TAK SAMA

TAK SAMA
198


__ADS_3

. Arisa masih mematung menatap Marcel yang ia rasa tiba-tiba berada di deoannya. Marcel hanya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Arisa saat melihat dirinya.


"Aku merindukanmu Aris. Jadi aku pulang. Besok kita menikah ya! Karena aku disini hanya 2 hari." Tutur Marcel membuat Arisa menatap konyol padanya.


"Kau gila. Aku mau menikah 3 minggu lagi." Cetus Arisa yang memang sudah kesal jika melihat wajah Marcel.


"Itu terlalu lama sayang. Aku akan menikahimu besok. Dan kita akan honeymoon di Ameri-- aaaaaa lepaskan." Teriaknya saat Arisa tiba-tiba menarik telinga Marcel dengan keras.


"Siapa yang mau menikah denganmu? Dasar mesum." Geram Arisa yang tak berniat melepaskan telinga Marcel meskipun sudah meronta-ronta dan memohon agar Arisa melepaskannya.


"Aris... pleaseeeeee lepaskan aku sayang." Rengeknya saat telinganya sudah mulai terasa panas.


"Berhenti memanggilku begitu sialan." Kali ini Arisa berteriak tak kalah memekik telinga.


"Aih KDRT di depan umum." Ucap beberapa ibu-ibu yang kebetulan melewati mereka. Seketika Arisa melepaskan telinga Marcel dan ia terdiam dengan sedikit menunduk.


"Maaf." Lirihnya membuat Marcel tertawa terbahak-bahak.


"Apa kakakmu di kantor?" Arisa hanya mengangguk seraya memalingkan pandangannya dengan raut wajah yang mendadak kesal.


"Boleh minta tolong?" Tanya Marcel kemudian.


"Silahkan. Asal jangan memintaku untuk menemanimu ke kantor." Jawab Arisa menegaskan, Marcel termangu ia tak percaya bagaimana bisa Arisa tahu apa permintaannya.


"Apa kau sedang bertengkar dengan Tio atau dengan ayahmu?" Kali ini, Arisa memilih untuk terdiam, ia sudah tak ingin lagi membahas tentang Tio saat ini.


"Maaf kak. Aku pulang sekarang. Silahkan kakak sendiri saja jika ingin menemui kak Tio." Ucap Arisa yang beranjak dari duduknya lalu bergegas pergi dari hadapan Marcel. Marcel sendiri masih merasa penasaran masalah apa yang membuat Arisa begitu murung.


. Ketika Marcel sudah sampai di kantor Artaris, ia segera membuat janji dengan Tio, dan karena hari ini Tio tengah luang, jadi ia bisa langsung menemui temannya itu. Namun ketika keluar lift, ia dan Tio berpapasan, terlihat juga Raisa di belakang Tio dengan raut wajah yang tak kalah panik dari Tio sendiri. Di samping Tio ada pemuda yang ia tak tahu siapa.

__ADS_1


"Marcel?" Tanya Tio seakan tak percaya ada Marcel di depannya.


"Kau sedang buru-buru?" Marcel balik bertanya karena ia tak ingin mengganggu aktivitas Tio nantinya.


"Tidak terlalu, urusanku masih bisa di tunda sebentar." Jawab Tio setelah ia melirik ke arah Reza dan mendapati kode dari Reza agar Tio lebih santai.


"Kalau begitu, Rais antar kak Reza dulu." Ucap Raisa kemudian. Ia bergegas memasuki lift bersama Reza meninggalkan Tio dan Marcel di sana.


"Kita mengobrol di ruanganku saja." Keduanya sama-sama berjalan menuju ruangan Tio yang menyisakan suasana canggung diantara mereka. Setelah keduanya sudah berada di ruangan Tio, Marcel duduk di sofa, sedangkan Tio memilih berdiri menghadap jendela.


"Apa kau dan Aris bertengkar?" Tanya Marcel dengan sedikit hati-hati, karena bisa saja Tio tiba-tiba marah dan menganggap dirinya ikut campur urusan keluarga Tio.


"Bisa di bilang begitu. Tapi lebih tepatnya Aris yang marah padaku." Marcel menyipitkan matanya dengan heran, mengapa Arisa marah pada kakaknya yang sudah mati-matian menjaga dan melindunginya? Marcel tahu bagaimana kedekatan keduanya sampai tak mungkin jika Arisa marah pada Tio hanya karena hal sepele. Namun, ia juga berpikir jika masalah ini mungkin sangat besar bila Arisa sampai marah begitu.


"Ini pertama kali bagiku mendengar kalian bertengkar." Ucap Marcel membuat Tio semakin murung, Tio kemudian menoleh pada Marcel dengan raut wajah yang sangat menyesal.


"Kau? Menampar Aris? Apa kau mabuk?"


"Aku tak pernah minum."


"Lalu kenapa kau menampar adik kesayanganmu hah?"


"Dia bicara sembarangan. Makanya aku marah dan tak sengaja menamparnya."


"Tidak Tio. Tak ada kekerasan dengan alasan tak sengaja. Kekerasan itu di lakukan dengan keadaan sadar. Ishhh Tio... padahal kau tahu bagaimana Aris hidup di keluarga kalian. Dan kau malah.... Aishhhh kalau hanya untuk membuatnya jadi begini, kenapa kau begitu mati-matian mencarinya dulu?"


"Kau tak paham Marcel. Aku refleks. Dia terus mengoceh hal yang tak jelas."


"Kau itu sudah tua. Harunya mengerti dengan ocehan Aris yang seperti anak kecil Tio."

__ADS_1


"Apa kau pikir mengoceh ingin operasi pelepasan hati itu termasuk ocehan anak kecil?"


"Hah? Maksudmu?"


"Marcel. Aris berencana melepaskan lagi hatinya yang sudah kau tanam di tubuhnya itu. Bagaimana aku tidak marah."


"Wahhh cari ribut anak itu. Ayo Tio! Kita pulang sekarang." Tio menatap konyol pada Marcel yang kini sudah beranjak dan berjalan mendahuluinya. Bahkan Marcel terlihat lebih emosi dari Tio saat ini.


"Aku sudah capek-capek mencangkokkan hati untuknya, tapi dia malah mau melepaskannya. Aishhh anak itu benar-benar ingin aku hajar." Gerutu Marcel terus melangkah tanpa ingin menunggu Tio yang masih terdiam di tempatnya.


"Kau juga sama gilanya ternyata." Cetus Tio akhirnya ia menyusul Marcel keluar ruangan.


. Sementara itu, Raisa yang mengantarkan Reza menuju lobby pun terlintas sebuah rencana. Ia memanggil seseorang dan memintanya untuk menyusul ke kantor. Lama menunggu, malah Tio yang datang menyusul dengan Marcel yang terlihat marah.


"Kak... aku ada rencana. Dan kakak pulang saja. Urusan dengan kak Reza, biar aku yang urus." Ucap Raisa saat Tio sudah berada di depannya.


"Iya tak apa Raisa. Silahkan saja. Lagi pula aku ada urusan dengan kakakmu ini." Timpal Marcel langsung menarik Tio menjauh dari Raisa. Dan setelah kepergian Tio dan Marcel, tak lama berselang Fariz datang dan Raisa membawa Reza masuk ke dalam mobil.


. Singkatnya, sesampainya di kediaman Putra, Marcel menunggu Arisa yang kini tengah di panggil oleh bi Ina untuk menemuinya. Dengan langkah yang malas, Arisa menemui Marcel yang menatapnya dengan kesal.


"Kenapa matamu kak? Tak mungkin katarak kan?" Tanya Arisa penuh dengan candaan. Ia seakan merasa leluasa disaat Tio tak ada di sana.


"Aris......" geram Marcel seperti orang yang kerasukan setan.


"Eh? Kau kerasukan?" Tanya Arisa lagi dengan wajah serius namun Marcel tahu itu hanyalah candaan.


"Siapa yang membuatmu berniat melepaskan cangkok hatimu itu hah? Jahitannya susah sembuh total kan? Tidak ada lagi kelainan kan? Sekarang tidak terasa sakit kan? Kan? Kan?!!!!" Marcel masih terdengar geram, dan kini bahkan lebih parah. Marcel memberi pertanyaan beruntun dengan melangkah mendekati Arisa yang mengangguk karena ketakutan jika Marcel akan semakin parah jika ia mengelak.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2