
. Setelah acara siang yang berjalan lancar dan terasa sangat panjang, Arisa akhirnya menghela nafas lega. Pasalnya, setelah ia mengganti baju, teman-teman masa SMA nya berdatangan secara bergantian. Bahkan teman kuliah Raisa pun seakan dekat dengan Arisa. Arisa hanya bisa masuk ke dalam obrolan tanpa harus membuat mereka merasa tersinggung karena ia tak mengenal satu orangpun di antara mereka. Sesekali Rayyan ikut masuk ke dalam obrolan agar Arisa tak begitu canggung berhadapan dengan orang yang tak di kenal.
"Mau minum?" Tanya Rayyan sembari menyodorkan segelas air mineral pada Arisa yang kini tengah terduduk lesu di sofa ruang tengah.
"Kau mengenal alumni kampus Yyyy?" Tanya Rayyan kemudian ketika ia sudah duduk di samping Arisa.
"Tidak." Jawabnya singkat.
"Tapi tadi kau sangat menikmati obrolanmu dengan mereka. Apa lagi dengan si ketua organisasi." Ucap Rayyan dengan nada yang kian cetus.
"Hah? Siapa?"
"Bara."
"Bara siapa? Yang mana?"
"Yang tadi mengobrol denganmu."
"Yang ngobrol denganku itu banyak."
"Yang pakai kemeja hitam. Yang tampan. Yang keren. Yang...."
"Hei tuan? Apa kau sedang datang bulan?"
"Ishhh aku sedang kesal padamu."
"Kesal kenapa?"
"Karena kau sangat dekat dengan si Bara yang tebar pesona itu."
"Tapi aku tidak kenal. Dia kan teman Rais, dan aku hanya menyambutnya saja."
"Tetap saja dia itu bajingan." Keduanya terus berdebat tak peduli orang berlalu lalang.
"Heh! Kenapa kalian bertengkar?" Tegur Seno ketika ia sudah lelah menyaksikan perdebatan kedua insan sepasang kekasih yang entah sedang membicarakan apa.
__ADS_1
"Eh kak Seno? Dari mana saja kau? Kenapa baru terlihat?" Protes Arisa yang menyadari bahwa dari pagi memang ia tak melihat Seno sama sekali.
"Aih? Kau tak melihat aku sibuk di depan?" Suara Seno terdengar lebih kesal dari pada Arisa. Arisa hanya tertawa kecil menanggapi kemarahan Seno. Pastinya Seno lebih lelah dari pada yang lain. Pasalnya ia bertanggung jawab sebagai keamanan bersama Daffa. Ketika Seno berlalu, Arisa beralih kembali fokus pada Rayyan dan melanjutkan acara perdebatan mereka.
"Kenapa kau malah mempermasalahkannya Aray? Jelas-jelas aku tak kenal siapa dia, dan juga kita ini sudah mau menikah. Untuk apa aku meladeni mereka yang tidak aku tahu siapa mereka." Secara tiba-tiba, Rayyan diam dan tersenyum simpul lalu tangannya merangkul dan mendekatkan wajahnya ke wajah Arisa.
"Jadi, besok kita menikah?" Semula Arisa memasang wajah tegang, namun setelah mendengar pertanyaan ini, ia merubah raut wajahnya menjadi konyol menatap Rayyan.
"Bukankah besok kau sibuk tuan?" Ejek Arisa dengan nada sindiran. Rayyan tersadar, lalu ia tertawa kikuk ketika kembali mengingat jadwalnya.
"Hehe iya sayang. Maaf ya. Nikahnya di undur lagi."
"Hemmmm... tak apa tuan. Silahkan selesaikan dulu urusanmu."
"Kenapa kita tak menentukan tanggal saja dari sekarang? Biarpun sibuk, aku tak akan bekerja jika menikah kan?"
"Idemu bagus tuan." Rayyan tersenyum riang mendapati jawaban Arisa tersebut, namun senyum itu pudar saat melihat raut wajah Arisa menjadi sendu.
"Kenapa? Kau malah bersedih. Kau tak mau menikah denganku?" Tanya Rayyan menebak kemungkinan.
"Apa ayahmu sudah menemukan mereka?" Arisa hanya menggeleng pelan.
"Baiklah. Akan aku coba lacak keberadaan mereka." Ujar Rayyan kembali mengembangkan senyum di wajah Arisa.
"Terima kasih sayang." Mendengar ungkapan itu, wajah Rayyan benar-benar merona merah dan hatinya sangat berbunga. Sangat jarang Arisa memanggilnya dengan panggilan sayang seperti ini.
Tio yang mendengar hal tersebut mulai gelisah. Ia tahu kemampuan Rayyan yang bisa menemukan orang melalui data namanya saja. Ia lebih gelisah jika Rayyan memberitahu Arisa keberadaan Sarah yang sebenarnya.
"Emmm Rayyan. Bisa bantu aku sebentar." Pinta Tio setelah ia membuyarkan lamunannya. Rayyan segera bangkit dan menghampiri Tio, lalu keduanya bergegas menuju tempat yang mungkin tidak di ikuti oleh Arisa. Karena Tio mengira, bisa saja Arisa mengikuti mereka karena penasaran apa yang ingin Tio ambil sehingga meminta bantuan Arisa. Benar saja, Arisa diam-diam hendak menyusul kakaknya menuju gudang. Namun, langkahnya terhenti saat Rahma memanggil namanya. Dengan terpaksa, Arisa menghampiri Rahma dan mengesampingkan rasa penasarannya.
"Mau ambil apa kak?" Tanya Rayyan ketika mereka sudah memasuki gudang.
"Ah... sepertinya barangnya sudah tak ada." Ucapnya yang jelas tak menjawab pertanyaan Rayyan.
"Kalau begitu ayo kita kembali lagi." Ajaknya berbalik lebih dulu.
__ADS_1
"Emm Rayyan." Panggil Tio terdengar sangat ragu. Rayyan kembali berbalik dan saling berhadapan dengan Tio.
"Rayyan. Jangan cari keberadaan bunda."
"Tapi kenapa kak? Risa sangat sedih karena kehilangan jejak mereka."
"Pokoknya jangan. Ini permintaan bunda dan syarat agar Aris tetap tinggal disini. Jika aku melanggar janji, maka selamanya Aris akan tinggal dengan bunda. Dan aku tak mau itu terjadi. Disini lah rumah Aris, keluarganya, dan orang-orang terdekatnya. Dan juga, mama sekarang lebih memperhatikan Aris di bandingkan dulu." Jelas Tio dengan nada memohon.
"Jadi kakak tahu dimana tante Sarah berada?" Tio mengangguk menyesal menanggapi pertanyaan Rayyan.
"Jadi, aku mohon Rayyan. Jangan beritahu dia. Aku tak siap jauh darinya lagi."
"Tapi Risa ingin bundanya datang ke pernikahan kami kak." Rayyan tak kalah memohon meminta agar Tio memberitahu dimana Sarah.
"Jika hanya datang ke acara pernikahan saja tak akan membuat Risa tinggal dengan mereka kan? Perjanjian kalian hanya tak boleh memberitahu Risa saja, bukan pertemuan mereka. Mereka bisa bertemu tanpa memberitahu Risa dimana tante Sarah tinggal, itu akan baik-baik saja menurutku." Tio seketika terdiam, ia setuju dengan ungkapan Rayyan. Benar, mereka hanya berjanji untuk tidak memberitahu Arisa dimana Sarah berada. Bukan melarang Arisa bertemu Sarah.
"Jika memang begitu pemikiranmu, kau bicara saja sendiri pada bunda. Jika dia menyetujui, maka aku tak akan melarang mereka datang. Tapi, jika mereka menolak, aku harap kau tak memaksa. Datanglah ke rumahnya yang di Bandung. Mereka masih menetap disana." Terlihat Rayyan berbinar karena Tio membiarkannya menemui Sarah meskipun tidak dengan Arisa.
"Tapi aku tak tahu rumahnya kak. Aku hanya pernah ke perusahaannya saja."
"Akan aku kirim alamatnya nanti padamu." Ucap Tio berlalu lebih dulu melewati Rayyan.
"Aris... kau masih marah?" Tanya Raisa yang sudah berada di kamarnya.
"Menurutmu?"
"Aris... maafkan Sofia. Dia tidak sengaja."
"Apa karena cemburu itu wajar Rais? Sofia itu cemburu karena Wina yang menjadi pacar Daffa, bukan dirinya. Apa menurutmu itu hanya tidak sengaja?"
"Aris jangan salah faham. Bisa saja Sofia memang tidak sengaja."
"Sudahlah Rais. Percuma di perdebatkan. Kita hanya akan saling membela teman kita sendiri."
-bersambung
__ADS_1