TAK SAMA

TAK SAMA
149


__ADS_3

. Arisa menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, ia mendadak merindukan kamarnya dengan taman bunga di depan balkon tempatnya menatap bintang di langit. Namun, lamunan itu memudar saat ia kembali mengingat pada acara yang bersamaan mengharuskan dirinya hadir di hari yang sama. Jika jarak rumah keduanya dekat, bisa saja Arisa menghadiri acara keduanya. Tapi, sekarang kondisinya tidak memungkinkan. Apa lagi, cuaca sedang tak menentu.


Malamnya, Arisa mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur.


"Kak Rega. Sebelumnya aku minta maaf... apa pertemuannya tak bisa di undur? Atau besok saja." Ucap Arisa ketika teleponnya sudah tersambung pada Rega.


"Kenapa mendadak? Belum ada persiapan. Dan jika di percepat pun, kemungkinan hanya berubah jamnya saja. Memangnya kenapa?"


"Aku ada acara mendadak dari Jakarta. Dan aku harus datang." Terdengar dari nafas Arisa yang mulai gelisah, Rega menebak sesuatu yang terjadi di Jakarta.


"Katakanlah! Jika urusanmu mendesak, tak apa batalkan saja." Ujar Rega tanpa ragu membuat Arisa terkejut dan beberapa saat ia terdiam.


"Tapi...."


"Tak apa Putri. Aku memaklumi. Lagi pula, tidak baik mengabaikan keluarga demi orang lain." Arisa langsung menunduk dan ia berpikir sejenak. Mengapa Rega begitu dewasa menyikapi kesibukannya. Namun di saat yang sama, ia meragukan perasaan Rega terhadapnya.


"Kak Rega? Apa kak Rega mencintaiku? Apa itu hanya omong kosong?" Tanya Arisa kini dengan suara yang pelan dan raut wajah yang suram.


"Jika kau bukan kekasih orang, akan aku buktikan jika kau ragu. Tapi, bukti pun percuma jika hanya sia-sia. Kau sudah--"


"Buktikan kak. Aku ingin melihat pembuktian perasaanmu." Sela Arisa dengan cepat membuat Rega semakin tak paham akan perasaan Arisa padanya.


"Tidak Putri. Jangan memberiku harapan jika hanya untuk kau tinggalkan nantinya." Dan, Arisa terdiam membisu seketika.


"Kabari saja jika nantinya waktumu sudah luang." Ucap Rega setelah hening tanpa ada yang bicara. Setelah itu, panggilan terputus dari Rega. Arisa termenung mempertanyakan hatinya yang sekarang terbuka untuk siapa? Mengapa pada Rega ia begitu mudah untuk percaya dan merasa ada sebuah harapan.


. Esoknya, Arisa sudah siap menarik koper kecil untuk berangkat menuju kota kelahirannya. Kini, rasanya seperti tak akan pernah kembali lagi. Di tambah, Sarah yang tak henti terisak setelah Arisa berpamitan padanya.


"Hanya sebentar bunda. Setelah selesai, aku akan segera kembali."


"Semoga kau sampai dengan selamat nak."


"Iya bunda."


Reza mengantarkan Arisa sampai bandara, tak seperti biasanya, kini Juna pun ikut mengantarkan Arisa.


"Ju... apapun yang terjadi, jaga bunda ya." Ujar Arisa dengan menatap keluar tanpa ingin menoleh pada Juna.


"Baik non." Jawabnya.


Dengan berat hati, Reza melepaskan Arisa yang take out setelah beberapa saat mereka sampai. Alasan Arisa yang memilih untuk naik pesawat di bandara di banding jet milik perusahaannya, ia takut jika hal kemarin terulang lagi, sampai membuat Reza yang marah padanya.

__ADS_1


Singkatnya, Tio menunggu setelah tahu jadwal landing pesawat yang di tumpangi Arisa. Senyumnya mengembang melihat langkah sang adik yang kini begitu ringan seakan tanpa beban. Segera Arisa memeluk Tio dnegan erat, entah kenapa ia begitu merindukan Tio.


"Anty....." teriak Ghava dari dalam mobil.


"Haiiiii keponakan anty yang jelek." Ejeknya dengan riang dan langsung meraih Ghava lalu menciuminya dengan bertubi-tubi.


"Ihhh anty...." Ghava mendorong wajah Arisa untuk menjauh darinya.


"Ohh tak mau di cium? Oke. Awas ya!" Ancam Arisa memalingkan wajahnya kasar.


"Anty jelek." Sontak Arisa terbelalak mendengar ejekan Ghava yang berani mengatainya jelek.


"Heh siapa yang mengajarimu anak nakal?" Pekik Arisa memelototi Ghava hingga menciut dan menghimpit ke sudut kursi mobil.


"Ayah." Jawabnya dengan menunjuk Tio yang sudah berada di dalam mobilnya.


"Apa?" Arisa ternganga lalu menepuk kepala Tio dengan keras dari kursi belakang.


"Arghhh apa yang kau lakukan Aris?"


"Dasar gila. Tio gila... huuuu" kesal Arisa terus mengejek Tio sepanjang jalan.


"Eh... apa tadi Ghava kau tinggalkan sendirian di dalam mobil?" Tanya Arisa setelah sadar tak ada Diana bersama mereka.


"Heh Ghava. Ayahmu benar-benar gila. Bagaimana jika kau ada yang menculik?"


"Eh... putraku lebih pintar dari pada kau. Jika di bandingkan, kau yang akan lebih mudah jika ada yang menculik."


"Benarkah? Hemmmm tapi selama ini tak ada yang mau menculikku."


"Ya syukur. Berarti kau sangat di takuti melebihi hantu."


"Ih kau menyebalkan Tio."


. Sesampainya di rumah, Arisa langsung bergegas menuju kamarnya. Ia seakan tak berniat menyapa Rahma terlebih dahulu yang sedang berada di halaman belakang. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Arisa kembali berlalu dan kini dengan membawa kunci mobilnya.


"Mau kemana?" Tanya Tio yang berada di ruang tengah.


"Ke kantor." Jawab Arisa dengan masih berlari keluar rumah.


"Mau apa heh?" Kini Tio beranjak menyusul Arisa sampai teras.

__ADS_1


"Bertemu Wina." Jawabnya lagi dengan polos.


"Oh." Hanya oh? Arisa menatap konyol kepergian Tio yang kembali memasuki rumah. Ia tak habis pikir dengan sikap kakaknya yang satu ini. Namun meski demikian, Tio tetaplah kakak yang sangat menyayanginya.


"Anty... mau beli mochi..." teriak Ghava yang menyusul sampai teras.


"Mochi? Dimana?"


"Di toko kue seberang butik non Diana." Jawab mang Ujang dari samping mobilnya.


"Eh mang Ujang? Aku terkejut mang. Mamang apa kabar?"


"Baik non. Non tambah cantik ya? Dan tambah ceria. Mamang lega lihatnya."


"Mamang bisa saja. Tapi terima kasih mang. Masih cantikan Rais."


"Dua-duanya cantik non." Namun Arisa hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Jangan lupa anty...." teriak Ghava lagi.


"Iya iya. Bawel." Gerutu Arisa kemudian melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya.


. "Win... apa kau melihat kak Tio?" Tanya Raisa yang menghampiri Wina ke meja kerjanya.


"Hari ini aku belum melihatnya."


"Hemmm begitu ya? Tadi pagi dia masih ada. Tapi sekarang aku tak menemukannya."


"Sudah di hubungi?"


"Tidak di angkat. Sepertinya di silent."


"Bukankah hari ini Aris pulang?"


"Benarkah? Kata siapa? Kenapa tidak memberitahuku?" Raisa mendadak sibuk, lalu ia segera masuk ke ruangan Yugito yang berada tepat di sampingnya berdiri.


"Ayah.... kenapa tak memberitahuku Aris akan pulang?" Protes Raisa dengan tiba-tiba.


"Ayah kira kau sudah tahu." Jawab Yugito kembali melanjutkan pekerjaannya. "Kalau mau bertemu Aris, pulang saja. Ayah ijinkan." Imbuhnya kemudian.


Diluar, Wina yang terlalu fokus menata beberapa berkas tak menyadari ada seseorang yang datang menghampirinya.

__ADS_1


"Butuh bantuan bu?" Sontak Wina mendongak dan matanya membulat mendapati siapa yang ada di hadapannya.


-bersambung


__ADS_2