
. "Katakan pada ayah untuk tidak membuat drama. Aku baik-baik saja tanpa pengawalan. Kak Reza dan kak Zain pun lebih ketat menjagaku." Ucap Arisa berbalik membelakangi Juna.
"Tapi tuan benar-benar mengkhawatirkan nona. Dan beliau meminta saya untuk menjaga nona karena beliau tahu nona akan menolak jika tuan sendiri yang meminta nona untuk pulang." Juna beranjak dengan terus meyakinkan Arisa bahwa yang dikatakannya memang benar adanya.
"Jika ayah memang mengkhawatirkanku, harusnya dari dulu ayah memperhatikanku."
"Mungkin ada alasan lain nona."
"Alasan apa lagi Ju? Juju tahu Aku sangat mendambakan kasih sayang ayah. Juju juga tahu aku kesepian setiap pulang sekolah. Bahkan Juju juga tahu kalau aku beberapa kali mau bunuh diri dari atas balkon. Karena hanya Juju yang memperhatikan aku meskipun dalam diam." Juna termangu mendengar Arisa memanggilnya Juju, karena hanya Arisa dan Raisa saja yang selalu memanggilnya begitu.
"Apa nona sudah mengingat saya?" Tanya Juna dengan ragu namun begitu percaya diri.
"Siapa kau yang berani bertanya begitu? Apa pentingnya kau di hidupku sampai kau bertanya apakah aku mengingatmu."
"Ma-maaf nona." Juna menunduk mendengar balasan dari Arisa yang di luar dugaan. Nada bicara yang dingin dan kata-kata yang sedikit menyesakkan.
"Sudahlah. Aku sedang sibuk. Harusnya kau membuat janji terlebih dahulu jika ingin bertemu denganku." Tegasnya lagi kini memilih untuk beranjak dan meninggalkan Juna. Arisa terus berjalan di lorong dengan tatapan datar. Siapapun yang ia lewati, tak ada yang ia jawab sapaannya. Hingga Zain yang menjadi satu-satunya orang yang berhasil membuat Arisa menoleh.
"Putri.. kau kenapa? Ada masalah?" Tanya Zain menatap lekat wajah Arisa.
"Tak ada." Jawabnya datar semakin membuat Zain menjadi penasaran.
"Putri. Untuk akhir pekan ini, ada undangan untuk makan malam bersama direktur PT. MEGA."
"Baiklah aku datang."
"Sebaiknya jangan."
"Loh? Memangnya kenapa?"
"Orangnya tidak waras. Aku takut nanti dia menggodamu." Sontak Arisa tertawa mendengar ungkapan Zain.
"Kakak ini bagaimana? Jika kakak tak setuju aku dinner dengannya, kenapa kakak tak menolaknya saja?"
"Eh? Memangnya boleh?" Tanya Zain mendadak antusias.
"Yaa jika itu menurut kakak baik untukku, aku akan ikut keputusan kakak saja. Lagi pula, disini aku hanya punya kakak yang menjagaku saat kak Reza tak ada."
"Baiklah.. kalau begitu aku tolak ya." Arisa mengangguk menanggapi. Keduanya mendadak gugup dan berjalan beriringan berdua menuju lift. Pemandangan itu di lihat oleh Juna dan ia merasa sedikit lega dengan kedekatan Arisa dan Zain yang mungkin bisa menjaga keselamatan Arisa jika berada di sisinya. Hal itu tak membuat Juna mengurungkan niatnya untuk terus mengawasi Arisa. Meskipun dalam diam, namun ia tetap dalam pendiriannya. Selain karena sebuah perintah, ia melakukannya pun karena Arisa sudah seperti adiknya sendiri.
Hari-hari telah berlalu, Arisa mulai menyadari ada seseorang yang mengawasinya tanpa henti. Hingga ketika ia keluar dari apartemen, ia berdiri diam didepan pintu dan menghela nafas sesaat.
"Ju... keluarlah. Aku tahu itu kau kan?" Tanya Arisa tanpa menoleh dan terdengar suaranya yang datar. Perlahan Juna menampakkan dirinya dan menunduk hormat pada Arisa.
"Maafkan saya nona. Tapi sudah menjadi tugas saya untuk menjaga nona."
"Menjaga atau mengawasi Ju?"
__ADS_1
"Dua-duanya nona."
"Aih... berapa kali aku bilang, aku tidak mau di awasi begini. Katakan pada ayah untuk tidak mengganggu hidupku lagi. Terima kasih jika ayah mengkhawatirkanku, tapi sungguh aku baik-baik saja tanpa pengawasan ayah. Kak Zain dan kak Reza juga sudah membuktikannya pada ayah bahwa mereka bisa menjagaku dengan baik." Mendengar itu, Juna hanya menunduk tak berani menjawab.
Belum sempat Juna menjawab, terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Dan benar saja, Zain yang baru keluar dari apartemennya menghampiri Arisa yang sedang berbincang dengan orang asing di hari yang masih pagi.
"Put... kenapa?" Tanya Zain menatap Arisa dan Juna bergantian. Ia merasa begitu penasaran siapa pria yang sedang berbincang dengan Arisa pagi-pagi begini.
"Tak ada. Bukan apa-apa. Ayo! Bukankah pagi ini kita harus meeting dengan pimpinan divisi keuangan?" Arisa menarik tangan Zain menjauh dari Juna yang masih terdiam di tempatnya. Secara diam-diam, Zain meminta anak buahnya untuk menyelidiki siapa yang begitu dekat dengan Arisa selain dirinya dan Reza.
Juna berdecih sambil mengikuti kemanapun Arisa pergi.
Dan diwaktu yang sama, Rega selaku direktur perusahaan yang di kembangkan ibunya itu, melempar tumpukan kertas hingga berserakan dilantai.
"Berani sekali gadis itu menolak undanganku. Dia pikir dia siapa?" Ucap Rega dengan penuh amarah, karena baru kali ini ia mendapatkan sebuah penolakan dari seorang klien yang nantinya akan bekerja sama dengannya.
"Cari tahu siapa gadis itu dan segera laporkan padaku. Aku ingin tahu latar belakangnya." Titah Rega dengan tegas.
"Baik tuan. Segera di laksanakan." Jawab Rian, selaku asisten pribadi Rega.
. Setelah mendapat informasi lengkap Arisa, Rian terkejut dan merasa ragu untuk memberitahukannya pada Rega. Karena perusahaan Artaris adalah perusahaan yang sedang mereka hindari masalahnya.
"Tu-tuan... maaf sebelumnya, se-sebaiknya tuan jangan bertindak yang diluar batas pada nona Arisa."
"Kau tahu namanya? Mengapa berbeda dengan yang tertera di data perusahaannya. Namanya Putri Fandhiya." Ucap Rega lalu meraih beberapa kertas di mejanya dan melihat beberapa daftar biodata Arisa namun tanpa sebuah foto.
"Katakan siapa dia." Titah Rega dengan tegas. Dan segera rian bacakan mengenai data yang ia dapatkan kini di depan Rega. Rega yang mendengarkannya hanya mengetukkan jari sembari manggut-manggut mengerti.
"Benar tuan."
"Dan kenapa dia bisa menjadi presdir? Emmmm ahhh aku ingat. Bukankah nama perusahaan yang sedang ia pimpin sekarang itu semula bernama Artaris kan?"
"Benar tuan."
"Apa kau mendapatkan alasan mengapa dia menolak undanganku?"
"Tidak tuan. Saya tak mendapat informasi mengenai hal itu. Namun nona Arisa kini berada dibawah lindungan direktur dari perusahaan A. N permata sendiri, yang tak lain tuan Ali Fahreza Ramadhan."
"Baiklah. Sepertinya memang aku sendiri yang harus mengundangnya secara langsung."
"Apa yang akan tuan lakukan?" Mendengar pertanyaan Rian, Rega hanya tersenyum penuh arti.
"Tak ada. Aku hanya ingin mengenal lebih dekat saja dengannya agar tak ada kesalah fahaman." Jawabnya merubah senyuman menjadi sinis.
"Reza ya? Hemm menarik." Batinnya memberi kode untuk Rian agar meninggalkannya sendiri.
. "Put... ada janji pertemuan dengan kembaranmu di ruang tunggu hari ini jam 13:00."
__ADS_1
"Katakan aku menolak." Jawab Arisa cepat, dan Zain pun hanya menghela nafas dalam sesaat.
"Tapi...."
"Aku sibuk."
"Sibuk apa lagi hah? Jika ada saudara yang ingin bertemu denganmu, temui dia." Timpal Reza yang tiba-tiba sudah berada di belakang Zain.
"Tak ada jadwal di jam itu. Jangan mencari alasan untuk menghindar darinya. Kasihan dia sudah jauh-jauh hanya ingin menemuimu." Lanjut Reza dengan santai duduk di sofa.
Arisa yang merasa sia-sia saja jika menjawab pun lebih memilih diam. Karena ia tahu Reza akan terus mencari-cari letak kesalahannya. Arisa beranjak dan berjalan meninggalkan dua pemuda di ruangannya. Lagi, ia merasa pikirannya mendadak kacau. Apa lagi, ketika pagi ini ia melihat artikel tentang Rayyan dan Clara yang dianggap pacaran karena kian hari kian dekat. Dan ketika ia menutup lift, sudah ada Juna di dalam dan hal itu tak lagi membuat Arisa risih. Memang penampilannya yang mencurigakan, mungkin beberapa orang menganggap ia penyusup atau semacamnya. Keseharian Juna selalu memakai jaket tebal, topi hitam, masker hitam, dan tak jarang juga memakai kaca mata hitam.
"Kau mau ziarah kemana Ju? Pakaianmu serba hitam." Tanya Arisa penuh ejekan namun dengan suara yang datar.
"Tadinya mau ke makam Rama non. Tapi terlalu jauh. Nanti nona merengek ingin ikut." Jawabnya pun sama bernada datar meskipun setiap katanya mengandung konten candaan.
"Aku juga merindukan Rama Ju. Jika dia masih hidup, apa mungkin sekarang aku sudah menikah dengannya ya? Emmm sepertinya aku sudah hidup bahagia, punya anak perempuan, terus dia usil pada Rama. Dan aku tak bisa membayangkan bagaimana wajah Rama jika kesal karena putrinya mengganggunya terus. Ahaha pasti seru ya? Dan kau, beralih menjaga putriku, bukan lagi aku." Mendengar itu, Juna hanya memaksakan senyumnya.
"Ju.... bisa antar aku ke taman?"
"Ehh... tumben?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja karena biasanya Arisa sangat risih jika di kawal oleh Juna.
"Kau tak mau?".
"Tidak nona. Dengan senang hati, saya akan mengantar nona."
"Baguslah."
Keduanya berlalu menuju tempat yang di maksud Arisa. Dan ketika sampai, Arisa langsung turun dan ia berjalan santai menyusuri jalan kecil menuju air mancur. Juna pun yang merasa Arisa sudah menerima keputusannya untuk menjadi pengawal pribadinya pun menghampiri Arisa yang menatap dalam penuh arti pada air yang terlintas seperti hujan itu.
"Ju... bisa kau tinggalkan aku sendiri?"
"O-oh... ba-baik nona." Dengan ragu, Juna meninggalkan Arisa dan memilih untuk mengawasi dari jauh.
Ditengah lamunannya, Arisa menoleh pada seorang pria yang berdiri sedikit jauh di sampingnya. Ia terlihat sama seperti Arisa yang sedang galau dan tatapannya sangat sendu.
Arisa kembali menatap air mancur dan ia kembali di kejutkan oleh si pria karena minuman yang dibawanya tumpah dan mengenai kaki Arisa.
"Ohh maaf nona. Saya tidak sengaja." Ucap Rega menghampiri Arisa. Arisa memberi kode pada Juna untuk tetap diam ketika ia menyadari pergerakan Juna yang bersiap menghampirinya.
"Tak apa tuan. Saya baik-baik saja." Jawab Arisa meyakinkan.
"Tidak nona. Saya bersalah. Saya harus bertanggung jawab."
"Jangan berlebihan tuan. Ini tak apa. Sungguh. Saya bisa membersihkannya sendiri."
"Tapi, saya tak enak hati. Bolehkah malam minggu ini saya mengajak anda makan malam? Untuk permintaan maaf saja."
__ADS_1
"Tapi... ya sudah boleh!"
-bersambung