
. Fariz yang mendapat panggilan asal dari Raisa pun mendadak panik karena situasi Raisa yang tak bicara dan terdengar suaranya yang sedang menangis. Ia kemudian mencoba melacak ponsel milik Raisa, dan setelah sedikit lama mencari, ia menemukan lokasinya yang jauh dari kota besar itu. Namun itu semakin membuat Fariz merasa cemas takut jika ada apa-apa yang terjadi pada kekasihnya itu.
Dibawah perintahnya, beberapa orang yang menjadi bawahannya segera meluncur menyusul dimana Raisa berada.
Di rumah sakit yang di lewati Raisa dan para pengawalnya, ia perlahan tersadar kembali dan melirik pada Juna yang sedang menunggunya di samping ranjang.
"Nona baik-baik saja?" Tanya Juna beranjak dan menundukkan pandangannya.
"Aku baik-baik saja. Kenapa kau tahu aku disini?" Raisa melirik sesaat pada Juna dengan memijit kepalanya yang masih terasa berputar.
"Karena GPS yang terpasang di mobil nona menuntun kami ke sini, dan atas perintah tuan besar."
"Kenapa tidak ayah dan kak Tio saja yang menyusulku?"
"Untuk pertanyaan itu, saya tak bisa menjawab pasti. Kemungkinan karena tuan besar dan tuan muda sedang sibuk mengatur perusahaan."
"Tapi kakak bisa menyusul Aris tadi malam." Dan, kali ini Juna tak bisa menjawab. Ia sendiri tak tahu harus berkata apa lagi.
"Ayo pulang." Ucap Raisa beranjak dan segera turun dari ranjang. Ia berjalan mendahului Juna keluar dari ruangan. Sementara itu, Juna beralih menuju meja administrasi dan kembali menyusul Raisa.
Raisa meraih ponselnya dan ia melihat beberapa panggilan dari Fariz yang tak terjawab. Ia menekan panggilan dan tak lama, Fariz menjawab dengan suara yang panik.
"Sayang, kau baik-baik saja? Kau dimana?"
"Aku di jalan. Mau pulang sekarang." Jawab Raisa dengan suara yang dingin.
"Aku jemput."
"Tidak kak. Jangan. Aku sudah di jalan dan mungkin sekitar 2 jam lagi aku sampai."
"Aku sudah di jalan dan mau menjemputmu."
"Tak perlu kak. Putar balik saja. Aku ada Juna yang mengawal." Mendengar itu, Fariz terdiam dan ia teringat pada nama yang di sebutkan Raisa. Juna adalah pengawal yang selalu menjaga Arisa dalam diam. Tak terlihat, dan tak ada orang lain yang tahu. Hanya Arisa yang selalu menyadari keberadaan Juna di dekatnya.
Bukannya menuruti kata Raisa, Fariz masih tetap menyusul Raisa ke lokasi dimana ia berada dalam GPS ponselnya.
. Fabio yang mendengar kabar tentang Arisa yang kembali menghilang pun kini hanya bersikap dingin saja. Ia tak menunjukkan kekhawatiran sedikitpun seperti dulu.
Lisa melirik pada Fabio yang sedang memeluk Sherina di pangkuannya dengan tatapan yang begitu dingin. Ia tahu bahwa hati suaminya kini tengah resah memikirkan Arisa yang tak tahu kabarnya bagaimana.
"Kau tak khawatir?" Tanya Lisa dengan tenang padahal hatinya merasa sedikit sesak setiap kali mendengar nama Arisa.
__ADS_1
"Sayang... bisa ambilkan ayah minum?" Tanya Fabio pada Sherina seakan mengabaikan pertanyaan istrinya. Dengan menurut, Sherina berlari menuju dapur meninggalkan kedua orang tuanya.
"Aku sedang tidak ingin bertengkar. Jangan mencari permasalahan, emosiku sedang tidak stabil." Ucap Fabio menghela nafas berat dengan menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kenapa? Jika kau ingin mencarinya, pergi saja. Aku tak akan melarang." Lisa berkata dengan memalingkan wajahnya yang kesal ke arah lain agar Fabio tak melihatnya. Namun, ia merasakan sesuatu melayang dan 'prang' pecahan vas bunga itu berserakan setelah membentur dinding dengan keras. Lisa mematung seketika dan merasakan aura mencekam di sampingnya.
"Sudah kubilang jangan mencari masalah. Apa kau tak mengerti." Suara dalam dan berat itu terdengar sangat menakutkan dan cukup menekan. Fabio beranjak dan ia berlalu keluar rumah dengan meninggalkan rasa sesak di dada Lisa.
"Jika memnag kau sudah melupakan cintamu untuk Arisa, mengapa kau sampai marah begini?" Gumam Lisa menatap dalam pada pintu yang baru saja di lewati Fabio.
***
. Malam semakin larut, namun rasa kantuk tak kunjung menghampiri Rayyan, ia menatap dalam pada kalung Phoenix yang selama ini sudah menjadi milik Arisa, dan dengan tiba-tiba saat ia pulang dari rumah sakit, pelayan rumahnya memberikan sebuah kotak perhiasan dan ia benar-benar marah saat mendapati benda apa yang ada didalamnya. Angin malam berhembus, segelas kopi dingin masih menemani Rayyan duduk termenung sendiri di taman depan.
"Kenapa kau melakukan ini Risa? Apa salahku? Apa kau mencintai pria lain? Jika Rama, aku mengerti. Tapi apa ada yang lebih dari Rama? Apa kau membenciku Risa? Sampai kau mengembalikan tanda bukti bahwa keluargaku sudah memilihmu untuk menjadi nyonya muda keluarga Pratama." Ucap Rayyan pelan dengan terus menatap dalam pada liontin khusus dibuat sebagai simbol keluarga.
Danu yang mendengar secara diam-diam, merasakan apa yang sedang Rayyan rasakan saat ini. Apa lagi dengan tanpa adanya ungkapan perpisahan atau apapun yang menunjukkan Arisa akan pergi, Danu pun merasa terkejut dan tak percaya jika Arisa mengembalikkan kalung yang sudah ia persiapkan untuk Arisa.
**
Esoknya, sesuai rencana, Rayyan segera berangkat dengan Daffa yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi yang kini melaju menuju kota Bandung.
Sepanjang jalan Rayyan tak sedikitpun berbicara meskipun Daffa sudah memberinya kode untuk berbincang. Namun pemandangan di samping jalan lebih membuat Rayyan tertarik dari pada sebuah obrolan dengan Daffa. Dan Daffa pun yang sudah memahami sikap Rayyan bagaimana, hanya bisa diam dan mengurungkan niatnya untuk berbincang dengan Rayyan.
"Jadi presdir di perusahaan. Dan aku direkturnya." Kata-kata itu terus terngiang di telinga Arisa. Ia belum siap jika harus memegang tanggung jawab yang begitu besar. Menolak pun ia mungkin tak akan bisa tinggal dengan Sarah.
"Jika kau tak mau, sekarang juga aku akan mengantarkan mu kembali ke Jakarta." Dan ancaman itu kembali terngiang di telinga Arisa.
"Ishhh kak Reza bercandanya tidak lucu." Arisa berdecak kesal sambil meletakkan cangkir di atas meja.
"Oke jika memang ini pilihannya, aku tak boleh mengecewakan kak Reza. Ini juga untuk bunda. Karena sekarang aku adalah putri bunda dan adik kak Reza." Ucapnya kemudian, ia menyemangati dirinya sendiri dan berharap rasa kesalnya menghilang, namun malah semakin menggebu. Ia terus memaki Reza dan tak henti menyalahkan Reza atas ancaman Reza itu.
Segera Arisa berlalu memasuki kamarnya dan ia dengan masih menggerutu kesal pun bersiap hendak berangkat ke perusahaan Artaris (cabang).
Karena hari sudah semakin siang, dan jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat, ia dengan bergegas merapikan pakaiannya dan tanpa pikir panjang membuka pintu dengan terburu-buru.
Namun, alangkah terkejutnya, ia mendapati Daffa di depan pintu tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Mata Arisa membulat menatap Daffa yang membalas tatapannya dengan dingin.
"Da-Daffa... ka-kau?"
"Iya ini aku."
__ADS_1
"Ba-bagaimana bisa?" Lidah Arisa mendadak kelu dan tubuhnya mematung saat Daffa menunjukkan perjalanannya menyusuri petunjuk GPS ponsel Arisa.
"kau lupa siapa aku Aris? Untuk sekedar melacak lokasimu saja tak ada sulitnya untukku."
"Ta-tapi..... Ra--"
"Raisa tidak ikut." Jawab Daffa cepat. Sebenarnya Daffa tahu siapa yang dimaksud Arisa, namun ia memilih melemparkan topik pembicaraannya pada Raisa agar Arisa tak curiga bahwa Rayyan ada disana.
"Daf... tolong tinggalkan aku." Pinta Arisa dnegan suara pelan.
"Apa? Kau bicara sesuatu?" Tanya Daffa yang jelas ia pun mendengar permintaan Arisa. Namun ia bicara seolah ia tak mendengarnya.
"Aku mohon Daf... tinggalkan aku disini dan jangan pernah mencariku lagi."
"Kenapa?" Lagi, Arisa terkejut, suara yang begitu familiar terdengar dari arah lift bersamaan dengan suara langkah kaki yang jelas lebih dari satu orang. Berapa banyak orang yang dibawa Rayyan? Mungkin pertanyaan itu yang seketika muncul di benak Arisa sekarang. Rayyan memberi kode agar Daffa memberinya jalan dan segera ia mendorong Arisa kembali memasuki apartemen.
"Daf... tolong--" suaranya menghilang bersamaan dengan ditutupnya pintu depan. Daffa langsung memberi kode pada para anak buahnya untuk meninggalkan lorong itu dan lebih memilih menunggu di parkiran bawah.
"Rayyan apa yang kau lakukan?" Pekik Arisa saat Rayyan membawa Arisa pada pelukannya dengan paksa.
"Kenapa Risa?" Lirihnya membuat Arisa terdiam.
"Kenapa kau meninggalkanku untuk yang kesekian kalinya?" Suaranya meninggi dan pelukannya dilepaskan dengan kasar oleh Rayyan sendiri. Ia mencengkram kedua bahu Arisa dan menatapnya tajam.
"Jawab!" Bentaknya membuat Arisa menutup matanya karena ketakutan.
"Kau mau aku melakukan apa? Apa kau mau hal itu benar-benar terjadi agar kau menjadi milikku?" Arisa seketika tersentak dengan pertanyaan Rayyan yang begitu menakutkan.
"Rayyan tolong lepaskan aku... kumohon..." pinta Arisa memohon dan mencoba melepas tangan Rayyan yang semakin kuat mencengkram bahunya.
"Akhhh Rayyan sakit...." rengeknya hampir terduduk karena lututnya mendadak lemas saat rasa sakit di bahunya semakin terasa linu.
"Rayyan please.... lepaskan. Ini sakit." Lagi, Arisa memohon dan kali ini ia menggigit bibir bawahnya menahan linu akibat cengkraman Rayyan.
"Apa kau pernah berpikir bagaimana sakitnya hatiku saat kau mengembalikkan kalung keluargaku dengan tanpa ada sepatah kata apapun?" Lirih Rayyan terdengar putus asa.
"Sungguh Rayyan. Ini sakit akhhhh...." Arisa meringis dan ia tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya. Dengan tiba-tiba, Rayyan melepaskan bahu Arisa hingga terjatuh dan terduduk lemas. Dan Arisa yang merasakan sakit dibahunya pun meraih dan menekap sedikit sumber rasa sakitnya hingga terasa sedikit lebih baik. Namun Rayyan benar-benar terasa berbeda, kini dirasanya Rayyan tengah membuat Arisa menderita.
"Kau tak memanggilku dengan panggilan khususmu, dan kau pergi tanpa berpamitan kepadaku. Apa masalahmu hah? Bukankah aku sudah bilang jika ada masalah jangan di pendam sendiri? Apa kau tak pernah menganggapku sebagai kekasihmu?"
"Untuk apa?" Arisa menyela dengan mendongak dan mata yang sudah berkaca-kaca. "Kau saja tak mencintaiku. Untuk apa aku bertahan denganmu?"
__ADS_1
-bersambung.