
. Sarah terbaring kembali setelah ia meminum obat yang hanya tersisa tinggal 2 kali konsumsi lagi. Ia menghela nafas dalam setelah bibi keluar dari kamarnya. Lagi, ia menatap lekat pada langit kamar merindukan kehadiran Arisa di sisinya. Ia tak tahu mengapa sampai begini ia merindukan anak yang mungkin kebanyakan orang akan merasa benci.
"Bu.... maaf ada tamu." Ucap bibi membuyarkan lamunannya.
"Kenapa bibi tidak katakan Reza nya tak ada..."
"Tapi bu.... ini tamu untuk ibu.."
"Ya sudah. Katakan saja saya sedang tidak ingin di ganggu."
"Tapi bu...."
"Bi.... saya mau istirahat. Jika bibi masih bicara, saya tak segan memecat bibi sekarang." Tegasnya benar-benar sudah tak bisa menahan kesabarannya.
"Apa bunda membenci Aris sampai tak mau bertemu dengan Aris lagi? Dan sejak kapan bunda jadi temprament begini?" Sarah termangu, perlahan ia menolehkan wajahnya ke arah suara, dimana Arisa kini tengah berdiri di ambang pintu dengan hias senyum yang begitu manis.
"Putri... anakku... sayang..." lirihnya seketika beranjak dan mencoba berdiri. Meski terhuyung, Sarah tetap memaksakan diri untuk menghampiri Arisa.
"Bunda... jangan memaksakan." Arisa segera berlari menghampiri Sarah dan Sarah yang tak kuasa menahan rindunya memeluk Arisa begitu erat.
"Kenapa kau baru menemui bunda?"
"Maaf bunda... Aris belum sempat menemui bunda. Kemarin Aris harus bekerja agar perusahaan ayah tidak bangkrut. Aris harap bunda mengerti. Dan kenapa bunda tidak memberitahu Aris kalau bunda sedang sakit?"
"Bunda tidak sakit nak... bunda sehat. Tuh... kau lihat? Bunda tidak sakit." Ungkapnya melepas pelukan dan dengan serius meyakinkan Arisa.
"Bunda jangan begitu. Aris tahu bunda sedang pusing kan?"
"Tidak.... bunda serius. Melihatmu, bunda mendadak sembuh. Apa ini yang namanya penyakit rindu ya?" Arisa hanya tersenyum tipis sambil menatap nanar wajah ibu tirinya yang pucat pasi dan terasa tubuhnya masih gemetar lemas.
"Kamu sudah makan? Mau bunda buatkan makanan kesukaan kamu?" Arisa langsung menggeleng dan menolak tawaran Sarah.
"Tidak bunda. Jangan! Aris bisa buat sendiri. Bunda istirahat saja."
"Tidak tidak. Bunda tak apa sayang. Kamu mau makan apa?" Dan, Arisa semakin berkaca-kaca membandingkan sikap Sarah dan ibu kandungnya.
"Bunda... terima kasih ya... sudah mau menerima Aris."
"Apa yang kau katakan? Kau memang putri bunda sayang..." mendengarnya, Arisa semakin tersentuh dan ia tak bisa lagi menahan diri untuk memeluk Sarah dengan penuh haru.
. "Sebaiknya nona ke rumah tante Sarah saja. Kemungkinan Putri juga sudah ada disana sekarang. Dari pada nona disini, Reza pun tak akan menemui nona lagi. Beliau sedang banyak jadwal hari ini." Ucap Zain yang menemui Raisa atas perintah Reza.
"Hei kak... seberapa dekat kau dengan adikku?" Zain menyernyit mendapati pertanyaan Raisa.
__ADS_1
"Yahhh aku tak peduli mau sedekat apa. Tapi aku tegaskan padamu, jangan pernah berharap Aris akan menyukaimu. Karena hatinya hanya untuk Rayyan." Tegasnya menatap tajam pada Zain yang membalas tatapannya dengan datar.
"Maaf nona. Saya dan Putri hanya sebatas rekan kerja dan tetangga saja. Lagi pula yang saya cintai itu Nadhira, bukan Putri."
"Arisa. Namanya Arisa." Lagi, ucapan Raisa begitu tegas dan seakan tak seimbang dengan parasnya yang cantik dan manis yang seharusnya mempunyai sikap lembut dan anggun. Namun, Zain merasa bahwa jiwa kepemimpinan Raisa lebih mendominasi dari pada sikap lemah lembutnya.
"Ya nona. Maafkan saya. Tapi, namanya sudah kami kenal sebagai Putri Fandhiya, adik dari pemimpin perusahaan ini. Bukan Arisa Fandhiya, yang selama ini bergelar putri bungsu keluarga Putra. Sekali lagi saya beritahu anda, sebaiknya anda ke rumah tante Sarah dan bicara baik-baik secara langsung dengan Putri, oh maaf maksud saya Arisa." Dan, dengan masih menatap tajam, Raisa berlalu keluar dari ruangan menyisakan rasa sesak di dada Zain. Zain mengatur nafasnya yang mendadak terengah dan rasanya seperti ada sesuatu yang menikam hatinya.
"Kau benar Raisa. Putri tak akan membuka hatinya untukku. Karena cintanya hanya untuk Rayyan, dan aku tak punya kesempatan untuk mengambil hatinya." Ucap Zain dengan masih menenangkan dirinya.
. "Bagaimana Daf? Apa jadwalku sudah di kosongkan minggu ini?" Tanya Rayyan dengan mengetukkan jarinya di meja.
"Sudah. Kau bisa berangkat ke Bandung. Tapi aku sarankan besok saja, karena hari ini kau harus menemui Oma dulu." Jawab Daffa dengan melihat ipad miliknya.
"Baiklah. Tolong kau siapkan semuanya." Rayyan bersandar dengan tatapan yang sendu menatap lekat pada langit-langit ruangan.
"Kenapa kau pergi Risa? Aku dan Raisa sudah menyiapkan semuanya untuk melamarmu. Jika karena Michelle, kau tak mungkin cemburu dengan mudah kan? Dan dengan Raisa pun, kau susah tahu hubungan kami hanya sebatas teman dan mungkin akan menjadi ipar." Gumam Rayyan yang mengingat pada sebuah persiapan lamaran yang akan ia adakan saat Oma keluar dari rumah sakit. Persiapan itu sudah di atur oleh Raisa dan Fariz, karena tempat yang di gunakan adalah mall Fariz. Diana yang mungkin sudah selesai merancang gaun untuk Arisa saat ini pasti merasa kecewa karena kepergian Arisa sendiri. Namun mengingat sikap Diana yang lembut dan tak mudah marah, mungkin rasa kecewa itu terganti dengan rasa khawatir karena Arisa yang tiba-tiba pergi.
"Ini nih. Gara-gara Aris pergi, pekerjaanku jadi bertambah." Batin Daffa menghela nafas berat sesaat.
***
. Raisa turun dari mobil setelah ia sampai di dalam pekarangan rumah Sarah. Mang Asep yang berpikir itu adalah Arisa pun tanpa ragu mempersilahkan Raisa masuk. Dengan sopan Raisa perlahan melangkahkan kaki memasuki ruang tamu dan ia termangu menatap kebersamaan Sarah dan adik kembarnya.
"Jika bunda bilangnya tidak enak, apa kau akan menerima kritikan bunda?"
"Tapi setidaknya bunda jujur."
"Kau sudah mau menikah ya? Masakanmu asin." Ejek Sarah dengan tertawa kecil. Bibi yang melihat pemandangan itu merasa terharu karena kesehatan Sarah benar-benar meningkat drastis saat Arisa datang.
"Bi... bibi ah yang masak. Putri asin terus." Rengeknya beralih duduk di samping Sarah.
"Kan bunda sudah bilang. Biar bunda saja yang masak." Lagi, Arisa menggeleng menanggapi Sarah.
"Sudah Putri bilang juga, bunda masih harus istirahat. Jangan ada acara masak-masak. Nanti kena pisau terus luka, terus bilangnya tak apa padahal sakit, terus lihat darah jadi pusing, terus nanti pingsan, siapa yang repot? Mang Asep lah..." Sarah perlahan tertawa kecil lalu terbahak-bahak menanggapi ucapan Arisa yang tak ada jeda. Ia kemudian mengusap kasar wajah Arisa yang terus mengejeknya.
"Terus aja terus. Kalau kamu dendam sama bunda bilang Put. Jangan begini. Kamu cerewet begini belajar dari siapa? Hemmm?"
"Ya dari bunda lah...."
"Loh... kok bunda?"
"Kak Reza juga. Dia itu laki-laki tapi cerewetnya seperti perempuan." Cetusnya yang masih tak menyadari kehadiran Raisa yang mematung menyaksikan Arisa yang begitu berbeda.
__ADS_1
"Hassyiii..." Reza menghela nafas berat saat hidungnya tiba-tiba terasa gatal.
"Kau tak apa?" Tanya Zain.
"Tidak... hidungku saja yang bermasalah." Jawab Reza kembali fokus membaca laporan dari sekertarisnya.
"Rasanya ada yang sedang membicarakanku." Batin Reza semakin menyipitkan matanya.!
. "Bunda mau minum?" Tanya Arisa yang beranjak dan mengambil air di meja. Saat ia berbalik, dengan terkejut Arisa menjatuhkan gelas yang ia pegang.
"Non... nona tak apa?" Pekik Bibi yang langsung meraih tubuh Arisa yang mematung dan kemudian memunguti pecahan gelas di sekitar kaki Arisa.
"Putri.... kau kenapa?" Tanya Sarah ikut beranjak dan menghampiri Arisa.
"Ra-rais...." lirihnya terbata. Raisa hanya tersenyum tipis lalu melambaikan tangan ke arah Arisa. Bagaimana Raisa bisa tahu Arisa ada disana? Dan seingatnya Raisa tak tahu tentang rumah ini. Hanya Tio dan ayahnya saja yang tahu. Pikir Arisa semakin tak percaya bahwa yang berdiri jauh di depannya adalah Raisa. Sarah pun seketika mengikuti tatapan Arisa yang seakan tak ingin berkedip dan tak berniat memalingkan pandangannya. Ia pun ikut terkejut melihat gadis yang sama persis dengan Arisa ada di rumahnya. Hatinya mendadak gelisah memikirkan apakah Raisa bersama keluarganya untuk menjemput Arisa? Rasanya ia akan lebih hancur sekarang jika memang benar Raisa akan kembali membawa Arisa pulang.
"Aris... aku...." belum sempat Raisa melanjutkan ucapannya, Arisa bergegas segera menghampiri Raisa dan menarik tangannya ke luar rumah.
"Kenapa kau kesini?" Bentak Arisa.
"Aku mencarimu."
"Apa kak Tio tahu? Apa mama tahu? Apa ayah tahu?" Raisa terdiam kemudian menggeleng pelan sembari menundukan pandangannya.
"Kenapa Rais? Bukankah sudah aku bilang dari dulu, jika aku pergi, kau jangan ikutan pergi. Atau mama dan ayah akan mengkhawatirkanmu."
"Pikirkan dirimu juga Aris. Kau pikir mama dan ayah tak mengkhawatirkanmu? Mereka juga--"
"Kapan? Kapan mama mengkhawatirkanku? Saat aku sakit saja Rais. Mama tak pernah memperlakukanku layaknya seperti padamu. Mama tak pernah mengharapkan kehadiranku."
"Tidak Aris. Kau salah faham. Mama sangat menyayangimu."
"Baiklah. Jika memang aku yang salah faham, aku tanya padamu. Rais, apa mama pernah menamparmu?" Raisa hanya terdiam, lidahnya kelu tak bisa menjawab. Benar, dirinya tak pernah diperlakukan kasar oleh Rahma sepanjang hidupnya.
"Tidak kan? Oleh ayah? Juga tidak bukan? Jadi apa kau sudah mendapat kesimpulan mengapa aku pergi dari bangunan yang kau sebut rumah itu? Rais... inilah rumahku. Disinilah aku mendapatkan kasih sayang yang selama ini aku harapkan dari sosok ibu. Mama tak bisa memberiku perhatian dan kasih sayang, disini aku mendapatkannya dari bunda. Meskipun tanpa ayah, tapi kak Reza juga mampu membuatku merasa dilindungi."
"Apa karena hal itu kau pergi?" Tanya Raisa mencoba memastikan yang sebenarnya.
"Bukan hanya itu." Jawab Arisa memalingkan wajahnya karena ia tak bisa menatap mata Raisa langsung jika mengingat wajah Rayyan.
"Satu hal lagi yang ingin aku tanyakan." Ucapnya kemudian dengan menghela nafas sesaat.
"Kau masih mencintai Rayyan?."
__ADS_1
-bersambung