TAK SAMA

TAK SAMA
131


__ADS_3

. Rahma kembali ke kamar Yugito dan tatapannya mendadak sinis. Melihat Reza, Rahma seakan sedang melihat kembali kenangan menyedihkan perselingkuhan Yugito dulu.


"Ayah. Berhubung mama sudah kembali, Aris pamit." Ucapnya langsung beranjak.


"Baiklah jika itu keputusanmu. Hati-hati. Reza... tolong jaga Aris. Anggap dia sebagai Nadhira." Ucap Yugito pelan, dan bisa dipastikan ucapan itu hanya Reza dan Arisa saja yang bisa mendengarnya.


Rahma perlahan menghampiri Arisa yang kini sudah beranjak dari duduknya. Hatinya terasa perih mendapati sikap dingin Arisa yang seakan menjadi orang asing baginya. Namun, Rahma mengesampingkan kembali perasaannya ketika mengingat bagaimana dulu sikapnya pada Arisa yang tak jauh berbeda seperti sekarang ini.


"Ayo kak. Aku tak percaya jika Juju yang menjaga bunda." Ucap Arisa berjalan melewati Rahma begitu saja. Rahma meraih dadanya pelan, dan Reza melihat tatapan kesedihan disana.


"Putri." Panggil Reza menghentikan langkah Arisa.


"Apa lagi?" Tanya Arisa berbalik dan mendadak menjadi sinis.


"Kau lupa sesuatu. Coba ingat-ingat lagi." Jawabnya terus berjalan melewati Arisa yang keheranan.


"Kakak ini apa sih? Aku tidak lupa apa-apa." Namun, Reza malah meninggalkannya dan menutup pintu rapat-rapat. Sebenarnya Arisa mengerti dengan apa yang dikatakan Reza. Tapi, ia tak ingin menoreh luka di hatinya dengan sengaja.


Rahma berbalik dan menatap Arisa yang berdiri tak jauh darinya, perlahan ia mengangkat tangannya dan semakin dekat menghampiri Arisa.


"Putriku Aris...." lirih Rahma tak kuasa menahan kerinduan pada putri bungsunya. Segera Rahma memeluk erat tubuh Arisa yang masih diam tak membalas pelukan Rahma.


"Maafkan mama nak...." ucapnya lagi masih tak membuat Arisa bergerak. Seakan rasa sakitnya sudah menyatu dengan emosi lainnya hingga membuatnya semakin tak lagi tersentuh oleh tangisan Rahma.


"Ma... Aris harus pergi." Rahma perlahan melepas pelukannya dan menatap Arisa dengan sayu.


"Kau mau meninggalkan mama lagi?" Arisa hanya memalingkan wajahnya saja dan seakan enggan menjawab pertanyaan Rahma.


"Lalu? Aku harus ada disini dengan luka dari segala arah?" Arisa tak kalah lirih membalikan pertanyaan untuk Rahma.


"Apa kamu membenci mama?" Tanyanya kemudian.


"Ma sudah..." ucap Yugito dengan penuh arti. Mungkin karena takut Arisa marah, atau kembali terjadi pertengkaran.


"Bukankah Aris yang harus bertanya begitu? Mama kan yang membenci Aris? Saat Aris sakit, mama kemana? Yang mengurus Aris hanya bi Ina. Bahkan mama enggan menyentuh Aris. Padahal Aris ini anak kandung mama." 'Jleb' ungkapan itu seakan menjadi sebuah anak panah yang tepat menancap di jantung Rahma. Apa yang Arisa katakan memang benar adanya.


"Aris... kau mau pergi kan?" Yugito mencoba mengalihkan topik agar suasana tak menjadi mencekam.


"Tidak ayah. Aris tidak pergi. Tapi Aris pulang. Permisi." Setelah mengatakan itu, Arisa segera berlalu dari hadapan Rahma yang mendadak lemas dibuatnya.


"Apa yang kau tangisi?" Tanya Yugito sesaat setelah Arisa menutup pintu.


"Apa kesalahanku terlalu besar pada Aris? Sampai Aris tak mau lagi pulang ke rumah kita."


"Sudahlah... tak ada gunanya meratapi kesalahan yang sudah lalu. Sekarang, sebaiknya kita perbaiki saja letak kesalahannya. Kita harus menjadi orang tua yang baik untuk Aris."


Saat Rahma sedang meratapi kesedihannya, ia baru tersadar ada yang berbeda dari ungkapan Arisa.


"Mas.... apa kau menyadari sesuatu dari Aris? Apa Aris sudah ingat?" Tanya Rahma mendadak antusias sekaligus penasaran.


"Dia memang sudah ingat." Jawab Yugito terdengar santai.

__ADS_1




. Sebelum Arisa kembali ke Bandung, ia meminta izin pada Reza untuk berkunjung ke suatu tempat terlebih dahulu. Reza tercengang, kenapa Arisa ke makam? Namun, Reza tetap menemani Arisa untuk berziarah ke makan Rama.


"Hai... lama ya? Apa kau sudah benar-benar tenang? Apa kau bertemu Nadhira? Dia adikku. Wajahnya pun mirip denganku. Kau tahu? Aku sudah mulai bisa melupakanmu. Dan sayangnya, aku belum bisa mendapatkan penggantimu. Maaf ya... lagi-lagi aku tak bisa secepatnya menusulmu." Reza hanya diam mendengar celotehan Arisa yang begitu serius menatap Nama di batu nisan. Arisa beralih pada makam di sampingnya.


"Citra...." lirihnya tak bisa menahan tangisnya. Ia berpikir mengapa ia begitu bodoh membiarkan Citra yang menyusul Rama.


Reza merangkul Arisa dan mengusap lengannya berharap sedikit saja Arisa merasa tenang.


Setelahnya, Arisa dan Reza bergegas untuk kembali ke Bandung. Dan ketika di jalanan kota, mereka terjebak macet. Kebetulan yang berpihak pada Arisa, mobilnya merayap lambat melewati jalanan yang sering ia kunjungi. Toko bunga, cafe tempatnya menghabiskan waktu dengan Wina, dan toko kue kesukaannya.


"Kak... aku turun sebentar ya..." ucap Arisa langsung membuka pintu mobil.


"Ehhh mau kemana?"


"Beli camilan." Jawabnya sedikit berteriak dan terus berlalu ke tepi jalan. Reza memperhatikan setiap langkah Arisa yang kini memasuki sebuah toko kue.


Ketika mobil sudah memasuki area parkir, Reza segera menepi dan memarkirkan mobilnya disana. Ia memilih untuk diam di dalam mobil dan menunggu Arisa. Sesekali Reza membuka ponselnya untuk mengobati rasa bosan karena dibuat menunggu oleh Arisa.


Tanpa ia sadari, Arisa keluar dari toko dan langsung berlalu tanpa melihat mobil Reza yang terparkir tepat di depan toko.


Arisa berdiri di tepi jalan dan melihat satu persatu mobil yang berjajar rapi di jalanan.


"Ishh.. kak Reza dimana?" Ucapnya kesal. Bahkan untuk menelpon pun, ponselnya tertinggal di mobil Reza. Dan di waktu yang sama, Reza mengambil ponsel Arisa yang tersimpan di tempatnya.


"Dimana kau Putri?" Reza mulai gelisah, apa jadinya jika Arisa hilang?


Arisa yang sudah melewati batas kesabarannya pun beranjak, ia berbalik hendak kembali ke tempat dimana ia turun. Namun, belum sempat melangkah, ia malah membuat anak kecil menangis karena ia tabrak.


"Yaampun...." pekiknya segera meraih gadis mungil yang semakin keras menangis.


"Apa yang sakit?" Tanya Arisa meraih kepala dan beberapa bagian tubuh lainnya untuk memastikan tak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Sherin." Panggil seorang pria yang begitu familiar.


"Ayah....." teriaknya langsung berlari dan memeluk Fabio dengan erat. Arisa hanya terdiam, ia tak berniat memperlihatkan wajahnya pada Fabio.


"Apa yang kau lakukan pada putriku?" Arisa tersentak sesaat ketika mendengar suara Fabio yang sangat menusuk. Fabio semakin kesal dibuatnya karena Arisa terus membelakanginya.


"Aku bicara padamu!" Lagi Arisa tersentak mendapati bentakan Fabio yang tak pernah ia dapatkan dulu. Meskipun memiliki niat jahat, namun Fabio memperlakukannya dengan sangat lembut. Terdengar Fabio melangkah semakin dekat dan dengan kasar meraih bahu Arisa. Fabio terbelalak saat Arisa berbalik memperlihatkan wajahnya.


"Aris?" Lirihnya berubah sendu.


"Maaf aku tidak sengaja. Aku tak tahu putrimu ada di belakangku." Jawab Arisa menjelaskan. Fabio terdiam, ia seakan tak tahu harus menanggapi apa. Kata-kata di benaknya seakan mendadak hilang.


"Sekali lagi aku minta maaf." Ucap Arisa kemudian. "Permisi." Arisa kembali berbalik untuk segera pergi dari hadapan Fabio. Namun, Fabio tak semudah itu melepaskannya. Ia meraih lengan Arisa hingga Arisa sendiri terhuyung dan kepalanya hampir membentur lengan Fabio. Segera Arisa menahan tubuhnya dengan menopang pada bahu Fabio. Dan hal itu jelas dilihat oleh Lisa. Tubuhnya mendadak lemas menyaksikan adegan yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Bunda...." mendengar rengekan Sherina, Fabio terbelalak kemudian melepaskan genggamannya dari Arisa. Segera ia menghampiri Lisa untuk menjelaskan sesuatu. Namun, Lisa yang menganggap Fabio masih berada dibalik bayang-bayang Arisa, ia memilih untuk menghindar. Dan Fabio pun tak tinggal diam, ia terus mengejar Lisa.

__ADS_1


"Lisa... tunggu. Kau salah faham." Ucap Fabio menghentikan langkah Lisa.


"Apa yang harus aku percaya? Ucapanmu atau tindakanmu?"


"Lisa... kapan aku membohongimu?"


"Bukankah selama ini kau membohongiku? Kau bilang sudah melupakan Arisa. Tapi nyatanya, kau terus memikirkannya kan?"


"Lisa hentikan!"


"Kau masih mencintainya."


"Ku bilang hentikan!" Lisa seketika diam mendengar bentakan Fabio yang sangat menekan.


Arisa yang merasa bersalah pun menyusul Fabio.


"Kak.... itu tidak seperti apa yang kakak lihat." Ucap Arisa dengan sangat hati-hati.


Namun, Lisa yang sudah melewati batas kesabarannya langsung menampar keras pipi Arisa.


"Lisa." Pekik Fabio segera menangkis tangan Lisa yang hendak melayangkan tamparannya untuk yang kedua kali.


"Kau membelanya?" Terlihat senyum getir di wajah Lisa. Ia benar-benar hancur sekarang. Suaminya sendiri lebih memperhatikan mantan kekasihnya dari pada dirinya.


"Jika kau ingin kembali padanya, aku siap kau ceraikan." Ucap Lisa dengan nada dingin. Diluar dugaan, Arisa membenahkan rambutnya yang berantakan akibat tamparan Lisa.


"Aku sudah memberitahumu yang sebenarnya. Dan kau tak percaya. Kau malah menamparku. Aku lebih menyukai kak Bian dari pada suamimu." Tegas Arisa tersenyum sinis.


"Oh... kau menyukai Fabian? Arisa.... aku pikir kau wanita terhormat."


"Dan aku juga berpikir kak Fabio mendapatkan istri yang baik." Balas Arisa dengan begitu santai.


"Putri..." panggil Reza dari kejauhan. Arisa menoleh lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar pada Reza.


"Kau mau kabur? Kau pergi tiba-tiba, ponselmu ditinggalkan, dan kau menghilang dari toko kue."


"Maaf..." ucap Arisa dengan datar.


Reza melirik Fabio yang menatapnya dengan datar. Begitu pun Lisa yang masih mencoba menahan air matanya agar tak jatuh di hadapan Arisa.


"Pipimu merah." Ucap Reza mendadak panik dan langsung meraih pipi Arisa yang seketika menjauhkan wajahnya. Wajahnya masih datar dan tak berekspresi. Reza sadar, ada yang tidak beres disini.


"Apa kau yang melakukannya?" Tanya Reza beralih menatap tajam pada Fabio.


"Aku yang melakukannya." Tukas Lisa menyela cepat. "Wanita penggoda seperti dia pantas mendapatkannya." Lanjutnya membuat Reza mengepalkan tangan dengan kesal.


"Diam.!" Tegas Fabio membungkam mulut istrinya seketika.



\-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2