TAK SAMA

TAK SAMA
23


__ADS_3

. Arisa kembali membalikan wajahnya dan menatap lurus kedepan. Daffa terdiam mematung diambang pintu kelas melihat adegan itu.


"Kenapa kau berdiri saja Daf?" Tanya Seno mengejutkan Daffa.


"Kak.. eh maksudku pak Seno... sejak kapan kakak.. ehh bapak di belakangku?" Daffa tersenyum kikuk tanpa menjawab pertanyaan Seno.


"Sudah! duduk ke kursimu.!" Titah Seno yang berlalu melewati Daffa.


. Sebelum memulai materi, Seno meletakkan sebuah minuman dimeja Arisa.


"Lemon tea kan?"


"Telat." Ucap Arisa mendelik dan kembali menatap ke luar jendela.


"Kalau tidak mau, biar kuberikan pada Aray saja." Seno mengambil minuman itu, namun ditahan oleh Arisa.


"Simpan lagi." Tegas Arisa menatap tajam pada Seno.


"Kau menakutkan... apa dia yang mengajarimu?" Seno menunjuk pada Rayyan yang menahan dagunya dengan tangan menatap kearah Arisa. Namun Arisa hanya mendelik tak menanggapi ocehan Seno.


---


. Raisa hanya mendiamkan bekal yang kini tepat didepannya.


"Kau tak makan?" Tanya Sofia yang merasa heran dengan sikap Raisa yang mendadak menjadi pendiam.


"Aku tak berselera." Jawab Raisa dengan lesu.


"Apa kau sakit?" Raisa hanya menggeleng menanggapinya.


"Lalu?"


"Aku hanya memikirkan Aris."


"Kenapa dengan adikmu."


"Dia sakit parah, tapi aku.. bisa-bisanya aku tak tahu." Raisa berdecak kesal.


"Sakit?" Sofia semakin penasaran. Raisa terbelalak menyadari kebodohannya. Dirinya sudah berjanji untuk tidak memberitahukan penyakit Arisa pada siapapun.


"Mak-maksudku... lambungnya semakin parah. Tapi dia tidak memberitahuku."


"Bukankah adikmu memiliki penyakit lambung sudah lama?" Timpal Deby dengan raut wajah seolah sedang mengingat sesuatu.


"Iya... dia.. dia keras kepala jadi... jadi lambungnya semakin parah sekarang." Raisa gelisah sendiri dan menggigit bibir bawahnya.


"Kau menyembunyikan sesuatu?" Tanya Sofia penuh curiga. Melihat sikap Raisa yang gelisah tak karuan, Sofia menyimpulkan bahwa Raisa memang ada masalah.


"Ti-tidak... ahahah... su-sudahlah aku ingin ke kelas." Raisa merapikan bekalnya dan kembali dimasukan kedalam tasnya.


"Raisa... makananmu tidak tersentuh sama sekali. Kau baik-baik saja?" Debi merasa khawatir melihat Raisa yang mendadak berbeda dari biasanya.


"Aku baik-baik saja." Ucap Raisa dan berlalu meninggalkan Sofia dan Deby yang dipenuhi rasa penasaran pada Raisa.


"Kau tahu Sofi? Aku mendengar bahwa Rayyan dan Arisa berpacaran. Jadi sepertinya itu yang membuat Raisa merasa bersedih." Ucap Deby setelah memastikan Raisa sudah jauh.


"Benarkah? Bagaimana bisa? Bukankah--"


"Kau jangan beranggapan karena Arisa dingin jadi Rayyan tak tertarik. Bukankah kau juga tahu semua mahasiswa disini membicarakan Arisa. Banyak yang tertarik dengan Arisa saat Arisa mengantar Raisa ke kampus ini. Bahkan Daffa, orang yang kau sukai sampai pindah kampus hanya untuk lebih dekat dengan Arisa." Sofia menunduk membenarkan cerita Deby.


"Tak heran jika Raisa seperti ini. Dia sudah lama menyukai Rayyan, bahkan rela putus dengan kak Fariz meskipun karena salah faham." Lanjut Deby.


"Kau benar." Lirih Sofia memalingkan pandangannya.

__ADS_1


---


. Tio bersandar dikursinya, menunggu kabar dari Dimas dan Marcel.


"Tio.... apa yang terjadi pada kontrak dengan perusahaan Permata?" Tanya ayah yang tiba-tiba ketika membuka pintu.


"Itu kesalahanku ayah..." jawab Tio yang memijit dahinya. Ayah menghela nafas panjang melihat sikap putra sulungnya. Tak biasanya Tio membuat kesalahan sefatal ini.


"Kau kenapa? Ada masalah apa? Cerita pada ayah! Kau punya ayah bukan?" Tio mendongak dan menatap ayah.


"Peranku akan hancur jika aku tak bisa membantu masalah anakku." Tio semakin terbelalak. Apa ada yang salah dengan ayahnya? Atau Tio yang tak tahu ayah begitu memperhatikannya? Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di benak Tio. Tio beranjak dari duduknya dan berdiri tepat didepan ayah seolah dirinya sudah siap untuk ayah marahi.


"Atau kau sakit?" Tanya ayah menatap Tio yang masih terlihat heran.


"Aku... aku baik-baik saja ayah..." Tio menunduk dan memalingkan pandangannya sebisa mungkin mencoba menghindari tatapan ayah.


"Tio... bicaralah... kali ini ayah tak ingin menjadi seorang ayah yang tak bisa membantu anaknya." Ayah dengan erat memeluk Tio yang masih merasa keheranan.


"Jangan terus membebani dirimu sendiri. Katakan apa yang membuatmu lelah. Katakan apa masalahnya, bukan hanya menyimpannya di pundakmu yang rapuh."


"Ayah aku...." lidah Tio terasa mendadak kelu ketika dirinya hendak berbicara tentang Arisa.


"Apa yang harus kulakukan tuhan? Aku tak ingin melihat adikku sekarat, tapi aku juga tak kuasa memberitahu ayah tentang penyakitnya. Apa yang akan dia lakukan jika aku memberitahu ayah tentang itu? Aku juga tak bisa jika terus menerus berbohong pada ayah." Gumam Tio dengan mata yang berkaca-kaca dan terasa menahan isakkan.


"Kau menangis?" Tanya ayah melepas pelukannya.


"Ahaha tidak ayah. Mana mungkin aku menangis." Ucap Tio sembari mengusap kelopak matanya yang mulai basah.


"Maafkan ayah Tio. Mama mu benar, ayah sudah egois dengan ambisi ayah. Ayah yang selalu sibuk, dan mempercayakan semua hal padamu, sampai ayah lupa kau masih membutuhkan ayah. Maafkan ayah juga karena memaksamu menjadi dewasa di usiamu yang masih belia. Dan membuatmu menjadi ayah pengganti untuk Arisa. Tapi, ayah harus bagaimana? Ayah bangga mempunyai putra sepertimu, tapi ayah juga menyesal karena sudah membuatmu memaksa menguatkan bahumu yang rapuh itu."


"Ayah..."


"Katakan saja... agar hatimu lega, dan bebanmu hilang."


"Maaf ayah.. aku belum bisa mengatakannya."


"Tidak.. bukan itu ayah... ini tentang Aris."


"Aris? Kenapa dengan Aris?"


"Pekan ini aku ingin mengajaknya ke Amerika lagi."


"Mau apa? Bukankah kau baru pulang? Ada apa disana?"


"Ada sesuatu.... tapi aku mohon izin pada ayah." Ayah menghela nafas panjang beberapa kali.


"Baiklah... ayah mengerti. Tapi jaga adikmu baik-baik."


"Ayah mengizinkan?"


"Sebetulnya ayah khawatir, tapi bisakah kau memberitahu alasanmu membawa Aris sampai jauh ke Amerika?"


"Itu... aku hanya ingin membawa Aris pada Marco, maksudku Marcel." Ayah masih mendengarkan alasan Tio tanpa menyela dengan wajah yang masih curiga. Apalagi melihat tingkah Tio yang seakan menyembunyikan sebuah fakta.


"Ayah tahu sendiri lambung Aris yang sudah parah. Jadi... jadi maksudku siapa tahu jika dari luar negeri, pengobatannya akan sedikit berbeda." Tio menjelaskan dengan terus mengusap pundaknya.


"Ayah harap kau tak menyembunyikan sesuatu. Firasat orang tua tidak pernah meleset. Sepintar apapun kau menyembunyikan rahasia, cepat atau lambat ayah akan tahu sendiri walaupun kau tak menceritakannya pada ayah." Ayah berbalik dan meninggalkan Tio yang mematung dengan tangan mengepal.


"Ya.. ayah benar. Tapi sebisa mungkin aku ingin menyembuhkannya sebelum ayah tahu." Lirih Tio.


---


"Arisa... mau makan siang?" Tanya Daffa ditanggapi anggukan oleh Arisa.

__ADS_1


"Dia makan bersamaku." Timpal Rayyan yang menghampiri Daffa.


"Ohhh tuan Aray... ku pikir kau tak menemaninya." Ejek Daffa melirik konyol pada Rayyan.


"Sekalian saja Daffa bergabung." Ucap Arisa mendahului langkah mereka.


Daffa tersenyum penuh kemenangan mengikuti Arisa dari belakang.


"Dimana Wina?" Tanya Rayyan yang tak menemukan keberadaan teman Arisa sedari tadi.


"Dia sudah duluan." Jawab Arisa terdengar begitu tenang.


. Sampai dikantin, Wina melambaikan tangannya ketika melihat Arisa yang datang dengan 2 bodyguardnya. Akhir-akhir ini, Arisa terlihat lebih ceria. Wajahnya lebih berseri-seri. Dan banyak mahasiswa senior yang mulai mengejar Arisa. Baik itu diam-diam atau terang-terangan. Rayyan berdecih kesal ketika melihat semua pandangan laki-laki tertuju pada Arisa. Jika wajah cantik Arisa dipadukan dengan senyum manisnya, siapa yang tidak mengidolakan putri bungsu Yugito Syahputra? Selain mirip dengan Raisa, Arisa punya daya tarik tersendiri.


Rayyan dengan ekspresi dinginnya, merangkul pundak Arisa untuk menunjukan bahwa Arisa adalah miliknya.


Ditengah acara makan siangnya, terdengar bunyi notifikasi diponsel Arisa.


Arisa melihat sebuah pesan dari ayah bahwa hari ini harus pulang lebih cepat karena akan ada tamu penting.


"Aray... maaf hari ini aku tak bisa menemui Sein. Ayah menyuruhku pulang lebih cepat." Ucap Arisa setelah meletakkan kembali ponselnya.


"Hemmm baiklah." Jawab Rayyan seolah tak ingin tahu lebih jauh alasan Arisa membatalkan janjinya.


"Ada apa?" Tanya Daffa yang lebih berani bertanya karena rasa penasarannya.


"Kata ayah akan ada tamu penting. Jadi...."


"Siapa?" Tanya Daffa dan Rayyan bersamaan dengan setengah berteriak. Arisa terkejut dan terlihat mendadak gugup.


"Ak-aku tidak tahu... mung-mungkin rekan kerja ayah." Jawab Arisa terbata.


"Asal jangan acara perjodohanmu dengan pria lain saja." Cetus Rayyan.


. Sesuai perintah ayah, Arisa berlalu melajukan mobilnya menjauh dari kampus, dan meninggalkan banyak pertanyaan yang muncul dibenak teman-temannya.


Saat sampai, terlihat mobil seluruh anggota keluarga sudah berada di tempatnya.


"Aku yang terlambat." Ucap Arisa buru-buru memasuki rumah.


Arisa berlari menaiki tangga, namun mama memanggilnya ketika dirinya baru sampai ditengah.


"Aris... pakai ini dan dandan yang cantik." Ucap mama memberikan sebuah baju dengan raut wajah yang sumringah. Arisa hanya menyernyit heran. Mengapa harus dandan? Apa Raisa juga? Arisa mengangguk kemudian kembali menaiki tangga. Raisa membiarkan pintu kamarnya terbuka dan berteriak ketika melihat Arisa melewati kamarnya. Raisa berlari dan mendapati Arisa yang berhenti seolah menunggu dirinya.


"Kau juga?" Tanya Raisa ketika melihat apa yang dibawa Arisa.


"Mama memberiku juga. Entah siapa yang akan datang, mengapa kita harus berdandan? Apa kau tak berfikir bahwa kita akan di jodohkan?" Lanjut Raisa. Arisa hanya terdiam. Jika benar salah satu dari mereka akan dijodohkan, lalu bagaimana dengan Rayyan?


"Hei Aris. Kau malah melamun."


"Maaf Rais.. aku pergi bersiap dulu. Ayah pasti akan menunggu jika kita lama bersiap." Arisa memasuki kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.


. Malam harinya, terdengar suara mobil yang datang ke pekarangan rumahnya. Arisa turun sendiri ketika suara tamu dan orang tuanya saling sapa.


Arisa terbelalak saat mendapati siapa tamu yang dimaksud ayah.


"Kak Bayu?"


"Arisa? Kau kah itu?" Bayu perlahan melangkah mendekati Arisa. Senyumnya merekah mendapati gadis pujaannya kini berada dihadapannya.


"Syukurlah kau baik-baik saja." Bayu dengan lancang memeluk Arisa tanpa mempedulikan orang tuanya.


"Kak..." lirih Arisa dan Bayu melepas pelukannya.

__ADS_1


"Aku merindukanmu Arisa."


-bersambung.


__ADS_2