TAK SAMA

TAK SAMA
203


__ADS_3

. Rahma kembali dibuat cemburu melihat kedekatan Arisa dan mantan madunya, ia yang berniat untuk memberitahu putri bungsunya atas kabar bahagia Raisa pun hanya bisa terdiam.


"Panggil saja ma." Rahma yang masih melamun menoleh ke arah suara yang terdengar dari sampingnya. Ia mendapati Tio yang sama-sama menatap ke arah Arisa yang bisa di tebak tengah bersedih di pelukan Sarah.


"Mama sayang kan pada Aris? Sebaiknya panggil dia. Aku yakin dia hanya cemburu seperti mama. Perempuan memang sulit ya? Selalu menyembunyikan perasaannya dan tak ingin jujur." Kali ini, Tio berucap dengan nada ejekan dan ia tertawa dengan lepas sehingga Arisa yang berada jauh darinya pun menoleh seketika ke arahnya. Arisa beranjak saat ia melihat Rahma menatap sendu pada dirinya dan Sarah. Kemudian Arisa memalingkan wajahnya seraya bergumam pelan.


"Mama egois. Tak ingin melihatku dekat dengan bunda, tapi mama sendiri lebih peduli pada Rais."


"Aris.... sini sayang. Ada sesuatu yang ingin kakak bicarakan." Panggil Tio dengan melambaikan tangan meminta Arisa segera menghampirinya. Dengan langkah yang malas, Arisa menghampiri Tio dan ia pun kembali menunduk sendu ketika berhenti di samping Tio.


"Aris. Apa kakimu terluka? Kata ayahmu kau tadi jatuh." Arisa menggeleng mendengar pertanyaan ibunya tentang insiden tadi. Ia memilih untuk tidak memberitahu Rahma apa yang ia rasa sekarang.


"Bajumu basah. Nanti kau bisa masuk angin." Dan kali ini, Arisa menahan diri untuk tidak meluapkan kekesalannya mendengar ucapan Rahma. Ia merasa bahwa ibunya ini hanya berpura-pura peduli agar ia tak terlalu dekat dengan Sarah.

__ADS_1


"Aris..." Rahma kembali diam, ia melihat raut wajah Arisa begitu terganggu dengan semua ucapannya.


"Bukankah Rais sedang sakit? Kenapa mama ke sini? Aku tidak apa-apa di banding Rais. Sebaiknya mama kembali merawat Rais saja. Rasanya sakit loh jika sedang sakit tapi mama tak ada." Meski tahu senyuman Arisa palsu, Rahma masih menganggapnya sebagai anak yang kuat. Perlahan ia memeluk sang putri dengan mengelus lembut rambutnya yang terurai sehingga Arisa mematung tak tahu harus membalas pelukan ibunya atau tidak. Ia masih merasa kecewa, alih-alih menepati janji untuk menjadi ibu sepenuhnya bagi dirinya, ia malah mendapatkan kembali momen yang jelas sudah tak ingin ia saksikan. Seharusnya Rahma berhenti memperhatikan Raisa berlebihan, jelas-jelas Raisa sudah punya suami, dan peran orang tua seharusnya lebih fokus pada anak yang belum menikah.


"Tak apa. Besok aku menikah, setelah itu aku akan pergi sejauh mungkin dan tak pulang selama mungkin. Agar hidupku benar-benar terhapus sepenuhnya di jejak rekaman memori ingatan mama. Anak yang tak di harapkan sepertiku apa untungnya berharap agar mama memperhatikan dan mempedulikanku meskipun dia sudah berjanji. Ahhhh kesal sekali. Aku ingin mengeluarkan semuanya, tapi aku tak bisa." Batinnya merasakan hati yang tengah berperang dengan egonya yang melebihi batas. Meski Rahma semakin erat memeluk Arisa, namun Arisa sendiri masih ragu untuk membalas pelukan ibunya.


"Keluarkan!" Arisa yang masih bimbang, seketika terhenyak mendengar suara Tio yang menyadarkannya dari lamunan. "Keluarkan bebanmu, kakak akan mendengarkan sampai kau selesai." Ucap Tio kemudian. Arisa menggeleng namun Tio membawanya ke ruang kerja ayahnya yang terdapat ruangan kedap suara.


"Keluarkan disini. Kakak tahu kau sedang marah kan?"


"Apa sudah semuanya? Jika masih ada, keluarkan saja sekarang. Kau tak perlu khawatir. Ruangan ini kedap suara. Jadi yang bisa mendengar teriakanmu hanya aku saja." Tio menghampiri Arisa lalu meraih kepalanya dan mengelus dengan lembut. Kemudian Tio memeluk Arisa yang belum mereda, ia berpikir setelah hari esok, mungkin ia tak bisa lagi memeluk Arisa seperti sekarang. Sampai tangisan Arisa mereda, Tio baru melepaskan pelukannya dan membiarkan Arisa menyelesaikan tangisnya yang masih terdengar.


Setelah benar-benar reda, Tio mendapati Arisa yang tertidur. Mungkin karena efek dari tangisan keras yang menguras tenaga dan staminanya. Meski demikian, Tio merasa lega karena semua unek-unek yang ada di hati Arisa sudah perlahan menghilang.

__ADS_1


Tio keluar dari ruang kerja dan menutup pintu rapat-rapat agar tak ada yang menganggu istirahat Arisa setelah menangis.


"Tio Aris mana? Om Arya ingin bertemu." Tanya Yugito ketika Tio baru keluar dari ruang kerja, ia pun lantas menunjuk dan memberitahu ayahnya bahwa Arisa tengah tertidur karena kelelahan. Yugito yang terheran, akhirnya masuk ke ruang kerja dan mencari-cari dimana Arisa. Meski ragu membuka pintu ruang kedap suara itu, namun Yugito penasaran lalu perlahan membukanya. Ia termangu mendapati Arisa yang tertidur pulas di sofa dengan wajah yang memperlihatkan bekas air mata. Matanya sembab, dan hidungnya memerah sangat jelas menunjukkan bahwa Arisa memang menangis. Tapi tangisan yang bagaimana sampai Arisa tertidur di dalam ruangan kedap suara miliknya?


. "Maaf Arya. Putriku sedang tidur. Dan aku tak tega membangunkannya." Ucap Yugito setelah ia kembali ke ruang tamu. Wajah sesalnya terlihat karena awalnya ia sangat antusias saat akan menyuruh Arisa menemui tamunya.


"Tak apa. Biarkan dia istirahat." Widia terlihat tidak masalah jika Arisa tidak langsung menemui mereka sekarang.


"Bagaimana dengan Bayu? Apa dia akan datang?"


"Katanya kemungkinan besok, dia masih ada urusan hari ini." Kali ini Arya yang menjawab pertanyaan dari Yugito. Ditengah perbincangan mereka, Rahma datang dan masuk ke dalam obrolan.


. Menjelang sore, Arisa keluar dari ruang kerja dengan menutupi wajahnya memakai masker dan kaca mata hitam. Ia terkejut saat terbangun dan melihat dirinya di balik cermin. Ia hampir di tangkap Tio karena dikira pencuri. Dengan setengah berlari Arisa menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Pintu di tutup rapat agar tak ada yang masuk selain dirinya. Ia lega Raisa sudah tak lagi di kamarnya, sehingga ia bisa menenangkan diri di balkon sendirian. Bebannya terasa berkurang setelah ia berteriak dengan keras di ruangan itu, namun ia masih merasa iri pada Raisa yang mendapat kasih sayang melimpah dari ibu mereka.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2