arisa.
. Di taman, Arisa berjalan pelan menyusuri sudut kolam dan menatap lekat pada ikan-ikan yang mulai tak terlihat karena derasnya hujan. Ia menangis sejadi-jadinya meskipun tanpa suara. Berharap rasa sesaknya hilang, namun malah semakin menyakitkan. Arisa memeluk dirinya sendiri dengan menyedihkan. Orang tua yang pilih kasih, kekasih yang sudah tak mengharapkannya lagi, dan sekarang satu-satunya tempat pulang sudah tak menginginkan kehadirannya. Tangisnya mereda ketika ada sebuah payung melindunginya dari hujan.
"Tak baik seorang gadis menangis malam-malam begini. Apa lagi sedang hujan." Ucap seorang lelaki yang tak sedikitpun terpikirkan kehadirannya oleh Arisa.
"Kak Rega..." rengek Arisa yang langsung memeluk Rega dengan erat. Rega yang terkejut seolah merasakan kesedihan Arisa.
"Put-... emmm sudah... kakak disini. Jangan menangis." Rega mengusap lembut kepala Arisa untuk menenangkan. Mendengarnya, Arisa malah semakin keras menangis. Dan hal itu dilihat jelas oleh Rayyan yang menyusul Arisa sampai Bandung. Ia membiarkan tubuhnya di guyur hujan dan dadanya terasa begitu sesak melihat pemandangan yang menusuk jantungnya secara brutal.
. Di waktu yang sama, Reza sampai di apartemen Arisa, ia mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada jawaban. Dan ia beralih mengetuk pintu Zain, tak lama, pintu terbuka dan memperlihatkan Zain yang sudah lesu.
"Apa? Kau merindukanku?" Tanya Zain konyol.
"Putri mana?" Tanya Reza langsung.
"Hah? Putri? Memangnya dia kesini?" Zain tak kalah terkejut. Karena setahunya, Arisa tak kemari. Jelas pintunya terkunci dan tak terdapat jejak apapun.
__ADS_1
-bersambung.